—Blue-Cold Glass—
Chapter 5, Part 2
--—Jeritan Malam—--
Keadaan di sekitar sekolah tak sesepi lingkungan rumahku. Belum lama beberapa toko di sekitar situ menutup pintu depan mereka. Perlahan, dari jarak yang masih jauh dari gerbang sekolah, aku berjalan ke sana. Kulihat beberapa bapak-bapak keluar dari gerbang sekolah. Mereka berbicara sebentar dengan penjaga sekolah, lalu pergi.
Kurasa pihak kepolisian tak mencurigai apapun. Juga untuk berpikir bahwa ada lagi korbannya malam ini.
Aku tak secepat itu mengambil asumsi barusan. Sejenak aku berhenti dan bersembunyi di teras sebuah toko yang gelap. Kuperhatikan sekitar lalu memperhatikan gerak-gerik mereka sembunyi-sembunyi.
Tak ada tanda-tanda mereka akan berpencar. Tak ada sandi tertentu juga yang mungkin menandakan sesuatu pada seseorang di kejauhan. Mereka hanya segera masuk ke mobil setelah saling berbicara sebentar.
Kulirik daerah di sekitar sekolah. Tak ada gerakan apapun seperti cahaya senter atau suatu bayangan. Aku juga tak merasa ada seseorang yang sedang mengintai area sekolah. Sepi.
Perlu beberapa waktu aku berdiam di sana. Barulah setelah sekian lama itu, aku bisa yakin tak ada siapapun lagi.
Aku melepas kacamataku. Kuselipkan kacamata itu di saku bajuku dan kemudian kurisleting jaket hitam yang kukenakan. Sambil mulai mengambil langkah, kukenakan tudung jaket.
