Judul : Tanda Maaf
Genre : School life, persahabatan
Pemain : 5 aktor
Tipe drama : full musical drama
Jumlah babak, lama permainan : 6 babak, 35 menit
~~~~~
Naskah drama ini dibuat sama temen-temen aku, lho! Eh, tapi aku juga ikut bikin, aku pengetik dan pencetak naskahnya! Yah, walau kami gak berhasil di pegelaran seni sekolah, tapi seneng juga mainin perannya. Sampe sekarang pun lagu-lagunya masih seneng kami nyanyiin, lho!Oya, ini ceritanya kita disuruh bikin drama yang harus semua bagiannya yang bicara nyanyi. Jadi setiap kalimat sebetulnya harus dinyanyiin. Di sini juga sebetulnya di kelompok aku ada enam orang dan aku sebetulnya jadi narator, tapi naskahnya cukup jelas juga buat dimainin tanpa narator, kok.
Buat yang digaris bawahin itu yang dinyanyiin cepet (kalo emang mau dinyanyiin dramanya). Eh, tapi drama ini bisa dimainin tanpa harus nyanyi, lho! Tinggal edit-edit aja sedikit, selesai, deh! Selamat membaca naskah drama kami!
~~~~~
Babak 1:
Di suatu siang di
sebuah sekolah, terdapat tiga murid sedang mengobrol di bawah pohon. Mereka
adalah Ami, Alan, dan Putri. Lalu Ratih, teman mereka yang paling bersemangat
mendatangi mereka.
***Nada bicara awal: “5 Elang” by
Coboy Junior***
Ratih : (sambil berlari
masuk dengan riang gembira) “Halo halooo semuanya! Apa kabar kalian semua? Pagiii
ini, terlihaat sangaat indaah.”
Ami : “Weee are veery fine thank you. Bagaimanaa
dengan kamu? Kenapa kaamu terlihat ... sangaat senaaang?”
Alan : “Aada apa
denganmu, Ratih? Aapakah ada sebuah berita?”
Putra : “Beriiitahu
kita! Jangaaan cuma bisa ... t’riaak!”
Ratih : “Nanti ada
rapat guru. Nanti gak belajar dulu. Nanti gurunya gak di kelas, bisa main
bebaas.”
Alan, Putra, Ami :
(Berdiri) “Yey!!”
Babak 2 :
Kemudian di kelas,
semua anak di kelas sedang bermain-main. Noran dan Putra sedang duduk di kursi
mereka masing-masing yang agak berdekatan sambil asik menulis dan membaca.
Alan, Ratih dan Ami sebetulnya sedang mengobrol seru. Namun, Ami sedang asik
membaca selembar kertas, hingga kedua temanya di acuhkan.
***Nada bicara: “Hey Gadis” by Samsons***
Ami : (senyum-senyum
memperhatikan selembar kertas)
Ratih : “Hei, Ami,
mengapa dirimu cengar-cengir gitu? Apa ada sesuatu?”
Alan : “Hei, Ami,
mengapa kau terus tersenyum ke kertas? Ada apa oh denganmuuu?”
Ami : “Umm ... aku tak
bisaa beritahuuu. Jaangan kalian kepo ... kalian sotoy.”
Alan : (segera merebut
kertas Ami) “Dia punya pacar baru!”
Ratih : (mendekati Alan
dan ikut tertawa-tawa membaca isi kertas itu)
***Nada bicara: “Fortune Cookie in
Love” by JKT48***
Ami : (berusaha merebut
kertas) “Sini balikin kertas itu padaku”
Alan : (mempertahankan
kertas ditangan) “Coba saja ambil kalau elo bisa.”
Ami : (tetap berusaha)
“Awas kalo dapet, nanti bakal kupukulin!”
Ratih : (mengejek)
Ami : (nada lirik: Saat ku melamun) “Alan cepet balikin
kertas itu! Kamu tega membuat aku malu!”
Alan : “Gak peduli
banget kalo lo malu! Yang penting lo masih memakai baju!”
Ami : “Ratih, kamu
kenapa ikut?” (sambil menunjuk Alan)
Ratih : “Kar’na aku
nurut.” (sambil menunjuk Alan)
Alan : (lari menjauh)
“Wlee!” (tanpa sengaja menyenggol Noran)
***Nada bicara: “Beraksi” by Kotak
(acak)***
Noran : (segera berdiri, nada bicara reff) “Hoi! Lo yang
lari-lari! Mending diem aja! Elo itu ganggu gue!”
Ratih, Ami dan Putra :
(dengan posisi berdiri segera mendekati mereka bersamaan dengan Alan menjawab)
Alan : “Woi! Gue gak
sengaja! Kagak usah nyolot! Salah lo badan kegedean!”
