Minggu, 16 Agustus 2015

Blue-Cold Glass (5.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 5, Part 2 
--—Jeritan Malam—--






Keadaan di sekitar sekolah tak sesepi lingkungan rumahku. Belum lama beberapa toko di sekitar situ menutup pintu depan mereka. Perlahan, dari jarak yang masih jauh dari gerbang sekolah, aku berjalan ke sana. Kulihat beberapa bapak-bapak keluar dari gerbang sekolah. Mereka berbicara sebentar dengan penjaga sekolah, lalu pergi. 

Kurasa pihak kepolisian tak mencurigai apapun. Juga untuk berpikir bahwa ada lagi korbannya malam ini. 

Aku tak secepat itu mengambil asumsi barusan. Sejenak aku berhenti dan bersembunyi di teras sebuah toko yang gelap. Kuperhatikan sekitar lalu memperhatikan gerak-gerik mereka sembunyi-sembunyi. 

Tak ada tanda-tanda mereka akan berpencar. Tak ada sandi tertentu juga yang mungkin menandakan sesuatu pada seseorang di kejauhan. Mereka hanya segera masuk ke mobil setelah saling berbicara sebentar. 

Kulirik daerah di sekitar sekolah. Tak ada gerakan apapun seperti cahaya senter atau suatu bayangan. Aku juga tak merasa ada seseorang yang sedang mengintai area sekolah. Sepi. 

Perlu beberapa waktu aku berdiam di sana. Barulah setelah sekian lama itu, aku bisa yakin tak ada siapapun lagi. 

Aku melepas kacamataku. Kuselipkan kacamata itu di saku bajuku dan kemudian kurisleting jaket hitam yang kukenakan. Sambil mulai mengambil langkah, kukenakan tudung jaket. 

Di setiap langkahku, diam-diam kulirik sekitar. Tak ada yang memperhatikan, tak ada yang mengikuti, tak ada siapapun. Benar-benar hanya aku.

Aku memasukan kedua tanganku ke saku celana. Ya, di saku kananku selalu ada pisau lipat dan sapu tangan. 

Sekali lagi aku memperhatikan sekitar di depan gerbang sekolahku. Benar-benar tak ada gerakan apapun. Kuyakinkan bahwa memang tak ada siapapun di sekitar sekolah yang mungkin akan memperhatikanku, atau melihatku. 

Aku kembali memperhatikan gerbang sekolah. Dikunci. Karena baru saja polisi keluar dari sekolah, Michele dan Alicia tentunya belum datang. Sebaiknya aku cepat masuk. Aku meraih gembok dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku kiriku. 

Sejak dulu, aku suka mencuri salah satu kunci gerbang sekolah. Sekolah selalu punya minimal dua kunci untuk satu gemboknya, bukan? Kunci cadangan itulah yang kucuri. 

Aku tak lupa mengunci kembali gembok itu. Aku tak boleh membuat Michele dan Alicia yakin akan hal ini. Walau sebetulnya, melihat polisi yang tak mencurigaiku, aku mulai tak yakin mereka berdua itu akan datang. 

Aku mulai berjalan lagi. Sebagian lampu-lampu di koridor sekolah menyala. Sesekali aku memperhatikan sekitar, masih mengecek apakah ada seseorang di sini. 

Sedikit mengejutkan juga. Tadinya kupikir malam ini akan rumit. 

Aku menaiki tangga. Aku menuju Kelas 11–C di lantai 2. Aku dan Nicky tak sekelas. 

Nicky sebetulnya gadis tomboi. Tapi dia tak sepenuhnya terlihat seperti laki-laki. Itu hanya bawaan dari hobinya bermain sepak bola, basket dan kasti. 

Ruang kelas sangat sepi dan kosong. Di koridor, lampu yang menyala jarang-jarang memberi kesan suram. Dengan tenang aku bersandar di belakang balkon. Aku sudah terbiasa. 

Kembali kuperhatikan sekitar sekolah. Untuk terakhir kalinya, aku memastikan dan telah yakin sepenuhnya bahwa memang tak ada pengintai. 

Tak berapa lama, kudengar suara langkah sepatu. Aku melihat ke asal suara, seorang gadis berambut pirang ikal sedang berjalan. 

Tikus kecil sedang berjalan menuju ajalnya. 

Aku berjalan, bersembunyi. Kubiarkan Nicky tetap berjalan menuju kelasnya dan memasukinya. Barulah saat itu aku menyusul Nicky masuk ke dalam kelas. 

Aku berhenti di depan pintu yang dibiarkan terbuka. Tepat saat itu, Nicky sedang menyalakan lampu. Dia memandang kaget ke sekeliling kelas karena tak mendapati siapapun di sana. 

“Kenapa datang?” 

Gadis berbaju pendek itu menoleh cepat. Saat memandangku, dia terbelalak kaget sambil berkata, “A ... apa?” 

Aku mendengus. “Kau kaget?” tanyaku. 

Barulah Nicky tersadar. Setelah itu, dengan sok tenang Nicky menjawab, “Te ... tentu saja. Lagipula, apa yang sedang kau lakukan di sekolah malam-malam begini?” 

Aku memasuki kelas. “Memenuhi panggilan.” 

Nicky yang sedang mengikat rambutnya terhenti sebentar untuk melirikku. “Apa?” 

“Aku menelpon seseorang tadi sore. Aku memintanya untuk datang ke sekolah malam ini.” 

“Oh,” tanggap Nicky singkat. Wajahnya masih sok jutek. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Siapa yang mau menemuimu malam-malam begini? Kau pikir jam berapa sekarang ini?” tandas Nicky. 

“Karena itu aku bertanya padamu tadi.” 

“Kapan?” Nicky memandangku. 

Aku tak membalas. Aku biarkan Nicky mengingatnya sendiri. 

“O ... oh, waktu kau di depan pintu itu? Yah, karena ... yah ....” Kelihatannya Nicky pun tak tahu apa yang harus ia katakan. “Itu bukan urusanmu!” 

“Tentu ini juga urusanku. Apa kau tak mengerti?” 

“Apa maksudmu? Tentu aku tak mengerti! Lagipula, bukan kau yang ingin kutemui di sini!” teriak Nicky geram. 

Aku tak membalas. Sepertinya Nicky baru sadar kalau aku masih terus mendekatinya. Dia mulai berjalan mundur dengan sedikit takut. 

“Hei!” gretak Nicky keras sambil menunjuk wajahku. 

Aku tahu dia sedang menyuruhku berhenti. Tapi aku tak menghentikan langkahku. Nicky pun masih melangkah mundur. 

“Hei! Aku peringatkan padamu! Jangan macam-macam denganku!” gretak Nicky lagi. Tangannya bergemetar dan keringat dingin mulai turun dari dahinya, tapi dia tetap memandangku sok berani dan tetap menudingku. Gadis yang keras kepala memang. 

Akhirnya kutangkap tangannya itu. Nicky berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kiriku. Satu lagi tanganku masih kusimpan di saku. 

“Lepaskan! Lepaskan aku!” ronta Nicky. “Apa yang akan kau lakukan?! Cepat lepaskan!” 

Aku bertanya tenang, “Kau lupa kalian sudah putus?” 

“Ap ... apa?!” Kali ini Nicky tertahan. Aku tahu dia memang tak ingat soal itu. “Bagaimana .... Apa jangan-jangan kau ...?”

Aku mengeluarkan tangan kananku. Klik! 

“Kenapa datang? Padahal kau bisa tetap hidup kalau tidak.” Aku mengangkat pisauku. 

“UAAAAAA!!!” Nicky segera mendorongku dan berlari secepatnya. 

Aku sengaja membiarkannya keluar kelas. Untuk kali ini, aku tak suka membunuh begitu saja. 

Aku segera mengejar Nicky. Lari Nicky begitu cepat, tapi dia sedang sangat kalut. Bukannya berlari menuruni tangga, justru dia menaikinya dan ke lantai tiga. Dengan begitu, tak sulit mengejarnya di atas. 

Nicky berbelok ke kanan di atas. Aku hanya berhenti di sana. Bodohnya, Nicky berlari memutar. Aku sudah mengiranya. Dengan begitu, saat dia hendak kembali ke tangga dan turun, aku bisa dengan mudah menusuknya. Tepat saat ia melewatiku, aku menusuk kepalanya. 

