Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Senin, 07 April 2014

Tanda Maaf (Drama)


Judul : Tanda Maaf 
Genre :  School life, persahabatan 
Pemain : 5 aktor 
Tipe drama : full musical drama
Jumlah babak, lama permainan : 6 babak, 35 menit



~~~~~ 
Naskah drama ini dibuat sama temen-temen aku, lho! Eh, tapi aku juga ikut bikin, aku pengetik dan pencetak naskahnya! Yah, walau kami gak berhasil di pegelaran seni sekolah, tapi seneng juga mainin perannya. Sampe sekarang pun lagu-lagunya masih seneng kami nyanyiin, lho!

Oya, ini ceritanya kita disuruh bikin drama yang harus semua bagiannya yang bicara nyanyi. Jadi setiap kalimat sebetulnya harus dinyanyiin. Di sini juga sebetulnya di kelompok aku ada enam orang dan aku sebetulnya jadi narator, tapi naskahnya cukup jelas juga buat dimainin tanpa narator, kok.

Buat yang digaris bawahin itu yang dinyanyiin cepet (kalo emang mau dinyanyiin dramanya). Eh, tapi drama ini bisa dimainin tanpa harus nyanyi, lho! Tinggal edit-edit aja sedikit, selesai, deh! Selamat membaca naskah drama kami!
~~~~~ 






Babak 1:



Di suatu siang di sebuah sekolah, terdapat tiga murid sedang mengobrol di bawah pohon. Mereka adalah Ami, Alan, dan Putri. Lalu Ratih, teman mereka yang paling bersemangat mendatangi mereka.


***Nada bicara awal: “5 Elang” by Coboy Junior***

Ratih : (sambil berlari masuk dengan riang gembira) “Halo halooo semuanya! Apa kabar kalian semua? Pagiii ini, terlihaat sangaat indaah.”
Ami : “Weee are veery fine thank you. Bagaimanaa dengan kamu? Kenapa kaamu terlihat ... sangaat senaaang?”
Alan : “Aada apa denganmu, Ratih? Aapakah ada sebuah berita?”
Putra : “Beriiitahu kita! Jangaaan cuma bisa ... t’riaak!”
Ratih : “Nanti ada rapat guru. Nanti gak belajar dulu. Nanti gurunya gak di kelas, bisa main bebaas.”


Alan, Putra, Ami : (Berdiri) “Yey!!”




Babak 2 :



Kemudian di kelas, semua anak di kelas sedang bermain-main. Noran dan Putra sedang duduk di kursi mereka masing-masing yang agak berdekatan sambil asik menulis dan membaca. Alan, Ratih dan Ami sebetulnya sedang mengobrol seru. Namun, Ami sedang asik membaca selembar kertas, hingga kedua temanya di acuhkan.


***Nada bicara: “Hey Gadis” by Samsons***

Ami : (senyum-senyum memperhatikan selembar kertas)
Ratih : “Hei, Ami, mengapa dirimu cengar-cengir gitu? Apa ada sesuatu?”
Alan : “Hei, Ami, mengapa kau terus tersenyum ke kertas? Ada apa oh denganmuuu?”
Ami : “Umm ... aku tak bisaa beritahuuu. Jaangan kalian kepo ... kalian sotoy.”
Alan : (segera merebut kertas Ami) “Dia punya pacar baru!”
Ratih : (mendekati Alan dan ikut tertawa-tawa membaca isi kertas itu)

***Nada bicara: “Fortune Cookie in Love” by JKT48***

Ami : (berusaha merebut kertas) “Sini balikin kertas itu padaku”
Alan : (mempertahankan kertas ditangan) “Coba saja ambil kalau elo bisa.”
Ami : (tetap berusaha) “Awas kalo dapet, nanti bakal kupukulin!”
Ratih : (mengejek)
Ami : (nada lirik: Saat ku melamun) “Alan cepet balikin kertas itu! Kamu tega membuat aku malu!”
Alan : “Gak peduli banget kalo lo malu! Yang penting lo masih memakai baju!”
Ami : “Ratih, kamu kenapa ikut?” (sambil menunjuk Alan)
Ratih : “Kar’na aku nurut.” (sambil menunjuk Alan)
Alan : (lari menjauh) “Wlee!” (tanpa sengaja menyenggol Noran)