Putra : (menepuk bahu Alan, nada biacara kembali ke lirik awal) “Sesepele ini kenapa marah?”
Noran : “Kar’na dia
bikin keadan gak tenang.”
Alan : “Enak aja elo
nyalahin orang. Salah sendiri badan kegedeaan!”
Noran : “Dasar lu Alan!
Badan kayak cuntang!”
Ratih : (muncul di
antara Noran dan Alan) “Hei! Jangan saling semprot! Jangan adu mulut!”
Alan : “Terus harus
bagaimanaa?”
Putra : “Eh! Alan minta
maaf!”
Alan : “Gua kagak mau!”
Ami : “Tapi elu udah
salah.”
Alan : “Eng ... gak!”
(sambil berlari keluar panggung)
***Nada bicara: “Biarlah” by Killing
Me Inside***
Putra : “Apakah Alan kini
lagi marah ke kita?”
Ratih : “Mana mungkin
dia marah?” (berubah ekspresi jadi bepikir) “Tapi memang mungkin saja.”
Ami : “Gak mungkin,
enggak mungkin.”
Ratih : “Tapi tetap
mungkin saja.”
Noran : (nada bicara
reff) “Udah, lah ... kagak penting. Biarlah kita diemin.”
Ami : “Tapi kita kagak
enak. Kalau Alan marah ke kita.”
Semua : (menunduk lama,
lalu berjalan keluar panggung)
Sejak
hari itu, Alan menjauhi teman-temanya.
Babak 3:
Di suatu pagi, Alan
sedang duduk sendiri di bawah pohon. Wajahnya suram penuh amarah. Dia memang
masih memendam kekesalan di beberapa hari silam. Putra memperhatikanya. Dia
sebetulnya ingin mendekati Alan, namun dia teramat ragu. Tapi, pada akhirnya,
Putra pun mendekati Alan.
***Nada bicara awal: “I Knew You Were
Trouble” by Taylor Swift***
Putra : “Pagi yang
indah! Apa kabarmu? Kenapa lo terus ... duduk sendiri? Di sini ... sini ...
sini ....”
Alan : (berbalik
membelakangi Putra)
Putra : “Alan kenapa
... wajahmu itu ... terus cemberut. Terlihat kusut. Answer me ... answer me ... answer me ....”
Alan : “Pergilaah ...
sana. Gue gaak ... mau, ngomong samaa ... lo. Lo berisik.”
Putra : “But lo adalah
sahabat karib gue. Gue gak enak, kalo lo duduk sendiri di sini. (lirik akhir)
Gue mau temenin elo.”
***Nada bicara: “Dan Hilang” by
Peterpan***
Alan : (kasar) “Jangan kau dekati aku! Pergi jauhi
aku!”
Putra : “Gue gak akan menjauh! Sebelom elo
ngejawab!”
Alan : “Pergilah jauh dariku! Gue gak mau deket lo!”
Putra : “Gue gak mau ngejauh!”
Alan : “Gue gak suka eloo!”
Putra : (diam menunduk)
Alan : (ikut terdiam)
Putra : (berlari pergi secepatnya)
Putra sakit hati. Dia berlari pergi dengan cepat, dalam
hati, sangat sedih. Alan sendiri, dibalik kecuekanya, dia agak merasa bersalah.
Babak 4 :
Ket. : latar tempatnya
adalah sebuah kafe, para aktor sedang duduk bersama di satu meja. Entah itu
sofa atau bangku.
Di sore harinya, Putra
berkumpul dengan Ratih, Ami dan Noran di sebuah kafe dalam sebuah mall. Mereka sebetulnya hanya berpapasan
di mall itu, tapi karena kebetulan bertemu, jadi mereka berbincang-bincang
sekalian.
***Nada bicara awal: “Patah Hati” by
Radja***
Ami : “Kebetulan, ya?
Kita bertemu.”
Ratih : “Sekarang kita
mau gimana?”
Noran : (asik bermain
hp)
Ami : (nada lirik: Hati bagai air) “Sudah tanggung kita
papasan, masa langsung bubaran? Coba kamu bicara, Noran. Hm … hm ….”
Noran : “Kenapa elo
negor ke gue? Kenapa enggak mereka ‘ja dulu?”
Ami : “Apa masalah
kalau aku, nanya ke kamu dulu? Soalnya kau diem melulu.”
Ratih : “Bukanya aku,
mau mengganggu. Tapi kalian kayaknya kiku. Apa kalian, ada masalah? Mungkin
bisa kita saling bantu.”
Semua : (diam agak
lama, lalu mendesah bersamaan)
***Nada bicara: “Seharusnya Percaya”
by Geisha***
Putra : “Jujur
membuatku serba salah, tak jujur membuatku semakin salah.”
Ratih : “Memangnya ada
apa denganmu? Hingga kau merasa, kau selalu bersalah.”
Noran : “Kadang pun gue
juga sama, gak berbeda rasa dengan si Putra. Hingga kini kurasa gak bisa, bila
ku pendam saja, dan ku tak bicara.”
Putra : “Kita, tak bisa
melupa-kan akan sahabat kita. Sahabat yang mungkin tak lagi teman.”
Ratih : “Sebenarnya pun
aku juga. Kita gak mungkin melupa-kan Alan. Tapi Alan sudah enggak mau, jadi
kawaaa-an kita.”
Ami : “Terus
bagaimanaaa?”
Semua : (diam lama
sekali dengan wajah datar karena sedih)
Noran : (di beberapa
saat kemudian kembali bermain hp)
Putra : (mendengungkan
lagu Laskar Pelangi)
Ratih : (terus
memperhatikan Putra, pelan-pelan ekspresinya berubah) “Aha!!” (sambil melompat dan menunjukan
telunjuk)
Noran, Putra, dan Ami :
(kaget)
Ratih : (mengajak
teman-temanya mendekat)
Semua : (mendekat lalu
berbisik-bisik)
Ami : (membentuk sandi
“OK” dengan tanganya)
Noran : (mengacungkan
jempol)
Putra : (bicara tanpa
suara) “Iya, iya, iya ….”
Semua : (tos, lalu
keluar panggung)
Babak 5 :
Mulai dari hari itu,
Ami, Ratih, Putra dan Noran, sering berkumpul bersama. Mereka jadi melupakan
Alan. Alan juga cuek-cuek saja pada mereka.
Hari ini, Alan sebetulnya sedang hendak mendekati Putra.
Karena Putra adalah sahabatnya yang paling dekat denganya.
Putra : (duduk di bawah
pohon sambil memegang selembar kertas, terlihat seperti menghapalkan sesuatu)
Alan : (mendekati
Putra, berhenti berjalan sebelum sampai di dekat Putra dan terlihat bimbang.
Melangkah mundur selangkah, tapi melangkah lagi ke depan selangkah)
Noran : (masuk ke panggung,
memanggil Putra di posisi yang jauh dari Alan) “Ei, Put!” (melambaikan tangan
tinggi-tinggi)
Putra : (menoleh, lalu
berlari melewati Alan begitu saja)
Noran dan Putra :
(berjalan bersama keluar panggung)
Alan : (diam lalu
berjalan pelan dan duduk di bawah pohon sambil menunduk sedih)
Akhir-akhir ini, Alan dijauhi teman-temanya. Bahkan saat
dia ingin mendekati salah seorang dari mereka. Tak peduli siapa pun itu, baik
Putra, Noran, Ratih, maupun Ami, mereka semua selalu meninggalkan Alan begitu
saja.
Alan kini mulai merasa kesepian. Dia menyesal telah
menjauhi sahabat-sahabatnya. Hanya karena teman-temanya menasehatinya untuk
meminta maaf, dia jadi marah dan me-ninggalkan teman-temanya. Sekarang dia baru
sadar bahwa sahabat sangatlah berarti, sahabat akan selalu menunjukan jalan
yang benar, dan nasehat sahabat pantas untuk di dengarkan.
Alan : (berjalan keluar
panggung dengan tetap menunduk sedih)
Babak 6 :
Di minggu yang cerah,
Alan sedang duduk di sebuah taman sendirian. Pergi ke taman di hari minggu
sebetulnya adalah kebiasaanya dan teman-temanya, namun karena dia agak segan
mengajak para sahabatnya jadi dia tidak pergi ke taman bersama mereka.
Tanpa dia duga, Noran datang. Dia duduk di samping Alan.
Noran : “Hai, Alan!”
Alan : (sedikit cuek)
“Hai, ‘napa?”
Noran : “Gue mau
nyanyi, nih. Boleh gak, Lan?”
Alan : “Ya udah. Nyanyi
tinggal nyanyi.”
Ratih, Ami dan Putra :
(keluar dari tempat mereka bersembunyi)
**Laskar Pelangi by Nidji**
Ami : (menunjukkan kertas berisi permintaan untuk kembali menjadi teman pada Alan)
Noran : “Kita minta maaf. Lo mau gak baikan sama
kita, Lan?”
Alan : (dengan suara kecil sekali) “Iya, gue mau
minta maaf juga, kok ....”
Noran : “Hah? Apaan? Gak kedengeran?”
Alan : (berdiri merangkul leher Noran dan Putra
sambil berteriak) “Gue juga minta maaf!”
Putra : “Woi! Gila! Sesek! Gak bisa nafas!”
Semua : (berjalan
keluar panggung, Alan, Noran dan Putra tidak berubah posisi)
Dan setelah itu, semuanya kembali seperti semula.
