Kamis, 02 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 2 
--—Teh dan Madu—--









Marino bertanya kalem, “Kau belum pulang juga, ya?” 

“Ada panggilan untukku,” jawabku. 

“Oh, begitu, ya,” balas Marino, masih dengan senyumannya. Dia lalu menoleh ke piano di belakangnya. “Aku tiba-tiba ingin sekali ke sini. Bermain piano di sini.” 

Aku menggedikkan kepala ke samping, menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi mataku. “Kau tidak takut?” 

Marino tertawa kecil. Lalu dia kembali menoleh padaku sambil menjawab, “Rasanya, bila musik sudah memanggil hatiku, aku tidak bisa memikirkan yang lain lagi selain mendatanginya dan bermain bersamanya.” 

“Tidak peduli apapun lagunya?”

“Ya, begitulah. Walau begitu, rasanya aku tetap tenang bersama nada-nada ini,” jawab Marino sambil memainkan jemarinya di atas tuts piano. 

Kata-kata Marino memang terdengar agak puitis. Tapi itu tak ada hubungannya dengan pribadinya yang romantis. Aku tahu itu. Dia tidak disebut romantis hanya karena gadis-gadis menyukainya, melainkan karena dirinya yang hangat dan tenang. Di sini pun dia tak berpura-pura, dia mengatakan apa yang ada di hatinya. 

Aku melangkah mendekati sebuah kanvas. Aku perhatikan kanvas putih bersih itu. “Aku paham,” balasku sambil meraih kuas tebal dan mencelupkannya sedikit ke cat hitam. “Bila kau sudah bersama dengan yang kau cintai, tak ada lagi yang bisa kau pikirkan, hanya ingin terus bersamanya.” 

Dia menghentikan permainan jemarinya. Marino mulai memperhatikanku yang menggoreskan warna hitam di sekitar pinggir kanvas. Dari posisi kami, dia tentu bisa melihat apa yang kulukis. 

“Kau juga pernah mencintai sesuatu? Begitu dalam?” 

Aku mencoba tak mengacuhkannya. 

“Atau, kau belum menyadarinya?” 

Aku meletakkan kuas. Setelah itu kuambil kuas yang lebih tipis dan kucelupkan sedikit ke cat hijau. Sambil menggoreskan kuas, aku menjawab, “Itu hanya masa lalu.” 

“Ah! Maafkan aku. Aku lupa kalau kau yatim piatu.” 

“Tidak apa. Kupikir kau tak tahu soal itu.” Aku mencelupkan kuas lagi ke cat hijau. 

“Kau bukan hanya bintang kelas, kau tahu? Aku sudah mendengar cukup banyak tentangmu. Kau ini lebih dari sekedar cerdas.” 

Aku tak membalas. Kucelupkan kuas ke air, lalu menganggkatnya dan kemudian mengketuk-ketukkannya pada pinggir gelas, mengeringkannya sedikit. Setelahnya, kucelupkan sedikit ke cat biru cerah. Kugoreskan di sebelah warna hijau. 

“Mereka pasti bangga padamu, Tone.” 

Aku berhenti sebentar. Mendengus berat dan perlahan, lelah. Dasar dramatis. “Terima kasih,” jawabku. Kucelupkan lagi kuas dengan sedikit cat biru dan kembali ke kanvas. 

Aku tak menoleh padanya. Namun bisa kurasakan pandangannya sedikit berubah, senyumannya memudar dan hilang. 

“Kalau boleh tahu, aku penasaran dengan keluarga Reville dulu.” 

Aku masih serius melukis gradasi biru. “Maaf, Marino, tapi kurasa kita tak perlu membicarakan hal ini.” 

“Iya, maaf.” 

Kucelupkan kuas ke air. Setelah mengeringkannya sedikit, kucolek cat jingga kekuningan. Aku melukisnya di bawah-antara warna hijau dan biru. 

Kudengar langkah kaki Marino mendekatiku. Dengan tenang dia berjalan pelan ke arahku. 

Padahal aku melangkah ke sini untuk menjauhinya sejenak. 

Dia berhenti, diagonal di belakangku. Sejenak dia diam, aku tahu dia tersenyum. “Lukisan itu bagus,” tanggapnya kemudian. 

Aku berhenti sebentar. “Begitu menurutmu?” tanyaku datar, tak peduli pujiannya. 

“Iya,” jawab Marino. “Seakan kau menggambarkan tiga cahaya terang di kegelapan. Dan ketiganya bukan hanya sekedar cahaya. Bukankah begitu?” 

Aku kembali berdiri tegap. Lalu menoleh padanya. “Tadinya, aku pikir kau hanya tahu tentang musik,” tanggapku, menangkap maksud perkataan Marino. 

Marino tertawa kecil. Dia kembali memandang lukisanku dan berkata lagi, “Hitam, bermakna kegelapan. Hijau, bermakna kehidupan. Biru, bermakna ketenangan. Dan kuning, bermakna kebahagiaan. Ketiga warna tersebut adalah cahaya yang akan selalu ada bersamamu. Dan dengan begitu, maka artinya, walau kau dunia segelap apapun, kehidupan, ketenangan dan kebahagiaan pasti akan selalu ada mendampingimu.” 

Aku sebetulnya tak tertarik dengan itu. Aku pun hanya kembali membelakanginya seraya berkata, “Aku kagum dengan jiwa senimanmu.” 

Aku meletakkan kuasku. Sambil mengambil kuas lain, aku berkata lagi, “Tapi, lukisan ini masih belum selesai.” 

Aku terdiam sejenak melihat sebuah gelas cat yang kosong. 

“Kalau begitu, warna apa selanjutnya?” tanya Marino. 

Aku mulai meletakkan kuas itu. “Merah.” 

“Ah, jarang ada yang menggunakan warna itu saat melukis di ruang seni. Bahkan anak-anak klub seni pun juga tak ingin menggunakannya. Sepertinya mereka trauma, atau mulai takut dengan warna itu.” 

Aku mengerti itu. Karena itu aku menganggukkan kepala saat aku berbalik, berhadap muka dengan Marino. Aku menunduk sedikit dengan kedua mata kututup dan kedua tanganku kumasukkan ke saku. 

“Kau bisa mengambilnya di gudang sekolah bila memang memerlukannya.” 

“Sepertinya aku tak butuh, kalau begitu.” 

“Kalau aku boleh tahu, untuk memaknakan apa warna merah itu di lukisanmu?” 

“Untuk sebuah simbol penghancur ....” Perlahan, kubuka mataku, langsung menatap tajam Marino. “Dan peringatan.” 

Marino tampak sangat tegang. Terlihat jelas dia jauh lebih ketakutan, daripada saat memandangku di awal perbincangan. Bahkan dia mulai mundur secara tak sadar. 

Aku tak mengatakan apapun lagi. Untuk beberapa saat, aku tetap memandangnya, mempersilahkannya sadar sepenuh pikirannya bahwa aku sama sekali serius. 

Tapi dari segalanya, aku tahu dia akan tetap bingung. Membingungkan tentang untuk apa aku serius. 

“Kita sekontras hitam dan putih, Marino,” kataku. “Kau seharusnya tahu itu.” 

Marino nampaknya baru tersadar. “Apa ... maksudmu?” suaranya mulai tersendat untuk bicara. 

Aku mengedipkan mata perlahan. Sedikit lelah dengan pembiacaraan ini. Saat kubuka mata pandanganku tak berubah, namun Marino nampak lebih tegang memandangku setelah itu. 

“Kau lembut dan sangat berperasaan. Aku pahami itu, karena aku juga tahu kalau kau berasal dari keluarga berada. Di tempatmu, kau selalu ada di nuansa tenang. Kau hanya ada paham tentang hal-hal indah, dan tak pernah mengalami masalah berat.” 

Aku mulai melangkah mendekati Marino. Sementara Marino semakin menjauhiku. 

“Kita sangatlah kontras,” sambungku. “Dengan itu, bisa kau bayangkan kehidupanku? Dan aku?” 

Kukeluarkan tangan kananku. Kuangkat di depan bibirku dengan punggung tangan yang menghadap ke bibir. Klik! 

Rasa takut Marino kian melingkupinya. Marino tak mampu mengatakan apapun, hanya bisa berdiri dengan penuh gemetar memandangiku dan pisau di tanganku. 

Aku tak tertarik membuatnya lebih takut lagi. Aku sudah sering melihat wajah itu. Justru rasanya ingin segera mencincangnya. 

“Bukankah kau juga takut ... dengan warna merah?” 

Tak ada yang bisa diucapkan Marino. Walau dia sadar, dia sudah tak bisa berpikir jernih, pikirannya kalut dengan berbagai dugaan. 

“Marino ....” Aku mempercepat langkahku. “Kau kompleks memiliki hijau, biru, dan kuning. Namun ....” 

Sampai aku tepat di depan Marino. Langsung kutarik kerahnya, mencegahnya lari. Tampak jelas wajah syok Marino yang mulai memucat. 

“Kau tak pernah merasakan hitam ....” 

Aku mengangkat pisau. Kutempelkan pelan ujung mata pisau di dagu Marino. 

“Karena itu kau tak akan memahami merah. Dia adalah kematian.” 

Kutusukkan pisauku, melubangi kerongkongan Marino. Teriakannya tertahan, dan tak ada lagi suara yang keluar. Marino tak sempat berteriak, bahkan berkutik sedikitpun. 

Aku memandang wajahnya yang masih nampak ketakutan. Wajahnya masih terlihat tegang. Aku biarkan darahnya keluar deras, namun belum kutarik pisauku agar tak mengucur mengenaiku. Perlahan kemeja putih Marino berubah warna, seiring darah yang terus turun. 

Akhirnya kutarik pisauku. Segera aku membanting Marino dan melangkah mundur. Masih kudengar sedikit suara Marino saat itu, dia masih sadar. Sedikit kudekati Marino untuk mentelentangkannya, dan menusuknya di ulu hati. Benar saja, Marino tersentak. 

Kuangkat pisauku kembali. Tapi setelah itu kutusukkan lagi. Lalu kuangkat lagi, dan kutusukkan lagi, berkali-kali. Hingga akhirnya Marino benar-benar tak bernafas. 

Aku menjauhi Marino. Darah segar keluar membasahi ubin dan terus meluas. Kuperhatikan wajah jasad Marino yang penuh luka tusukan dan kini tak berbentuk. 

Kujatuhkan pisauku secara sengaja. Pisau itu sudah sangat basah. Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku kanan celanaku dengan tangan kiri dan mengelap tangan kananku. 

Aku berbalik. Aku kembali ke depan kanvas untuk mengambil kuas bersih sebelumnya dengan tangan kanan yang menggenggam sapu tangan. Lalu kembali mendekati genangan darah yang semakin meluas. 

Sejenak kuperhatikan lagi wajah Marino. Ekspresi tegang itu hilang sudah, tersisa koyakan daging dan tulang terpotong yang bersimba darah. Tubuhnya pun penuh luka tusuk, walau nyaris tak separah wajahnya. 

Aku berjongkok. Kucolek genangan merah di depanku secukupnya dengan  kuas dan berjalan kembali ke depan kanvas. 

Di depan kanvas, aku mencoret-coret tipis lukisanku. Tidak dengan hati-hati seperti sebelumnya, namun dengan agak asal. Garis-garis merah pun menghiasi ketiga warna cerah di kanvas. Sesekali aku berbalik dan mencolek darah lagi. Hingga pada akhirnya, aku mencelupkan kuas sampai cukup basah. Dengan kuas basah itu, aku memberikan sentuhan terakhir pada lukisanku, yaitu sebuah segitiga merah besar terbalik yang memotong ketiga warna. 

Selesainya, kuletakkan kuas berdarah di samping kuas lain. Masih dengan sapu tanganku, aku mengelap batang kuas lain dan meletakkannya dengan hati-hati. 

Aku mulai melangkah mundur. Sejenak kuperhatikan lukisanku saat aku berjalan, memastikan cat warna lain tak luntur karena darah yang cair. Lalu aku berbalik, meninggalkan lukisanku dan jasad Marino begitu saja. Tak kulupa juga pisauku. 

Aku tak menutup pintu ruang seni. Sengaja agar ada seseorang yang segera mencium wangi amis darah dari dalam ruangan. Aku meraih ranselku yang ada di depan pintu ruang seni, memasukkan pisau dan sapu tanganku ke tas, lalu pergi. 

***






          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar