Judul : Mimpi Kehidupan
Genre : slice of life
Pemain : 6 aktor
Tipe drama : short drama
Jumlah babak, lama permainan : 1 babak, 7 menit
Tokoh-tokoh:
Bara : tukang
nyanyi, tukang tidur
Michael :
sahabat Bara, suka bermain gitar
Yudha : kalem,
sahabat Bara, teman yang paling baik
Steff : kutu
buku, bukan cowok yang rapi tapi kalem dan kepala dingin
Juan :
berkacamata, cerdik, besar rasa ingin tahu, adik Steff
Dafa : humoris,
murah senyum, suka makan namun tak gemuk
Babak 1:
Menampilkan latar tempat suatu ruang
santai. Terdapat sofa dan meja serta beberapa hiasan dinding. Bara sedang tidur
dengan duduk bersandar sofa; Michael sedang memainkan gitar; Yudha sedang duduk
santai di sebelah Bara; Steff membaca buku; Juan sedang bermain rubrik; Dafa
mencomot makanan di toples beberapa kali.
Yudha : (mengganti
posisinya) “Eh, kenapa kita malah jadi males-malesan begini? Tadi katanya mau
ngebahas lagu baru.” (mengangkat kertas di atas meja) “Kita bahkan belom nyoret
nih kertas, lho.”
Michael : “Lha,
gimana mau ngebahas lagu? Tuh, vokalisnya aja tidur. Begitu nyampe rumah orang
langsung ndaprak tidur begitu.” (Melirik Bara)
Yudha :
(mendesah rendah) “Masa karena Bara tidur kita gak jadi ngebahas masalah band
kita? Apa gunanya kita sepakatan ketemu di sini, dong, kalo gitu.”
Steff : (tetap
membaca buku) “Halah, gak jauh beda tuh sama itu orang.” (melirik Dafa sekilas)
“Dateng ke sini langsung makan.”
Dafa :
(terkekeh) “Sori lah, Steff, kalo gangu lo. Daripada makanan di toples dipajang
doang di ruang tamu, kan sayang.”
Juan : “Ah, Kak
Dafa mah pinteran ngeles. Yang itu jangan diabisin semua, lho! Aku masih suka.”
Michael : “Tau
lo! Otak lo isinya makanan aja. Pantes aja badan lo kurus, orang lemaknya ada
di otak semua.”
Dafa : “Bilang
aja lo ngiri gara-gara gue bisa tetep kurus walau makannya banyak.”
Michael : “Masa
bodo. Yang penting gue masih pinter.”
Steff : (menutup
buku) “Michael. Micahel. Lo emang jaim, ya. Pokoknya dimana ada cewek cakep,
tingkah lo pasti langsung sok keren.”
Juan :
(menurunkan rubrik dari depan wajah sambil menoleh dengan gerakan cepat) “Hah?”
Michael : “Ih,
apaan, sih, lo Steff. Gue bertingkah apa adanya, tuh! Kalo emang adek lo suka
ama gue, itu mah karena gue emang ganteng!”
Dafa : “Bisa aja
lo, Pentongan Pos Kamling.”
Semua (kecuali
Michael) : (tertawa)
Michael :
“Pinter banget lo, Kurungan Ayam.”
Semua (kecuali
Dafa) : (tertawa)
Yudha : “Udah.
Sebaiknya kita mulai ngebahas band kita ini. Kita lagi perlu lagu, nih. Udah
dua album kita rilis, kan? Nah, sekarang kita mulai di album ketiga sama lagu
apa. Ada yang bisa ngusul gak, nih?”
Juan sudah sedari tadi kembali
bermain rubrik. Sekarang keadaan agak sepi karena mereka sedang berpikir-pikir.
Kesunyian ini berlangsung cukup lama, banyak dari mereka bahkan beberapa kali
berganti posisi pelan-pelan. Tak lama dari ucapan Yudha, Bara telah sedikit
demi sedikit terlihat tak nyaman dengan tidurnya, dia mulai merasakan mimpi
buruknya. Tak ada yang menyadari perubahan Bara.
Bara :
(terbangun tiba-tiba seraya berteriak keras)
Semua (kecuali
Bara) : (menoleh kaget ke arah Bara)
Bara :
(terengah-engah karena menjerit keras)
Michael : (menenangkan
Bara) “Woy … woy … tenang … tenang …. Tarik nafas dulu pelan-pelan.”
Yudha :
(menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Bara)
Bara : (menerima
gelas dan meminumnya)
Steff : “Bar. Lo
gak papa? Teriakan lo kenceng banget tadi.”
Bara : “Iyah …
gueh ghak papah, kok.” (terbatuk satu kali) “Gue gak papa.”
Dafa : “Bar, lo
serius lo gak papa? Mimpi apaan, sih, lo?”
Bara : “Iya, gue
emang gak papa. Tadi itu, tuh, cuma … yaaaahh … mimpi kayak biasanya, lah.”