Nicky tumbang. Aku mencabut pisauku dan menusuknya, berkali-kali. Sengaja hanya di kepala. Setelah Nicky tak menjerit lagi, aku menyeret jasadnya. 

Sempat kuingat soal kutukan itu. Jadi, ide yang bagus juga untuk membuat aksen pembunuhan bermotif mirip seperti bunuh diri ini. Hanya sekedar gurauan dangkal tentang kutukan. 

Aku sedikit kecewa. Ternyata ini sangat singkat. Hanya mengandalkan kebodohan Nicky sendiri, aku tak perlu bersusah-payah mengejarnya. Tadinya kupikir akan lebih lama lagi karena aku tahu Nicky akan berusaha kabur dengan berlari kalang kabut. Menyebalkan, dia hanya menjadi lebih bebal. 

Di pinggir balkon, aku berhenti sejenak. Kuangkat jasad Nicky dan kubanting ke bawah. Dengan cepat tubuh tak bernyawa itu jatuh dari lantai tiga ke tepi koridor di bawahnya. 

“AAAAAAAHH!!!” 

Aku tersentak. Teriakan?! 

“Michele! Mayat itu baru saja jatuh dari atas!” 

“Sial! Cepat kita ke atas, Alicia!” 

Langkah kaki terdengar jelas dari sekitar tangga. Aku segera bergegas secepat mungkin. 

Tak kusangka Michele dan Alicia tetap datang. Mereka benar-benar berusaha berjaga di sekolah malam ini. 

Aku mematikan setiap lampu yang menyala. Tak kulupa untuk menusuk saklarnya agar tak dinyalakan kembali. Aku benar-benar berlomba dengan suara langkah kaki itu. Segera aku memasuki sebuah kelas dan menutup pintunya tanpa suara dengan cepat. 

Tinggalah suasana mencengkam. Gelap gulita. Kosong. Sunyi, suara langkah kaki itu sudah tak terdengar. 

Sial! Aku tak keberatan bila memang mereka hanya berjaga. Tapi kalau begini, mereka benar-benar telah menjadi saksi. Mereka melihat jasad itu terjatuh. 

Aku mempersiapkan pisauku yang masih basah. Dari sela-sela jendela, aku mengintip. 

Aku tak punya pilihan lain. Habisi! 

Dapat kurasakan seseorang bergerak mendekat. Aura yang tak asing. Michele, tak salah lagi. 

Michele bergerak perlahan. Sangat hati-hati hingga sangat nyaris terdengar suara. Entah bagaimana dia dapat terbiasa bergerak dalam sunyi seperti itu. 

Aku berhenti mengintip. Aku berjongkok, turun perlahan, dengan punggung masih menempel di dinding. 

Baru kusadari sesuatu. Aku belum pernah ada di situasi seperti ini. Berjaga-jaga dari musuh. Seakan aku adalah buronan kelas kakap. 

Aku belum pernah diburon sebelumnya. 

Tep .... Suaranya begitu kecil, namun aku masih bisa mendengarnya. Seseorang menempelkan tangannya di jendela yang ada tepat di atasku. 

Aku kembali bersiap. Kugenggam erat pisau di tanganku. 

Dengan hati-hati, aku kembali berdiri. dengan hati-hati pula, aku mengintip dari sela-sela jendela. Seseorang berdiri yang di depan jendela sedang memperhatikan ke sekitar koridor, hanya tangannya yang sedang menempel di kaca sejenak. 

Kegelapan membuatku tak bisa melihat wajahnya. Mengenakan jaket gelap. Rambutnya lurus, sedikit lebih pendek dariku, berkacamata. Tak salah lagi, Michele. 

Alicia pasti masih di bawah. Gadis itu terlalu penakut. Dia mungkin akan kabur dan membiarkan Michele mati di tanganku. Bagus, cepatlah kabur! 

Tangan Michele mulai turun. Saat itu, kusadari Michele menggenggam sebuah pistol dengan kedua tangannya. 

Tentu saja. Tak mungkin Michele seberani ini mengejarku kalau hanya dengan tangan kosong. 

Perlahan, Michele mulai mengambil langkah. Dia masih memperhatikan sekitar. Sesekali dia menoleh ke jendela, seakan tahu bahwa aku juga mengikuti langkahnya. 

