Chapter 4:
Mulai Menggantungkan Hati
~~~~~
Wihuiii ... dapet juga ceritanya! Happy reading, yah!
~~~~~
Sebuah siang di beberapa hari kemudian. Kinara sedang duduk di taman sambil bernyanyi-nyanyi dengan Niela. Bagi mereka, itu adalah latihan menyanyi, karena kebetulan hari itu mereka akan ikut ekskul menyanyi.
Kau membuat ku merasa hebat
Karena, ketulusan cintamu
Ku merasa teristimewa hanya ...
Hanya karena ... karena cinta ...
Kau beri padaku sepenuhnya
Buatku selalu merasa berarti
"Asooooyy," kata Sania. Entah dari mana rasanya dia bisa tiba-tiba duduk di sebelah Kinara.
"San ... Sania?" ujar Kinara kaget. "Sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak aku numpang lewat dan denger suara kalian," tutur Sania. Dia menampilkan senyum manis polos khas anak-anak di wajahnya. "Suara kalian baguuuus banget!"
"Makasiiih!" balas Niela.
"Gak ada kata kita," balas Kinara. "Suara aku gak begitu bagus."
"Enggak! Suara Mbak Niar juga bagus! Malah aku suka suara lembut Mbak Niar," ujar Sania menyangkal perkataan Kinara.
Kinara tersenyum. "Ya udah, makasih ya."
"Makasihnya jangan sama aku, yang lagi ngelatih suaranya sendiri 'kan bukan aku," balas Sania. "Oya, nanti Mbak Niar sama Niela mau ikut ekskul menyanyi sepulang sekolah, ya?"
"Iya," jawab Niela dan Kinara bersamaan.
"Waaaah, aku mau denger suara kalian kalau kalian ada disuruh ikut lomba menyanyi gitu!" balas Sania. Niela dan Kinara hanya cekikikan.
"Enggak, ah," kilah Kinara. "Aku malu kalau disuruh nyanyi di depan orang banyak."
"Eeh ... iya, aku juga," Niela mengiyakan.
"Yaaa ... jangan gitu, dong," balas Sania. "Masa malu di simpen terus? Aku mau denger suara kalian di atas panggung, biar orang-orang bisa tahu bagusnya suara kalian!"
"Cumi, deh," tanggap Niela tersenyum.
"Enggak!!" kilah Sania. Sekarang dia seperti bocah yang bersikeras untuk menang bicara. "Itu gak hanya mimpi! Itu pasti bisa jadi nyata! Gak ada yang namanya harapan yang selalu semu kalau jelas-jelas ada perjuanganya! Berjuang dengan penuh harapan itu gak bakal sia-sia!!"
Kinara dan Niela cekikikan lagi melihat tingkah Sania. Kinara tersenyum penuh arti mendengar kalimat akhir Sania.
Harapan, ya ....
"Iya, deh ... daripada nangis," balas Niela.
Kinara masih tersenyum penuh arti. Sania nampak memberikan pandangan berkaca khas mata anak kucing kecil yang imut-imut, walau tak terlalu imut di wajah Sania karena dia tak memiliki wajah anak kucing. Sania kini mengarahkan pandanganya pada Kinara.
"Mbak Niar ... kasih aku vote yang tulus, dong," katanya.
Kinara kembali tersenyum penuh arti. "Kataku, apa yang kamu bilang itu gak salah, kok."
Sania tersenyum lebar. Lalu memeluk Kinara dan memelet Niela. "Wleee ... Mbak Niar tetep dukung aku, kok!"
Niela dan Kinara tertawa lagi. Sania juga tertawa.
***
Kinara sedang di bangku di taman sekolah saat ini. Tepatnya bangku yang ada di bawah pohon rindang.
Sungguh teduh rasanya duduk di bawah pohon itu. Memang menenangkan sekali rasanya kalau sudah di bawah pohon mangga itu.
Sebetulnya hari ini dia sibuk. Dia harus mengerjakan tugas robotika di rumahnya bersama kedua temanya sepulang sekolah nanti. Tentu cukup melelahkan karena dia akan pulang sekolah sore dan tetap mengerjakan tugas sekolah.
Kinara rasanya ingin bersantai sebentar. Namun keseriusan rasa tenangnya terusik kala dia mendengar suara musik.
Musiknya terdengar sangat aktif. Terdengar sangat bersemangat. Namun Kinara tak dapat menebak judul lagu yang menjadi alunan musiknya itu.
Kinara berkeliling. Dia mencari asal suara tersebut. Lalu Kinara temukan di balik pohon beringin seorang anak perempuan. Dia berambut hitam panjang yang diikat dengan pita biru. Gerakanya sangat lincah mengikuti musik aktif yang berasal dari handphone-nya. Gadis itu menari-nari membelakangi Kinara, hingga Kinara tak dapat melihat wajah gadis itu.
Cewek ini cantik banget, pikir Kinara. Siapa, ya, dia? Semoga aja bukan cewek yang sombong, jadi aku bisa temenan sama dia.