Yudha : (serius)
“Bar, asal lo inget sendiri, akhir-akhir ini lo banyak kena mimpi buruk tau,
gak? Sering banget lo bangun terus teriak kejer begitu.”
Bara : “Yudha …
gue serius. Itu cuma … mimpi biasalah. Orang juga kalo tidur pasti ngimpi,
terus kalo udah bangun nantinya juga lupa apa yang dia impiin waktu tidur itu.
Nanti juga gue lupa sama mimpi gue ini.”
Juan : “Kak Bara
yakin? Bukannya Kak Bara pernah bilang akhir-akhir ini Kakak ngimpiin hal yang
sama berkali-kali? Mimpi yang kayak begitu jarang-jarang juga, lho, Kak … apalagi
sampe sebulan. Itu terlalu ganjil.”
Bara : (terdiam
lama)
Michael : “Coba
aja, deh, Bar. Tadi lo mimpiin apa?”
Bara : “Yaaaa …
yang biasanya. Gue didorong cewek dari gedung, jatoh gak nyampe-nyampe bawah,
terus tau-tau ada di laut. Terus tangan gue ditarik cewek yang sama, dan tau-tau
gue lagi lari sama cewek itu di jalanan. Akhir-akhirnya gua ditinggal di tengah
jalan, dan gue seakan berdiri secara gak sadar sama apapun. Sampe tau-tau ada
kereta yang udah deket banget sama gue, dan gue kebangun.”
Dafa :
“Kegantengan, sih, lo! Mau nyata mau mimpi, lo dideketin cewek melulu! Gue
heran, deh. Kayaknya itu cewek gak mau lepas dari mimpi lo, Bar.”
Michael : “Ya
elah, bilang aja lo ngiri. Dasar, Karet Nasi Goreng.”
Juan : (tertawa
tak begitu keras)
Yudha :
(memperingatkan Michael dan Dafa) “Udah, udah.” (memandang Bara) “Hmm … lo
bener-bener gak ngelakuin hal lain selain itu semua.”
Bara : “Enggak
juga. Lo gak denger? Gue teriak.”
Yudha :
(merendah) “Yah, selain teriak.”
Bara : (kembali
bersandar sambil berpikir-pikir) “Hmm … gue berusaha bicara sama cewek itu.
Tapi dia cuma bilang, ‘akhirnya ketemu … akhirnya ketemu …’.”
Juan : “Mmmh …
agak kedengeran kayak malaikat maut, ya.”
Dafa : “Ih, lo
tuh bicara apa, sih?”
Juan : “Yah,
menurut aku cewek itu kayak udah lama nyariin Bara buat ngambil nyawanya. Gitu,
deh. Atau mungkin cewek itu punya niat balas dendam gitu.”
Steff : “Gak
mungkin, lah. Bara emang pernah terlibat sama apaan sampe dikejar-kejar cewek
yang berkali-kali pengen ngebunuh dia.”
Juan : “Tapi gak
aneh juga, kan? Mimpi kadang menjadi jalan untuk bertemu walau berada di dua
dunia yang berbeda. Asal Kakak tau aja, mimpi juga sering banget menjadi
petanda suatu kejadian dalam hidup, baik jangka pendek atau jangka panjang.”
Dafa : “Sotoy
lo.”
Juan :
(pura-pura sebal) “Ya udah kalo gak percaya.”
Yudha : “Tapi
itu gak mungkin juga, Juan. Bara gak segitunya punya masalah.”
Juan :
“Hati-hati, lho, Kak! Walau kita pikir kita gak bikin kesalahan, tapi siapa tau
orang lain udah ada yang terlanjur terluka gara-gara kita, cuma kita gak tau
atau gak inget.”
Bara :
(mengangguk-angguk) “Mungkin juga. Tapi siapa dia?”
Juan : “Kita
mana tau. Yang ngalamin, kan, Kak Bara sendiri, jadi Kak Bara tanya ke diri
sendiri aja.”
Bara :
(mendesah) “Coba aja gue bisa tau. Sedikitnya, namanya aja. Seandainya gue bisa
inget orangnya, mungkin kan gue bisa tau apa kesalahan gue.”
Yudha : “Tapi
nyatanya enggak juga, kan, Bar.” (diam, mengheningkan keadaan untuk beberapa
saat) “Mungkin begitulah kita. Selalu lupa pada kesalahan. Berpikir kita selalu
melakukan yang benar, sampai tau-tau ada yang menyakiti kita. Dan saat itu pun
kita masih belum sadar kesalahan kita.”
Juan : (bicara
pelan) “Kak Yudha bener. Sadar gak sadar, kita pasti pernah melakukan
kesalahan.”
Bara :
“Seandainya gue bisa tahu apa yang gue lakuin ke dia.”
Yudha : “Mungkin
hidup juga gak segampang itu. Bahkan bukannya hidup itu gak gampang? Kehidupan
yang mudah itu cuma ada di sisi lain mimpi lo, Bara. Cuma mimpi dalem tidur.”

0 tanggapan:
Posting Komentar