Aku berusaha tetap seiring dengan Michele di balik tembok ini. Aku harus bersiap. Tetap kuperhatikan dan kuikuti Michele, menunggunya lengah. 

Kulit tangan Michele terlihat basah. Aku tahu dia mulai berkeringat dingin. Michele tentu tak terbiasa dengan suasana dan situasi yang penuh ketegangan ini. Terlebih, ini soal hidup dan mati. 

Aku sudah terbiasa melihat ekspresi itu. Itu adalah ekspresi seseorang yang takut mati. 

Kalau dipikir-pikir, Michele sedikit bodoh dengan ini. Dia mengorbankan nyawanya hanya untuk menjadi detektif rahasia sekolah ini. Seakan saat ia mengatakan kalau dia bersedia pada Mrs. Erica, dia tak berpikir akan ada di situasi seperti ini. Bahkan pun kalau memang begitu, seharusnya dia menghindari situasi ini. 

Gerak-gerik Michele terlihat makin gelisah. Dia mulai memandangi sekitar arahnya, pun dengan jendela kelas. Sepertinya dia merasakanku. Michele lalu memandang ke arah balkon, lama sekali. Saat itulah aku mengangkat pisau di tanganku dan menghantam kaca di sampingku. 

Prang! 

“Aaakh!!” jerit Michele. Kepingan kaca berhamburan ke arahnya, menusuk tangan dan kakinya. Michele jatuh menjauh, dan pistol di tangannya terhempas keluar dari balkon. 

Aku tetap berdiri di belakang jendela. Memandanginya tanpa mengatakan apapun. Saat seperti ini, aku tidak boleh langsung muncul di depannya. 

Pandangan Michele akhirnya menangkap bayang-bayangku. Kegelapan tak akan membuatnya dapat melihat wajahku. Namun tetap saja, dia terdiam, kaget. 

Dengan tenangnya, aku berjalan menuju pintu kelas. Melihatku mendekati pintu, Michele tersadar dan mulai mencari pistolnya. Dan lagi, setelah sadar kalau pistolnya terhempas ke luar, Michele mulai terlihat semakin panik. Saat kubuka pintu, Michele memandangku dan mulai berusaha berdiri. 

Pisauku masih dalam genggaman. Michele tahu itu. Karena itulah dia berusaha berlari pergi sekuat tenaganya. Namun bagaimanapun juga, langkahnya yang terpincang tak bisa begitu cepat. Aku bahkan tak perlu berlari untuk mengejarnya. 

Kedua kaki Michele terluka. Pun dengan sebelah tangannya. Di setiap langkahnya, darah menetes, membuat jejak basah di atas lantai. Nafasnya terengah, tanda jantungnya berdetak lebih cepat. 

Akhirnya Michele tak kuasa. Dia mulai terjatuh. Walau dia bangkit lagi, tapi tetap saja dia terjatuh lagi. Hingga dia sepenuhnya tak mampu berdiri dan mulai menyeret tubuhnya. 

Menyedihkan. Padahal dia tahu dia akan tetap mati. 

Hanya tinggal beberapa langkah lagi. Michele yang terkapar kini mulai berhenti bergerak. Dia memandangku, memandang pisau di tanganku, menyadari bahwa tanganku itu masih lengket dengan noda merah. 

Michele tahu sosok di depannya ini adalah pembunuh. Dia tahu kalau sosok ini yang melempar jasad tadi. Tak ada yang mampu ia lakukan lagi selain berdiam, merinding, menunggu kematian menjemputnya. 

Perlahan, Michele bergeser mundur. Dia masih ketakutan. 

Kuangkat pisauku. Jarak di antara kami hanya tinggal sedikit lagi. 

“He ... hentikan ....” 

Percuma kau bicara. 

“Hentikan!” 

Aku menarik baju Michele. Mengangkatnya mendekatiku. 

Nafas Michele tertahan. Pandangannya terpaku pada tanganku. Aku siap menikamnya. 

Tap ... tap ... tap .... 

Aku melirik. 

DOR!! 

Aku berhasil menghindar. Sekarang posisiku cukup jauh dari Michele karena melompat menjauhi peluru. Kulihat bayang seorang gadis yang mengacungkan senjata api di tangannya padaku. 