Lagu selesai. Kinara menelan ludah, lalu mulai bicara, "Eh ... hai ...."
Gadis tadi segera berlari pergi. Kinara kaget, tapi dia berusaha mengejar gadis itu.
"He ... hei! Kenapa kamu lari? Aku cuma mau kenalan sama kamu aja, kok! Apa kamu murid baru di sini? Nama kamu siapa? Hei! Berhenti dulu, dong!" teriak Kinara. Tapi sepertinya gadis itu tak mempedulikanya, si gadis tetap berlari secepat-cepatnya.
Kinara menyerah. Dia berhenti dan terengah-engah. Lari si gadis misterius itu cukup cepat, sementara Kinara tak mungkin menyainginya.
"Cewek itu ... aneh juga," tanggap Kinara. "Aku 'kan udah teriak-teriak kalau aku cuma mau kenalan sama dia. Haaahh, aku memang berharap bisa kenalan sama cewek yang cantik luar dalam."
Kinara akhirnya berjalan kembali ke bawah pohon mangga. Dia masih ingin bersantai di sana.
Kriiiiiing! Kriiiiiiiiiiiiing!! Bel sekolah berbunyi.
"Oh my god! Aku belum semenit duduk!"
***
Sore kini cukup sibuk. Lihat saja halaman belakang rumah Kinara sekarang. Palu ada di sini; solder di sana; lem bakar di situ; kepingan papan panel di mana-mana. Sudah dua jam keadaan begitu berantakan.
Kelompok anak ekskul robotika ini berjumlah 5 orang. Semuanya adalah Helanie, Tesia, Sila, Kinara, dan Ferra. Memang lucu juga semua anggotanya perempuan begini. Ini karena mereka memilih anggota kelompoknya sendiri. Yah, walau perempuan semua, tapi toh mereka masing-masing sangat kompak, dan memiliki passion yang kuat.
"Haaahh ... selesai ...," kata Ferra. "Nyantai, ah." Dia meraih handphone dan dalam sekejap asik sendiri.
"Eh ...," panggil Sila. "Apa gak sebaiknya kita coba?"
Kinara berpikir-pikit dahulu. "Ada baiknya kita coba dulu. Tapi sore-sore begini buat nyari lapangan yang panas susah."
"Mungkin lebih baik kita beres-beres dulu?" usul Helanie.
"Iya, kita beresin aja dulu peralatanya, kali, Sil," imbuh Tesia.
"Yuk!" Kinara mulai membereskan.
Agak kesal sebetulnya mereka. Karena Ferra tak mau ikut membereskan, dia hanya menyingkir saat ada barang yang ia duduki, atau menjawab saat ada yang menanyakan barang yang tak ditemukan, atau juga berpindah tempat saat disuruh. Tapi tetap saja matanya tak lepas dari hp-nya.
Tesia mencibirnya, "Huh ... facebooker, tweeps, dia tuh terlalu keseringan online di social media, ya? Pasif banget jadinya."
Sila, Helanie dan Kinara mendesah.
"Mungkin emang udah jadi hobinya, Tes," celetuk Sila.
Mereka memperhatikan Ferra. Gadis gaul itu tetap serius pada hp-nya. Tapi tiba-tiba dia membelalakan mata, dan berkata, "RA RA RA RA ...!"
Kinara–yang dipanggil–mendekatinya seraya bertanya, "Kenapa, sih?"
"Liat, deh, status barunya Dika di facebook!"
"MANA?! MANA?! MANA?!" Kini Tesia, Helanie, Sila, dan Kinara berebutan memegang hp Ferra. Beberapa saat kemudian, barulah mereka dapat membaca bersama.
Setyono Mahardika
OTW loving U ;)
OTW loving U ;)
"Aaaaaa ... So sweeeeet ...," ujar mereka. Nada bicara mereka terdengar seperti berbunga-bunga.
"Ciee ciee cieee ... pada nge-fly ... cie ...," goda Ferra.
"Kinara, tuh!" balas Sila.
Mendadak wajah Kinara merona. "Apaan, sih."
"Iya, Ra. Pasti nge-fly banget lu," imbuh Tesia.
"Ih, enggak juga kali, Tes."
"Ahaha ... cie cie Kinara," tambah Helanie.
"Iiiiihh ... apaan, sih? Enggak, lah! Masa begitu doang nge-fly? Apaan, coba? Emangnya itu buat aku? Belom tentu, kan? Kalian kali yang pada nge-fly."
Ferra menepuk-tepuk sebelah bahu Kinara. "Sebagai cewek, kita juga paham perasaan kamu, Ra."
"Emangnya kamu cewek?"
Ferra cemberut. Bersamaan dengan itu, teman-teman Kinara yang lain tertawa.
Kinara? Tidak perlu diragukan lagi. Tentu saja dia tersanjung. Tapi masih ada keraguan di hatinya.
Apa benar itu untukku? Apa iya? Tapi Dika kan masih suka sama Vania. Apa iya itu buat akuuu?

0 tanggapan:
Posting Komentar