Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Kamis, 08 Oktober 2015

Blue-Cold Glass (7.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 7, Part 1 
--—Detik Penderitaan—--





Sementara kusadari kobaran api di sekelilingku, aku tak bisa merasakan panas lagi. Tubuhku sudah terasa dingin. 

Aku melirik potongan tubuh di atas permadani. Aku hanya bisa memandang begitu saja karena pandanganku pun sudah mulai kabur. 

Aku sudah tahu. Aku juga akan menyusul mereka. Aku sudah tak akan bisa melakukan apapun. Aku akan mati! Mati! 

Aku mulai tak sadar. 

Dan samar-samar kemudian, kudengar suara seseorang. Saat sadar, aku sudah ada di rumah sakit, dan beberapa hari kemudian dokter mengatakan padaku semuanya. Menyadari bahwa sekarang aku sudah menjadi anak sebatang kara, rasanya seakan kehidupanku sudah lumpuh. 

Kenapa? Aku seharusnya mati beberapa waktu lalu itu. Dan sekarang aku masih hidup. Sendirian. Terpisah dari mereka semua. Mereka yang kucintai. Kenapa harus sekejam ini? Kenapa harus aku? 

Kenapa? 


Blue-Cold Glass (6.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 6, Part 1 
--—Kembali pada Rencana—--





Tentu malam itu juga aku harus mengatasi lukaku. Mengeluarkan peluru, membersihkan luka, mengobatinya, serta menutupnya dengan kain kasa dan perban. Tentu juga, itu tak mudah. 

Belum pernah aku tertembak seperti ini. 

Selesainya, kuletakkan kotak P3K itu di atas meja di dekat ranjang. Sebelumnya, kupikir aku tak akan pernah membutuhkan peralatan medis sederhana itu. Walau memang tak pernah terluka di tengah rencana begini, aku memang tak pernah berniat membuang kotak itu dan sesisinya. 

Aku merebahkan diri. Dalam hati, aku masih tak percaya malam ini aku benar-benar selelah ini. Aku bahkan tak sedikit pun berniat menyentuh agendaku, aku sudah terlalu lelah. 

Snow White melompat ke atasku. Dia mengeong padaku. Aku tak berniat mengacuhkannya, tapi aku juga tak tahu apa yang Snow White inginkan sekarang. Jadi aku hanya menutup mataku. 

Perlahan aku mulai tertidur. Namun saat kedua kalinya Snow White mengeong, aku membuka mataku lagi untuk menyadari Snow White ada di sisi wajahku, mengusapkan wajahnya di pipiku. Aku pun hanya bisa membiarkan kucing kecil itu meringkuk manja di bahuku, dan lalu tidur di sisiku. 

***