***Nada bicara: “Beraksi” by Kotak (acak)***

Noran : (segera berdiri, nada bicara reff) “Hoi! Lo yang lari-lari! Mending diem aja! Elo itu ganggu gue!”
Ratih, Ami dan Putra : (dengan posisi berdiri segera mendekati mereka bersamaan dengan Alan menjawab)
Alan : “Woi! Gue gak sengaja! Kagak usah nyolot! Salah lo badan kegedean!”
Putra : (menepuk bahu Alan, nada biacara kembali ke lirik awal) “Sesepele ini kenapa marah?”
Noran : “Kar’na dia bikin keadan gak tenang.”
Alan : “Enak aja elo nyalahin orang. Salah sendiri badan kegedeaan!”
Noran : “Dasar lu Alan! Badan kayak cuntang!”
Ratih : (muncul di antara Noran dan Alan) “Hei! Jangan saling semprot! Jangan adu mulut!”
Alan : “Terus harus bagaimanaa?”
Putra : “Eh! Alan minta maaf!”
Alan : “Gua kagak mau!”
Ami : “Tapi elu udah salah.”
Alan : “Eng ... gak!” (sambil berlari keluar panggung)

***Nada bicara: “Biarlah” by Killing Me Inside***

Putra : “Apakah Alan kini lagi marah ke kita?”
Ratih : “Mana mungkin dia marah?” (berubah ekspresi jadi bepikir) “Tapi memang mungkin saja.”
Ami : “Gak mungkin, enggak mungkin.”
Ratih : “Tapi tetap mungkin saja.”
Noran : (nada bicara reff) “Udah, lah ... kagak penting. Biarlah kita diemin.”
Ami : “Tapi kita kagak enak. Kalau Alan marah ke kita.”
Semua : (menunduk lama, lalu berjalan keluar panggung)


Sejak hari itu, Alan menjauhi teman-temanya.





Babak 3:



Di suatu pagi, Alan sedang duduk sendiri di bawah pohon. Wajahnya suram penuh amarah. Dia memang masih memendam kekesalan di beberapa hari silam. Putra memperhatikanya. Dia sebetulnya ingin mendekati Alan, namun dia teramat ragu. Tapi, pada akhirnya, Putra pun mendekati Alan.


***Nada bicara awal: “I Knew You Were Trouble” by Taylor Swift*** 
Putra : “Pagi yang indah! Apa kabarmu? Kenapa lo terus ... duduk sendiri? Di sini ... sini ... sini ....”
Alan : (berbalik membelakangi Putra)
Putra : “Alan kenapa ... wajahmu itu ... terus cemberut. Terlihat kusut. Answer me ... answer me ... answer me ....”
Alan : “Pergilaah ... sana. Gue gaak ... mau, ngomong samaa ... lo. Lo berisik.”
Putra : “But lo adalah sahabat karib gue. Gue gak enak, kalo lo duduk sendiri di sini. (lirik akhir) Gue mau temenin elo.”


***Nada bicara: “Dan Hilang” by Peterpan***


Alan : (kasar) “Jangan kau dekati aku! Pergi jauhi aku!”
Putra : “Gue gak akan menjauh! Sebelom elo ngejawab!”
Alan : “Pergilah jauh dariku! Gue gak mau deket lo!”
Putra : “Gue gak mau ngejauh!”
Alan : “Gue gak suka eloo!”
Putra : (diam menunduk)
Alan : (ikut terdiam)
Putra : (berlari pergi secepatnya)


            Putra sakit hati. Dia berlari pergi dengan cepat, dalam hati, sangat sedih. Alan sendiri, dibalik kecuekanya, dia agak merasa bersalah.




Babak 4 :



Ket. : latar tempatnya adalah sebuah kafe, para aktor sedang duduk bersama di satu meja. Entah itu sofa atau bangku.



