Antara Hatiku dan
Hatinya
Chapter 3:
Nafsu Gadis Sok Dewasa
~~~~~
Chapter 3:
Nafsu Gadis Sok Dewasa
~~~~~
Beuh ... gila
lama! Yang satu ini emang pwarroooh! Semoga aja chapter selanjutnya bisa lebih cepet! Tanpa halangan! Tanpa apapun menghadang! Amiin ...!
~~~~~
~~~~~
Kinara tak bisa serius pada makanannya sendiri. Memang keberisikan yang tidak
jauh dari tempatnya duduk membuatnya sangat teralih. Bahkan bukan hanya Kinara,
tapi juga murid-murid lain di ruang makan itu.
Saat ini sedang
saatnya makan siang. Kinara, Niela, Sania, Yora, Revy, dan Aurel saat ini sedang
satu meja makan. Sementara keributan yang mengganggu tersebut berada kira-kira
3 meja dari mereka. Keributan itu adalah para murid yang menggoda para pasangan
yang saat ini sedang duduk bersama, berdekatan, dan bahkan bermesraan.
"Nyah ...
berisik juga," tanggap Sania sambil memakan makanannya. Tapi nampaknya tak
ada yang peduli sekalipun mengiyakan.
Niela menggenggam
tangan Kinara di seberangnya. "Aku juga mauuu," kata Niela.
"Iyaaa
...," balas Kinara. Dia masih memperhatikan para pasangan yang sedang
berduaan itu. Dan tentu turut menggenggam tangan Niela.
"Aaaahhhh
... aku juga," kata Revy dan Aurel juga. Yora juga mengangguk sambil mulai
berkhayal.
Sekarang, Sania
sendiri yang tak punya hasrat untuk ikut mengiri. "Kenapa kalian malah iri-irian?"
kata Sania. Jelas terlihat persis seperti anak kecil yang belum mengerti nafsu
cewek dewasa.
Kinara masih
tetap menggenggam tangan Niela. Dan sekarang, mimpinya mulai terbang tinggi,
mengharapkan dia dan pemuda yang dicintainya akan punya kesempatan
bermesra-mesraan seperti itu. Membayangkan tangannya digenggam erat, lalu
dipeluk, bahkan dicium.
"Huaaa ...
aku dicuekin! Kalian jahat!" keluh Sania berseru kekanakan.
Kinara, Niela,
Yora, Aurel dan Revy seketika tersadar.
"Ck ...
berisik, ah!" keluh Niela pada Sania.
"Tau,
nih!" imbuh Yora, Aurel dan Revy bersamaan.
"Huuu ...
huuuuuung ...," gumam Sania berpura-pura menangis. Dia memainkan sendoknya
sambil menunduk memperhatikan makanannya yang sudah tinggal setengah lagi.
Kinara
memperhatikan makanannya. Semuanya hanya dia acak-acak menjadi satu, belum sama
sekali sesuap pun makanan itu masuk ke mulutnya. Akhirnya, Kinara melepas
ganggaman Niela dan mulai memakan makanannya.
***
Kinara sekarang
sedang duduk di kelasnya sambil masih mengkhayal. Tadi baru saja guru mata
pelajaran Sejarah menutup pelajarannya dan sudah keluar kelas. Sekarang Kelas
VIII - 1 sedang agak sepi, semua anak membereskan buku-buku mereka tanpa
berbicara.
Tiba-tiba saja
Sania menepuk sebelah bahu Kinara. Kinara pun sadar, dan ketika itu Sania
berkata, "Mbak ... Mbak tau gak siapa yang ikut ekskul drama di kelas
ini?"
"Eh ... ooh,
ekskul drama ...," kata Kinara mulai mengingat-ingat. "Kayaknya, sih
... Herlina, Emira, Chika ... terus, laki-lakinya Angga sama ... sama siapa,
ya, satu laginya," kata Kinara masih kebingungan.
Sania mencoba
mengulang, "Herlina, Emira, Chika, Angga ... satu lagi kayaknya ...
kayaknya ...."
"Ng ...
siapa, yaaa ...?"
"Itu ... si
... si ... yang pake kaca mata siapa, sih?"
"Aku,
Sania."
"Bukan Mak
Niar maksudnya, lah. Tapi si ... yang ikut drama yang pake kacamata tuh
...."
