—Blue-Cold Glass—
Chapter 5, Part 1
--—Jeritan Malam—--
Hari sabtu, hari ini libur. Menjelang siang, saat aku tak ada pekerjaan, aku berdiri sebentar di teras kamar di belakang balkon.
Suasana pagi masih sedikit terasa. Karena lingkungan sekitar apartemen tempatku tinggal lumayan sepi, menjelang siang hari seperti ini pun masih terasa tenang.
Aku mulai beranjak dari belakang balkon. Di hari libur tanpa tugas sekolah dan rencana apapun seperti ini, yang akan kulakukan adalah berbaring di atas ranjang sepanjang hari. Bruk.
Soal tasku, sudah kucuci. Tas itu sekarang sedang kujemur bersama pakaianku yang lainnya di teras tadi, bersama sapu tanganku juga. Sementara untuk buku-bukunya, aku hanya meletakkannya di atas meja, bukunya tak terkena darah jadi aroma amis itu nantipun akan hilang selama aku menaruhnya di tempat terbuka.
Aku sebetulnya tak ada rencana hari ini. Aku hanya perlu menunggu bagian Michele dan Alicia saja. Aku pikir Michele pasti akan paham soal lukisan yang kutinggalkan di ruang seni, tapi aku tak tahu seberapa cepat dia akan menyadarinya. Jadi sebaiknya kubiarkan saja Michele memikirkannya dulu, baru aku melancarkan rencana lagi.
Bicara soal rencana, sebenarnya masih ada rencana lagi. Tapi itu memang bisa kulakukan kapan saja, asalkan Michele sudah memecahkan perihal makna lukisan itu.
Sejak menyadari permainan ini, aku sudah mengatur semua ini. Bahkan sudah kuatur juga, siapa korban-korbannya. Karena dengan itulah, Michele akan lambat laun menemukanku.
Pertama, Lynn. Seharusnya akan sangat mudah Michele mencurigaiku saat itu, dari pembicaraanku dengan Alicia di perpustakaan. Karena saat itu aku menyangkal perkataan Alicia kalau Lynn bukan pergi ke toilet, sementara tak ada tempat yang lebih nyaman untuk membaca selain di halaman belakang tempat aku membunuh Lynn waktu itu. Bukankah itu berarti aku sudah bertemu Lynn sebelum masuk ke perpustakaan? Sudah sepatutnya aku dicurigai.
Ayahnya, Mr. Hollard menyusul di sore harinya. Seperti rencana Michele hari itu yang berjalan tepat, aku memang membunuh Mr. Hollard karena termakan emosi. Aku tak membunuhnya dengan lebih sadis karena mulai merasa bosan dengan darah, hingga tiba-tiba saat itu aku berpikir untuk pulang saja. Kalau dihubungkan dengan kejadian di perpustakaan dan kematian Lynn, sedikitnya Michele pun akan curiga padaku.
Lalu kemarin, Marino. Mungkin seandainya Michele ingat dan memikirkannya di tempat awal, Marino adalah orang yang tepat untuk diajak bicara soal seni. Dengan pemikiran itu, di sisi Alicia, dia akan berpikir kalau aku membunuh Marino karena sebelumnya membutuhkannya untuk membantuku memilih warna lukisan. Sementara kalau Michele teliti, dia pasti berpikir seperti, kalau hanya ada lukisan saja di sana, tak ada yang berpikir bahwa itu dari sang pembunuh misterius. Maka dari itu Marino di sana, karena dia mudah dijebak ke ruang seni.
Lagipula, kalau dipikir-pikir, ketiga korbanku punya persamaan yang mudah ditebak. Ya, cerdas dan populer. Dengan fakta itu Michele pasti akan berasumsi kalau pembunuh misterius ini membunuh mereka karena tak ingin tersaingi repurtasinya. Dan sejujurnya, aku memang menjadikan ketiga orang itu korban dalam rencanaku karena aku ingin menyingkirkan mereka, dengan alasan tak ingin tersaingi—dalam bidang akademik tentunya, karena aku kadang tak ingin kehilangan tempat sebagai yang terbaik.
