Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Senin, 09 Desember 2013

Antara Hatiku dan Hatinya (Chapter 2)

Antara Hatiku dan Hatinya
Chapter 2:
Hati Kinara 



~~~~~
Lama, ya? Sayang gak ada yang responin, nih! Ayo dong dukung hatinya Kinara! :D
 

~~~~~




Di hari sabtu, alias hari ini, adalah waktunya murid-murid Arial's Junior High School hanya mengikuti ekstra kulikuler yang mereka ikuti. Di sekolah itu ada berbagai macam ekskul, diantaranya: pencak silat, sepak bola, dama, basket, robotika, ballet, contemporary dance, bermain musik, bernyanyi, mewarnai, dan berenang.
 

Setiap anak di sekolah itu dapat memilih lebih dari satu ekskul. Namun tetap saja mereka harus memilih satu ekskul yang paling penting. Yang paling penting itu berarti harus diikuti di setiap hari sabtu, sementara ekskul yang lainnya lagi akan diikuti di hari-hari yang ditentukan oleh guru ekskul tersebut (misalnya: salah satu murid memilih basket sebagai ekskul yang penting untuknya, dan memilih berenang sebagai ekskul satunya lagi. Berarti di tiap hari sabtu dia harus mengikuti ekskul basket, dan ekskul berenang akan dia ikuti di hari yang ditentukan oleh guru ekskul renangnya).
 

Oya, semua ekskul yang ada di luar hari sabtu akan dijalankan di antara senin sampai jumat dan akan dijalankan di akhir waktu sekolah. Dan semua guru ekskul pun sudah menetukan hari ekskul lain. Semuanya adalah begini: pencak silat di hari senin di minggu pertama, sepak bola di hari selasa di minggu pertama, drama di hari rabu di minggu pertama, basket di hari kamis di minggu pertama, robotika di hari jumat di minggu pertama, ballet di hari selasa di minggu kedua, renang di hari rabu di minggu kedua, bermain musik di hari kamis di minggu kedua, bernyanyi di hari jumat di minggu kedua, mewarnai di hari senin di minggu kedua, dan contemporary dance di setiap akhir hari sabtu.
 

Sekarang masih belum masuk waktu sekolah. Semua anak-anak masih di kelas mereka masing-masing, mereka ada yang mengobrol atau latihan sambil menunggu bel berbunyi. Walau begitu, ada juga yang menunggu sambil berlatih di luar kelas.
 

Kinara saat ini sedang duduk di bangkunya di dekat jendela. Dia memperhatikan keluar jendela.
 

"Langitnya cerah, ya," tanggap Sania yang tiba-tiba datang. Dia duduk di bangku yang berada di belakang Kinara.
 

"Sebetulnya aku gak ngeliatin langit hari ini," balas Kinara.
 

"Pasti ngeliatin salah satu yang lagi main bola di situ, ya?" tebak Niela yang duduk di depan Kinara.     Sania kembali memperhatikan keluar jendela. Dia memperhatikan para anak laki-laki yang tengah bermain sepak bola di lapangan. Diantaranya adalah teman laki-laki yang sekelas dengan Kinara.
 

"Aahh ... Dika," ujar Sania.
 

"Iya, dong," balas Kinara. "Dia kayaknya emang cocok ikut sepak bola, ya?"
 

Sania hanya cekikikan. Dia berpikir kalau Kinara sebetulnya ingin memuji Dika, tapi dengan kata ganti lain. Dan mengingat tentang ekskul robotika dan bernyanyi yang Kinara pilih, Sania juga menimpali, "Mbak Niar juga cocok ikut ekskul bernyanyi."
 

"Heheh ... soalnya suaraku emang masih harus dibenerin, sih," tanggap Kinara. Sania pun diam, seraya dengan Kinara dan Niela yang diam sambil menatap para pemain sepak bola di lapangan itu.
 

"Mbak ... Mbak nyanyi, dong," pinta Sania.
 

Awalnya Kinara bingung ingin menyanyikan lagu apa. Dia sampai mengerdarkan pandanganya untuk mencari inspirasi. Namun, memperhatikan Dika, membuat Kinara mengingat sebuah lagu. Lagu yang sendu, seperti dirinya. 
 
Merindukan purnama, bertahan walau di dalam duka
Bersyukurnyalah kita, masih banyak yang sayangi kita
Merindukan purnama, meraih cinta
Cinta yang menyatukan kita

 

Niela masih asik memperhatikan para pemain bola. Sementara Sania, dia tentu mendengarkan suara merdu Kinara. Kinara sendiri masih tetap bernyanyi.  
Merndukan purnama, bertahan walau di dalam duka Bersyukurnyalah kita, masih banyak yang sayangi kita Merindukan purnama, meraih cinta Cinta yang menyatukan kita
 

Kali ini Niela mendengar suara Kinara. Sania mulai menaruh wajah, rasanya dia seperti mengatuk. Dan Kinara pun tetap bernyanyi  
Merindukan purnama ... bertahan walau di ... dalam du ... ka
 

Kali ini Sania kaget. Kaget mendengar suara Kinara bergeming, bergelombang. Terlebih ketika dia menoleh pada Kinara, Kinara telah menjatuhkan wajahnya berpangku punggung tangannya di tepi jendela.  
Bersyu ... kurnya lah ... kita ... maa ... sih banyak ... yang sayangi ... ki ... ta Merindu ... kaa ... an pur nama ... mera ... aih cii ... ntaa ...
 

Niela mulai tersadar. Dan dia pun menyusul menoleh Kinara, lalu mengelus-elus bahu Kinara penuh simpatik. Sementara Sania hanya dapat menyenderkan kepalanya pada lengan Kinara, turut merasakan perih yang dirasa Kinara. Dan air mata Kinara pun sudah tak dapat tertahan lagi.  
Ci ... iinntaa ... yaang ... menya ... tukan ... ki ... taa ...
 

Kinara pun mulai tersedu-sedu. Diantara kedua kesimpatikan sahabatnya. Beberapa saat kemudian, Kinara bangun dan mengusap air matanya. Tepatnya beberapa saat sebelum bel berbunyi.

***

Sekarang ini, Kinara sedang berkeliling bersama Sila, Tesia dan Helanie. Mereka bertiga adalah teman sebaya Kinara yang juga ikut ekstrakulikuler robotika. Sekarang ini merang seang mencari selang bekas untuk dibuat jemari robot. Tadinya mereka sudah ke gudang sekolah, tapi mereka tidak menemukan selang itu di sana(sekarang mereka ingin meminta bantuan seorang petugas sekolah untuk membantu mereka mencari selang yang dimaksud di gudang).
 

Mereka sudah berputar-putar. Namun, sampai sekarang pun masih belum menemui seorang pun office boy. Saat melewati taman sekolah yang hijau dan penuh pohon rindang, Kinara melihat Sania tengah duduk di salah satu pohon rindang. Iseng, Kinara mendekati Sania.
 

"Hai!" sapa Kinara sambil berjalan mendekati Sania.
 

Sania yang tengah serius dengan sketsa di buku gambarnya langsung menoleh pada inara. Oya, Sania sebetulnya mengikuti ekskul melukis, bermain musik, dan contemporary dance (sekarang Sania sedang mengikuti ekskul melukisnya).
 

"Kamu lagi menggambar pemandangan di taman?" tanya Kinara.
 

"Iya, Miss Aurel ngasih anak-anak klub menggambar tantangan buat menggambar kegiatan-kegiatan ekskul hari ini sebelum pulang," jawab Sania. "Tapi ini masih sketsanya, belum diwarnain."
 

Kinara memperhatikan gambar Sania. "Gambar kamu bagus tau."
 

"Hehehe ... sebetulnya gambarku masih jauh dari penggambar-penggambar cilik lain, masih ada yang jauh lebih bagus sebetulnya," ujar Sania.
 

Kinara hanya memanggut-manggut.
 

Sania terdiam sesaat. Memperhatikan Kinara, Sania jadi teringat soal kejadian barusan. "Ng ... Mbak, jangan sedih terus, ya?"
 

'Terus aku harus senyum terus seperti hidupku tuh gak ada masalah sama sekali. Emang kamu pikir itu gampang? Emang hidupku segampang kamu yang bisa selalu tersenyum? Kamu tuh ngerti aku gak, sih, San?' Tandas Kinara dalam hatinya pada Sania.
 

"Emangnya kamu bisa kalau kamu ada di posisi aku?" tanya Kinara, terbawa hatinya.
Sania hanya diam. Dia tersenyum. Suasana itu tidak terasa hampa dan sepi, tentunya karena keberisikan para pelajar pencak silat yang tengah berlatih tak jauh dari tempat itu.
 

"Dah ... yuk, Kin!" panggil Sila pada Kinara.
 

"Ya udah, yuk!" balas Kinara sambil bangkit dari duduknya dan menyusul Sila, Tesia, dan Henalie. Sementara Sania tetap duduk di tempatnya sambil melihat Kinara dan yang lainnya pergi dengan senyum yang masih sama.
 

 "Gotcha!" gumam Sania sambil menatap ke depan. Dalam hatinya, dia masih memikirkan perkataan Kinara padanya sebelumnya.

***

Di tempat lain, Marsha tengah mengikuti ekskul basketnya. Marsha memang cewek yang agak tomboi, itu pun terciri dari rambutnya yang panjang sebahu dan dikuncir di atas kepalanya dan agak miring ke kiri dengan karet ikat, juga poninya yang selalu terlihat berantakan. Marsha memang agak bangga dikatakan sebagai cewek tomboi.
 

Dalam berlatih basket, kemampuan Marsha masih standar. Tapi Marsha benar-benar sedang ingin berusaha untuk menjadi juara basket. Dia bahkan punya saingan basket, namanya Rena, namun saingan mereka adalah saingan yang damai.
 

Rena cukup hebat bermain basket. Dia sudah menguasai beberapa teknik basket, dan sudah beberapa kali memenangkan tim basket sekolahnya. Namun Rena tidak tomboi seperti Marsha, dia lebih feminin. Rambutnya yang panjang sepunggung selalu dia ikat tinggi seperti Marsha, tapi dengan pita yang cukup panjang dan di sisi kanan atas kepalanya. Dan selain itu, ekskul lain yang Rena pilih adalah ballet dan bernyanyi.
 

Oya, ekskul lain yang Marsha pilih adalah bernyanyi. Dia dan sahabatnya, Kinara, memang senang mendengarkan musik, dan sesekali bernyanyi. Dan sebaiknya tidak perlu menyanyakan kenapa Marsha tidak memilih ekskul berenang, karena jawabanya akan selalu sama: Marsha alergi air berkaporit.
Sekarang ini, Marsha dan Rena sedang matching basket di dua tim yang berbeda. Kini bola sedang dibawa Marsha, dia sedang berlari menuju ring tim Rena. Lalu tiba-tiba Rena melesat melewati Marsha dan membawa bola menuju ring tim Marsha. Marsha dan teman-teman satu timnya mengejar dan berusaha merebut bola itu kembali, namun Rena bisa mempertahankan bola itu. Hingga akhirnya Rena berhasil memasukan bola itu ke ring tim Marsha.
 

Priiiiiiit!
 

"Oke, kita istirahat dulu!" seru Mr. Daniel, guru ekskul basket.
 

Semua anak pun menepi dari lapangan. Mereka kebanyakan mengambil tas merka masing-masing untuk mengambil air minum.
 

"Wuiiih, tadi keren juga," puji Marsha pada Rena di sebelahnya.
 

"Makasih ...," balas Rena tersenyum senang. "Kamu juga bagus mainnya. Hebat, deh!"
 

"Hohoho ... tapi dibanding aku, hebatan kamu, lah, Ren," kata Marsha lagi.
 

Rena cekikikan. Lalu dia berkata, "Kalau bukan karena kamu, aku bak bakal bagus mainnya."
 

"Masa? Emang kenapa?"
 

"Soalnya kalau aku gak ada saingannya, aku gak bakal serius latihan basket."
 

Sekarang Marsha yang cekikikan. "Aku juga mainnya gak bakal bagus kalau bukan karena kamu. Kan tadi aku lawan kamu."
 

"Hahaha ... iya." Rena menyunggingkan senyumnya yang manis. Marsha hanya ikut tertawa saja.
Rena memang manis. Walau seperti itu, wajahnya lebih terlihat seperti remaja kebanyakan, tidak terlalu imut tapi tetap saja terlihat cantik dan dewasa. Begitu juga dengan wajah Marsha, namun Marsha lebih pendek dari Rena.
 