"Aku sama
Dhani, Sania," kata Yora memotong Sania yang masih bingung-bingung.
Sania tersipu.
"Oh ... i .. iya, ya ... hehehe ...."
"Huh,
emangnya kenapa?" tanya Yora.
"Ng ... yah,
aku keinget hari ini ekskulnya drama," jawab Sania.
"Terus?"
tanya Kinara bingung.
"Terus
luruuuuuuuuss jger nabrak tembok, deh," jawab Sania.
"Candaan
jadul," tanggap Yora.
"Biarin,
orang mau ngelawak, wlee!" balas Sania.
"Karena
jadul jadi gak lucu! Kalau mau ngelawak 'kan harus lucu, minyak goreng!"
balas Yora lagi. Sania manyun sedih dipanggil minyak goreng, sementara Kinara
hanya menggeleng-geleng.
"Huuung ...
huu ... huuuuuuuung ...," Sania berlagak menangis sedih.
"Udah, udah ... si Anak Mami jadi nangis," celetuk Kinara tersenyum seraya menepuk-tepuk sebelah bahu Sania.
"Hiks ... huuuu ... uuu ... hiks ... huuuuuung ...," pura tangis Sania menjadi.
"Udah, deh, San. Kamu kekanakan banget, deh, iiih ...," ujar Kinara menanggapi ulah Sania.
Sania tetap berpura-pura menangis. Kinara mendesah. Yora dan Niela yang memperhatikanya ikut mendesah.
"Kadang anak ini nyebelin juga," ujar Yora.
"Iya, biarin aja dia nangis-nangis gitu terus. Nanti kalau udah nangis beneran aja ... kita gak usah nolongin," imbuh Niela.
"Hiks ... jahaaa ... aa ... aat ... huuu ...," kata Sania. Tampang merepotkanya makin membuat kesal saja, dia kadang memang merepotkan teman-temanya.
"Ya udah, diem aja, ya, sayang," kata Kinara.
"Hiks ... mama ...," balas Sania.
"Kalo dipikir-pikir lagi, nyesel deh aku jadi mama kamu," kata Kinara seraya mendorong pelan sebelah pipi Sania.
"Ja ... haa ... aat ...," balas Sania. Lalu tiba-tiba Sania tersenyum cerah seraya berkata, "Cut! Cut! Oke, acting-ku selesai. Gimana hasilnya?"
Kinara, Yora, dan Niela menatap tajam Sania yang tersenyum seolah tak berdosa. "Dua puluh!!" jawab mereka kompak.
"Huaaa ... JAHAT!!"
***
Kinara sekarang tengah berada di perpustakaan. Dia bersama Tesia dan Helanie.
Mereka bertiga sedang mencari buku untuk mempelajari segala hal yang mendukung
eksperimen robotika mereka.
Kinara menemukan buku yang dia cari. Lalu dia berkata pada Tesia, "Tesia, aku baca bukunya di luar perpus, ya! Mau cari angin."
Ya udah, tapi nanti pulang sekolah kita ngumpul dulu sebelum nyari bahan-bahan eksperimen," balas Tesia.
"Iya." Kinara keluar dari perpustakaan. Dia berjalan menuju taman sekolah yang sejuk. Dia duduk di atas rumput hijau di bawah pohon rindang.
Kinara menemukan buku yang dia cari. Lalu dia berkata pada Tesia, "Tesia, aku baca bukunya di luar perpus, ya! Mau cari angin."
Ya udah, tapi nanti pulang sekolah kita ngumpul dulu sebelum nyari bahan-bahan eksperimen," balas Tesia.
"Iya." Kinara keluar dari perpustakaan. Dia berjalan menuju taman sekolah yang sejuk. Dia duduk di atas rumput hijau di bawah pohon rindang.
Di
siang hari begini, memang nyaman berteduh di taman sekolah. Taman sekokah saat
itu pun kebetulan sedang tak ada banyak murid, ada pun mereka sedang
duduk-duduk di bawah pepohonan di taman itu sendiri-sendiri atau bersama-sama
dengan tak begitu berisik.
"Iiih ... kamu ... jangan cubit-cubit, dong."
