Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Senin, 09 Desember 2013

Antara Hatiku dan Hatinya (Chapter 2)

Antara Hatiku dan Hatinya
Chapter 2:
Hati Kinara 



~~~~~
Lama, ya? Sayang gak ada yang responin, nih! Ayo dong dukung hatinya Kinara! :D
 

~~~~~




Di hari sabtu, alias hari ini, adalah waktunya murid-murid Arial's Junior High School hanya mengikuti ekstra kulikuler yang mereka ikuti. Di sekolah itu ada berbagai macam ekskul, diantaranya: pencak silat, sepak bola, dama, basket, robotika, ballet, contemporary dance, bermain musik, bernyanyi, mewarnai, dan berenang.
 

Setiap anak di sekolah itu dapat memilih lebih dari satu ekskul. Namun tetap saja mereka harus memilih satu ekskul yang paling penting. Yang paling penting itu berarti harus diikuti di setiap hari sabtu, sementara ekskul yang lainnya lagi akan diikuti di hari-hari yang ditentukan oleh guru ekskul tersebut (misalnya: salah satu murid memilih basket sebagai ekskul yang penting untuknya, dan memilih berenang sebagai ekskul satunya lagi. Berarti di tiap hari sabtu dia harus mengikuti ekskul basket, dan ekskul berenang akan dia ikuti di hari yang ditentukan oleh guru ekskul renangnya).
 

Oya, semua ekskul yang ada di luar hari sabtu akan dijalankan di antara senin sampai jumat dan akan dijalankan di akhir waktu sekolah. Dan semua guru ekskul pun sudah menetukan hari ekskul lain. Semuanya adalah begini: pencak silat di hari senin di minggu pertama, sepak bola di hari selasa di minggu pertama, drama di hari rabu di minggu pertama, basket di hari kamis di minggu pertama, robotika di hari jumat di minggu pertama, ballet di hari selasa di minggu kedua, renang di hari rabu di minggu kedua, bermain musik di hari kamis di minggu kedua, bernyanyi di hari jumat di minggu kedua, mewarnai di hari senin di minggu kedua, dan contemporary dance di setiap akhir hari sabtu.
 

Sekarang masih belum masuk waktu sekolah. Semua anak-anak masih di kelas mereka masing-masing, mereka ada yang mengobrol atau latihan sambil menunggu bel berbunyi. Walau begitu, ada juga yang menunggu sambil berlatih di luar kelas.
 

Kinara saat ini sedang duduk di bangkunya di dekat jendela. Dia memperhatikan keluar jendela.
 

"Langitnya cerah, ya," tanggap Sania yang tiba-tiba datang. Dia duduk di bangku yang berada di belakang Kinara.
 

"Sebetulnya aku gak ngeliatin langit hari ini," balas Kinara.
 

"Pasti ngeliatin salah satu yang lagi main bola di situ, ya?" tebak Niela yang duduk di depan Kinara.     Sania kembali memperhatikan keluar jendela. Dia memperhatikan para anak laki-laki yang tengah bermain sepak bola di lapangan. Diantaranya adalah teman laki-laki yang sekelas dengan Kinara.
 

"Aahh ... Dika," ujar Sania.
 

"Iya, dong," balas Kinara. "Dia kayaknya emang cocok ikut sepak bola, ya?"
 

Sania hanya cekikikan. Dia berpikir kalau Kinara sebetulnya ingin memuji Dika, tapi dengan kata ganti lain. Dan mengingat tentang ekskul robotika dan bernyanyi yang Kinara pilih, Sania juga menimpali, "Mbak Niar juga cocok ikut ekskul bernyanyi."
 

"Heheh ... soalnya suaraku emang masih harus dibenerin, sih," tanggap Kinara. Sania pun diam, seraya dengan Kinara dan Niela yang diam sambil menatap para pemain sepak bola di lapangan itu.
 

"Mbak ... Mbak nyanyi, dong," pinta Sania.
 

Awalnya Kinara bingung ingin menyanyikan lagu apa. Dia sampai mengerdarkan pandanganya untuk mencari inspirasi. Namun, memperhatikan Dika, membuat Kinara mengingat sebuah lagu. Lagu yang sendu, seperti dirinya. 
 
Merindukan purnama, bertahan walau di dalam duka
Bersyukurnyalah kita, masih banyak yang sayangi kita
Merindukan purnama, meraih cinta
Cinta yang menyatukan kita

 

Niela masih asik memperhatikan para pemain bola. Sementara Sania, dia tentu mendengarkan suara merdu Kinara. Kinara sendiri masih tetap bernyanyi.  
Merndukan purnama, bertahan walau di dalam duka Bersyukurnyalah kita, masih banyak yang sayangi kita Merindukan purnama, meraih cinta Cinta yang menyatukan kita
 

Kali ini Niela mendengar suara Kinara. Sania mulai menaruh wajah, rasanya dia seperti mengatuk. Dan Kinara pun tetap bernyanyi  
Merindukan purnama ... bertahan walau di ... dalam du ... ka
 

Kali ini Sania kaget. Kaget mendengar suara Kinara bergeming, bergelombang. Terlebih ketika dia menoleh pada Kinara, Kinara telah menjatuhkan wajahnya berpangku punggung tangannya di tepi jendela.  
Bersyu ... kurnya lah ... kita ... maa ... sih banyak ... yang sayangi ... ki ... ta Merindu ... kaa ... an pur nama ... mera ... aih cii ... ntaa ...
 

Niela mulai tersadar. Dan dia pun menyusul menoleh Kinara, lalu mengelus-elus bahu Kinara penuh simpatik. Sementara Sania hanya dapat menyenderkan kepalanya pada lengan Kinara, turut merasakan perih yang dirasa Kinara. Dan air mata Kinara pun sudah tak dapat tertahan lagi.  
Ci ... iinntaa ... yaang ... menya ... tukan ... ki ... taa ...
 

Kinara pun mulai tersedu-sedu. Diantara kedua kesimpatikan sahabatnya. Beberapa saat kemudian, Kinara bangun dan mengusap air matanya. Tepatnya beberapa saat sebelum bel berbunyi.

***

Sekarang ini, Kinara sedang berkeliling bersama Sila, Tesia dan Helanie. Mereka bertiga adalah teman sebaya Kinara yang juga ikut ekstrakulikuler robotika. Sekarang ini merang seang mencari selang bekas untuk dibuat jemari robot. Tadinya mereka sudah ke gudang sekolah, tapi mereka tidak menemukan selang itu di sana(sekarang mereka ingin meminta bantuan seorang petugas sekolah untuk membantu mereka mencari selang yang dimaksud di gudang).
 

Mereka sudah berputar-putar. Namun, sampai sekarang pun masih belum menemui seorang pun office boy. Saat melewati taman sekolah yang hijau dan penuh pohon rindang, Kinara melihat Sania tengah duduk di salah satu pohon rindang. Iseng, Kinara mendekati Sania.
 

"Hai!" sapa Kinara sambil berjalan mendekati Sania.
 

Sania yang tengah serius dengan sketsa di buku gambarnya langsung menoleh pada inara. Oya, Sania sebetulnya mengikuti ekskul melukis, bermain musik, dan contemporary dance (sekarang Sania sedang mengikuti ekskul melukisnya).
 

"Kamu lagi menggambar pemandangan di taman?" tanya Kinara.
 

"Iya, Miss Aurel ngasih anak-anak klub menggambar tantangan buat menggambar kegiatan-kegiatan ekskul hari ini sebelum pulang," jawab Sania. "Tapi ini masih sketsanya, belum diwarnain."
 

Kinara memperhatikan gambar Sania. "Gambar kamu bagus tau."
 

"Hehehe ... sebetulnya gambarku masih jauh dari penggambar-penggambar cilik lain, masih ada yang jauh lebih bagus sebetulnya," ujar Sania.
 

Kinara hanya memanggut-manggut.
 

Sania terdiam sesaat. Memperhatikan Kinara, Sania jadi teringat soal kejadian barusan. "Ng ... Mbak, jangan sedih terus, ya?"
 

'Terus aku harus senyum terus seperti hidupku tuh gak ada masalah sama sekali. Emang kamu pikir itu gampang? Emang hidupku segampang kamu yang bisa selalu tersenyum? Kamu tuh ngerti aku gak, sih, San?' Tandas Kinara dalam hatinya pada Sania.
 

"Emangnya kamu bisa kalau kamu ada di posisi aku?" tanya Kinara, terbawa hatinya.
Sania hanya diam. Dia tersenyum. Suasana itu tidak terasa hampa dan sepi, tentunya karena keberisikan para pelajar pencak silat yang tengah berlatih tak jauh dari tempat itu.
 

