Senin,
30 November 2015
Pukul
9:29 PM
Kali
ini aku menoleh ke samping. Sekedar melihat sebuah tumpukan buku dengan
beberapa helai kain di atasnya. Pada akhirnya aku mendengus dan membereskannya
baru kemudian melanjutkan mengetik.
Aku menyadari bahwa buku pelajaranku
belum siap. Kuputuskan menghampiri lemari buku, saat itu aku melewati Mama di
ruang tengah. Mama tengah tertidur di sofa. Televisi masih menyala, memutar
sinetron kesukaan Mama. Kala aku akan berjalan kembali ke kamar, Mama terbangun
dan melihatku.
“Oh ...,” kata Mama. “Mama
ketiduran, ya.”
Aku menoleh. “Iya, dari tadi Mama
tidur di situ, Ma.”
“Kamu kok pake kacamata Bapak? Emangnya
matanya min?”
Aku sudah berdiri sejak awal Mama
bicara. Sekarang aku sudah kembali di kamar. “Ini kacamata punyaku, Ma. Tadinya
kan beli soalnya laptopnya gak bisa dikurangin kecerahannya, nah, sekarang udah
bener itu laptopnya. Ini udah lama gak dipake. Ini bukan min, cuma kacamata
buat gaya-gayaan.”
Tapi aku tak menggunakan kacamata
ini untuk bergaya. Kadang aku masih khawatir untuk terpapar cahaya laptop
secara langsung, jadi kugunakan lagi sesekali saat mengetik.
Dan kacamataku tidak terlihat
sejadul itu. Kacamata yang papaku beli saja yang kekinian. Tapi model
kacamataku ataupun kacamata Papa tidak terlalu modern seperti kedengarannya,
tetap simpel, hanya frame-nya saja
yang berbentuk bujur sangkar dan terbuat dari plastik. Walau begitu, Papa masih
punya beberapa kacamata yang frame-nya
besi, khas model kacamata klasik.
Selama beberapa menit berlalu, aku
tetap berkutat dengan laptop. Aku tidak tahu pasti sebetulnya apa yang ingin
kutulis, tapi aku mencoba untuk tetap menulis beberapa kata yang terpintas
dalam pikiranku.
Sebetulnya aku sudah bersikeras. Sudah
sejak beberapa hari lalu aku memikirkan apa yang akan kutulis hari ini. Tapi buntu.
Berjuta gagasan hanya berterbangan di atas rambut hitamku yang tipis.
Ini tak semudah sebelumnya. Sebelumnya
saat aku menulis untuk Abiem, adikku di ulang tahunnya. Hanya perlu ingatan
kecil dan aku dapat apa yang harus kukatakan, dan aku menceritakannya dalam
sebuah cerita semi-transparan tentang kami berdua.
Aku bukan anak yang baik. Aku akui
itu. Aku masih belum bisa menjadi seorang anak yang sangat baik untuk orang
tuaku. Tapi aku selalu berharap aku bisa membanggakan mereka suatu hari nanti.
Tangis. Tawa. Caci. Keluh. Tapi masih
ada hati untuk keluarga kecilnya. Kadang itu membuatku bingung tentang apa yang
harus kukatakan.
Kudengar dengkur lembut suara Mama. Mama
tengah tertidur pulas lagi di sofa. Aku hanya bisa mendengus seraya tersenyum
tipis.
Hari ini, 30 November, adalah ulang
tahun Mama. Maaf untuk segala yang pernah kulakukan, dan terima kasih untuk
segala yang telah kau lakukan.
Selamat ulang tahun, Mama.
