Antara Hatiku dan Hatinya
Chapter 1
Kembali Pada Tujuanku
~~~~~
Mungkin alurnya kali yah yang gak nyambung. Tapi karena sebetulnya cerita ini berdasarkan kisah nyata yang nama-namanya aku sensor, jadi sesuai alur kehidupan yang dialami temen aku juga pastinya. Walau gak sama persis dengan kenyataan.
~~~~~
Chapter 1
Kembali Pada Tujuanku
~~~~~
Mungkin alurnya kali yah yang gak nyambung. Tapi karena sebetulnya cerita ini berdasarkan kisah nyata yang nama-namanya aku sensor, jadi sesuai alur kehidupan yang dialami temen aku juga pastinya. Walau gak sama persis dengan kenyataan.
~~~~~
Siang
yang cukup panas. Hal itu juga terasa di salah satu kelas di Arial’s Junior High School,
Kelas VIII – 1. Dari namanya, tentu sekolah itu adalah sekolah swasta yang
cukup terkenal. Di sekolah itu, hampir semua kelasnya menggunakan Air
Conditioner, tapi saat ini banyak AC yang mati di
sekolah itu.
Di Kelas VIII – 1, suasananya sedang
sepi. Banyak murid di kelas itu yang pergi keluar kelas. Beberapa yang masih di
dalam kelas saat ini sedang mengobrol bersama. Mereka adalah Marsha, Sania, dan
Kinara.
“Ikh ... panas banget ...,” keluh
Marsha. Dia dan Kinara yang sedang mengobrol berdua. Mereka berdua sedang duduk
di bangku mereka masing-masing yang bersebelahan. “Ini AC belom dibenerin, ya?”
“Gitu, kali,” jawab Kinara.
Kinara
menoleh ke belakangnya. Tepatnya ke arah Sania yang sedang membaca buku novel
dengan santai. Sania duduk di bangku paling pinggir di deretan bangku Marsha
dan Kinara. Dia mengenakan topi bobble berwarna biru kehijauan yang terang
membungkus seluruh rambutnya di atas kepalanya, kaus turtle neck lengan panjang
melebihi pergelangan tanganya, juga celana ketat seperempat berwarna biru buram
yang menutupi kaus kaki selututnya.
“Dia gak ngerasa panas, apa ya?”
tanya Kinara masih memperhatikan Sania.
“Gak tau, aku gak ngerti kalau soal dia,”
balas Marsha. “Hoi!! San! Serius amat bacanya!”
Sania menoleh pada Marsha. Dia tidak
berkata-kata, dan lalu kembali membaca buku novelnya. Marsha mendengus, “Tuh,
kan! Aku emang gak ngerti sama dia.”
Kinara menatap Marsha heran. “Kamu
ketimbang diliatin doang kok marah, sih? Aku gak ngerti deh sama kamu, Mar,”
ujar Kinara.
“Ya habisnya, dia ngeliatin aku
doang. Bukanya jawab dulu, malah balik baca novel,” jelas Marsha.
“Maaf, Marsha ...,” kata Sania
tiba-tiba muncul di samping Kinara. “Aku gak bermaksud ngacangin kamu, kok,”
kata Sania sambil tersenyum.
“Bohong!” Marsha mendengus sambil
memalingkan wajahnya kesamping.
“Kamu ketimbang begitu aja ngambek,”
tanggap Kinara.
Marsha mendengus lagi. “Kalian emang
gak pernah ngerti sama aku!” kata Marsha kesal sambil berdiri, lalu dia
berjalan keluar kelas. Tak lupa, Marsha membanting daun pintu dengan kasar.
Brak!
Sesaat, keadaan sangat hening. Dan
akhirnya Kinara mulai berkata, “Dia tuh, orangnya emang gitu, yah.”
“Yah ... dia ‘kan cuma mau
didengerin aja,” balas Sania menanggapi komentar Kinara. “Kalo dia dicuekin
bentaran aja, mesti dia bakal ngambek dan gak mau dengerin orang lain.”
Kinara cekikikan. “Hihi ... iya.
Tapi dia tetep orang baik, kok,” balas Kinara.
“Mbak bilang begitu karena dia
sahabat Mbak, ‘kan?” tebak Sania. Dia memang biasanya memanggil Kinara dengan
sebutan “Mbak”, “Mbak Niar” tepatnya. Itu hanya karena Kinara lebih tua setahun
darinya.
“Hehe ... gak gitu juga sih ...,”
jawab Kinara. “Aku bilang begitu karena ... yaaa ... ya, aku pikir Marsha emang
orang baik.”
Sania mengangguk-angguk. “Tapi kalau
soal Dika, kata Mbak gimana?” tanya Sania ... setengah menggoda.
“Ih! Apaan, sih?” tanggap Kinara
malu-malu sambil mendorong pelan lengan Sania. Sania hanya cekikikan melihat
Kinara salah tingkah.
***
Sudah
waktunya pulang. Kinara segera ke tempat parkir sepedanya di samping sekolah.
Yap, Kinara selalu berangkat dan pulang sekolah dengan sepedanya sendiri.
Baru saja sampai di sebelah
sepedanya, Kinara berhenti sejenak. Dia memperhatikan Sania yang sedang duduk
di ayunan di taman sekolah sendirian sambil membaca buku. Namun itu tak lama
karena teman sekelasnya memanggilnya.
“Ra, pulang, yuk!” ajak Niela. Niela
adalah teman sekelas Kinara sekaligus tetangga Kinara juga. Mereka sering
pulang-pergi dengan sepeda bersama.
“Kamu duluan aja, ya, La. Aku
pulangnya nanti dulu,” ujar Kinara.
“Ya udah. Dadaah!” kata Neila sambil
menggoes sepedanya pergi.
Kinara langsung berlari ke taman
sekolahnya yang berada tak begitu jauh dari tempat parkir itu. Lalu di segera
duduk di ayunan yang ada di sebelah Sania.
“Hai ...!” sapa Kinara tersenyum.
Sania menoleh sambil tersenyum juga. “Boleh duduk di sini?” tanya Kinara
berbasa-basi.
“Silahkan aja,” balas Sania masih
tersenyum.
“Umm ... Sania, aku pengen curhat,
nih, sama kamu,” tutur Kinara.
“Ya silahkan ...,” balas Sania
sambil menutup buku novelnya. “Bicara aja.”
Kinara menarik nafas. Lalu dia
menghembuskan nafasnya, dan mulai bercerita. “Yah ... kamu tahu, ‘kan, soal aku
suka sama Dika.”
Sania menggangguk.
“Kata kamu ... sebetulnya aku cocok
gak sih sama dia?”
Sania terdiam. Dia menatap langit
biru berawan di atasnya.
'Sulit
untuk mengerti sebetulnya,' pikir Sania.
Sebenarnya Kinara sudah lama
menyukai seorang cowok. Andika Adiputra namanya, dia seorang cowok yang mudah
terbawa suasana apapun suasananya, kecuali sedih. Dan untuk bisa mengerti lebih
dalam tentang bagaimana kepribadianya sangat sulit.
Karena kesulitan itulah yang membuat
Dika sulit dimengerti. Bahkan soal percintaanya pun sangat tak masuk akal. Dika
sebetulnya sudah tahu sejak lama kalau Kinara menyukainya, tapi dia seakan
tidak peduli dan lebih memikirkan Vania, gadis yang dia sukai. Dan yang tidak masuk
akalnya, saat dia sudah tahu kalau Kinara menyukainya tapi dia memilih gadis
lain (padahal menurut Sania, Kinara yang sabar dan apa adanya lebih baik
ketimbang Vania yang terlihat agak sombong).
Sulit bagi Sania untuk mengerti soal
kasus percintaan Kinara dan Dika.
“Jujur, deh, San,” pinta Kinara
membuat Sania tersadar.
“Kalau kataku, Dika lebih cocok sama
Mbak Niar,” ujar Sania. “Vania mungkin lebih cocok sama Dion,” lanjut Sania.
Kinara menganguk-angguk sambil
memperhatikan ke bawah. Dia mulai mengingat Dion yang tampan dan penuh gaya,
Dion juga merupakan laki-laki yang disukai dan dibenci Vania. Kenapa? Karena
kasus Vania hampir sama dengan Kinara, Vania sangat menyukai Dion, namun Dion
yang sebetulnya sudah putus berpacaran dengan Melina lebih menginginkan Melina
dan tidak peduli pada Vania. Dan karena itulah Vania mencoba membenci Dion.
“Tapi menurut kamu ...,” kata Kinara
lagi. “Aku sama Dika itu serasi, gak?”
“Iya,” jawab Sania singkat sambil
tersenyum.
Kinara terdiam merunduk. Senyum di
wajah Sania pun perlahan memudar. Dan Sania berkata, “Mungkin kalau Mbak Niar
percaya, Dika pasti bisa meninggalkan Vania.”
Kinara menatap Sania ragu. “Serius?”
“Iya. Tapi Mbak Niar harusnya gak
begini. Lagian ... Mbak ‘kan udah lama suka sama Dika, ‘kan? Itu gak terlalu
terlihat sebagai ‘hanya suka’ kalau dipahami lagi, lho.”
Kinara mengangkat kepalanya menatap
langit. Sania terdiam memperhatikan Kinara.
Kinara memang mengakui segala hal
tentang dirinya. Dia tahu sekali dia tak sempurna. Tapi satu kekuranganya: dia
terkadang ragu-ragu hanya karena mengakui dirinya penuh kekurangan.
Sania tersenyum, mencoba menghibur Kinara.
“Cewek ... jangan cemberut dong, manis,” canda Sania.
Kinara mendesah. Dia tetap merunduk.
“Manis, senyum dong,” pinta Sania
bercanda. Yah, sebetulnya memang candaan Sania jarang lucu dan itulah yang
biasanya jadi resiko kalau dia sampai melihat orang lain cemberut.
“Huuhuuuu ... Mbak Niar maraaaah
...,” kata Sania seraya berpura-pura menangis.
Kinara tahu kalau Sania sedang
bercanda. Tapi tetap saja dia menjawab, “Aku gak marah sama kamu.”
“Masa?”
“Iya.”
“Kalo gitu senyuuuum!”
Kinara tetap datar. Sania pun
mendesah dengan mood yang jatuh seketika. Tapi Kinara nampaknya tidak peduli,
kalau Sania akan mencoba bercanda lagi.
Tak berapa lama, keadaan rasanya
seperti sunyi senyap. Kinara dan Sania tidak bertatapan selama itu. Sampai
akhirnya Sania mulai memainkan ayunannya, barulah Kinara terpikirkan untuk
mengikuti Sania. Dan akhirnya pun, Kinara menyusul Sania bermain ayunan.
“Haahh ...,” desah Sania. “Adem. Gak
sumpek kaya tadi siang,” tanggap Sania.
Kinara akhirnya tersenyum. “Iya!
Ahahaha!”
'Walau rasanya kayak agak
kekanak-kanakan dikit, tapi seru juga, sih,' pikir Kinara.
***
“Hai,
Ra!” sapa Marsha pada Kinara yang sudah ada di kelas di esok paginya. Marsha
langsung saja duduk di sebelah Kinara, sahabat karibnya.
“Hai, Mar,” balas Kinara.
“Tadi aku sempet ngobrol sama Niela,
lho ...,” tutur Marsha. “Katanya kemaren kamu pulangnya agak telatan. Ngapain
hayoo?” goda Marsha.
'Ini
nih yang gak aku suka dari Marsha, prasangkanya itu ... mesti mikir ke
mana-mana', bathin Kinara.
“Emangnya menurut kamu ngapain?”
Kinara balik bertanya.
“Kayaknya sih ... berduaan gitu!
Acieee ... cieeeee ...,” goda Marsha lagi.
“Hmm ... kamu sebetulnya udah bener,
tapi gak perlu pake ‘cie cie’-nya juga kali,” kata Kinara.
“Emangnya gak boleh?”
“Bukan gitu, sih, cuma gak nyambung
aja.”
“Oooh yaaa?”
“Ya iya, lah! Orang aku ngobrol
berdua sama Sania kemaren ...,” tutur Kinara. “Yeee ... malu ah, malu!”
“Enggak tuh, gak malu! Orang aku
pake baju! Yah, malu ah, malu,” balas Marsha.
“Enggak tuh, aku kan pake baju!”
balas Kinara juga.
“Yah, foto kopi, gak kreatif!
Huuuu!” balas Marsha.
Kinara akhirnya hanya bisa tertawa.
Dan tak lama kemudian pun, bel berbunyi. Dan beberapa saat setelah itu,
pelajaran pun dimulai.
***
Saat
istirahat tiba. Saat itu kelas Kinara sepi, hanya ada Kinara dan Niela di
kelas. Di saat istirahat, semua anak memang sering pergi beristirahat ke
kantin, kecuali Kinara dan Niela yang jarang membeli jajanan di kantin. Kalau
bersama Niela, mereka berdua sering duet bernyanyi bersama.
“Hihihi ...,” Kinara cekikikan.
“Suara aku mah jelek banget. Gak kayak kamu, La, kamu mah suaranya bagus,” puji
Kinara.
“Makasih,” balas Niela.
“Eaa! Eaa! Pede banget, deh!”
tanggap Yora sambil masuk ke dalam kelas. Dia tidak sendirian, tapi juga bersama
Sania, Revy dan Aurel, mereka memang terlihat akrab.
“Biarin ajah!” balas Niela
berpura-pura judes sambil tersenyum.
“Wayo lho ... Niela marah,” imbuh
Sania bercanda.
“Iya, aku marah sama kamu!” balas
Niela bercanda lagi.
“Eh? Kenapa aku di bawa-bawa?” tanya
Sania.
“Yee ... ke-GR-an,” balas Niela pada
Sania.
“Ampun, deh ... damai ... oke?” kata
Sania sambil menunjukan kedua jarinya.
“Ahahaha ... dia mah ... sering
begitu tau,” tanggap Kinara.
Sania hanya cengar-cengir. Dia
berjalan ke dekat Kinara dan Niela. Lalu duduk di salah satu kursi di situ
sambil berkata, “Tapi suara Niela emang bagus.”
“Makasih!” Niela tersenyum lebar.
“Kata aku ...,” kata Sania lagi.
“Niela cocok kalau sama Fano.”
“Iya! Bener, tuh! Suaranya sama-sama
bagus, yah,” imbuh Kinara.
“Ahaha ... makasih bangeeet,” balas
Niela girang.
“Hehe ... Mbak, kataku kalau nanti
Niela jadian sama Fano, mesti mereka nyanyi-nyanyi mulu,” canda Sania
cekikikan.
“Hahaha ... iya, aku juga mikir gitu
tau,” balas Kinara sambil tertawa juga.
“Tapi gak apa-apa, sih, ‘kan kelas
jadi gak sepi. Kan suara mereka berdua emang enak didenger,” tanggap Sania.
“Makasiiiih, baik banget deh!” kata
Niela.
“Eh? Tapi kalau Kinara sama Dika
gimana, ya?” goda Niela.
“Iiiih ... kamuuu ...!” seru Kinara.
Sania dan Niela hanya tertawa saja.
***
Malam
harinya, Kinara belajar. Setelah selesai dan membereskan buku-bukunya, Kinara
duduk sebentar di atas kasur.
“Hmm ... ngapain, ya?” kata Kinara
sambil memperhatikan sekeliling.
Sesaat, Kinara memperhatikan
handphone-nya. Lalu dia meraih handphone itu seraya berkata, “SMS-an ah!” Namun
saat handphone itu sudah ditanganya, dia kembali diam.
“Umm ... SMS siapa, ya?” ujar
Kinara. “Dika? Ah, jangan! Marsha? Tapi biasanya dia comel, dan aku lagi males
ngebicarain soal Dero yang dia suka itu. Ferra? Tapi aku lagi males ah. Siapa,
ya?” pikir Kinara.
Tiba-tiba hp Kinara berdering. Dia
melihat layar hp-nya, dan mendapati sebuah pesan masuk. Dan Kinara langsung
saja membuka pesanya. Ternyata itu pesan dari Sania.
Hye!
Begitulah cara Sania berkata “hai”.
Kinara segera membalas SMS itu.
Kinara : Hai juga
Sania : Mbak, aku ganggu gak?
Kinara : Sama sekali enggak kok, kenapa?
Sania : Aku cuma mau tanya soal PR doang. Aku lupa,
besok ada PR apa aja?
Kinara : Ah, kirain ... kalau gak salah, sih,
Matematika sama Fisika. Gila, susah banget!