"Dah ... yuk, Kin!" panggil Sila pada Kinara.
 

"Ya udah, yuk!" balas Kinara sambil bangkit dari duduknya dan menyusul Sila, Tesia, dan Henalie. Sementara Sania tetap duduk di tempatnya sambil melihat Kinara dan yang lainnya pergi dengan senyum yang masih sama.
 

 "Gotcha!" gumam Sania sambil menatap ke depan. Dalam hatinya, dia masih memikirkan perkataan Kinara padanya sebelumnya.

***

Di tempat lain, Marsha tengah mengikuti ekskul basketnya. Marsha memang cewek yang agak tomboi, itu pun terciri dari rambutnya yang panjang sebahu dan dikuncir di atas kepalanya dan agak miring ke kiri dengan karet ikat, juga poninya yang selalu terlihat berantakan. Marsha memang agak bangga dikatakan sebagai cewek tomboi.
 

Dalam berlatih basket, kemampuan Marsha masih standar. Tapi Marsha benar-benar sedang ingin berusaha untuk menjadi juara basket. Dia bahkan punya saingan basket, namanya Rena, namun saingan mereka adalah saingan yang damai.
 

Rena cukup hebat bermain basket. Dia sudah menguasai beberapa teknik basket, dan sudah beberapa kali memenangkan tim basket sekolahnya. Namun Rena tidak tomboi seperti Marsha, dia lebih feminin. Rambutnya yang panjang sepunggung selalu dia ikat tinggi seperti Marsha, tapi dengan pita yang cukup panjang dan di sisi kanan atas kepalanya. Dan selain itu, ekskul lain yang Rena pilih adalah ballet dan bernyanyi.
 

Oya, ekskul lain yang Marsha pilih adalah bernyanyi. Dia dan sahabatnya, Kinara, memang senang mendengarkan musik, dan sesekali bernyanyi. Dan sebaiknya tidak perlu menyanyakan kenapa Marsha tidak memilih ekskul berenang, karena jawabanya akan selalu sama: Marsha alergi air berkaporit.
Sekarang ini, Marsha dan Rena sedang matching basket di dua tim yang berbeda. Kini bola sedang dibawa Marsha, dia sedang berlari menuju ring tim Rena. Lalu tiba-tiba Rena melesat melewati Marsha dan membawa bola menuju ring tim Marsha. Marsha dan teman-teman satu timnya mengejar dan berusaha merebut bola itu kembali, namun Rena bisa mempertahankan bola itu. Hingga akhirnya Rena berhasil memasukan bola itu ke ring tim Marsha.
 

Priiiiiiit!
 

"Oke, kita istirahat dulu!" seru Mr. Daniel, guru ekskul basket.
 

Semua anak pun menepi dari lapangan. Mereka kebanyakan mengambil tas merka masing-masing untuk mengambil air minum.
 

"Wuiiih, tadi keren juga," puji Marsha pada Rena di sebelahnya.
 

"Makasih ...," balas Rena tersenyum senang. "Kamu juga bagus mainnya. Hebat, deh!"
 

"Hohoho ... tapi dibanding aku, hebatan kamu, lah, Ren," kata Marsha lagi.
 

Rena cekikikan. Lalu dia berkata, "Kalau bukan karena kamu, aku bak bakal bagus mainnya."
 

"Masa? Emang kenapa?"
 

"Soalnya kalau aku gak ada saingannya, aku gak bakal serius latihan basket."
 

Sekarang Marsha yang cekikikan. "Aku juga mainnya gak bakal bagus kalau bukan karena kamu. Kan tadi aku lawan kamu."
 

"Hahaha ... iya." Rena menyunggingkan senyumnya yang manis. Marsha hanya ikut tertawa saja.
Rena memang manis. Walau seperti itu, wajahnya lebih terlihat seperti remaja kebanyakan, tidak terlalu imut tapi tetap saja terlihat cantik dan dewasa. Begitu juga dengan wajah Marsha, namun Marsha lebih pendek dari Rena.
 

Saat itu, Kinara melewati ruangan basket tersebut. Ya, Kinara dan teman-teman se-ekskul-nya masih mencari seorang penjaga sekolah. Saat melihat Marsha dan Rena mengobrol dengan akrabnya, Kinara agak kesal. Kinara mendengus gemas dan sebal sebelum dia dan teman-temannya pergi meninggalkan ruangan itu.

***