Kinara menoleh ke asal suara itu. Tak begitu jauh di belakangnya, ada sepasang murid yang nampaknya sedang bercanda.
"Kamu cantik, sih," balas si cowok.
"Iiiih ... iih ... kamu ...." si cewek berlari pergi sambil tertawa-tawa. Cowoknya mengejar cewek itu sambil tertawa juga.
Kinara terus memperhatikan mereka berkejar-kejaran. Dalam hati dia berkata, mereka akrab banget. Aku mau, deh. Dika, kok kamu tega-teganya belum kasih aku jawaban, sih?
Kinara mendesah pelan. Lalu dengan cepat dia kembali menghadap ke depan seraya menaruh wajah di kedua tanganya. Dan karena itulah Kinara melihat Sania. Sania sedang berada di playground sekolah, sedang duduk di atas ayunan sambil membaca sebuah buku. Terlihat kekanakan karena Sania sedang memakan sebuah lolipop bulat berwarna merah-kuning-biru berukuran sedang saat itu.
"Bocah banget, deh," tanggap Kinara. "Tapi daripada diem-dieman begini, mending deketin, deh."
Kinara berdiri. Lalu dia berjalan setengah lari dan duduk di ayunan di samping Sania. Tentunya, dengan senyum yang mempesona.
"Mbak ... Ni ... ar ...," Sania jadi tak dapat berkata-kata.
Kinara cekikikan menanggapinya. "Santai aja kali."
"Hehe ... Mbak Niar sendirian?" tanya Sania polos.
"Iya, nih, aku mau baca-baca informasi buat eksperimen robotika aku. Tapi nanti aja deh dulu bacanya."
Sania memperhatikan polos Kinara yang cengar-cengir sendiri. Dan tentu Sania ikut tersenyum, "Cieee ... mikirin seseorang, ya?"
Kinara tersadar. Lalu kembali tersenyum sambil memperhatikan Sania. "Kamu tau aja."
"Persoalan kecocokan Mbak Niar sama Dika masih jadi penghalang optimisme Mbak, ya? Makanya mereka Mbak liatin terus."
"Ih, sotoy, deh."
"Halah, emangnya aku gak liat? Dari tadi emang Mbak Niar ngeliatin mereka. Dari senyum Mbak Niar aja keliatan banget. Munafik, deh, gara-gara malu."
Kinara mendesah. "Oke, aku akuin, aku emang masih ragu soal itu. Soalnya Dika lama banget, aku takut dia malah nge-php-in aku. Soalnya aku denger Dika masih punya rasa buat Vania."
"Aaahh ... sangat terduga," gumam Sania.
"Aaahh ... Sania ... aku, tuh, mau banget kalau udah jadian, aku sama Dika nge-date kemana gitu, terus nanti kita bisa makan siang suap-suapan, atau bercanda berdua, atau bicara berdua tanpa diganggu orang, atau ...."
"Emangnya segitu senangnya rasa cinta?"
Kinara terdiam. Dia diam menatap Sania begitu mendengar pertanyaan tersebut terlontar keluar dari mulut perempuan itu. Sania sendiri memperhatikan Kinara dengan serius.
"Apa memang cinta sangat indah rasanya?" tanya Sania lagi. Matanya agak berkaca-kaca, memperlihatkan bendungan air di sana.
Kinara diam. Dia baru ingat, Sania belum pernah jatuh cinta. Apa mungkin Sania iri padaku dan yang lainya karena kami terlihat bahagia menjalani cinta kami? pikir Kinara.
Enggak, cinta gak selalu terlihat indah. Cinta kadang menyakitkan untuk merindu sedemikian besar, untuk jatuh sendirian, dan lalu berharap orang yang kucintai akan menolongku, menyakitkan untuk membuatku merasa orang yang kucintai tak peduli padaku.
"Iiih ... kamu ... jangan cubit-cubit, dong."
Kinara menoleh ke asal suara itu. Tak begitu jauh di belakangnya, ada sepasang murid yang nampaknya sedang bercanda.
"Kamu cantik, sih," balas si cowok.
"Iiiih ... iih ... kamu ...." si cewek berlari pergi sambil tertawa-tawa. Cowoknya mengejar cewek itu sambil tertawa juga.
