Dark Forest
Chapter 1:
Di Hutan Itu
~~~~~
Bagian akhir itu ditulisnya agak buru-buru, jadi sori banget, ya, kalau ternyata jeleknya masya alloh di situ.
Tolong komennya. Happy reading!
Tolong komennya. Happy reading!
~~~~~
Ray tak berbicara. Dia hanya terus memotongi rumput yang lebih tinggi darinya itu dengan gunting rumput yang dia pegang. Wajahnya terus cemberut.
"Kamu kenapa, sih?"
Ray menoleh. Itu putri, Putri Ara. Ray segera menurunkan gunting dan membungkuk hormat.
"Tuan Putri, sejak kapan Tuan di sini?" tanya Ray.
"Sejak tadi," jawab Putri Ara. Lalu dia cekikikan. "Wajahmu lucu sekali tadi," tanggapnya.
Ray diam saja. Sejak dulu Putri Ara memang selalu begitu. Tapi Ray juga tidak ingin menghentikan tawa Putri Ara. Sejak pertama bertemu dengan Putri Ara, Ray selalu seperti itu.
"Kau tidak berubah, ya," tanggap Putri Ara.
Ray tertawa kecil sekarang. "Tuan Putri juga."
"Hei, Ray, aku jadi ingat waktu pertama kali bertemu denganmu. Waktu itu aku merepotkan, ya?" tanya Putri Ara.
"Oh, tidak juga, Putri. Itu memang sudah sepantasnya," kilah Ray cepat.
Putri Ara menunduk sedikit sambil tersenyum malu-malu. Pipinya yang putih memerah. Ray juga merona. Mungkin mereka teringat masa itu.
***
Siang itu tidak terlalu panas. Ray sedang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia membawa sebuah kapak yang tidak begitu besar, tapi tetap saja terlalu berat untuk dibawa oleh anak 8 tahun seperti dia.
Ray terpaksa harus pergi ke hutan dan mencari kayu bakar sendiri karena ayahnya sedang sakit. Ray tidak tega melihat ayahnya, hingga akhirnya dia meminta ayahnya beristirahat di rumah. Ray bertekad menggantikan ayahnya saat itu.
Karena Ray baru pertama kali pergi mencari kayu bakar ke hutan, Ray tidak tahu kemana jalannya. Saat menemukan rerimbunan pohon, Ray langsung masuk ke sana. Karena tidak yakin harus menebang pohon yang mana, Ray akhirnya tetap mencari-cari. Dia terus berjalan masuk ke dalam hutan membawa kapak, tapi belum kunjung menemukan pohon yang tepat menurutnya.
"Pohon seperti apa, ya, yang bisanya Ayah tebang?" gumam Ray. Dia masih menoleh ke sekitarnya, mencari pohon.
Tiba-tiba Ray sadar, dia sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Ray mulai memandang ke sekelilingnya dengan gelisah. Dia tidak ingat jalannya tadi. Ray mulai ketakutan, takut dia tidak bisa kembali, dan takut akan diserang binatang buas dalam hutan. Tapi Ray tidak berputus asa, dia mencoba mencari jalan. Ray melangkah melewati semak-semak. Dia sebetulnya tidak tahu kemana dia akan pergi di hutan ini.
Di setiap langkahnya, Ray terus memandang ke sekelilingnya. Hutan ini mengerikan, pikirnya. Pepohonan tumbuh lebat, hingga cahaya matahari hampir tak dapat menembusnya. Tumbuhan-tumbuhan di sini juga tumbuh liar, banyak yang berduri. Ray bahkan tergores beberapa kali. Suara-suara binatang pun menambahkan. Keadaan di sini terasa dingin, seakan tak ada kehidupan di sini.
Ray berhenti melangkah. Sudah sejak tadi dia berjalan. Tapi dia belum menemukan jalan keluar, malah dia merasa sedari tadi dia hanya berputar-putar di sana dan terus kembali ke tempatnya semula. Ray mengangkat kepalanya, sepertinya hari sudah sore, sudah hampir malam.
"Ayah pasti khawatir kalau aku belum pulang juga," gumam Ray.
Ray segera berjalan lagi. Kali ini ke arah yang lain. Ray terus melewati semak-semak dan tumbuhan liar. Langkahnya terburu-buru hingga membuatnya terjatuh beberapa kali. Tapi Ray tetap berusaha bangkit dan berjalan lagi. Tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar Ray semakin lebat, tapi Ray tidak peduli, dia terus berjalan lebih cepat menyusuri hutan.
Beberapa waktu kemudian, Ray sampai di pinggir sebuah sungai. Ray yang terengah-engah memutuskan untuk duduk dan beristirahat sebentar di tepi sungai itu. Ray meletakkan kapaknya, dan lalu membasuh wajahnya yang berkeringat dengan air jernih sungai itu. Ray mendongak lagi, menyadari hari sudah petang, langit sudah berwarna kemerahan.
Ray sekarang gelisah. Dia mulai tidak yakin apakah dia dapat keluar atau tidak. Dia sudah sejak tadi menyusuri hutan, tapi sepertinya bukannya keluar dari hutan Ray malah masuk semakin jauh lagi ke dalam hutan ini.
Ray duduk terdiam. Dia tetap memandang langit. Burung-burung kini telah mengepakan sayap di atas sana, hendak kembali lagi ke sarang mereka.
"Apa aku bisa keluar dari hutan ini?" gumam Ray lagi. Dia kembali terdiam.
Keadaan hampir sunyi, hanya gemericik kecil air yang terdengar. Angin berhembus, menghembuskan dinginnya malam yang menerpa tubuh kecil Ray. Ray memeluk dirinya seraya menggigil. Pakaian yang dia kenakan pendek dan agak lusuh, tidak mungkin Ray terus berada di luar saat malam hari.
Ray menyadari itu. Dia berdiri lagi, dan membawa kapaknya lagi. Tapi dia terdiam. Kemana dia harus pergi?
Ray memandang ke sungai di sebelahnya. Mungkin kalau aku menyusuri sungai ini aku bisa keluar dari hutan, pikirnya. Ray pun mulai berjalan menyusuri sungai. Matanya terus memandang sungai jernih yang memantulkan bayangan dirinya. Dia menatap wajahnya yang mirip ayahnya. Kelihatannya ramah dan manis, suara mereka juga sama-sama terdengar menyenangkan. Rambutnya hitam, lebat namun agak pendek. Setiap helainya tumbuh tak beraturan, dengan panjang yang berbeda-beda. Mata almonnya berwarna coklat gelap, turunan ibunya.
Ibunya memang selalu punya pandangan yang hangat. Beliau sangatlah lemah lembut. Dia yang mengajari Ray segala kebaikan. Bahkan di waktu kepergiannya, beliau tetap meminta anak satu-satunya itu untuk mengamalkan apa yang telah beliau ajarkan.
Ray tak akan pernah melupakan itu semua.
"AAAAA!!"
Jeritan itu membuat Ray tersentak kaget. Ray langsung menoleh ke sekitarnya, mencari asal suara itu. Kedengarannya jeritan tadi tak begitu jauh darinya. Mata Ray sempat menangkap seseorang yang berlari, kegelapan membuat Ray sulit melihatnya. Ray mengejarnya. Tanpa sadar dia menjatuhkan kapaknya di sana.
Orang tadi berlari masuk kembali ke hutan. Dia melewati semak-semak. Langkahnya sangat cepat. Kelihatannya dia tidak peduli dengan apa yang dilewatinya. Ray tetap mencoba mengejar. Sebetulnya dia lebih gesit dibanding orang itu.
Mereka sampai di sebuah lapangan dengan rerumputan tinggi. Ray dapat melihat sedikit sosok yang dia kejar. Seorang anak sebayanya, berambut panjang berwarna coklat. Di bawah sinar bintang-bintang dan di hembusan dingin angin malam, rambut anak itu berkibar dan bercahaya. Tak berapa lama, Ray dapat menangkapnya. Namun di langkahnya saat tepat di belakang anak itu, dia tersandung dan akhirnya terjatuh menimpa anak itu.
"Ah!" keduanya merintih kaget. Mereka tidak begitu kesakitan karena jatuh di atas rumput-rumput yang tumbuh lebat.
Ray membuka mata dan bangun sedikit. Anak tadi berbalik, ternyata seorang anak perempuan. Dia memandangi Ray dengan kaget. Ray dan anak itu terengah-engah, sepertinya mereka sudah cukup lama berlarian di dalam hutan.
Ray menatap lekat-lekat anak perempuan itu. Wajahnya hampir mengingatkannya akan sesuatu. Kegelapan malam membuat Ray sulit melihat wajahnya, tapi Ray mulai menyadari anak itu memandangnya dengan sedikit ketakutan. Anak itu memalingkan wajahnya dengan gelisah, Ray dapat menebaknya dari suara anak itu saat memalingkan wajahnya.
"Umm ... maaf ...." Ray menyingkir dan duduk di sampingnya. "Aku tidak bermaksud buruk padamu. Aku hanya tersesat di hutan ini, aku pikir kau bisa membantuku mencari jalan keluar."
Anak perempuan itu bangun. Dia duduk sambil menatap Ray. Awalnya dia merasa ragu untuk bicara, tapi akhirnya dia berbicara. "Kamu juga tersesat?" tanyanya dengan suaranya yang sangat lembut.
Ray langsung saja menoleh padanya. "Jadi kamu juga tersesat di sini, ya?"
Perempuan itu mengangguk. Dia memandang ke bawah.
"Siapa namamu?" tanya Ray.
"Aku ... namaku ... a ... aku ... aku Liliana."
"Oh, namaku Ray, Ray Mariota," kata Ray seraya mengulurkan tangannya, mengajak perempuan di depannya bersalaman. Perempuan itu menerima uluran tangan Ray. Saat itu, senyum Ray memudar.
"Liliana, tanganmu dingin sekali," tanggap Ray.
"O ... oh, begitu, ya," balas Liliana. Sepertinya dia juga tidak tahu harus bagaimana.
"Malam ini memang sangat dingin. Kita harus segera mencari jalan untuk keluar dari hutan ini," ujar Ray. Dia lalu mendongak, menatap langit. "Sekarang sudah malam. Ayahku pasti mencariku. Kau juga pasti begitu, iya, kan?"
Liliana hanya mengangguk.
Karena tidak mendengar jawaban, Ray kembali memandang Liliana. Ternyata Liliana kembali menunduk. Ray tidak tahu ada apa dengannya, dia tak dapat melihat wajah Liliana dengan jelas. Apa dia sedih? tanya Ray dalam hatinya.
"Liliana," panggil Ray.
Liliana menoleh pada Ray.
Ray diam sebentar. Dia masih berusaha mencari tahu mimik Liliana. Lalu dia bertanya, "Ada apa denganmu?"
Liliana diam. Dia sekarang kembali menunduk. Ray semakin bingung karenanya.
Ray hanya tahu bahwa Liliana menggunakan sebuah mantel rajutan yang manis berwarna coklat terang. Dan sepertinya Liliana menggunakan sebuah gaun tiga perempat yang tidak begitu tebal dan tidak begitu tipis berwarna kuning muda yang cerah. Sementara wajahnya, Ray tidak tahu, hanya tadi Ray dapat melihat wajahnya dari dekat, tapi itu saat sinar bulan belum muncul. Tadi juga bayangannya menutupi wajah Liliana.
Liliana masih diam. Ray tidak tahu kenapa dia. Karena Liliana menunduk, poninya yang dipotong tepat di atas matanya sekaligus di bawah alisnya itu turun. Ray mulai gelisah. Apa Liliana benar-benar sedang sedih? Ray sekarang khawatir.
"Hei, Liliana," panggil Ray lagi.
Liliana menoleh lagi padanya.
"Kau itu yang tadi menjerit, kan? Kenapa kamu berteriak sekeras itu? Dan untuk apa kau lari tadi?"
Liliana mendesah, "Hahhh ... aku ketakutan. Tadi kau berjalan ke arahku sambil membawa kapak. Aku pikir kau akan membunuhku. Makanya aku berteriak, lalu aku langsung lari ke dalam hutan, berusaha kabur darimu. Saat aku tahu kau mengikutiku, aku jadi semakin panik, aku berlari kalang kabut sampai kau menjatuhkan aku."
Ray tertawa kecil. "Maafkan aku. Aku sangat minta maaf sudah membuatmu ketakutan. Aku tidak pernah bermaksud buruk padamu, apalagi sampai menyakitimu begitu. Maafkan aku, aku tidak pernah bermaksud menakutimu juga. Tolong jangan berpikir aku ini orang jahat seperti itu, ya."
Liliana memandang Ray. "Lalu untuk apa kau membawa kapak itu?"
Ray masih cekikikan. Wajahnya mulai memerah, dan dia mulai menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebetulnya, aku masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar. Tapi ... hehe ... aku tidak tahu pohon mana yang harus aku tebang, jadi aku masuk ke dalam hutan lebih dalam untuk mencari pohon yang tepat. Saat aku sadar aku sudah tersesat, aku sudah lupa jalan pulang, jadi aku kembali berjalan sampai di sungai tadi sambil membawa kapak ayahku itu. Begitu. Sekali lagi maaf, ya, kalau aku sudah membuatmu ketakutan. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu."
"O ... oh, be .. begitu rupanya," kata Liliana. "Maafkan aku juga, ya, aku sudah berpikiran buruk padamu. Aku panik sekali soalnya."
"Ah, iya, tidak apa-apa," kata Ray. "Lagipula aku juga tidak mungkin menyakitimu. Ibuku bilang, kita seharusnya melindungi orang lain, bukannya menyakitinya."
Liliana memandang Ray lekat-lekat. Ray dapat melihat mata Liliana yang bening dan bercahaya, sepasang bola mata berwarna coklat yang sangat indah. Ray agak kaget sewaktu menyadari itu.
Terdengar, Liliana tertawa kecil. "Kau orang yang sangat baik."
Entah kenapa wajah Ray kembali memerah. Dan sekarang dia gelagapan berbicara. "Eh ... umm ... aah ... iya ... ng ... umm ... ng ...."
Liliana cekikikan memperhatikan tingkah Ray. "Kamu lucu."
"Eh ... i ... iya ...," balas Ray.
Liliana masih tertawa. Ray sebetulnya tidak suka di tertawakan seperti itu. Tapi di sisi lain, dia lega karena dia tahu Liliana sedang tidak bersedih. Ray juga tidak ingin melihat Liliana bersedih. Ray pun mulai tersenyum melihat Liliana tertawa.
Liliana mendongakkan kepalanya. "Hei lihat! Bulan itu bagus sekali."
Ray ikut mendongakan kepalanya. Memandang bulan purnama yang sedang bersinar terang bersama bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit. Langit malam itu sangat indah. Ray tersenyum lagi.
"Cantik sekali," gumam Liliana.
Ray mengangguk pelan untuk Liliana. Suasana malam itu memang cerah. Bintang-bintang di atas sana bagaikan taburan permata di langit biru yang gelap. Suasana malam di lapangan itu cukup terang. Angin pun berhembus lembut, membawakan dingin yang tidak terlalu menusuk.
Ray menurunkan pandangannya. Jauh di sana adalah pepohonan yang tumbuh sangat lebat. Dia dapat melihat gelapan yang teramat pekat di bawah pepohonan itu, seakan sinar bulan sama sekali tidak menerangi tanah di sana.
"Liliana, aku pikir hutan ini menyeramkan sekali," kata Ray.
Liliana membalas, "Iya, tapi kalau kita ada di sini, sepertinya hutan ini tidak semenyeramkan kelihatannya. Mereka hanya tumbuh rimbun saja. Iya, kan?"
Ray berdiri. "Tapi kalau ada binatang buas bisa berbahaya."
Liliana memandang Ray. "Tapi menurutku tidak juga. Kita sudah ada di sini sampai malam hari, dan belum ada hewan buas yang mendatangi kita."
Ray meraih sebelah pergelangantangan Liliana. "Kita harus segera pergi. Pasti sudah banyak yang khawatir dan mencari kita. Ayo, Liliana!"
Mendengar perkataan Ray, Liliana diam sebentar. Beberapa saat kemudian, barulah Liliana menurut dan mengikuti Ray berjalan. Tapi dia menahan Ray saat menyadari Ray mengajaknya masuk ke dalam hutan lagi.
"Kita akan masuk lagi ke dalam hutan?" tanya Liliana sedikit ketakutan.
"Iya. Hanya ini satu-satunya jalan agar kita bisa keluar dari hutan ini, bukan?"
"Tapi kita sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan! Tidak mungkin kita dapat keluar dari hutan ini!"
"Liliana, kita harus masuk lagi ke dalam hutan atau kita tidak akan keluar dari hutan ini."
"Ta ... tapi ...," Liliana tetap busaha mengelak. Namun dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ray benar.
Ray dapat merasakan ketakutan Liliana. Sepertinya Liliana sangat takut untuk menyusuri hutan lagi. Ray dapat merasakan itu. Dia berkata, "Tenang saja, aku pasti akan melindungimu."
Liliana menatap Ray. Dia ragu, Ray dapat merasakannya.
"Percayalah padaku! Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sampingmu," kata Ray.
"Sungguh?" tanya Liliana.
"Ya. Aku berjanji padamu, aku akan selalu menjagamu!" tekad Ray.
Liliana menunduk, diam sebentar. Lalu berkata, "Baiklah."
Ray berbalik dan berjalan lagi. Dia tidak melepas genggamannya di tangan Liliana, malah Liliana menggenggam tangannya juga. Mereka memasuki hutan dengan berjalan dan terus berpegangan tangan.
Hutan itu tampak sangat gelap. Cahaya bulan hampir tak dapat menembus dedaunan yang tumbuh begitu lebat di pohon-pohon yang tinggi. Ray berjalan dengan pandangan yang seadanya saja. Dia merasa seperti berjalan setengah buta karena keadaan ini. Liliana menggenggam erat tangannya di belakangnya.
Ray mencoba melangkah sehati-hatinya. Dia agak khawatir dia menginjak sesuatu yang berbahaya. Liliana yang berjalan dibelakangnya juga mengikuti langkah Ray dan berjalan dengan hati-hati. Tapi karena kegelapan terlalu pekat, tak bisa dihindari lagi, kaki Liliana tersandung akar pohon.
"Aa!" jerit Liliana.
Ray kaget dan langsung menangkap Liliana sebelum Liliana mendarat di atas tanah. Tidak begitu rendah, tapi Liliana tetap meringis kesakitan.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Ray sedikit khawatir.
"Ah ... kakiku ... sa ... kit ... hiks ...," rintih Liliana. Sepertinya dia mulai menangis.
"Kamu terkilir, ya?"
"Aww ... mung ... kin ... begitu," Liliana masih menangis.
Ray berjongkok membelakangi Liliana. "Ayo, aku gendong."
"Hik ... hiks ... kamu ... yakin?" tanya Liliana.
"Tentu. Ayo!" jawab Ray.
Liliana pun mulai naik. Ray mulai berdiri dan berjalan lagi. Sekarang Ray berjalan lebih hati-hati.
Selama beberapa saat, mereka tidak saling berbicara. Suasana hampir sunyi, seandainya tidak ada suara serangga-serangga di sekitar mereka.
Liliana mendekap Ray. Sebetulnya wajah Ray memerah karena itu. Sesekali telapak tangan lembut Liliana menyentuh wajahnya. Ray juga dapat mencium wangi harum rambut dan tubuh Liliana.
"Umm ... siapa namamu tadi?" tanya Liliana.
"Eh ... a ... aku Ray," jawab Ray gelagapan. Dia kaget mendengar suara lembut Liliana tepat di sebelah teinganya.
"Ng ... Ray, terima kasih, ya."
Ray menelan ludah. "I ... iya. Tidak apa-apa, kok."
"Aku minta maaf juga."
"Ah ... apa? Liliana, kamu tidak perlu meminta maaf padaku."
"Ta ... tapi ...."
"Liliana ...," potong Ray. "Kata ibuku, selama kamu tidak melakukan kesalahan, kamu tidak perlu meminta maaf."
Liliana diam sebentar. Lalu dia tersenyum dan berkata, "I ... iya. Kamu benar-benar anak yang baik, ya, Ray."
"Hehe ... i ... iya .... Te ... terima kasih." Ray sebetulnya tersenyum malu-malu.
Beberapa saat kemudian, Ray melihat sekumpulan cahaya yang bersinar cukup terang. Dengan samar-samar dapat dia dengar panggilan-panggilan yang memanggilnya dan nama yang lain. Liliana juga mendengar dan melihat itu. Mereka memandang ke sana dengan pandangan seakan tak percaya.
"Itu penduduk desa dan orang-orang istana!" ucap Liliana.
Ray mempercepat jalannya. Dia pun berteriak, "Heeeeiii! Kami di sini! Kami ada di sini!"
Para penduduk desa yang mendengar teriakan Ray menoleh padanya. Salah seorang di antara mereka berseru, "Yang Mulia! Dia di sana! Dia bersama seorang anak laki-laki, Yang Mulia!"
"Itu pasti anakku! Ray!"
"Ayah!" Ray menjawab panggilan itu.
Tak berapa lama, Ray sampai pada mereka. Dia segera menurunkan Liliana. Ray memandang ke setiap warga desa, dia seperti mencari seseorang.
"Mana ayahku?" tanya Ray akhirnya.
"Ray ... ayahmu ...," penduduk desa itu tak dapat melanjutkan perkataannya. Dia malah terdiam.
"Ayahku kenapa? Dimana ayahku?" Ray merasa tidak enak. Dia khawatir.
"Ray ...," salah seorang penduduk desa mendekatinya. Dia menepuk bahunya dan menunduk, wajahnya terlihat sedih. "Ayahmu ... dia ... dia telah meninggal, Ray."
Ray langsung berlari. Dia melewati kerumunan. Dengan cahaya-cahaya obor penduduk, Ray dapat dengan mudah keluar dari hutan. Dia ingin segera pulang ke rumahnya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan penduduk desa tadi.
Liliana tak dapat menghentikan Ray. Dia melangkah, namun saat itu dia teringat kakinya terkilir, Liliana akhirnya merintih lagi. Beberapa pelayan dari istana mendekatinya, mereka membantunya berdiri. Hingga tiba-tiba datang seorang bapak berjubah panjang dengan mahkota di atas kepalanya.
"Putriku! Kau tidak apa-apa?" tanya bapak itu. Dia adalah Sang Raja.
"Ayah, ada apa dengan ayah Ray? Apa benar ayah Ray meninggal?" tanya Liliana.
"Ya, sepertinya begitu," jawab Sang Raja. "Apa dia menyakitimu? Apa kau terluka?"
"Ayah, Ayah harus berterima kasih pada Ray! Dia sudah menolongku!" kata Liliana.
"Oh, Ara, putriku, tentu saja, tentu saja ayah sangat berteima kasih padanya," jawab Sang Raja.
Liliana tersenyum.
Ya, sebetulnya bukan Liliana namanya. Namanya adalah Ara, Ara Redinira, putri kerajaan. Dia sebetulnya Putri Ara.
***
Putri Ara sekarang hanya duduk sambill memainkan setangkai bunga di tangannya. Wajahnya yang masih merona tersenyum-senyum sendiri. Ray sendiri hanya diam memandangi kakinya membelakangi Ara, wajahnya pun sama merahnya dengan Putri Ara.
"Ray ...," kata Ara. Senyumnya pudar, dia sekarang mendongak dan memandang Ray. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu malam itu," lanjutnya.
Ray berbalik. Dia berkata, "Tidak apa."
"Tapi, Ray, sebetulnya apa yang terjadi?" tanya Ara.
Ray menunduk menolehkan wajahnya ke samping. "Ayahku hanya sakit keras hari itu."
Ara berdiri. Dia berjalan mendekati Ray, lalu menepuk sebelah bahu Ray penuh simpati. "Tapi beliau pasti bangga memiliki anak seperti kamu."
Ray memandang Putri Ara. Dia mulai tersenyum kecil. "Terima kasih, Tuan Putri."
Putri Ara tersenyum. "Senang bisa membantumu."
***
Hari mulai gelap. Ray sedang menyapu taman dari daun-daun yang jatuh berguguran dengan sapu lidi panjang sendirian.
Ray sudah lama bekerja di istana kerajaannya ini. Sejak dulu sampai sekarang, pekerjaannya hanyalah seorang tukang kebun. Dulu dia pernah menjadi pelayan, tapi karena tidak mahir dan tidak yakin jadi dia berganti pekerjaan.
Ray manyun mengingatnya. Dia sebetulnya tidak mau menjadi pelayan, atau tukang kebun. Dia ingin menjadi bagian dari angkatan perang kerajaan. Dia ingin ikut berperang saat ada pertempuran. Dan juga, Ray ingin melindungi banyak orang di negeri kerajaan ini. Mendapati dirinya malah menjadi tukang kebun membuatnya berpikir dia sangat bodoh.
"Aku bisa berperang!" gumam Ray seakan menjelaskan sesuatu pada seseorang.
Ray pernah diajarkan cara menggunakan pedang oleh ayahnya. Ayahnya dulu bahkan juga seorang tentara kerajaan. Ray ingin seperti ayahnya, dia bahkan pernah berkeinginan untuk menjadi pemimpin dalam sebuah angkatan perang.
Ray mulai bermain-main dengan sapu lidinya. Dia bertingkah seolah sedang berlatih dengan tongkat. Ray pikir segala gerakannya benar, padahal dia malah terlihat aneh. Sampai saat dia bersalto, dia mendarat di punggung, jatuh merintih. Sapunya terlepas dan terhempas.
"Aw! Ah ... a aaaah ...," rintih Ray pelan. Ray lalu berusaha bangun, susah payah. Setelah beberapa saat, Ray bisa berdiri dengan sedikit membungkuk. Tangan sebelahnya memegangi pinggang, dan sebelahnya mencoba meraih pohon saat dia berjalan mendekati pohon di dekatnya dengan posisi seperti itu.
Ray berdiri bersangga pohon. Kadang dia memang ceroboh. Ray sekarang melirik ke semak-semak di dekatnya. Sapunya tadi terhempas dari tangannya entah kemana, mungkin tadi tanpa sadar dan tanpa sengaja dia lempar ke semak-semak. Ray mendesah setengah kesal setengah kecewa. Dia lalu mulai mencari sapunya di semak-semak.
Taman belakang kerajaan cukup luas. Ada sedikit sisi yang dibiarkan tumbuh liar seperti bagian kecil hutan. Para bangsawan kerajaan masih belum tahu harus dibuat apa bagian taman yang itu, jadi untuk sementara waktu bagian kecil taman itu tumbuh agak lebat.
Sialnya, sapu Ray hilang di bagian taman yang itu.
Ray tak menemukan sapu itu di semak-semak itu. Dia memandang ke sekelilingnya, dan tak lama kemudian matanya menemukan sapu lidi bergagang bambu tergeletak cukup jauh dari tempatnya berdiri. Ray segera berlari ke sana.
"Ah, ini dia," gumam Ray seraya mengambil sapu itu. Dia berdiri lagi dan hendak berbalik ketika matanya melihat sesuatu menyembul dari semak-semak yang ada jauh di depannya.
Ray diam sebentar. "Hmm ...." Ray menyipitkan matanya, menajamkan penglihatannya. Itu seperti ... seperti tangan seseorang. Jantung Ray berdebar cepat.
Rumput? bathin Ara. Itu artinya kami ada di lapangan rumput?
Ara memperhatikan sekelilingnya. Benar, di sekitarnya ada rerumputan yang kuning kering dan tumbuh cukup tinggi.
Ara memandang penculik itu. Mereka bertemu pandang. Penculik itu melepas kain kitam yang menutup mulut dan hidungnya. Lalu dia melepas perlahan selotip yang melekat di bibir Putri Ara.
"Umh ...," gerang Ara. Dia lalu memandang laki-laki di depannya tanpa bisa berkata apa-apa. Mengenali bahwa wajah itu adalah Ray yang dia kenal selama ini.
Ray memandangnya polos. Dia sebetulnya sudah sejak tadi terdiam. Dan kini dia tak dapat mengucapkan apa-apa memandang wajah Ara.
Taman belakang kerajaan cukup luas. Ada sedikit sisi yang dibiarkan tumbuh liar seperti bagian kecil hutan. Para bangsawan kerajaan masih belum tahu harus dibuat apa bagian taman yang itu, jadi untuk sementara waktu bagian kecil taman itu tumbuh agak lebat.
Sialnya, sapu Ray hilang di bagian taman yang itu.
Ray tak menemukan sapu itu di semak-semak itu. Dia memandang ke sekelilingnya, dan tak lama kemudian matanya menemukan sapu lidi bergagang bambu tergeletak cukup jauh dari tempatnya berdiri. Ray segera berlari ke sana.
"Ah, ini dia," gumam Ray seraya mengambil sapu itu. Dia berdiri lagi dan hendak berbalik ketika matanya melihat sesuatu menyembul dari semak-semak yang ada jauh di depannya.
Ray diam sebentar. "Hmm ...." Ray menyipitkan matanya, menajamkan penglihatannya. Itu seperti ... seperti tangan seseorang. Jantung Ray berdebar cepat.
"I ... itu tidak
mungkin ... ah! Tidak mungkin begitu! Hahaha!" Ray mulai menertawakan apa
yang dipikirkannya. "Hahaha ... mana ada korban pembunuhan di istana ini?
Memangnya siapa yang akan dibunuh? Hahaha."
Ray memandang ke semak
itu lagi. Dia kembali berdebar-debar. Itu memang seperti tangan seseorang yang
tergeletak, bahkan sepertinya ada luka-luka di tangan itu. Ray penasaran, tapi
dia agak takut untuk mendekati itu. Namun, dia ingin meyakinkan apa yang
dilihatnya. Akhirnya dengan gemetaran, Ray mendekati semak-semak itu hingga
tepat di dekat benda yang dilihatnya.
Nafas Ray tertahan. Dia
belum benar-benar di dekat semak itu, namun di jarak yang sudah cukup dekat
ini, benda yang menyembul dari semak-semak sudah terlihat jelas. Itu memang
telapak tangan seseorang yang terkapar. Telapak tangan itu memang terluka,
darah bahkan masih keluar dari luka-luka itu.
Darah segar.
Ada seseorang yang
pingsan di sini? bathin Ray. Siapa?
Ray berlutut. Dia
menyibak sedikit semak yang tumbuh tak begitu lebat, semak itu hanya menutupi
tubuh seseorang yang terkapar di baliknya. Pakaian yang dikenakan orang itu
merupakan baju yang rapi, mungkin dia adalah petinggi kerajaan. Ray bisa
melihat pakaian putih di balik jas hitam orang itu yang berbercak-bercak merah.
Dia pasti terluka
parah! seru Ray dalam hatinya.
Ray tanpa ragu menarik
tangan orang itu. Setelah jelas terlihat seluruh tubuh orang yang pingsan itu,
Ray kembali berlutut. Dia mengangkat sedikit kepala orang itu dengan sedikit
tak percaya.
"Pe ... penasehat
raja? Tu ... Tuan ... Tuan Waston? Tuan! Bangunlah! Tuan Waston, kumohon
bangunlah!"
Ray panik mendapati hal
itu. Dia mengguncang-guncang tubuh Tuan Waston sambil terus memanggil beliau.
Kemudian, Tuan Waston yang tubuhnya penuh dengan luka-luka terbatuk, matanya
yang sayu terbuka sedikit. Beliau memandang Ray sambil bergeming merintih.
"Tu ... Tuan
Waston, apa yang terjadi?" tanya Ray masih dengan panik.
"Ray ...,"
dengan lemah Tuan Waston berbicara. "Tu ... Tuan Putri ... dalam ... ba
... baha ... ya," lanjutnya dengan susah payah.
"Tu ... Tuan
Putri?" ulang Ray dengan bingung.
"A ... ku ... baru
... berhasil ... mengusir me ... reka ... sebentar. Malam ini ... mereka akan
... me ... mendatangi ... Tuan Putri," jelas Tuan Waston terbata-bata.
"Siapa
mereka?" tanya Ray.
"Emitera." Tuan Waston memberikan sesuatu ke telapak tangan Ray dan menggenggam tangan Ray. "Kau ... harus ... meng ... hentikan ... me .. reka ... Ray," suara Tuan Waston semakin tercekik.
Ray diam, bingung, gelisah dan ... ragu. Dia memandang Tuan Waston dengan berat.
"Ray ...." Tuan Waston menggenggam tangan Ray dengan kedua tangannya lebih kuat lagi. "Ber ... janji ... lah ... kau ... akan ... men ... jaga ... Pu ... tri ... Ara."
Ray tak sanggup melihat Tuan Waston yang semakin pucat dan dingin. Dia menggenggam kedua tangan Tuan Waston. Ray memandang serius kedua mata sayu Tuan Waston dengan mata berkaca-kaca, membendung air yang akan jatuh.
"Baiklah, Tuan."
Nafas Tuan Waston semakin sulit. Namun, beliau tetap berusaha semampunya berbicara pada Ray. "Pe ... gang ... e ... rat ... jan ... ji ... mu."
Genggaman Tuan Waston semakin erat. Nafasnya sudah semakin sesak. Seluruh tubuhnya semakin dingin. Ray dapat merasakan itu dari genggaman Tuan Waston. Semuanya berakhir kala mata Tuan Waston perlahan menutup dan genggamannya perlahan merenggang. Dan beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, tepat ketika Ray telah tak sanggup menahan air mata yang sejak tadi tertahan.
Ray ingin sekali menjerit. Tetapi suaranya tertahan, dia tak dapat mengucap sepatah katapun. Semua kalimatnya keluar sebagai tangisan.
"Hiks ... semoga ... kau tenang di sana, Tuan."
***
Malam hari itu gelap dengan bintang-bintang dan bulan. Tapi itu tak melegakan untuk Ray. Dia baru saja kehilangan seseorang yang cukup penting untuknya. Dia duduk sendirian di halaman samping kerajaan sambil menatap langit. Sekarang ini, dia masih memikirkan Tuan Waston.
Masih terlihat jelas matanya yang berkaca-kaca. Memandang sendu pada bintang-bintang yang bersinar indah bersama. Sejak tadi, dia tak mengatakan apapun. Dia hanya memandang ke langit dengan tatapan penuh luka itu. Sejak sore tadi, tak sedikit pun dia memikirkan yang lain selain yang sedang dipikirkannya kini.
Ray tak bisa berhenti mengulang kenangannya. Segalanya. Semua yang telah dia lakukan di istana ini. Dia tak bisa melupakan segalanya begitu saja. Dan bersama kenangan itu, baginya, melepaskan Tuan Waston sangatlah berat. Dia bahkan tak menyangka Tuan Waston akan pergi secepat itu.
Ray mendesah berat. Dia hanya mencoba melepaskan kesedihan yang membebani hatinya sejak sore tadi. Tapi apapun yang dia lakukan, tetap saja kepiluan itu muncul lagi dan lagi.
Ray merogoh saku bajunya. Mengeluarkan sesuatu yang tadi sempat Tuan Waston berikan padanya tadi. Liontin emas dengan kristal biru. Kristal itu berbentuk belak ketupat, terlihat cerah dan bercahaya, juga memiliki sedikit motif dari emas di pinggirannya. Ray sebetulnya tidak mengerti, kenapa Tuan Waston memberikan liontin ini padanya. Atau penjahat yang membunuh Tuan Waston datang untuk mengambil liontin ini, dan Tuan Waston ingin Ray membawa pergi Putri Ara agar dia tidak ikut terbunuh? Apa itu artinya liontin ini sebetulnya milik Putri Ara?
Ray kembali menatap langit. Dia tidak tahu apa maksud Tuan Waston. Tapi apapun itu, Tuan Waston ingin aku menyimpan ini, bukan? bathin Ray.
Ray menunduk lagi, memandang liontin di tangannya. Dia masih ingin tahu banyak hal. Dia masih ingin menanyakan banyak hal. Tapi sekarang sebaiknya dia menuruti Tuan Waston.
"Malam ini mereka akan mendatangi Tuan Putri."
Ray terdiam menunduk. Dia sangat ragu bisa melindungi Putri Ara. Bahkan Ray sama sekali tak tahu siapa musuhnya. Ray bahkan belum yakin dapat menjaga para bangsawan kerajaannya.
Tiba-tiba Ray menemukan jalan. Tapi dia tak mendongak. Ray masih ragu. Dia menggeleng-geleng tegas.
Aku tidak akan melakukan hal gila! bathinnya.
Ray diam menunduk dengan kedua tanggannya di atas ubun-ubun. Dia kembali berpikir keras. Namun tak begitu lama, dia kembali stres, dia mengacak-acak rambutnya.
Ray berdiri. "Apa boleh buat."
***
Keadaan dalam istana kerajaan malam itu seperti biasa. Hanya pekerja istananya saja yang jarang mondar-mandir di malam hari seperti ini. Para penjaga ada di pintu depan dan pintu belakang istana, berjaga ketat di sana. Namun mereka tak tahu seseorang berpakaian panjang tertutup telah menyelusup ke dalam istana. Sudah ada di depan pintu kamar targetnya: putri kerajaan.
Dia membuka pintu pelan-pelan. Seperti biasa, kamar putri istana tidak terkunci. Di tengah malam yang telah larut ini, putri pun telah tertidur. Dia mengendap-endap mendekati putri. Sang putri tetap terlelap, sama sekali tak menyadari keberadaan penyusup tersebut. Penyusup itu menempelkan selembar selotip hitam ke mulut Putri Ara.
Putri Ara terbangun. Dia hendak berteriak dan mengelak ketika melihat wajah bertopeng penyusup itu, walau dia tahu mulutnya tertutup rapat. Penyusup itu dengan sigap segera menahan kedua tangan Putri Ara di atas kepala Putri Ara dan mengikatnya dengan seutas tambang. Dia pun mengikat kedua pergelangan kaki Putri Ara.
Kini Putri Ara tak dapat berkutik lagi. Dia hanya dapat berusaha berteriak sekeras-kerasnya saat penyusup itu mulai mengangkat tubuhnya, membawanya kabur dari istana.
***
Penculik itu sukses membawa Putri Ara keluar dari istana tanpa ada yang mengetahuinya. Di istana yang sangat sepi malam itu, dia dengan mudahnya membawa Putri Ara dengan hanya mengendap-endap lewat jendela di samping kerajaan. Lalu dia hanya perlu menyusuri taman samping dan keluar lewat celah retakan besar yang ada di pagar tinggi belakang kerajaan, sebuah kerusakan kerajaan yang belum dibereskan.
Sekarang, dia dan Putri Ara sudah ada di tepi pedesaan. Dengan sedikit terengah-engah, dia berhenti sejenak. Dia memandang ke sekelilingnya. Sepertinya ada kabut di desa itu, penglihatan malam itu agak tidak jelas.
Penculik itu berlari kembali. Entah akan kemana dia membawa Putri Ara. Dia hanya mengikuti arah langkahnya saja, tidak begitu peduli apa yang dilaluinya. Telah begitu jauhnya dia berlari, kini dia menyusuri semak dan pohon-pohon.
Kabut sudah mulai hilang. Namun, walau kabut itu telah hilang, keadaan tetap terlihat gelap. Penculik itu tetap menyusuri langkahnya yang entah akan kemana. Semak-semak dan pepohonan di sekitarnya semakin lebat dan semakin banyak, membuatnya semakin sulit melangkahkan kaki. Terlebih Putri Ara pun tak henti-hentinya mencoba mengelak.
Ara membuka matanya. Namun dia sepertinya tak dapat melihat apapun. Sepertinya kegelapan di sekitar mereka semakin pekat. Ara mulai berhenti dan mengerang ketakutan. Dia menggenggam kedua tangannya erat-erat.
Penculik itu berhenti sebentar (lagi). Ara dapat mendengar nafasnya yang patah-patah. Namun Ara masih belum berani membuka matanya, dia tahu dia masih berada dalam gelap.
Penculik itu berlari lagi. Kali ini larinya agak lambat, sepertinya dia sudah kewalahan. Penculik itu mendekati sebuah lapangan yang terang yang tidak ditumbuhi semak-semak ataupun pepohonan.
Saat itu, Ara baru mencoba membuka matanya lagi. Sinar bulan dan bintang yang teramat terang membuatnya nyaman memandang langit malam itu yang terlihat sangat terang.
Grasak! Tiba-tiba saja penculik itu terjatuh. Ara agak kaget dengan itu. Penculik itu jatuh memunggunginya, menutupi cahaya yang dia perhatikan. Walau terjatuh, tetapi Ara tidak merasa kesakitan karena dia jatuh di atas rerumputan yang tumbuh cukup lebat.
Ara memperhatikan sekelilingnya. Benar, di sekitarnya ada rerumputan yang kuning kering dan tumbuh cukup tinggi.
Ara memandang penculik itu. Mereka bertemu pandang. Penculik itu melepas kain kitam yang menutup mulut dan hidungnya. Lalu dia melepas perlahan selotip yang melekat di bibir Putri Ara.
"Umh ...," gerang Ara. Dia lalu memandang laki-laki di depannya tanpa bisa berkata apa-apa. Mengenali bahwa wajah itu adalah Ray yang dia kenal selama ini.
Ray memandangnya polos. Dia sebetulnya sudah sejak tadi terdiam. Dan kini dia tak dapat mengucapkan apa-apa memandang wajah Ara.
Seketika pikiran mereka melayang kembali pada kali pertama mereka di lapangan ini. Di kegelapan yang sama. Di sinar yang sama. Di keresahan yang hampir sama. Di malam yang sepertinya juga tak berbeda. Segalanya terasa mirip. Apa semua yang terjadi malam ini sama persis seperti malam itu?
Ara memandang Ray dengan pandangan berbeda. Wajahnya di antara lelah berpikir dan bingung. "Ray ... ada apa?"
Ray tetap terdiam.
***

0 tanggapan:
Posting Komentar