Saat itu, Kinara melewati ruangan basket tersebut. Ya, Kinara dan teman-teman se-ekskul-nya masih mencari seorang penjaga sekolah. Saat melihat Marsha dan Rena mengobrol dengan akrabnya, Kinara agak kesal. Kinara mendengus gemas dan sebal sebelum dia dan teman-temannya pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Rabu, 25 September 2013

Antara Hatiku dan Hatinya (chapter 1)

Antara Hatiku dan Hatinya
Chapter 1
Kembali Pada Tujuanku


~~~~~
Mungkin alurnya kali yah yang gak nyambung. Tapi karena sebetulnya cerita ini berdasarkan kisah nyata yang nama-namanya aku sensor, jadi sesuai alur kehidupan yang dialami temen aku juga pastinya. Walau gak sama persis dengan kenyataan.
~~~~~





Siang yang cukup panas. Hal itu juga terasa di salah satu kelas di Arial’s Junior High School, Kelas VIII – 1. Dari namanya, tentu sekolah itu adalah sekolah swasta yang cukup terkenal. Di sekolah itu, hampir semua kelasnya menggunakan Air Conditioner, tapi saat ini banyak AC yang mati di sekolah itu.
            Di Kelas VIII – 1, suasananya sedang sepi. Banyak murid di kelas itu yang pergi keluar kelas. Beberapa yang masih di dalam kelas saat ini sedang mengobrol bersama. Mereka adalah Marsha, Sania, dan Kinara.
            “Ikh ... panas banget ...,” keluh Marsha. Dia dan Kinara yang sedang mengobrol berdua. Mereka berdua sedang duduk di bangku mereka masing-masing yang bersebelahan. “Ini AC belom dibenerin, ya?”
            “Gitu, kali,” jawab Kinara.
Kinara menoleh ke belakangnya. Tepatnya ke arah Sania yang sedang membaca buku novel dengan santai. Sania duduk di bangku paling pinggir di deretan bangku Marsha dan Kinara. Dia mengenakan topi bobble berwarna biru kehijauan yang terang membungkus seluruh rambutnya di atas kepalanya, kaus turtle neck lengan panjang melebihi pergelangan tanganya, juga celana ketat seperempat berwarna biru buram yang menutupi kaus kaki selututnya.
            “Dia gak ngerasa panas, apa ya?” tanya Kinara masih memperhatikan Sania.
            “Gak tau, aku gak ngerti kalau soal dia,” balas Marsha. “Hoi!! San! Serius amat bacanya!”
            Sania menoleh pada Marsha. Dia tidak berkata-kata, dan lalu kembali membaca buku novelnya. Marsha mendengus, “Tuh, kan! Aku emang gak ngerti sama dia.”
            Kinara menatap Marsha heran. “Kamu ketimbang diliatin doang kok marah, sih? Aku gak ngerti deh sama kamu, Mar,” ujar Kinara.
            “Ya habisnya, dia ngeliatin aku doang. Bukanya jawab dulu, malah balik baca novel,” jelas Marsha.
            “Maaf, Marsha ...,” kata Sania tiba-tiba muncul di samping Kinara. “Aku gak bermaksud ngacangin kamu, kok,” kata Sania sambil tersenyum.
            “Bohong!” Marsha mendengus sambil memalingkan wajahnya kesamping.
            “Kamu ketimbang begitu aja ngambek,” tanggap Kinara.
            Marsha mendengus lagi. “Kalian emang gak pernah ngerti sama aku!” kata Marsha kesal sambil berdiri, lalu dia berjalan keluar kelas. Tak lupa, Marsha membanting daun pintu dengan kasar.
            Brak!
            Sesaat, keadaan sangat hening. Dan akhirnya Kinara mulai berkata, “Dia tuh, orangnya emang gitu, yah.”
            “Yah ... dia ‘kan cuma mau didengerin aja,” balas Sania menanggapi komentar Kinara. “Kalo dia dicuekin bentaran aja, mesti dia bakal ngambek dan gak mau dengerin orang lain.”
            Kinara cekikikan. “Hihi ... iya. Tapi dia tetep orang baik, kok,” balas Kinara.
            “Mbak bilang begitu karena dia sahabat Mbak, ‘kan?” tebak Sania. Dia memang biasanya memanggil Kinara dengan sebutan “Mbak”, “Mbak Niar” tepatnya. Itu hanya karena Kinara lebih tua setahun darinya.
            “Hehe ... gak gitu juga sih ...,” jawab Kinara. “Aku bilang begitu karena ... yaaa ... ya, aku pikir Marsha emang orang baik.”
            Sania mengangguk-angguk. “Tapi kalau soal Dika, kata Mbak gimana?” tanya Sania ... setengah menggoda.
            “Ih! Apaan, sih?” tanggap Kinara malu-malu sambil mendorong pelan lengan Sania. Sania hanya cekikikan melihat Kinara salah tingkah.
***
Sudah waktunya pulang. Kinara segera ke tempat parkir sepedanya di samping sekolah. Yap, Kinara selalu berangkat dan pulang sekolah dengan sepedanya sendiri.
            Baru saja sampai di sebelah sepedanya, Kinara berhenti sejenak. Dia memperhatikan Sania yang sedang duduk di ayunan di taman sekolah sendirian sambil membaca buku. Namun itu tak lama karena teman sekelasnya memanggilnya.
