Genre : Romance, School life
~~~~~
Yah, ini bukan cerita pertama aku, sih. Tapi nimkati aja, ya ....
~~~~~
Winda mengketuk-ketukan bolpoinnya di meja dengan gemas. Lembaran
yang ada di buku catatan di depanya masih kosong. Buku itu adalah buku
catatan yang biasanya Winda pakai untuk menulis cerita, dan sekarang dia
bingung harus menulis apa. Untung saja tidak banyak orang di kelas
memperdulikan perempuan yang tengah menggeram-geram gemas sendiri itu.
Winda suka menulis cerita. Dia punya banyak cerita yang belum
terselesaikan, ada pun tidak pernah ada satu pun yang diterbitkan. Tak
pernah ada yang tahu kalau Winda pandai menulis cerita. Winda adalah
perempuan SMA yang dikucilkan karena penampilanya: dia terlihat culun
dengan rambut panjang yang dia ikat dua di bawah, ditambah dia
berkacamata bulat.
Sekarang ini, Winda tengah mencoba menulis cerita ber-genre action.
Namun, sepertinya karena tidak terbiasa, belum sampai seperempat cerita
Winda sudah pusing.
"Ah ... pening jadinya!" keluh Winda untuk yang kesekian kalinya.
"Kalo gitu, berhenti teriak-teriakan di dalem kelas."
Winda menoleh ke asal suara yang berbunyi tepat di sampingnya. Di
sana, seorang cowok sedang tersenyum memperhatikanya. Cowok itu
berkacamata juga, hanya saja lensa kacamatanya berbentuk persegi empat
sedangkan Winda lingkaran. Winda tentu kenal cowok itu.
"Darma?" kata Winda menyebut nama cowok di sampingnya. "Habisnya, aku gak ngerti ...."
"Gak ngerti apa?" tanya Darma. "Aku bakal bantu kamu selama aku mampu."
Winda mendesah, "Haaa ... ini. Aku sebetulnya bikin cerita, tapi aku
gak tau harus lanjutin ceritanya gimana. Dan aku juga gak tau cerita
yang aku bikin nyambung apa enggak," tutur Winda.
"Coba sini, aku liat." Darma menyeret bangku di sampingnya, lalu dia
duduk sambil mengambil buku catatan Winda dan membuka-buka lembar
sebelumnya.
"Ceritanya gimana?" tanya Darma.
"Yaaa ... ceritanya tentang ... bla ... bla ... bla ...."
Seketika, Darma dan Winda sudah asik membicarakan cerita itu.
Beberapa menit kemudian, Darma sudah selesai membaca cerita Winda.
"Dikit banget, sih," tanggap Darma.
"Soalnya aku kédér gimana mau bikinya, jadi ... yah, beginilah ceritaku," tutur Winda.
"Hmm ... genre-nya action doang?"
"Tadinya mau aku kasih Romance, tapi takutnya gak nyambung."
"Kasih aja, biasanya pembaca usia remaja suka cerita romance, 'kan?"
"Tapi gimana ceritanya? Di situ 'kan ceritanya tokoh utama mencoba
menyelidiki sebuah kasus terus nanti setelah kasusnya terpecahkan dia
bakal nyelametin kota dari terroris dan pembunuh demi nyelametin kota," jelas Winda. "Kalau
dikasih bagian tokoh utama jatuh cinta sama salah satu korban cewek yang
selamat, berarti nanti bisa-bisa ada bagian ceweknya disandra atau
mati, dan itu bisa ngerubah cerita aslinya ... maksudku, nanti malah tokoh utamanya ngalahin pembunuh demi balas dendam atau nyelametin ceweknya. Dimana kita bisa kasih
bagian romance yang gak ngubah cerita?"
"Ya, kasih aja bagian yang begitu. Ceritanya masih nyambung juga."
"Tapi nanti genre utamanya bukan action, nanti jadinya lebih banyak bagian romance kalau gitu," jelas Winda.
Darma berpikir sebentar. "Gimana kalo gini ... ceritanya sama, cuma
tokoh utamanya cewek. Jadi nanti di bagian dia lagi nyelidikin di kasus
pembunuhan masalnya, dia ketemu sama korban cowok yang selamat. Nah,
nanti cowoknya ceritain tentang kejadian pembunuhan yang sebenernya,
abis itu cowoknya bantuin ceweknya mecahin kasus-kasus selanjutnya plus
bantuin nyelametin kota," jelas Darma panjang lebar.
Winda berdecak kagum. "Waaah, iya! Makasih, ya, Darma! Kamu pinter juga bikin cerita."
"Iya, gak apa-apa, aku emang suka bikin cerita, kok."
"Wah, sama." Winda tersenyum. "Oya, aku belom biasa bikin cerita
action. Kamu mau gak bantuin aku? Kita selesaikan cerita ini sama-sama!"
usul Winda.
"Boleh," jawab Darma.
"Makasih, ya!"
