Rabu, 01 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 1 
--—Teh dan Madu—--







Esok paginya, aku kembali seperti biasa. Snow White duduk di atas lantai, memakan makanannya sementara aku duduk di kursi, menghabiskan sarapan. Selesai dengan telur dadar di atas piring, aku meraih secangkir teh hangat. 

Di atas meja, kuletakkan juga tasku. Kupandangi sebentar tasku saat aku memberi sesendok gula ke dalam teh. Aku memikirkan agenda kecilku yang ada di dalam tas. 

Kemarin sore, aku benar-benar terbakar emosi. Rencana membunuh guru kimiaku, Mister Hollard yang seharusnya hari ini jadi kupercepat sore sepulang sekolah kemarin. Sebetulnya tak bagus juga bila terburu-buru seperti itu, game ini jadi kurang seru. 

Aku tak akan lupa. Kami bertiga sedang dalam permainan. 

Aku kembali memandang tasku. Kali ini kuputuskan untuk mengambil agenda itu. Dengan satu tangan, kubuka dan kurogoh tasku. Setelah kukeluarkan, kubuka lembaran agenda itu dengan satu tangan juga. Sambil mengecek beberapa sisa rencanaku, aku menyeruput tehku. 

Tak sebanyak itu kasusnya. Sejak awal, aku tak berpikir untuk menjadikan ini permainan yang panjang. Saat ini, kupikir merubah sedikit rencanaku adalah ide yang bagus juga. 

Aku menutup kembali agendaku. Kuletakkan agenda itu sambil berdiri dari kursi. Tehku pun kubawa. 

Teh itu sudah manis. Tapi kalau hanya manis, tak akan cukup. Daripada menambahkan dengan gula lagi, lebih baik ditambah dengan rasa yang lain. 

Seperti itu juga yang kupikir untuk rencanaku selanjutnya. 

Aku menyeruput kembali tehku setelah kuberikan madu. Aku lebih suka rasa teh-ku yang sekarang. 

***

Koridor di depan kelas, pagi ini terasa lebih ramai. Banyak murid diluar kelas berkumpul mengobrolkan satu topik yang sama, kematian Mister Hollard.

Aku tak peduli. Aku tetap berjalan seperti biasa menuju kelasku. Di dalam kelas, saat aku masuk, suasana tak jauh berbeda dengan di sepanjang koridor. Hingga kuputuskan membuka sebuah buku latihan dan mengerjakan beberapa soal setelah duduk di kursi. 

“Tak biasanya kau tak banyak bicara,” kudengar suara Michele berbicara. 

Entahlah sedang apa dia sebelumnya. Aku tidak mempedulikannya saat aku melewatinya. Tapi aku yakin pasti Michele memperhatikanku saat aku masuk ke kelas dan bahkan saat kulewati kursinya. 

“Maksudmu?” balas Alicia. 

“Yah, kamu selalu menjadi orang pertama di depanku yang berkomentar tentang pembunuhan sekolah.” 

“Hei, kau terdengar seperti sudah terlalu terbiasa dengan kasus seperti itu. Mudah sekali kau mengatakan kasus kematian di Chenitry High dengan pembunuhan sekolah.” 

Michele diam sebentar. “Entahlah. Rasanya, memang seperti itu.” 

Aku mendelik dalam hati. Aku yakin kau terus memikirkanku sepanjang malam. Itulah kenapa tiba-tiba kau merasa terbiasa menghadapi ‘kutukan’-ku. 

Aku tahu Michele mulai menoleh, memandangku. Aku tahu, dia tak mungkin lupa dengan kejadian kemarin. Dan karena itu, Michele mulai menyadarinya seperti yang kupikirkan tadi. 

“Kau masih ingat soal kemarin itu?” aku dengar bisikan Alicia itu. 

“Kurang lebih. Aku ... jadi sulit tidur semalaman kemarin.” 

“Kau tahu? Itu tidak bagus! Suasana perpustakaan waktu itu sangat sepi. Pembunuh misterius itu bisa saja mendengar perkataanmu dan murka dengan apa yang kau ucapkan waktu itu.” 

“Kau tahu? Kau terlalu dekat. Walau kau berbisik, tapi tidak bisakah kau tak berbicara tepat di samping telingaku? Panas rasanya mendengar suara desismu.” 

Kudengar deritan kursi. Alicia duduk kembali dengan kesal. 

“Tapi ...,” Michele berbisik. “Bukankah ini idemu? Kita mencurigai orang-orang yang sering berkunjung ke perpustakaan, bukan?” 

Aku benar-benar beralih pikiran dari soal latihanku. 

“Iya. Yang kutahu, hampir semua murid di klub libarian adalah anak-anak cerdas. Bukankah kau sendiri yang menyimpulkan kalau pembunuh itu pasti sangat cerdik hingga polisi bahkan tak menemukannya?” 

“Memang. Dan perpustakaan memang tempat yang tepat. Kau tahu? Aku sengaja mengatakan kata-kata itu dengan sedikit lebih keras untuk memastikan pembunuh misterius itu mendengarnya. Siapapun dia, itu akan lebih dari cukup untuk memancing emosinya kalau dia memang mendengarnya.” 

Aku mendengus lelah. “Astaga,” gumamku begitu pelan dengan nada perlahan, mengeluh. 

“Oh, begitukah? Baguslah kalau begitu. Kata-katamu sudah sangat tepat.” 

“Kalau begitu, bisakah kita hentikan pembicaraan ini? Ini bisa membuat kita dicurigai karena saling berbisik begini.” 

Alicia mendengus. Dengan itu dia menutup percakapan. 

Aku mulai memainkan pena di tanganku. Setengah kesal aku memikirkan perkataan Michele. 

Jadi seperti itu. Rupanya itu jebakan. Ya ampun, aku benar-benar terbawa amarah sepanjang sore kemarin. Sial, aku merasa sangat bodoh sekarang. 

Tapi disamping itu, ternyata perkataannya itu bukan benar-benar untukku. Artinya mereka sebetulnya belum begitu percaya kalau aku pembunuhnya. 

Di saat seperti ini, Michele tak berbeda dengan Mrs. Erica. 

Aku berhenti memainkan pena. Kembali aku tenggelam dalam serentenan soal matematik di atas mejaku. 

***

Suasana sekolah sudah cukup sunyi. Sudah beberapa menit sejak waktu pulang sekolah. Aku melangkah melewati koridor yang sama dengan saat menuju perpustakaan, tapi bukan ruangan itu tujuanku.

Ada alunan-alunan merdu. Suaranya tak begitu keras, namun di telingaku terdengar jelas. Aku tahu pasti melodi ini.

Itu Moonlight Sonata. Dimainkan dengan sebuah piano. Lancar mengalun sesuai irama, karena yang memainkannya memang pianis muda.

Sampailah aku di ruang seni. Aku melangkah masuk untuk beberapa langkah. Lalu aku berhenti sejenak untuk memperhatikan seorang pemuda yang tengah memainkan piano.

Dia masih memainkan jemarinya dengan tenang. Pemuda itu duduk di depan piano klasik dengan membelakangiku. Kuperhatikan punggungnya yang tegap dan rambut pirang sepunggungnya yang diikat dengan seutas pita tebal di tengkuknya.

Perlahan, aku mendekatinya. Aku berkata, “Apa kau lupa nadanya?”

Marino, sang pianis menghentikan alunannya. Dia lalu berbalik, tegang sesaat dan kemudian berkata, “O ... oh, Tone. Maaf, melihatmu tanpa kacamata ternyata ... agak tegang.”

Aku memakluminya. Kusimbolkan itu dengan mengangguk sambil mendengus pelan.

“Tapi, tadi itu aku hanya langsung bermain ke nada-nada selanjutnya,” jawabnya dengan senyum sederhana. Dia lalu berdiri dan menghadapku.

Aku akui. Pianis muda ini terlihat romantis, seperti kata gadis-gadis yang mengaguminya.

Dia bertanya dengan nada tenang, “Kau belum pulang juga, ya?”

“Ada panggilan untukku,” jawabku.

... 

***






          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar