Senin, 15 Desember 2014

Lighter's Fault (Cerpen)

Lighter’s Fault 

Cerpen
Slice of life, supranatural



Sandra. Gadis remaja dengan sejuta kemampuan supranatural. Selama ini, dia selalu menggunakan itu untuk menolong orang lain. namun, Sandra tak pernah mengatakan itu pada siapapun, dan dia selalu menolong orang lain di belakang. Bahkan, Sandra selalu berusaha untuk menyembunyikan pertolongannya.

Sandra masih bersekolah. Dia kelas IX SMP di sebuah sekolah swasta. Karena dirinya yang cerdas, ramah dan baik hati, Sandra sering menjadi idola di sekolahnya.

Di suatu sore, sepulang sekolah. Sandra pulang berjalan kaki sendiri. Itu karena arah rumahnya berbeda dengan teman-temannya yang lain. di perjalanan, Sandra mendengar suara tangis.

Sandra menoleh ke sekitarnya. Tepat di sebelahnya berdiri, terdapat sebuah lapangan yang sepi. Nampak seperti tak ada orang, namun Sandra tahu pasti seseorang sedang menangis di sana.


Tak perlu berpikir lama. Sandra menggunakan pandangan ajaibnya yang dapat memandang menembus benda-benda. Tepat, memang ada seseorang di sana. Seorang anak laki-laki yang menangis di belakang pohon.

Sandra melangkah. Sejenak dia berhenti di depan pagar besi di sana. Sandra menoleh ke sekitar, memastikan tak ada yang akan melihatnya. Beruntungnya, jalan sedang sangat sepi. Sandra berjalan menembus pagar dan kemudian mendekati pohon itu.

Sampai di samping pohon, Sandra berhenti. Dia lalu berjongkok, dan diam sejenak mendengarkan tangis anak kecil itu. Kemudian Sandra menyadari bahwa anak itu memiliki beberapa luka lebam kebiruan di tubuhnya, beberapa bahkan lecet dan berdarah.

Sandra mulai berbicara pada anak itu. Dia bertanya, “Dik, kenapa kamu menangis?”

Anak itu menoleh. Dia memandang Sandra tanpa berbicara untuk beberapa saat. Saat itu, Sandra dapat melihat luka-luka yang ada di wajah anak kecil itu. Hati Sandra miris memandangnya.

“Maukah Adik menceritakannya?” tanya Sandra lagi.

Anak itu menunduk sejenak. Lalu dia memeluk kedua lututnya. “Kak ... tadi ada beberapa temanku yang menghajarku. Mereka marah karena tidak suka aku datang ke sini. Saat itu, mereka sedang bermain di sini. Aku ingin bergabung dengan mereka. Tapi mereka tidak suka aku, jadi mereka mengeroyokku. Sekarang aku sangat sedih dan kesakitan.”

Sandra turut merasa sedih mendengarnya. Bahkan dia kini mulai pilu, dan memandang anak itu dengan sangat kasihan. Dia tak menyangka hal itu.

Anak yang malang, pikirnya. Apa yang bisa kuakukan untuknya?

Sandra terpikir untuk membagi kemampuannya. Memandang anak yang sedang begitu sedihnya, Sandra pikir itu akan membantunya. Setidaknya dia akan lebih tegar nantinya.

Sandra menepuk sebelah bahu anak itu. Anak kecil itu tak mengacuhkannya. Sandra memberikannya kekuatannya dari tangannya itu. Seraya matanya terus memandang anak itu, dan wajahnya terus tersenyum. Beberapa waktu kemudian, Sandra melepas tangannya.

“Jadilah yang lebih baik dari yang sekarang ini, ya,” pesan Sandra.

Anak itu masih diam saja. Sandra mulai pergi dari sana. Dia melewati pintu gerbangnya. Sandra sudah tak mungkin lagi berjalan menembus pagar atau melakukan hal supranatural lainnya, karena sebetulnya seluruh kemampuannya telah ia berikan pada anak itu.

Esoknya, Sandra menjalani hari seperti biasanya. Dia kini terbiasa tak menggunakan kekuatannya. Sepulang sekolah, Sandra melewati jalan yang sama dengan yang kemarin.

Kali ini, Sandra mendengar reributan kala melewati lapangan itu. Suara ribut itu ramai dan keras terdengar. Sandra menengok ke sana. Tepat saat itu, suara-suara berisik itu berhenti sejenak.

Di sana, beberapa anak terlihat terkapar. Mereka terluka, lebam. Seorang anak nampak sedang memukul temannya yang terakhir. Dan anak yang dipukul itu terhempas begitu jauhnya.

Nafas Sandra tertahan. Anak yang berdiri di sana itu adalah anak yang kemarin. Anak yang terakhir Sandra tolong. Dan dia di sana, berdiri dengan seringai kepuasan di wajahnya. Dia menggunakan kemampuan itu dengan cara yang salah.

Sandra mulai tersadar. Dia yang salah. Sebetulnya, dialah yang bersalah. Sandra mulai menyesali itu. Kenapa dia malah memilih seseorang yang salah untuk mendapat kemampuan spesial itu? Kenapa dia hanya memilih karena dia sedih dengan keadaan anak itu saja? Kenapa dia tak bisa memahami bahwa anak itu belum siap, dan anak itu bukanlah seseorang yang tepat untuk mendapat kemampuan istimewa itu?

Sandra jatuh duduk di sana. Dia tak dapat menarik kembali waktu, dan mengambil kembali kemampuan itu. Anak itu sudah terlanjur mendapatkannya. Sandra hanya dapat kecewa atas dirinya sendiri.

Dia bergumam pada dirinya sendiri, “Apa gunanya dapat melakukan apapun, namun tak dapat memilah yang buruk dan yang baik?”




0 tanggapan:

Posting Komentar