***
Sudah tiga bulan berlalu. Winda dan Darma sudah menyelesaikan cerita
mereka, sudah tiga buku catatan penuh mereka gunakan untuk menulis
cerita bersama di sekolah. Sekarang, mereka sedang duduk berdua di bawah
pohon di pinggir lapangan.
"Hahaha ... akhirnya ceritanya selesai," kata Winda. "Sekarang
tinggal aku ketik di komputer sisa cerita yang belom aku ketik. Terus
nanti bakal aku coba kirim ke salah satu penerbitan," jelas Winda.
"Ahaha ... iya. Gak kerasa udah tiga bulan. Ceritanya juga udah selesai," kata Darma turut senang.
"Iya, udah tiga bulan," ulang Winda sambil merunduk. Dia menutupi
mulutnya yang tersenyum-senyum sendiri dengan ketiga buku catatan di
tanganya.
'Darma, selama ini, selama kamu bantu aku menulis cerita ini, kamu
begitu baik. Sudah sekian lama kita menulis cerita bersama, hingga
sekarang, kamulah yang paling mengerti aku, yang paling menahami aku,
yang paling tahu siapa aku. Dan itulah ... itulah yang membuatku ...
jatuh cinta sama kamu, Darma,' kata Winda dalam hatinya sambil
melirik-lirikan matanya pada Darma. Darma yang tidak sadar akan lirikan
mata Winda, tengah asik memperhatikan permainan sepak bola di lapangan.
"Yes! Gol!!" seru Darma girang.
"Hah? Kelas kita ngejebolin?" tanya Winda ikut-ikutan, walau sebetulnya tidak suka sepak bola.
"Bukan, tapi kodok yang ngejebolin," canda Darma.
"Hahahaha ...."
***
Sepulang sekolah, Winda berjalan ke rumahnya sendirian. Tapi
sepanjang jalan menuju rumahnya sangat ramai. Sampai di depan rumahnya,
Winda mengketuk pintu pelan dengan gontai sambil kepalanya bersandar
pada pintu dan otomatis wajahnya menghadap ke bawah.
Di bawah pintu, ada selembar kertas kuning kecil yang agak tebal
(seperti kertas untuk kartu undangan). Belum sempat mengambil kertas
itu, pintu sudah dibukakan oleh ibunya Winda. Dan karena saat itu Winda
tengah setengah berdiri sambil tetap bersandar pada pintu, dia jatuh
tepat di depan kaki ibunya.
"Winda? Kok, kamu bisa jatoh, sih, nak?" tanya Ibu Winda sambil
membantu anaknya berdiri. Belum sempat Winda menjawab, ibunya sudah
bertanya lagi, "Winda, kok kamu lemes begini? Kamu demam? Laper? Apa
kepala kamu pusing?"
"Bunda, Winda gak apa-apa, Winda cuma lagi bad mood doang."
"Bad mood kenapa?"
Winda terdiam. Dia tidak sadar mulutnya mengatakan hal itu. "Bad mood
... gara-gara ... yaaa ... ya udahlah, lagian habis liat Bunda mood
Winda langsung naik lagi."
"Hm hm ... gitu, ya," Ibu Winda cekikikan. "Kalau begitu, kamu ke
kamar kamu aja dulu, habis itu ganti baju terus makan, ya!" suruh Ibu
Winda sambil berjalan pergi menuju dapur.
"Iya, Bunda," jawab Winda. Setelah ibunya ada di dapur, Winda
mengambil kertas kuning tadi yang masih ada di tempat yang sama.
Ternyata itu sebuah kartu, ada satu kalimat yang di tulis kartu itu:
I love you ♥
Jantung Winda berdetak cepat. Siapa yang menaruh selembar kertas di depan rumahnya? Terlebih orang ini menyatakan cintanya.
'Siapa ini?' tanya Winda dalam hatinya. 'Gak mungkin. Gak pernah ada
satu pun cowok yang tertarik sama aku, apalagi sampai jatuh cinta sama
aku. Atau mungkin ini ....'
"Winda, kok, kamu malah bengong di depan pintu, sih, sayang?"
"Ah, iya, Bunda!"
Winda bergegas menutup pintu. Setelah itu pergi ke kamarnya untuk
mengganti baju dan kemudian pergi ke ruang makan. Setelah Winda selesai
makan siang, dia kembali ke kamar.
Winda mengambil 3 buku catatanya. Ya, itu adalah buku catatan cerita
action+romance yang dibuat oleh Winda dan Darma. Lucunya, Winda
cekikikan sendiri saat mengketik-ketikan sisa ceritanya, entah karena
apa.
Tak lama kemudian, Winda selesai. Dia menghela nafas lega setelah menyimpan file ceritanya.
"Nah, sekarang ngapain, ya?" tanya Winda pada dirinya sendiri.
Tanpa tahu mau apa, Winda berjalan menuju ruang tengah. Dia
meninggalkan kacamatanya dikamarnya. Sampai di ruang tengah, Winda duduk
di atas sofa. Setelah beberapa saat, rasa kantuk sudah menyerang Winda.
Dan akhirnya Winda melepaskan kedua karet yang mengikat rambutnya lalu
tiduran di sofa.
***
"Winda, kamu ini bagaimana, kalau mau tidur jangan di sini. Kamu 'kan
punya kasur, sayang," tegur Ibu Winda membangunkan anaknya.
"Ah ... iya ... iya, Bunda," balas Winda sambil bangkit dari tidur.
"Gak bagus anak cewek tidurnya di sembarang tempat, ngerti?" tegur
Ibu Winda lagi dengan lembut. Belum sempat Winda menjawab, Ibu Winda
sudah berkata, "Sudah, ada temen kamu yang nyariin kamu, tuh. Katanya
dia mau ngobrol sama kamu, anaknya ganteng, jadi kamu bicara aja sama
orangnya, yah, biar Bunda yang bawain minum buat kalian."
'Ada yang nyariin aku? Mau ngobrol sama aku? Apa mungkin ... ah,
enggak, Darma 'kan orangnya culun, aku suka sama dia cuma dari rasa
pedulinya sama aku. Jadi kalau bukan Darma, siapa?' tanya Winda dalam
hatinya.
"Hai, baru bangun, yah?"
Winda menoleh ke asal suara. Di depannya ada seorang cowok berwajah
tampan berdiri menatapnya sambil tersenyum. Winda sampai tersipu
menanggapinya, bahkan dia salah tingkah: Winda menjerit kecil sambil
menghadapkan wajahnya ke samping dan menutupi wajahnya dari tatapan
cowok itu dengan bantal yang ada di sofa.
'Ingat, Winda, kamu culun, tahu!' jerit Winda pada dirinya sendiri dalam hati.
"Kamu cantik juga," puji cowok itu sambil memegangi tangan Winda
untuk menurunkan bantal yang menutupi wajah Winda. Dia memperhatikan
Winda sambil tersenyum. "Kamu cantik juga kalo ikat rambut sama kacamata
kamu dilepas. Aku gak nyangka."
Winda baru menyadari itu. Dia memang tidak menggunakan kacamata dan
mengikat rambutnya kuncir dua seperti biasanya. "Umm ... maaf. Kamu
siapa, ya?" tanya Winda sambil kembali memalingkan wajahnya dengan
malu-malu.
"Hah? Kamu lupa aku, atau pura-pura gak kenal sama aku?" tanya cowok itu kembali sambil cekikikan. "Aku Darma, tau."
"Hah?! Gak mungkin!" seru Winda kaget. 'Apa?! Gimana bisa cowok
berkacamata yang terlalu rapi kaya Darma jadi cowok yang sekeren ini?!'
Darma tertawa kecil. "Haha ... kenapa kaget? Emang aku lain banget, ya?"
"Yah ... iya ... gi ... gitu ...," jawab Winda gelagapan. Darma hanya tersenyum.
"Oya, Winda! Kamu udah dapet kartunya?" tanya Darma.
"Kartu? Kartu apa?" Winda balik bertanya.
"Kartu ucapan yang warna kuning itu."
Winda makin tersipu. "Emangnya kenapa?" tanya Winda lembut.
"Sebetulnya, aku lupa kasih ini juga." Darma menyodorkan setangkai
bunga mawar merah di tanganya yang sebetulnya sejak awal dia sembunyikan
di belakangnya. Winda terperangah, dia sampai menutup mulutnya dengan
kedua telapak tanganya.
"Winda," kata Darma. "Aku udah jatuh cinta sama kamu selama kita
menulis cerita itu. Hingga sekarang, kamulah yang paling mengerti aku,
yang paling menahami aku, yang paling tahu siapa aku. Dan semua itulah
dirimu yang membuat aku jatuh cinta sama kamu, Winda."
Winda tersenyum. Matanya berbinar-binar. Setelah mendengar apa yang
Darma katakan, Winda segera bangkit dari duduknya dan memeluk Darma.
"Aku juga, Darma. Aku juga udah jatuh cinta sama kamu selama kita
menulis cerita," kata Winda sambil memeluk Darma begitu erat. Darma pun
memeluk Winda juga.
Winda benar-benar terharu. "Aku gak pernah nyangka kamu punya perasaan yang sama, Darma. Aku gak pernah nyangka hal ini."
"Aku juga," balas Darma.
***
Cerita Winda dan Darma sudah terbit. Banyak teman-teman di sekolah
mereka membaca cerita itu, dan mereka berdua pun terkenal di sekolah
mereka. Sekarang, Winda bukan lagi cewek culun terkucil yang selalu
memendam bakat.
Setelah cerita duet pertama mereka terbit, mereka tetap menulis
cerita berdua. Menyelesaikan cerita-cerita yang Winda tulis,
bersama-sama.
Kesan yang manis bagi mereka, mengakui kisah cinta mereka tumbuh
bersama kisah-kisah yang mereka tulis. Dan semua cerita cinta pasti akan
tertulis, selamanya tak akan pernah terlupakan, di hati mereka.

0 tanggapan:
Posting Komentar