Di sore harinya, Putra berkumpul dengan Ratih, Ami dan Noran di sebuah kafe dalam sebuah mall. Mereka sebetulnya hanya berpapasan di mall itu, tapi karena kebetulan bertemu, jadi mereka berbincang-bincang sekalian.

***Nada bicara awal: “Patah Hati” by Radja***

Ami : “Kebetulan, ya? Kita bertemu.”
Ratih : “Sekarang kita mau gimana?”
Noran : (asik bermain hp)
Ami : (nada lirik: Hati bagai air) “Sudah tanggung kita papasan, masa langsung bubaran? Coba kamu bicara, Noran. Hm … hm ….”
Noran : “Kenapa elo negor ke gue? Kenapa enggak mereka ‘ja dulu?”
Ami : “Apa masalah kalau aku, nanya ke kamu dulu? Soalnya kau diem melulu.”
Ratih : “Bukanya aku, mau mengganggu. Tapi kalian kayaknya kiku. Apa kalian, ada masalah? Mungkin bisa kita saling bantu.”
Semua : (diam agak lama, lalu mendesah bersamaan)

***Nada bicara: “Seharusnya Percaya” by Geisha***

Putra : “Jujur membuatku serba salah, tak jujur membuatku semakin salah.”
Ratih : “Memangnya ada apa denganmu? Hingga kau merasa, kau selalu bersalah.”
Noran : “Kadang pun gue juga sama, gak berbeda rasa dengan si Putra. Hingga kini kurasa gak bisa, bila ku pendam saja, dan ku tak bicara.”
Putra : “Kita, tak bisa melupa-kan akan sahabat kita. Sahabat yang mungkin tak lagi teman.”
Ratih : “Sebenarnya pun aku juga. Kita gak mungkin melupa-kan Alan. Tapi Alan sudah enggak mau, jadi kawaaa-an kita.”
Ami : “Terus bagaimanaaa?”

Semua : (diam lama sekali dengan wajah datar karena sedih)
Noran : (di beberapa saat kemudian kembali bermain hp)
Putra : (mendengungkan lagu Laskar Pelangi)
Ratih : (terus memperhatikan Putra, pelan-pelan ekspresinya berubah) “Aha!!” (sambil melompat dan menunjukan telunjuk)
Noran, Putra, dan Ami : (kaget)
Ratih : (mengajak teman-temanya mendekat)
Semua : (mendekat lalu berbisik-bisik)
Ami : (membentuk sandi “OK” dengan tanganya)
Noran : (mengacungkan jempol)
Putra : (bicara tanpa suara) “Iya, iya, iya ….”
Semua : (tos, lalu keluar panggung)




Babak 5 :



Mulai dari hari itu, Ami, Ratih, Putra dan Noran, sering berkumpul bersama. Mereka jadi melupakan Alan. Alan juga cuek-cuek saja pada mereka.
            Hari ini, Alan sebetulnya sedang hendak mendekati Putra. Karena Putra adalah sahabatnya yang paling dekat denganya.

Putra : (duduk di bawah pohon sambil memegang selembar kertas, terlihat seperti menghapalkan sesuatu)
Alan : (mendekati Putra, berhenti berjalan sebelum sampai di dekat Putra dan terlihat bimbang. Melangkah mundur selangkah, tapi melangkah lagi ke depan selangkah)
Noran : (masuk ke panggung, memanggil Putra di posisi yang jauh dari Alan) “Ei, Put!” (melambaikan tangan tinggi-tinggi)
Putra : (menoleh, lalu berlari melewati Alan begitu saja)
Noran dan Putra : (berjalan bersama keluar panggung)
Alan : (diam lalu berjalan pelan dan duduk di bawah pohon sambil menunduk sedih)


            Akhir-akhir ini, Alan dijauhi teman-temanya. Bahkan saat dia ingin mendekati salah seorang dari mereka. Tak peduli siapa pun itu, baik Putra, Noran, Ratih, maupun Ami, mereka semua selalu meninggalkan Alan begitu saja.
            Alan kini mulai merasa kesepian. Dia menyesal telah menjauhi sahabat-sahabatnya. Hanya karena teman-temanya menasehatinya untuk meminta maaf, dia jadi marah dan me-ninggalkan teman-temanya. Sekarang dia baru sadar bahwa sahabat sangatlah berarti, sahabat akan selalu menunjukan jalan yang benar, dan nasehat sahabat pantas untuk di dengarkan.


Alan : (berjalan keluar panggung dengan tetap menunduk sedih)





Babak 6 :



Di minggu yang cerah, Alan sedang duduk di sebuah taman sendirian. Pergi ke taman di hari minggu sebetulnya adalah kebiasaanya dan teman-temanya, namun karena dia agak segan mengajak para sahabatnya jadi dia tidak pergi ke taman bersama mereka.
            Tanpa dia duga, Noran datang. Dia duduk di samping Alan.


Noran : “Hai, Alan!”
Alan : (sedikit cuek) “Hai, ‘napa?”
Noran : “Gue mau nyanyi, nih. Boleh gak, Lan?”
Alan : “Ya udah. Nyanyi tinggal nyanyi.”
Ratih, Ami dan Putra : (keluar dari tempat mereka bersembunyi)  


**Laskar Pelangi by Nidji**


Ami     : (menunjukkan kertas berisi permintaan untuk kembali menjadi teman pada Alan)
Noran  : “Kita minta maaf. Lo mau gak baikan sama kita, Lan?”
Alan    : (dengan suara kecil sekali) “Iya, gue mau minta maaf juga, kok ....”
Noran : “Hah? Apaan? Gak kedengeran?”
Alan    : (berdiri merangkul leher Noran dan Putra sambil berteriak) “Gue juga minta maaf!”
Putra    : “Woi! Gila! Sesek! Gak bisa nafas!”
Semua : (berjalan keluar panggung, Alan, Noran dan Putra tidak berubah posisi)


            Dan setelah itu, semuanya kembali seperti semula.

Rabu, 02 April 2014

Antara Hatiku dan Hatinya (Chapter 4)

Antara Hatiku dan Hatinya
Chapter 4:
Mulai Menggantungkan Hati


~~~~~
Wihuiii ... dapet juga ceritanya! Happy reading, yah!
~~~~~



Sebuah siang di beberapa hari kemudian. Kinara sedang duduk di taman sambil bernyanyi-nyanyi dengan Niela. Bagi mereka, itu adalah latihan menyanyi, karena kebetulan hari itu mereka akan ikut ekskul menyanyi.

Kau membuat ku merasa hebat
Karena, ketulusan cintamu
Ku merasa teristimewa hanya ...
Hanya karena ... karena cinta ...
Kau beri padaku sepenuhnya
Buatku selalu merasa berarti

"Asooooyy," kata Sania. Entah dari mana rasanya dia bisa tiba-tiba duduk di sebelah Kinara.

"San ... Sania?" ujar Kinara kaget. "Sejak kapan kamu di sini?"

"Sejak aku numpang lewat dan denger suara kalian," tutur Sania. Dia menampilkan senyum manis polos khas anak-anak di wajahnya. "Suara kalian baguuuus banget!"

"Makasiiih!" balas Niela.

"Gak ada kata kita," balas Kinara. "Suara aku gak begitu bagus."

"Enggak! Suara Mbak Niar juga bagus! Malah aku suka suara lembut Mbak Niar," ujar Sania menyangkal perkataan Kinara.

Kinara tersenyum. "Ya udah, makasih ya."

"Makasihnya jangan sama aku, yang lagi ngelatih suaranya sendiri 'kan bukan aku," balas Sania. "Oya, nanti Mbak Niar sama Niela mau ikut ekskul menyanyi sepulang sekolah, ya?"

"Iya," jawab Niela dan Kinara bersamaan.

"Waaaah, aku mau denger suara kalian kalau kalian ada disuruh ikut lomba menyanyi gitu!" balas Sania. Niela dan Kinara hanya cekikikan.

"Enggak, ah," kilah Kinara. "Aku malu kalau disuruh nyanyi di depan orang banyak."

"Eeh ... iya, aku juga," Niela mengiyakan.

"Yaaa ... jangan gitu, dong," balas Sania. "Masa malu di simpen terus? Aku mau denger suara kalian di atas panggung, biar orang-orang bisa tahu bagusnya suara kalian!"

"Cumi, deh," tanggap Niela tersenyum.

"Enggak!!" kilah Sania. Sekarang dia seperti bocah yang bersikeras untuk menang bicara. "Itu gak hanya mimpi! Itu pasti bisa jadi nyata! Gak ada yang namanya harapan yang selalu semu kalau jelas-jelas ada perjuanganya! Berjuang dengan penuh harapan itu gak bakal sia-sia!!"

Kinara dan Niela cekikikan lagi melihat tingkah Sania. Kinara tersenyum penuh arti mendengar kalimat akhir Sania.

Harapan, ya ....

"Iya, deh ... daripada nangis," balas Niela.

Kinara masih tersenyum penuh arti. Sania nampak memberikan pandangan berkaca khas mata anak kucing kecil yang imut-imut, walau tak terlalu imut di wajah Sania karena dia tak memiliki wajah anak kucing. Sania kini mengarahkan pandanganya pada Kinara.

"Mbak Niar ... kasih aku vote yang tulus, dong," katanya.

Kinara kembali tersenyum penuh arti. "Kataku, apa yang kamu bilang itu gak salah, kok."

Sania tersenyum lebar. Lalu memeluk Kinara dan memelet Niela. "Wleee ... Mbak Niar tetep dukung aku, kok!"

Niela dan Kinara tertawa lagi. Sania juga tertawa.

***

Kinara sedang di bangku di taman sekolah saat ini. Tepatnya bangku yang ada di bawah pohon rindang.
Sungguh teduh rasanya duduk di bawah pohon itu. Memang menenangkan sekali rasanya kalau sudah di bawah pohon mangga itu.

Sebetulnya hari ini dia sibuk. Dia harus mengerjakan tugas robotika di rumahnya bersama kedua temanya sepulang sekolah nanti. Tentu cukup melelahkan karena dia akan pulang sekolah sore dan tetap mengerjakan tugas sekolah.

Kinara rasanya ingin bersantai sebentar. Namun keseriusan rasa tenangnya terusik kala dia mendengar suara musik.

Musiknya terdengar sangat aktif. Terdengar sangat bersemangat. Namun Kinara tak dapat menebak judul lagu yang menjadi alunan musiknya itu.

Kinara berkeliling. Dia mencari asal suara tersebut. Lalu Kinara temukan di balik pohon beringin seorang anak perempuan. Dia berambut hitam panjang yang diikat dengan pita biru. Gerakanya sangat lincah mengikuti musik aktif yang berasal dari handphone-nya. Gadis itu menari-nari membelakangi Kinara, hingga Kinara tak dapat melihat wajah gadis itu.

Cewek ini cantik banget, pikir Kinara. Siapa, ya, dia? Semoga aja bukan cewek yang sombong, jadi aku bisa temenan sama dia.

Lagu selesai. Kinara menelan ludah, lalu mulai bicara, "Eh ... hai ...."

Gadis tadi segera berlari pergi. Kinara kaget, tapi dia berusaha mengejar gadis itu.

"He ... hei! Kenapa kamu lari? Aku cuma mau kenalan sama kamu aja, kok! Apa kamu murid baru di sini? Nama kamu siapa? Hei! Berhenti dulu, dong!" teriak Kinara. Tapi sepertinya gadis itu tak mempedulikanya, si gadis tetap berlari secepat-cepatnya.

Kinara menyerah. Dia berhenti dan terengah-engah. Lari si gadis misterius itu cukup cepat, sementara Kinara tak mungkin menyainginya.

"Cewek itu ... aneh juga," tanggap Kinara. "Aku 'kan udah teriak-teriak kalau aku cuma mau kenalan sama dia. Haaahh, aku memang berharap bisa kenalan sama cewek yang cantik luar dalam."