DOR! DOR! DOR! 

Secepatnya aku melompat mundur, menghindari tembakan. Posisiku benar-benar jauh dari Michele sekarang. 

Kulihat gadis itu sekarang berlari ke depan Michele. Pistol di tangannya tetap ia acungkan ke arahku. 

“Michele! Kau tak apa-apa?” 

“Alicia?” 

“Aku lihat pistolmu jatuh tadi, jadi aku diam-diam ke sini. Sebaiknya kau cepat pergi!” 

“Kakiku terluka, jadi tolong!” 

Kulihat Alicia mulai memapah Michele. Aku mengambil kesempatan itu, berlari mendekati mereka. 

Tapi Michele menyadarinya. “Alicia!” 

DOR! DOR! Alicia langsung melepaskan dua tembakan. 

Aku berhasil menghindarinya. Namun karena itu, aku kehilangan sedikit waktu. Alicia dan Michele kini menuruni tangga. Aku segera menyusul mereka. 

Aku baru sampai di depan tangga. Kulihat Alicia dan Michele sudah kembali menuruni tangga menuju lantai dasar. 

Sayangnya lampu-lampu di lantai dua belum semuanya mati. Aku harus hati-hati mengejar mereka, jangan sampai ketahuan. Sambil menuruni tangga, aku mengenakan tudung jaketku dan mengacak rambutku hingga menutupi wajah. 

Secepatnya aku berlari di tangga. Tinggal satu deret lagi. Tapi saat itu, kulihat Alicia seorang diri berdiri di koridor, membidikku dengan dua pistol. 

DOR ... DOR ... DOR ...! berkali-kali Alicia menembak, nyaris benar-benar bersamaan. Sesegera mungkin aku bersembunyi. 

Aku menggeram dalam hati. Alicia pasti mencari dan memungut pistol Michele sebelumnya, itulah kenapa dia tak datang bersamaan dengan Michele ke lantai tiga. 

Tap tap tap ...! kudengar langkah itu menjauh secepatnya. Aku mengintip, Alicia tak ada. Entah apa memang dia sudah pergi. 

Kulirik sekitar. Tak ada siapapun. Aku hanya melihat tubuh dengan kepala pecah tergeletak di pinggir koridor, mayat Nicky. 

Tak ada suara. Mencurigakan. Seharusnya kalau memang Alicia telah pergi menjauh, dia sedang memapah Michele. Setidaknya aku akan dengar suara kaki Michele. 

Ah, ada. Bila kudengar lebih teliti, terdengar suara desah nafas seseorang, bersamaan dengan suara langkah yang setengah terseret. Mereka pasti mulai berjalan pergi. 

Segera aku menuruni tangga. Tiba-tiba Alicia muncul dan ... DOR! 

“Ah!” 

Aku tak siap menghindar. Peluru itu meleset, tapi tetap mengenaiku di lenganku. Karena tiba-tiba berusaha memutar langkah, kakiku goyah. Aku terjatuh, kepalaku terkantuk anak-anak tangga hingga terkapar di bawah. 

Saat itu aku langsung tak sadar. Tapi tak begitu lama. Aku masih bisa mendengar suara langkah Alicia dan Michele yang pergi menjauh. Perlu waktu beberapa saat untukku mampu bangun. 

“Aah ....” Aku segera mengambil langkah. 

Pandanganku agak kabur. Kepalaku pun pusing. Tapi tetap, aku tak bisa membiarkan Michele dan Alicia kabur. 

Mereka sudah setengah jalan menuju gerbang. Aku pun berusaha menyusul. Namun percuma saja, kepalaku terlalu pusing. Aku tak bisa berlari bila dalam keadaan setengah sadar seperti ini. 

Kulihat, mereka pun menyadariku. Tentu mereka mempercepat langkah. 

Akhirnya, aku sampai di gerbang. Namun Michele dan Alicia sudah lebih dulu pergi. Aku hanya bisa mengerang sambil berpegangan pada pintu gerbang sekarang. 

“Aah ....” 

Yang benar saja. Tak pernah ada yang berhasil kabur dariku sebelumnya. 

***



End of chapter 5



          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar