XRed!
P R O L O G
"Apa-apaan ini, HAH?!!"
Lampu padam. Hal itu membuat seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Menyebalkannya, lampu itu masih mau menyala lagi, padahal cahaya kuningnya tetap saja berkedip-kedip.
Seorang gadis di sana ikut berdiri dengan emosi. "Berani-beraninya menggebrak meja!" bentaknya.
Pemuda yang baru saja dibentak itu justru mendelikkan mata padanya. Dia lalu kembali memandang tuan di seberang meja. Dia kembali berkata dengan suara tinggi, "Kemana dia suruh kita pergi barusan itu?! Apa kerjaan kita ini bakal berantakan karena tugas konyol semacam ini?! Ini misi bod ...." Cukup perkataannya tersumpal syal ungu yang masuk tepat ke mulutnya.
Gadis yang sama mendesah lega. "Aku geram juga," gumamnya sambil melipat kedua tangan.
Seorang laki-laki yang nampak lebih dewasa sedang berdiri di salah satu sudut meja. Dia kembali memandang tuan yang sempat dibentak salah satu rekannya.
"Maaf ...," kata laki-laki itu. "Bisa Tuan beritahu kami ... rincinya?"
Tuan berjas hitam mahal itu diam sejenak. Dia memandang empat orang di depannya ini. Setelah beberapa saat, ia berbalik. Sebelum melangkah pergi, dia berkata singkat, "Apa yang sudah kukatakan sudah cukup jelas untuk kalian."
Tuan itu mulai berjalan pergi.
"Tuan tak bermain-main, 'kan?"
Dia berhenti sejenak dan menoleh kembali. Didapatinya salah satu dari mereka yang belum berucap akhirnya membuka suara.
"Tentu tidak," jawab sang Tuan Besar. "Ini bukanlah gurauan. Semua itu bukanlah mitos. Segeralah jalankan misi ini, maka kalian akan tahu sendiri kebenarannya."
"Darimana kami bisa tau kalo ini serius?" tanya pemuda tadi sinis seraya melempar syal ungu kembali ke pemiliknya.
Tuan ini tersenyum kecil mendengarnya. "Kalian tahu, bukan, harus mencari tahu dimana?"
Tak ada yang membalas. Keempatnya saling bertukar pandang. Memang tak ada yang tahu sebetulnya. Mereka yakin Tuan di depan mereka ini sudah kenal banyak dengan mereka, namun untuk pertama kalinya petunjuk ini sangat tak masuk akal.
Tak terasa, Tuan itu telah keluar dari ruangan. Tinggalah empat orang dengan sebuah meja, beberapa bangku, dan tak lupa lapu pijar yang masih berkedip-kedip.
"Lucu, heh. Ini bukan guaruan, katanya."
"Kamu ini banyak protes! Lain kali bukan syal yang aku lempar, tapi sepatu!"
"Huh! Semua baju kamu aja sekalian!" Dia mulai memandang pria yang berdiri agak dekat darinya. "Tapi mau gimanapun, ini gak lucu! Aku gak terima ngejalanin misi kalo yang ngasih aja ngerendahin kita kayak gini."
Pria itu berkata padanya, "Apa Tuan Harl pernah merendahkan kita? Tidak. Apapun itu, dia tidak pernah memandang rendah kita berempat. Misinya selalu serius. Dan kalau dia benar, itu artinya ini merupakan misi terpenting untuk kita juga. Apapun maksud dari petunjuknya, aku yakin dia tahu kalau kita juga sebetulnya tahu. Kita hanya perlu mencarinya."
Seorang gadis dan seorang pemuda yang mendengarkannya mengangguk. Mereka setuju dan mengiyakan. Tersisa pemuda tadi yang masih belum dapat menerima. Namun dia tak dapat menyangkal, apa yang didengarnya barusan memang benarnya. Karena itulah dia melampiaskan amarahnya pada lampu redup yang hanya bisa berkedip-kedip dan menyusahkan pandangan.
Crang!
~~~~~
Maaf gak ada sinopsis. Tapi aku pengen coba nulis dengan ngerahasiain sinopsis, dan apa genrenya, dan gimana ceritanya, dan apa-apaannya, Pokoknya cuma mau coba nulis tanpa kasih tau apa-apa selain apa yang bakal aku kasih.
Therefore, please keep read this novel ....

0 tanggapan:
Posting Komentar