Sebetulnya, masih ada beberapa rencana lagi yang belum kulancarkan. Tapi aku lebih berniat menghapus beberapa rencana, entah kenapa rasanya tak ingin terlalu lama dalam permainan ini.
Apa sebaiknya kubunuh Michele besok?
Yang benar saja, baru tiga kasus kuberikan. Ini terlalu cepat. Dan belum tentu Michele atau Alicia sudah sedikit saja mencurigaiku, aku yakin itu.
Ah, ya. Salah satu hal yang kulakukan yang membuat polisi bahkan tak bisa melacakku adalah aku menghapus sidik jariku. Setiap ada rencana, aku membasahi sapu tanganku dengan alkohol. Dengan sapu tangan itu, aku mengelap benda-benda yang kusentuh untuk menghapus sidik jari hingga tak ada lagi bekasnya. Karena alkohol itu juga aku membungkus pisauku dengan sapu tangan, karena dengan begitu tak akan ada aroma darah tercium dari pisau saat aku mengeluarkannya lagi.
Aku juga selalu memperhitungkan saksi mata. Itulah kenapa aku tak pernah mengecek sekitar saat melancarkan rencana. Sudah kupastikan sebelumnya, bahwa tak akan ada yang melihatku dan korbanku di tempat kejadian.
Aku juga selalu memilih waktu yang tepat. Aku tahu sekali kapan sekolah ini, atau satu per satu dari tempat kejadian itu, akan sangat sepi. Aku diam-diam sangat memperhatikan percakapan murid-murid di sepanjang koridor saat aku berangkat sekolah, hingga aku pun juga tak begitu tertinggal tentang acara di sekolah. Dengan begitu aku tahu pasti tentunya, dan aku bisa memilih tepatnya.
Juga, aku tahu bagaimana harus mengatakan sesuatu. Seperti Alicia yang bisa membaca perasaan orang lain dari tingkah lakunya, aku juga bisa bersandiwara begitu tepat. Dari sikapku, kata-kataku, dan ekspresiku, semuanya bisa kukuasai hingga orang lain percaya dengan sandiwaraku.
Tak ada celah dari semua itu.
“Hah!” Walau aku tahu semua ini begitu rapi di tanganku, tapi aku tak ingin bangga atau barang hanya menyeringai. Tentu saja karena ini bukan hal yang sebetulnya kumau.
Aku beranjak dari ranjang. Aku terdiam dan mendengus sejenak. Aku masih belum tahu akan melakukan apa.
Snow White sedang asik di atas lantai. Dia memainkan bola gulungan benang wol putih yang kemarin. Aku diam memandanginya, sepertinya Snow White mengambilnya sendiri dari atas meja karena aku yakin tak memberikan gulungan wol itu padanya.
Aku mendekati kursi di samping jendela. Sebelum duduk di sana, aku membuka laci di meja yang ada di sampingnya. Terdapat sebuah agenda kecil, sebuah bolpoin dan sebuah pisau di sana. Aku mengambil agenda dan bolpoin itu lalu duduk.
Ya, agenda rencanaku. Memang di sanalah aku meletakan agenda, bolpoin dan pisauku. Maka dari itu, laci itu selalu kosong akhir-akhir ini.
Aku harus mengecek rangkaian rencanaku. Ada cukup banyak rencana yang kupersiapkan untuk permainan ini. Semuanya berurutan dan sudah benar-benar rapi, hingga aku pun tak perlu mengaturnya lagi. Dan aku berniat melancarkan rencana selanjutnya malam ini.
Apa itu tak terlalu cepat?
Empat hari terakhir ini, sudah ada lima orang. Belum pernah aku melancarkan beberapa rencana berurutan hingga hampir seminggu penuh ini. mungkin Michele akan mencurigai bahwa hari ini akan ada lagi.
Kalau begitu, sepertinya dia dan Alicia akan berjaga di sekolah. bila mereka menemukan seseorang, mereka akan langsung mengajak orang itu bicara. Di situlah Alicia bekerja, di percakapannya dengan orang yang mereka temui.
Apa itu artinya tidak apa kalau aku bertemu mereka? Karena nyatanya aku bisa menyusun kata-kataku dengan rapi dan tepat, jadi sepertinya tak ada masalah untuk berbicara dengan Alicia. Ah, tapi jangan. Mereka sebelumnya mencurigai orang-orang di perpustakaan, yang artinya termasuk aku. Kalau mereka menemukanku, aku akan semakin dicurigai.
Kadang aku membuat ini mudah. Tapi bukan berarti aku menyerahkan diri pada Michele dan Alicia. Aku tetap tak boleh melakukan kecerobohan.
Dan kelihatannya, akan jadi lebih berisik nantinya. Akan lebih baik kalau aku memastikan tak akan ada siapapun yang datang ke sekolah selain aku dan korban itu.
Kalau memang begitu, mungkin sebaiknya aku sesuaikan saja penyamaranku. Jadi akan kubiarkan orang itu bertemu dengan Michele dan Alicia agar dia menceritakan pada mereka soal aku. Dengan begitu, aku tetap belum diketahui, namun Michele dan Alicia akan yakin sepenuhnya bahwa pembunuh yang mereka cari memang ada. Ah, jangan. Dengan cara itu, orang-orang disekolah juga akan mengetahui kebenaran soal keberadaan pembunuh ini, mereka tak akan percaya tentang kutukan di sekolah lagi.
Dan lagi, dengan cara tadi, polisi mungkin akan mulai ikut turun tangan. Kalau sudah seperti itu, kondisiku akan sangat sulit. Selama ini sudah kuusahakan polisi tak akan pernah mengendus keberadaanku.
Jadi, sebaiknya jangan terlalu lama nanti. Tapi aku juga tidak suka kalau terlalu singkat.
Hmm ... omong-omong, bagaimana kira-kira keadaan sekolah hari ini? Mengingat kemarin aku meninggalkan jasad Marino. Sepertinya polisi sedang datang dan menyelidikinya. Kalau begitu, adakah kemungkinan polisi juga berjaga-jaga hari ini sampai malam nanti?
Aku tidak boleh sampai masuk perangkap mereka. Mungkin saja mereka akan sengaja membiarkan sekolah terlihat sepi agar aku dan korbanku datang ke sana, jadi nanti mereka bisa menangkapku.
Aku rasa menunda rencana juga bukan pilihan yang bagus. Walau aku tak melancarkan rencana hari ini, esok dan esoknya lagi mereka akan tetap berjaga.
Hmmm ....
Tiba-tiba saja Snow White ada di atas meja. Aku agak terkejut tentunya karena saat itu aku sedang perlahan berpaling memandang ke sana. Di mulutnya, Snow White menggigit gulungan wol. Snow White lalu meletakkannya dan mengelindingkannya perlahan padaku.
Aku menurunkan tanganku. “Kamu mau main?”
Snow White mengeong.
“Jadi kau paham juga yang kukatakan?”
Snow White melompat ke bawah. Kucing kecil itu pun duduk manis di lantai. Dia hanya memandangiku dengan mata kucing hitamnya yang bening.
Aku mau sekali bermain. Tapi aku belum selesai memikirkan isi agendaku, sementara siang dan sore nanti aku harus sudah memulai rencana. Akhirnya kuraih gulungan wol dan kulemparkan pelan. Snow White langsung mengejarnya.
Aku beralih memandang ke luar jendela. Sudah mulai siang. Apa kira-kira Michele, Alicia, dan pihak kepolisian sudah ada di sekolah dan sedang berjaga-jaga? Sebagai pembunuh, firasatku tentu sangat taj ....
“Ah!”
Snow White tiba-tiba melompat kepangkuanku. Jelas saja aku kaget.
Dia kembali memandangku seperti itu. Kali ini gulungan wol itu ada di mulutnya. Snow White mengerung pelan.
Aku mengambil gulungan wol di mulutnya dan berkata, “Main sendiri saja dulu, ya.” Lalu kulempar lagi.
Snow White mengejarnya. Aku mendengus sambil memperbaiki letak kacamataku. Ada-ada saja Snow White. Kupikir tadi dia akan bermain sendiri.
Aku memandang ke arah yang berbalik dari meja. Kubuka kembali agenda, mengecek rencana apa yang hendak kulancarkan malam ini. Ternyata, aku baru sadar rancangan rencana di tiap satu rencana ini cukup panjang, bahkan menghabiskan beberapa lembar. Joanne ... Dave ... Lynn ... Mr. Hollard ... Mari ....
“Wua!”
Di bahu. Sekarang Snow White melompat dari jendela ke bahuku. Di sana dia mengerung sambil mengusap-usap kepalanya ke pipiku. Baik, baik, besok kita main.
Aku mencubit kulit di tengkuk Snow White. Kupindahkan Snow white ke bawah dan mendorongnya sedikit untuk pergi. Kali ini kuperhatikan Snow White, sampai dia benar-benar berjalan menjauh. Kelihatannya Snow White pun mengalah, perlahan dia berjalan pergi dengan gulungan wol itu di mulutnya.
Setelah beberapa saat, aku kembali pada agendaku. Akhirnya kutemukan rencana selanjutnya. Tapi aku justru lupa apa yang tadinya ingin kulakukan dengan rencana ini. Aku terdiam sebentar, mencoba mengingat-ingat.
Aku mendecak kesal. Aku tidak ingat. Dengan sedikit kesal aku mengacak-acak rambutku. Kuletakkan agenda dan bolpoin di atas meja, lalu beranjak dari kursi. Aku perlu minum sebentar.
Bruk!
“Ugh ....” Aku melihat kakiku. Seutas benang wol melingkari kaki kananku. “Hah?”
Snow White ada di bawah meja. Di sebelahnya terletak gulungan wol, dan di mulutnya dia menggigit benang.
“Snow White!”
Dia lari.
***
“Kediaman Christie!”
“Bisa bicara dengan Nicky?”
“Iya, tentu. Mohon tunggu sebentar, ya.”
“Tentu,” balasku sambil mengecek nomor di agendaku.
Pernah aku iseng menguping pembicaraan tentang nomor telepon. Salah satu nomor yang kudapat adalah nomor ini. Ternyata tak salah.
“Hallo! Ini Nicky. Siapa ini?” suara itu terdengar ceria.
“Maaf tiba-tiba, tapi bisakah datang ke sekolah nanti? Aku perlu bicara.”
“Ke sekolah? Kapan? Ada urusan apa, ya?”
“Maaf aku tak datang ke pesta ulang tahunmu dua minggu lalu itu. Aku ingin memberimu hadiah ini dan bicara sesuatu padamu. Jadi aku benar-benar berharap kamu akan datang.”
“Ke ... Kevin? Aku ... soal waktu itu ... ah, aku ... baiklah. Kapan kamu mau kita bertemu?”
“Malam. Jam 10. Hanya itu waktuku bisa bertemu denganmu. Jadi aku pinta lagi padamu untuk datang. Tolong.”
“Baik! Tentu saja.”
“Satu lagi. Tolong jangan beritahukan siapapun kalau kau akan pergi malam ini! Aku ingin hanya kita berdua yang tahu soal ini. Ini sangat penting.”
“Tentu.”
“Baiklah, sampai jumpa.” Kuletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.
Aku mulai melihat sekitar. Sepi sekali. Memang daerah ini selalu sepi. Itu sangat memudahkanku menggunakan telepon umum pinggir jalan ini. Yah, lagipula aku tak memiliki ponsel.
Aku mengenakan tudung jaket biru cerahku. Segera aku berjalan pergi.
Aku tak suka warna cerah. Namun karena setiap aku melancarkan rencana tanpa mengenakan seragam aku mengenakan jaket berwarna hitam, jadi sebaiknya saat melakukan aktifitas biasa, kukenakan jaket berwarna cerah.
Tak mudah melacak panggilan telepon dari telepon umum. Kalau tak ada saksi yang melihat siapa penelponnya saat itu, polisi tak akan semudah itu tahu.
Dan ... menjebak gadis yang tak mau kehilangan lelaki yang disukainya memang sangat mudah.
***

0 tanggapan:
Posting Komentar