Kinara akhirnya berjalan kembali ke bawah pohon mangga. Dia masih ingin bersantai di sana.

Kriiiiiing! Kriiiiiiiiiiiiing!! Bel sekolah berbunyi.

"Oh my god! Aku belum semenit duduk!"

***

Sore kini cukup sibuk. Lihat saja halaman belakang rumah Kinara sekarang. Palu ada di sini; solder di sana; lem bakar di situ; kepingan papan panel di mana-mana. Sudah dua jam keadaan begitu berantakan.
Kelompok anak ekskul robotika ini berjumlah 5 orang. Semuanya adalah Helanie, Tesia, Sila, Kinara, dan Ferra. Memang lucu juga semua anggotanya perempuan begini. Ini karena mereka memilih anggota kelompoknya sendiri. Yah, walau perempuan semua, tapi toh mereka masing-masing sangat kompak, dan memiliki passion yang kuat.

"Haaahh ... selesai ...," kata Ferra. "Nyantai, ah." Dia meraih handphone dan dalam sekejap asik sendiri.

"Eh ...," panggil Sila. "Apa gak sebaiknya kita coba?"

Kinara berpikir-pikit dahulu. "Ada baiknya kita coba dulu. Tapi sore-sore begini buat nyari lapangan yang panas susah."

"Mungkin lebih baik kita beres-beres dulu?" usul Helanie.

"Iya, kita beresin aja dulu peralatanya, kali, Sil," imbuh Tesia.

"Yuk!" Kinara mulai membereskan.

Agak kesal sebetulnya mereka. Karena Ferra tak mau ikut membereskan, dia hanya menyingkir saat ada barang yang ia duduki, atau menjawab saat ada yang menanyakan barang yang tak ditemukan, atau juga berpindah tempat saat disuruh. Tapi tetap saja matanya tak lepas dari hp-nya.

Tesia mencibirnya, "Huh ... facebooker, tweeps, dia tuh terlalu keseringan online di social media, ya? Pasif banget jadinya."

Sila, Helanie dan Kinara mendesah.

"Mungkin emang udah jadi hobinya, Tes," celetuk Sila.

Mereka memperhatikan Ferra. Gadis gaul itu tetap serius pada hp-nya. Tapi tiba-tiba dia membelalakan mata, dan berkata, "RA RA RA RA ...!"

Kinarayang dipanggilmendekatinya seraya bertanya, "Kenapa, sih?"

"Liat, deh, status barunya Dika di facebook!"

"MANA?! MANA?! MANA?!" Kini Tesia, Helanie, Sila, dan Kinara berebutan memegang hp Ferra. Beberapa saat kemudian, barulah mereka dapat membaca bersama.


Setyono Mahardika
OTW loving U ;)


"Aaaaaa ... So sweeeeet ...," ujar mereka. Nada bicara mereka terdengar seperti berbunga-bunga.

"Ciee ciee cieee ... pada nge-fly ... cie ...," goda Ferra.

"Kinara, tuh!" balas Sila.

Mendadak wajah Kinara merona. "Apaan, sih."

"Iya, Ra. Pasti nge-fly banget lu," imbuh Tesia.

"Ih, enggak juga kali, Tes."

"Ahaha ... cie cie Kinara," tambah Helanie.

"Iiiiihh ... apaan, sih? Enggak, lah! Masa begitu doang nge-fly? Apaan, coba? Emangnya itu buat aku? Belom tentu, kan? Kalian kali yang pada nge-fly."

Ferra menepuk-tepuk sebelah bahu Kinara. "Sebagai cewek, kita juga paham perasaan kamu, Ra."

"Emangnya kamu cewek?"

Ferra cemberut. Bersamaan dengan itu, teman-teman Kinara yang lain tertawa.

Kinara? Tidak perlu diragukan lagi. Tentu saja dia tersanjung. Tapi masih ada keraguan di hatinya.

Apa benar itu untukku? Apa iya? Tapi Dika kan masih suka sama Vania. Apa iya itu buat akuuu?