Sania : Oh ... yang di LKS (Matematika) sama yang
di halaman 76 itu (Fisika)
Kinara : Iya, aku gak terlalu ngerti sama caranya.
Dan mereka pun mulai tenggelam
membicarakan pelajaran sekolah mereka. Hampir satu jam mereka saling berkirim
SMS. Dan di ujungnya, Kinara mulai mengganti topik.
Kinara : Omong-omong, San ... kata kamu aku sama Dika
cocok gak sih?
Sania : Cocok banget sebetunya
Kinara : Beneran?
Sania : Iya
Sedikit-sedikit, Kinara meyakini.
Dia memperhatikan hp-nya yang layarnya tengah berada di pesan Sania. Tak
sengaja, Kinara memperhatikan jam di ujung layar hp-nya, yang menunjukan pukul
10.45.
Kinara : Eh, udah malem gak kerasa, ya? Kita lnjutin
besok aja, ya.
Sania : Okekekek
Kinara pun menaruh hp-nya. Lalu dia
bersiap tidur, dan pergi tidur.
***
Esoknya
saat istirahat, Kinara nampak sedang membaca buku pelajarannya di mejanya. Lalu
tiba-tiba Sania datang dan duduk di sampingnya.
“Wah, serius,” kata Sania,
menanggapi Kinara yang baru tersadar akan keberadaannya.
“Oh, enggak juga. Sebetulnya, sih, cuma
lagi nge-check PR Fisika,” balas
Kinara.
“Mbak ngerti, gak, yang
dibagi-dibagi gitu.”
“Gak terlalu, aku aja sampe harus
SMS-an sama Deri buat nanyain soal yang caranya itu. Tapi perasaan hampir percuma,
dia gak ngerti juga. Kamu ngerti, gak?”
“Gak yakin. Aku kadang suka lupa,
sih. Tapi yang dikali terus dikurang itu aku tau.”
“Dikali terus dikurang? Itu, mah,
yang Matematika, kali.”
“Oh, kayaknya gitu ... oya, emang
iya ... hehehe.”
Kinara mendesah-kesah. Sania hanya
memperhatikan Kinara sambil memakan rotinya dengan pandangan datar namun khas
anak kecil.
“Jadi inget SMS semalem ...,” ujar
Kinara. “Kamu serius, ‘kan?”
Kali ini Sania cemberut terlebih
dahulu, menunggu roti di mulutnya habis. “Mbak Niar terlalu pesimis!” tanggap
Sania.
“Hah?” kata Kinara. “Maksudnya?”
“Mbak tuh sering banget nanyain soal
kecocokan Mbak sama Dika. Itu kedengeran kaya orang yang pesimis,” jelas Sania.
Kinara menaruh wajah. “Hmmh ... buat
ngedapetin hati Dika kok rasanya susah banget, sih?” keluh Kinara.
“Mbak Niar gak boleh nyerah gitu
aja, dong!” kata Sania pada Kinara. “Mbak ‘kan udah berusaha keras. Mbak udah
melalui perjuangan mbak ini dengan tawa dan tangis. Jadi, bagaimanapun juga
Mbak gak boleh nyerah buat orang yang Mbak cinta,” lanjut Sania.
Kinara terdiam. Tadinya dia ingin
menyela perkataan Sania, namun baru mendengarkan beberapa patah perkataan Sania
membuat Kinara menutup mulutnya untuk mendengarkan. Dan sekarang Kinara hanya
membeku.
“Janji, yah?” pinta Sania beberapa
saat kemudian. Kinara pun tersadar, dan dia mulai perlahan tersenyum.
“Aku masih belom mau nyerah, San
...,” balas Kinara. “Dan sekarang aku janji aku gak bakal nyerah sampai aku
bisa dapetin Dika, orang yang aku cinta,” tekad Kinara.
Sania pun tersenyum lebar. “Ahaha
... aku seneng kalau begitu,” kata Sania tertawa bahagia.
Kinara pun menatap langit diluar
jendela di sebelahnya. Dia tetap tersenyum. 'Beri aku kesempatan, aku janji
tidak akan menyerah atau pesimistis dengan cintaku,' pinta Kinara dalam hatinya.
Dan Kinara tetap kembali, kembali
pada tujuannya yang tak akan dia lepas.