Kinara terus memperhatikan mereka berkejar-kejaran. Dalam hati dia berkata, mereka akrab banget. Aku mau, deh. Dika, kok kamu tega-teganya belum kasih aku jawaban, sih?
Kinara mendesah pelan. Lalu dengan cepat dia kembali menghadap ke depan seraya menaruh wajah di kedua tanganya. Dan karena itulah Kinara melihat Sania. Sania sedang berada di playground sekolah, sedang duduk di atas ayunan sambil membaca sebuah buku. Terlihat kekanakan karena Sania sedang memakan sebuah lolipop bulat berwarna merah-kuning-biru berukuran sedang saat itu.
"Bocah banget, deh," tanggap Kinara. "Tapi daripada diem-dieman begini, mending deketin, deh."
Kinara berdiri. Lalu dia berjalan setengah lari dan duduk di ayunan di samping Sania. Tentunya, dengan senyum yang mempesona.
"Mbak ... Ni ... ar ...," Sania jadi tak dapat berkata-kata.
Kinara cekikikan menanggapinya. "Santai aja kali."
"Hehe ... Mbak Niar sendirian?" tanya Sania polos.
"Iya, nih, aku mau baca-baca informasi buat eksperimen robotika aku. Tapi nanti aja deh dulu bacanya."
Sania memperhatikan polos Kinara yang cengar-cengir sendiri. Dan tentu Sania ikut tersenyum, "Cieee ... mikirin seseorang, ya?"
Kinara tersadar. Lalu kembali tersenyum sambil memperhatikan Sania. "Kamu tau aja."
"Persoalan kecocokan Mbak Niar sama Dika masih jadi penghalang optimisme Mbak, ya? Makanya mereka Mbak liatin terus."
"Ih, sotoy, deh."
"Halah, emangnya aku gak liat? Dari tadi emang Mbak Niar ngeliatin mereka. Dari senyum Mbak Niar aja keliatan banget. Munafik, deh, gara-gara malu."
Kinara mendesah. "Oke, aku akuin, aku emang masih ragu soal itu. Soalnya Dika lama banget, aku takut dia malah nge-php-in aku. Soalnya aku denger Dika masih punya rasa buat Vania."
"Aaahh ... sangat terduga," gumam Sania.
"Aaahh ... Sania ... aku, tuh, mau banget kalau udah jadian, aku sama Dika nge-date kemana gitu, terus nanti kita bisa makan siang suap-suapan, atau bercanda berdua, atau bicara berdua tanpa diganggu orang, atau ...."
"Emangnya segitu senangnya rasa cinta?"
Kinara terdiam. Dia diam menatap Sania begitu mendengar pertanyaan tersebut terlontar keluar dari mulut perempuan itu. Sania sendiri memperhatikan Kinara dengan serius.
"Apa memang cinta sangat indah rasanya?" tanya Sania lagi. Matanya agak berkaca-kaca, memperlihatkan bendungan air di sana.
Kinara diam. Dia baru ingat, Sania belum pernah jatuh cinta. Apa mungkin Sania iri padaku dan yang lainya karena kami terlihat bahagia menjalani cinta kami? pikir Kinara.
Enggak, cinta gak selalu terlihat indah. Cinta kadang menyakitkan untuk merindu sedemikian besar, untuk jatuh sendirian, dan lalu berharap orang yang kucintai akan menolongku, menyakitkan untuk membuatku merasa orang yang kucintai tak peduli padaku.
Cinta menyakitkan saat perasaan itu semakin indah. Karena pada akhirnya rasa itu akan membuat pedih semakin perih.
"Begitu, ya ...." Sania kini menunduk.
Kinara segera menepuk bahu Sania. Dia bertatapan dengan Sania dan menggeleng terlebih dahulu sebelum berkata, "Enggak, Sania ... cinta kadang gak seindah yang terlihat. Aku aja yang emang terlalu sok, padahal aku sendiri masih belum lulus junior high."
Sania terdiam mendengarkan Kinara. Mungkin dia kaget mendengarnya.
Kinara tetap tersenyum pada Sania.
Angin berhembus. Semilirnya beriringan membawa kedamaian. Sesaat setelah Sania tersenyum.
Angin ...
Berikan aku jalan ...
Untuk tetap bahagia ...
Dalam rasa ...
Yang kupunya ...