            “Ra, pulang, yuk!” ajak Niela. Niela adalah teman sekelas Kinara sekaligus tetangga Kinara juga. Mereka sering pulang-pergi dengan sepeda bersama.
            “Kamu duluan aja, ya, La. Aku pulangnya nanti dulu,” ujar Kinara.
            “Ya udah. Dadaah!” kata Neila sambil menggoes sepedanya pergi.
            Kinara langsung berlari ke taman sekolahnya yang berada tak begitu jauh dari tempat parkir itu. Lalu di segera duduk di ayunan yang ada di sebelah Sania.
            “Hai ...!” sapa Kinara tersenyum. Sania menoleh sambil tersenyum juga. “Boleh duduk di sini?” tanya Kinara berbasa-basi.
            “Silahkan aja,” balas Sania masih tersenyum.
            “Umm ... Sania, aku pengen curhat, nih, sama kamu,” tutur Kinara.
            “Ya silahkan ...,” balas Sania sambil menutup buku novelnya. “Bicara aja.”
            Kinara menarik nafas. Lalu dia menghembuskan nafasnya, dan mulai bercerita. “Yah ... kamu tahu, ‘kan, soal aku suka sama Dika.”
            Sania menggangguk.
            “Kata kamu ... sebetulnya aku cocok gak sih sama dia?”
            Sania terdiam. Dia menatap langit biru berawan di atasnya.
            'Sulit untuk mengerti sebetulnya,' pikir Sania.
            Sebenarnya Kinara sudah lama menyukai seorang cowok. Andika Adiputra namanya, dia seorang cowok yang mudah terbawa suasana apapun suasananya, kecuali sedih. Dan untuk bisa mengerti lebih dalam tentang bagaimana kepribadianya sangat sulit.
            Karena kesulitan itulah yang membuat Dika sulit dimengerti. Bahkan soal percintaanya pun sangat tak masuk akal. Dika sebetulnya sudah tahu sejak lama kalau Kinara menyukainya, tapi dia seakan tidak peduli dan lebih memikirkan Vania, gadis yang dia sukai. Dan yang tidak masuk akalnya, saat dia sudah tahu kalau Kinara menyukainya tapi dia memilih gadis lain (padahal menurut Sania, Kinara yang sabar dan apa adanya lebih baik ketimbang Vania yang terlihat agak sombong).
            Sulit bagi Sania untuk mengerti soal kasus percintaan Kinara dan Dika.
            “Jujur, deh, San,” pinta Kinara membuat Sania tersadar.
            “Kalau kataku, Dika lebih cocok sama Mbak Niar,” ujar Sania. “Vania mungkin lebih cocok sama Dion,” lanjut Sania.
            Kinara menganguk-angguk sambil memperhatikan ke bawah. Dia mulai mengingat Dion yang tampan dan penuh gaya, Dion juga merupakan laki-laki yang disukai dan dibenci Vania. Kenapa? Karena kasus Vania hampir sama dengan Kinara, Vania sangat menyukai Dion, namun Dion yang sebetulnya sudah putus berpacaran dengan Melina lebih menginginkan Melina dan tidak peduli pada Vania. Dan karena itulah Vania mencoba membenci Dion.
            “Tapi menurut kamu ...,” kata Kinara lagi. “Aku sama Dika itu serasi, gak?”
            “Iya,” jawab Sania singkat sambil tersenyum.
            Kinara terdiam merunduk. Senyum di wajah Sania pun perlahan memudar. Dan Sania berkata, “Mungkin kalau Mbak Niar percaya, Dika pasti bisa meninggalkan Vania.”
            Kinara menatap Sania ragu. “Serius?”
            “Iya. Tapi Mbak Niar harusnya gak begini. Lagian ... Mbak ‘kan udah lama suka sama Dika, ‘kan? Itu gak terlalu terlihat sebagai ‘hanya suka’ kalau dipahami lagi, lho.”
            Kinara mengangkat kepalanya menatap langit. Sania terdiam memperhatikan Kinara.
            Kinara memang mengakui segala hal tentang dirinya. Dia tahu sekali dia tak sempurna. Tapi satu kekuranganya: dia terkadang ragu-ragu hanya karena mengakui dirinya penuh kekurangan.
            Sania tersenyum, mencoba menghibur Kinara. “Cewek ... jangan cemberut dong, manis,” canda Sania.
            Kinara mendesah. Dia tetap merunduk.
            “Manis, senyum dong,” pinta Sania bercanda. Yah, sebetulnya memang candaan Sania jarang lucu dan itulah yang biasanya jadi resiko kalau dia sampai melihat orang lain cemberut.
            “Huuhuuuu ... Mbak Niar maraaaah ...,” kata Sania seraya berpura-pura menangis.
            Kinara tahu kalau Sania sedang bercanda. Tapi tetap saja dia menjawab, “Aku gak marah sama kamu.”
            “Masa?”
            “Iya.”
            “Kalo gitu senyuuuum!”
            Kinara tetap datar. Sania pun mendesah dengan mood yang jatuh seketika. Tapi Kinara nampaknya tidak peduli, kalau Sania akan mencoba bercanda lagi.
            Tak berapa lama, keadaan rasanya seperti sunyi senyap. Kinara dan Sania tidak bertatapan selama itu. Sampai akhirnya Sania mulai memainkan ayunannya, barulah Kinara terpikirkan untuk mengikuti Sania. Dan akhirnya pun, Kinara menyusul Sania bermain ayunan.
            “Haahh ...,” desah Sania. “Adem. Gak sumpek kaya tadi siang,” tanggap Sania.
            Kinara akhirnya tersenyum. “Iya! Ahahaha!”
            'Walau rasanya kayak agak kekanak-kanakan dikit, tapi seru juga, sih,' pikir Kinara.
***
“Hai, Ra!” sapa Marsha pada Kinara yang sudah ada di kelas di esok paginya. Marsha langsung saja duduk di sebelah Kinara, sahabat karibnya.
            “Hai, Mar,” balas Kinara.
            “Tadi aku sempet ngobrol sama Niela, lho ...,” tutur Marsha. “Katanya kemaren kamu pulangnya agak telatan. Ngapain hayoo?” goda Marsha.
            'Ini nih yang gak aku suka dari Marsha, prasangkanya itu ... mesti mikir ke mana-mana', bathin Kinara.
            “Emangnya menurut kamu ngapain?” Kinara balik bertanya.
            “Kayaknya sih ... berduaan gitu! Acieee ... cieeeee ...,” goda Marsha lagi.
            “Hmm ... kamu sebetulnya udah bener, tapi gak perlu pake ‘cie cie’-nya juga kali,” kata Kinara.
            “Emangnya gak boleh?”
            “Bukan gitu, sih, cuma gak nyambung aja.”
            “Oooh yaaa?”
            “Ya iya, lah! Orang aku ngobrol berdua sama Sania kemaren ...,” tutur Kinara. “Yeee ... malu ah, malu!”
            “Enggak tuh, gak malu! Orang aku pake baju! Yah, malu ah, malu,” balas Marsha.
            “Enggak tuh, aku kan pake baju!” balas Kinara juga.
            “Yah, foto kopi, gak kreatif! Huuuu!” balas Marsha.
            Kinara akhirnya hanya bisa tertawa. Dan tak lama kemudian pun, bel berbunyi. Dan beberapa saat setelah itu, pelajaran pun dimulai.
***
Saat istirahat tiba. Saat itu kelas Kinara sepi, hanya ada Kinara dan Niela di kelas. Di saat istirahat, semua anak memang sering pergi beristirahat ke kantin, kecuali Kinara dan Niela yang jarang membeli jajanan di kantin. Kalau bersama Niela, mereka berdua sering duet bernyanyi bersama.
            “Hihihi ...,” Kinara cekikikan. “Suara aku mah jelek banget. Gak kayak kamu, La, kamu mah suaranya bagus,” puji Kinara.
            “Makasih,” balas Niela.
            “Eaa! Eaa! Pede banget, deh!” tanggap Yora sambil masuk ke dalam kelas. Dia tidak sendirian, tapi juga bersama Sania, Revy dan Aurel, mereka memang terlihat akrab.
            “Biarin ajah!” balas Niela berpura-pura judes sambil tersenyum.
            “Wayo lho ... Niela marah,” imbuh Sania bercanda.
            “Iya, aku marah sama kamu!” balas Niela bercanda lagi.
            “Eh? Kenapa aku di bawa-bawa?” tanya Sania.
            “Yee ... ke-GR-an,” balas Niela pada Sania.
            “Ampun, deh ... damai ... oke?” kata Sania sambil menunjukan kedua jarinya.
            “Ahahaha ... dia mah ... sering begitu tau,” tanggap Kinara.
            Sania hanya cengar-cengir. Dia berjalan ke dekat Kinara dan Niela. Lalu duduk di salah satu kursi di situ sambil berkata, “Tapi suara Niela emang bagus.”
            “Makasih!” Niela tersenyum lebar.
            “Kata aku ...,” kata Sania lagi. “Niela cocok kalau sama Fano.”
            “Iya! Bener, tuh! Suaranya sama-sama bagus, yah,” imbuh Kinara.
            “Ahaha ... makasih bangeeet,” balas Niela girang.
            “Hehe ... Mbak, kataku kalau nanti Niela jadian sama Fano, mesti mereka nyanyi-nyanyi mulu,” canda Sania cekikikan.
            “Hahaha ... iya, aku juga mikir gitu tau,” balas Kinara sambil tertawa juga.
            “Tapi gak apa-apa, sih, ‘kan kelas jadi gak sepi. Kan suara mereka berdua emang enak didenger,” tanggap Sania.
            “Makasiiiih, baik banget deh!” kata Niela.
            “Eh? Tapi kalau Kinara sama Dika gimana, ya?” goda Niela.
            “Iiiih ... kamuuu ...!” seru Kinara. Sania dan Niela hanya tertawa saja.
***
Malam harinya, Kinara belajar. Setelah selesai dan membereskan buku-bukunya, Kinara duduk sebentar di atas kasur.
            “Hmm ... ngapain, ya?” kata Kinara sambil memperhatikan sekeliling.
            Sesaat, Kinara memperhatikan handphone-nya. Lalu dia meraih handphone itu seraya berkata, “SMS-an ah!” Namun saat handphone itu sudah ditanganya, dia kembali diam.
            “Umm ... SMS siapa, ya?” ujar Kinara. “Dika? Ah, jangan! Marsha? Tapi biasanya dia comel, dan aku lagi males ngebicarain soal Dero yang dia suka itu. Ferra? Tapi aku lagi males ah. Siapa, ya?” pikir Kinara.
            Tiba-tiba hp Kinara berdering. Dia melihat layar hp-nya, dan mendapati sebuah pesan masuk. Dan Kinara langsung saja membuka pesanya. Ternyata itu pesan dari Sania.

            Hye!

            Begitulah cara Sania berkata “hai”. Kinara segera membalas SMS itu.

Kinara : Hai juga

Sania   : Mbak, aku ganggu gak?

Kinara : Sama sekali enggak kok, kenapa?

Sania   : Aku cuma mau tanya soal PR doang. Aku lupa, besok ada PR apa aja?

Kinara : Ah, kirain ... kalau gak salah, sih, Matematika sama Fisika. Gila, susah banget!

Sania   : Oh ... yang di LKS (Matematika) sama yang di halaman 76 itu (Fisika)

Kinara : Iya, aku gak terlalu ngerti sama caranya.

            Dan mereka pun mulai tenggelam membicarakan pelajaran sekolah mereka. Hampir satu jam mereka saling berkirim SMS. Dan di ujungnya, Kinara mulai mengganti topik.

Kinara : Omong-omong, San ... kata kamu aku sama Dika cocok gak sih?

Sania   : Cocok banget sebetunya

Kinara : Beneran?

Sania   : Iya

            Sedikit-sedikit, Kinara meyakini. Dia memperhatikan hp-nya yang layarnya tengah berada di pesan Sania. Tak sengaja, Kinara memperhatikan jam di ujung layar hp-nya, yang menunjukan pukul 10.45.

Kinara : Eh, udah malem gak kerasa, ya? Kita lnjutin besok aja, ya.

Sania   : Okekekek

            Kinara pun menaruh hp-nya. Lalu dia bersiap tidur, dan pergi tidur.
***
Esoknya saat istirahat, Kinara nampak sedang membaca buku pelajarannya di mejanya. Lalu tiba-tiba Sania datang dan duduk di sampingnya.
            “Wah, serius,” kata Sania, menanggapi Kinara yang baru tersadar akan keberadaannya.
            “Oh, enggak juga. Sebetulnya, sih, cuma lagi nge-check PR Fisika,” balas Kinara.
            “Mbak ngerti, gak, yang dibagi-dibagi gitu.”
            “Gak terlalu, aku aja sampe harus SMS-an sama Deri buat nanyain soal yang caranya itu. Tapi perasaan hampir percuma, dia gak ngerti juga. Kamu ngerti, gak?”
            “Gak yakin. Aku kadang suka lupa, sih. Tapi yang dikali terus dikurang itu aku tau.”
            “Dikali terus dikurang? Itu, mah, yang Matematika, kali.”
            “Oh, kayaknya gitu ... oya, emang iya ... hehehe.”
            Kinara mendesah-kesah. Sania hanya memperhatikan Kinara sambil memakan rotinya dengan pandangan datar namun khas anak kecil.
            “Jadi inget SMS semalem ...,” ujar Kinara. “Kamu serius, ‘kan?”
            Kali ini Sania cemberut terlebih dahulu, menunggu roti di mulutnya habis. “Mbak Niar terlalu pesimis!” tanggap Sania.
            “Hah?” kata Kinara. “Maksudnya?”
            “Mbak tuh sering banget nanyain soal kecocokan Mbak sama Dika. Itu kedengeran kaya orang yang pesimis,” jelas Sania.
            Kinara menaruh wajah. “Hmmh ... buat ngedapetin hati Dika kok rasanya susah banget, sih?” keluh Kinara.
            “Mbak Niar gak boleh nyerah gitu aja, dong!” kata Sania pada Kinara. “Mbak ‘kan udah berusaha keras. Mbak udah melalui perjuangan mbak ini dengan tawa dan tangis. Jadi, bagaimanapun juga Mbak gak boleh nyerah buat orang yang Mbak cinta,” lanjut Sania.
            Kinara terdiam. Tadinya dia ingin menyela perkataan Sania, namun baru mendengarkan beberapa patah perkataan Sania membuat Kinara menutup mulutnya untuk mendengarkan. Dan sekarang Kinara hanya membeku.
            “Janji, yah?” pinta Sania beberapa saat kemudian. Kinara pun tersadar, dan dia mulai perlahan tersenyum.
            “Aku masih belom mau nyerah, San ...,” balas Kinara. “Dan sekarang aku janji aku gak bakal nyerah sampai aku bisa dapetin Dika, orang yang aku cinta,” tekad Kinara.
            Sania pun tersenyum lebar. “Ahaha ... aku seneng kalau begitu,” kata Sania tertawa bahagia.
            Kinara pun menatap langit diluar jendela di sebelahnya. Dia tetap tersenyum. 'Beri aku kesempatan, aku janji tidak akan menyerah atau pesimistis dengan cintaku,' pinta Kinara dalam hatinya.
            Dan Kinara tetap kembali, kembali pada tujuannya yang tak akan dia lepas.

Selasa, 03 September 2013

Antara Hatiku dan Hatinya (sinopsis)




Judul: Antara Hatiku dan Hatinya
Genre: Romance, School life
Tipe: Novel


~~~~~
Ini dia cerita request pertamanya! Cerita ini di request ke aku lewat social media ;p Ini baru sinopsisnya, ceritanya nanti akan menyusul! Oya, Hope you like it, buat yang pesan ceritanya.
~~~~~






Sinopsis:
Kinara, seorang gadis SMP berusia 13 tahun. Dia duduk di Kelas VIII – 1 di sekolah ternama di lingkungan tempat tinggalnya. Dan di sekolah itulah dia menemukan cinta pertamanya. Tapi sayang sekali, orang yang dicintainya tidak peduli dengan perasaanya, laki-laki itu malah lebih menyukai gadis lain. Namun Kinara tidak menyerah. Dia tetap berusaha mendapatkan hati lelaki itu meskipun diam-diam. Dengan dibantu beberapa sahabatnya juga.
Tapi ... di sisi lain, Kinara benar-benar bingung. Dia selalu berpikir tentang kenapa dia tidak bisa berhenti mencintai lelaki itu, padahal dia jelas-jelas tahu kalau laki-laki yang dicintainya tidak peduli pada cintanya. Apakah cinta pertamanya itu adalah cinta sejatinya?