Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Jumat, 11 Juli 2014

Mimpi Kehidupan (Drama)



Judul : Mimpi Kehidupan  
Genre : slice of life
Pemain : 6 aktor 
Tipe drama : short drama 
Jumlah babak, lama permainan : 1 babak, 7 menit




Tokoh-tokoh:

Bara : tukang nyanyi, tukang tidur

Michael : sahabat Bara, suka bermain gitar

Yudha : kalem, sahabat Bara, teman yang paling baik

Steff : kutu buku, bukan cowok yang rapi tapi kalem dan kepala dingin

Juan : berkacamata, cerdik, besar rasa ingin tahu, adik Steff

Dafa : humoris, murah senyum, suka makan namun tak gemuk




Babak 1:

            Menampilkan latar tempat suatu ruang santai. Terdapat sofa dan meja serta beberapa hiasan dinding. Bara sedang tidur dengan duduk bersandar sofa; Michael sedang memainkan gitar; Yudha sedang duduk santai di sebelah Bara; Steff membaca buku; Juan sedang bermain rubrik; Dafa mencomot makanan di toples beberapa kali.



Yudha : (mengganti posisinya) “Eh, kenapa kita malah jadi males-malesan begini? Tadi katanya mau ngebahas lagu baru.” (mengangkat kertas di atas meja) “Kita bahkan belom nyoret nih kertas, lho.”

Michael : “Lha, gimana mau ngebahas lagu? Tuh, vokalisnya aja tidur. Begitu nyampe rumah orang langsung ndaprak tidur begitu.” (Melirik Bara)

Yudha : (mendesah rendah) “Masa karena Bara tidur kita gak jadi ngebahas masalah band kita? Apa gunanya kita sepakatan ketemu di sini, dong, kalo gitu.”

Steff : (tetap membaca buku) “Halah, gak jauh beda tuh sama itu orang.” (melirik Dafa sekilas) “Dateng ke sini langsung makan.”

Dafa : (terkekeh) “Sori lah, Steff, kalo gangu lo. Daripada makanan di toples dipajang doang di ruang tamu, kan sayang.”

Juan : “Ah, Kak Dafa mah pinteran ngeles. Yang itu jangan diabisin semua, lho! Aku masih suka.”

Michael : “Tau lo! Otak lo isinya makanan aja. Pantes aja badan lo kurus, orang lemaknya ada di otak semua.”

Dafa : “Bilang aja lo ngiri gara-gara gue bisa tetep kurus walau makannya banyak.”

Michael : “Masa bodo. Yang penting gue masih pinter.”

Steff : (menutup buku) “Michael. Micahel. Lo emang jaim, ya. Pokoknya dimana ada cewek cakep, tingkah lo pasti langsung sok keren.”

Juan : (menurunkan rubrik dari depan wajah sambil menoleh dengan gerakan cepat) “Hah?”

Michael : “Ih, apaan, sih, lo Steff. Gue bertingkah apa adanya, tuh! Kalo emang adek lo suka ama gue, itu mah karena gue emang ganteng!”

Dafa : “Bisa aja lo, Pentongan Pos Kamling.”

Semua (kecuali Michael) : (tertawa)

Michael : “Pinter banget lo, Kurungan Ayam.”

Semua (kecuali Dafa) : (tertawa)

Yudha : “Udah. Sebaiknya kita mulai ngebahas band kita ini. Kita lagi perlu lagu, nih. Udah dua album kita rilis, kan? Nah, sekarang kita mulai di album ketiga sama lagu apa. Ada yang bisa ngusul gak, nih?”



            Juan sudah sedari tadi kembali bermain rubrik. Sekarang keadaan agak sepi karena mereka sedang berpikir-pikir. Kesunyian ini berlangsung cukup lama, banyak dari mereka bahkan beberapa kali berganti posisi pelan-pelan. Tak lama dari ucapan Yudha, Bara telah sedikit demi sedikit terlihat tak nyaman dengan tidurnya, dia mulai merasakan mimpi buruknya. Tak ada yang menyadari perubahan Bara.



Bara : (terbangun tiba-tiba seraya berteriak keras)

Semua (kecuali Bara) : (menoleh kaget ke arah Bara)

Bara : (terengah-engah karena menjerit keras)

Michael : (menenangkan Bara) “Woy … woy … tenang … tenang …. Tarik nafas dulu pelan-pelan.”

Yudha : (menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Bara)

Bara : (menerima gelas dan meminumnya)

Steff : “Bar. Lo gak papa? Teriakan lo kenceng banget tadi.”

Bara : “Iyah … gueh ghak papah, kok.” (terbatuk satu kali) “Gue gak papa.”

Dafa : “Bar, lo serius lo gak papa? Mimpi apaan, sih, lo?”

Bara : “Iya, gue emang gak papa. Tadi itu, tuh, cuma … yaaaahh … mimpi kayak biasanya, lah.”

Yudha : (serius) “Bar, asal lo inget sendiri, akhir-akhir ini lo banyak kena mimpi buruk tau, gak? Sering banget lo bangun terus teriak kejer begitu.”

Bara : “Yudha … gue serius. Itu cuma … mimpi biasalah. Orang juga kalo tidur pasti ngimpi, terus kalo udah bangun nantinya juga lupa apa yang dia impiin waktu tidur itu. Nanti juga gue lupa sama mimpi gue ini.”

Juan : “Kak Bara yakin? Bukannya Kak Bara pernah bilang akhir-akhir ini Kakak ngimpiin hal yang sama berkali-kali? Mimpi yang kayak begitu jarang-jarang juga, lho, Kak … apalagi sampe sebulan. Itu terlalu ganjil.”

Bara : (terdiam lama)

Michael : “Coba aja, deh, Bar. Tadi lo mimpiin apa?”

Bara : “Yaaaa … yang biasanya. Gue didorong cewek dari gedung, jatoh gak nyampe-nyampe bawah, terus tau-tau ada di laut. Terus tangan gue ditarik cewek yang sama, dan tau-tau gue lagi lari sama cewek itu di jalanan. Akhir-akhirnya gua ditinggal di tengah jalan, dan gue seakan berdiri secara gak sadar sama apapun. Sampe tau-tau ada kereta yang udah deket banget sama gue, dan gue kebangun.”

Dafa : “Kegantengan, sih, lo! Mau nyata mau mimpi, lo dideketin cewek melulu! Gue heran, deh. Kayaknya itu cewek gak mau lepas dari mimpi lo, Bar.”

Michael : “Ya elah, bilang aja lo ngiri. Dasar, Karet Nasi Goreng.”

Juan : (tertawa tak begitu keras)

Yudha : (memperingatkan Michael dan Dafa) “Udah, udah.” (memandang Bara) “Hmm … lo bener-bener gak ngelakuin hal lain selain itu semua.”

Bara : “Enggak juga. Lo gak denger? Gue teriak.”

Yudha : (merendah) “Yah, selain teriak.”

Bara : (kembali bersandar sambil berpikir-pikir) “Hmm … gue berusaha bicara sama cewek itu. Tapi dia cuma bilang, ‘akhirnya ketemu … akhirnya ketemu …’.”

Juan : “Mmmh … agak kedengeran kayak malaikat maut, ya.”

Dafa : “Ih, lo tuh bicara apa, sih?”

Juan : “Yah, menurut aku cewek itu kayak udah lama nyariin Bara buat ngambil nyawanya. Gitu, deh. Atau mungkin cewek itu punya niat balas dendam gitu.”

Steff : “Gak mungkin, lah. Bara emang pernah terlibat sama apaan sampe dikejar-kejar cewek yang berkali-kali pengen ngebunuh dia.”

Juan : “Tapi gak aneh juga, kan? Mimpi kadang menjadi jalan untuk bertemu walau berada di dua dunia yang berbeda. Asal Kakak tau aja, mimpi juga sering banget menjadi petanda suatu kejadian dalam hidup, baik jangka pendek atau jangka panjang.”

Dafa : “Sotoy lo.”

Juan : (pura-pura sebal) “Ya udah kalo gak percaya.”

Yudha : “Tapi itu gak mungkin juga, Juan. Bara gak segitunya punya masalah.”

Juan : “Hati-hati, lho, Kak! Walau kita pikir kita gak bikin kesalahan, tapi siapa tau orang lain udah ada yang terlanjur terluka gara-gara kita, cuma kita gak tau atau gak inget.”

Bara : (mengangguk-angguk) “Mungkin juga. Tapi siapa dia?”

Juan : “Kita mana tau. Yang ngalamin, kan, Kak Bara sendiri, jadi Kak Bara tanya ke diri sendiri aja.”

Bara : (mendesah) “Coba aja gue bisa tau. Sedikitnya, namanya aja. Seandainya gue bisa inget orangnya, mungkin kan gue bisa tau apa kesalahan gue.”

Yudha : “Tapi nyatanya enggak juga, kan, Bar.” (diam, mengheningkan keadaan untuk beberapa saat) “Mungkin begitulah kita. Selalu lupa pada kesalahan. Berpikir kita selalu melakukan yang benar, sampai tau-tau ada yang menyakiti kita. Dan saat itu pun kita masih belum sadar kesalahan kita.”

Juan : (bicara pelan) “Kak Yudha bener. Sadar gak sadar, kita pasti pernah melakukan kesalahan.”

Bara : “Seandainya gue bisa tahu apa yang gue lakuin ke dia.”

Yudha : “Mungkin hidup juga gak segampang itu. Bahkan bukannya hidup itu gak gampang? Kehidupan yang mudah itu cuma ada di sisi lain mimpi lo, Bara. Cuma mimpi dalem tidur.”