Kamis, 08 Oktober 2015

Blue-Cold Glass (7.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 7, Part 1 
--—Detik Penderitaan—--





Sementara kusadari kobaran api di sekelilingku, aku tak bisa merasakan panas lagi. Tubuhku sudah terasa dingin. 

Aku melirik potongan tubuh di atas permadani. Aku hanya bisa memandang begitu saja karena pandanganku pun sudah mulai kabur. 

Aku sudah tahu. Aku juga akan menyusul mereka. Aku sudah tak akan bisa melakukan apapun. Aku akan mati! Mati! 

Aku mulai tak sadar. 

Dan samar-samar kemudian, kudengar suara seseorang. Saat sadar, aku sudah ada di rumah sakit, dan beberapa hari kemudian dokter mengatakan padaku semuanya. Menyadari bahwa sekarang aku sudah menjadi anak sebatang kara, rasanya seakan kehidupanku sudah lumpuh. 

Kenapa? Aku seharusnya mati beberapa waktu lalu itu. Dan sekarang aku masih hidup. Sendirian. Terpisah dari mereka semua. Mereka yang kucintai. Kenapa harus sekejam ini? Kenapa harus aku? 

Kenapa? 

***

“Ke ... kenapa?” 

Aku tak bisa melakukan apapun. Percuma aku mengejar Snow White, aku hanya bisa terdiam di pinggir jalan. Dan akhirnya, hanya bisa memandang jasadnya. 

Mobil itu berlalu begitu saja. Seolah tak melakukan apapun. Tinggalah hanya tubuh Snow White yang terlindas. 

Kenapa? 

Aku tak bisa mengatakan apapun. Tak bisa berbuat apapun. Hanya terdiam di tempatku berdiri. Hingga aku tak mampu berdiri, aku hanya bisa jatuh dan duduk bersimpuh di tempatku begitu saja. 

Kenapa? 

Kenapa? 

Kenapa harus dia? Kenapa harus pergi? Dan meninggalkanku. 

Padahal di sanalah aku bahagia. Aku tenang dan nyaman. Aku bisa merasa utuh. Aku menemukan semua yang hilang dulu. 

Dan sekarang ...? Sekarang ...? sekarang aku kehilangan semuanya. Lenyap direnggut kejamnya garis merah, kematian

Kenapa? Kenapa aku harus kehilangan Snow White? Tidak pantaskah aku hidup bersama ketenangan itu? Kesejukkan itu? Kehangatan itu? Hingga karena itu aku harus kehilangan lagi. Terpisah lagi. 

Kenapa? 

Kebahagiaan itu terasa terlalu cepat untuk menghilang sekarang. Aku masih membutuhkannya. Menginginkannya. Aku masih merindukan rengkuhan rasa nyaman itu di hatiku. 

Kenangan bersama seekor anak kucing terbesit dan terus berputar dalam ingatanku. Saat aku memungutnya dan memeluknya, saat merawatnya dengan sepenuh hati, saat membelai lembut kulitnya, saat bercanda ringan dengannya, saat tertawa karenanya. Saat-saat itu ... semuanya sudah berkahir? 

Kenapa? 

Aku sudah terlanjur sayang dengan Snow White. Mengangapnya keluargaku sendiri. Aku mencintainya seperti kedua orang tuaku sendiri, dan menyayanginya seperti saudaraku sendiri. 

Kenapa? Kenapa dia harus direnggut lagi dariku? Kenapa aku harus kehilangannya? 

Lalu kalau memang aku akan kehilangannya, kenapa aku harus pernah memilikinya? Kenapa aku harus pernah merasakannya? Dan kenapa semuanya harus pernah menjadi begitu indah? Kenapa harus sesuatu yang sangat kubutuhkan? 

Dan dia pergi begitu saja. Di depan mataku. Menjadi korban tak bersalah. Apa setiap jengkal setelah bahagia, aku harus menderita? Apa ini hanya untuk agar aku tetap merasakan derita? Derita ini lagi? Kehilangan hidup-ku lagi? 

Kenapa? Kenapa? Ini terlalu kejam! 

Kematian memang benar-benar lebih buta dari cinta. 

Aku tak sadar mulai menggenggam erat kedua tanganku. Aku pun tak sedikit pun menyadari rambut yang berantakan saat terburu-buru berlari tadi. Aku juga tak sadar, tanganku mulai terbasahi rintik-rintik air yang jatuh dari daguku. Serangkaian tusukan pilu ini, kini merembes keluar sebagai peluh kesedihan. 

***

“Selamat malam.” 

“Selamat malam. Maaf, siapa ini?” 

“Bisa berbicara sebentar dengan Michele Andresen? Tolong.” 

“Uhm ... iya, ini saya sendiri. Siapa ini?” 

“Seharusnya kau tahu siapa.” 

Diam sebentar. “Apa maksud ... Anda?”

“Kau akan tahu siapa aku sebetulnya nanti. Tapi, bisa aku berbicara dulu denganmu sekarang ini?” 

“Maaf, tolong beri tahukan dulu siapa kau! Aku harus tahu dirimu terlebih dahulu.” 

“Maaf juga, aku tidak bisa. Tapi aku pikir kau harus tahu sesuatu terlebih dahulu.” 

“Tidak. Katakanlah terlebih dahulu! Siapa kau?” 

“Akan berbahaya kalau kau tahu siapa aku. Jadi aku tidak bisa mengatakannya. Sebaiknya, kau mendengarkan dulu apa yang akan kukatakan padamu.” 

“Maaf.” 

“Jangan matikan telepon ini!” 

Diam. Tak ada suara. Lalu berbisik, “Bagaimana kau bisa tahu aku akan mematikan telepon? Dimana kau berada?” 

“Karena itulah. Aku belum bisa menyebutkannya juga. Dan aku pinta sekali lagi untuk berbicara sebentar dengan kalian berdua.” 

“Kau tahu itu juga? Bagaimana bisa?” 

“Aku bahkan menelponmu sebab aku tahu kalian hanya berdua saja di kamar rumah sakit sekarang ini. Ini penting untuk kalian tahu, aku tahu itu.” 

Jeda sebentar. “Baiklah, kami mendengarkan. Apa itu?” 

“Ah, maaf. Aku tak tahu harus memulainya darimana. Hmm ... begini, kalian melihat pecahan kaca kecil di tempat mayat Joanne tergeletak empat hari lalu? Apa kalian masih ingat itu?” 

“Iya. Kami mengingatnya.” 

“Itu pecahan lensa kacamataku. Dan apa kalian ingat kejadian pembunuhan Mr. Ken?” 

“Guru kebahasaan tahun lalu? Dia wali kelas Kelas 12–B tahun lalu, bukan?” 

“Iya. Kalian ingat? Ada pecahan vas di sana yang juga digunakan untuk membunuh Mr. Ken.” 

“Iya. Aku masih mengingat hal itu, Michele. Aku melihatnya.” 

“Aku juga yang memecahkannya.” 

“Apa kau juga yang melukis lukisan bertepatan dengan pembunuhan Marino kemarin jumat?” 

“Iya. Kupikir kalian sudah mengetahui arti lukisan itu.” 

“Tentu. Tapi kami belum yakin sepenuhnya mengenai hal itu.” 

“Sebetulnya, masih banyak hal yang ingin kuingatkan padamu bahwa itu aku. Namun, sepertinya aku tak memiliki cukup waktu melakukannya. Aku harap kau bisa memahami itu.” 

“Jadi, kau ‘ada’ di beberapa bagian detail di tempat kejadian?” 

“Ya, untuk arti kecilnya. Tapi sepertinya aku tidak bisa dikatakan sebagai saksi atas setiap kejadian pembunuhan itu hanya karena meninggalkan ‘bekas-bekas’ yang ada dan memungkinkan aku ada di tempat kejadian.” 

“Oh ... begitu, ya.” 

“Tapi aku tahu pasti orang-nya. Hanya saja ... tak kan kusebut namanya. Terlalu berbahaya saat kau tahu siapa.” 

Orang yang kau maksud ini, apa ... pembunuh itu?” 

“Berhati-hatilah! Tebakanmu itu tepat. Seharusnya dia, yang baru saja kau sebut, tak tahu kalau kau mengetahui tentangnya.” 

“Oh! Maaf! Ka ... kami tak bermaksud membuatmu dalam bahaya. Hati-hatilah, Michele!” “Uhh ... kau juga, Alicia. Kalau begitu, apa menurutmu orang ini sedang memperhatikan kita?” 

“Berhati-hatilah! Karena aku juga tak bisa menjamin bahwa itu tak terjadi.” 

“Oh ... begitu. Kau mengenal orang ini?” 

“Kita sekelas. Walau terlalu jarang bertemu selain karena ada sesuatu.” Kita: aku dan kalian berdua. 

“Sungguh begitu? Jadi sebetulnya, dengan jarak seperti ini, dia begitu dekat, ya.” 

“Mungkin kalian tak akan menyangka. Atau, apa kalian sudah terpikir untuk menduga siapa dia?” 

“Kami tak memiliki petunjuk lebih pasti. Yang pasti bukan seseorang yang biasa saja. Dia terlalu cepat, bahkan untuk sebentar saja menyadari keberadaannya.” 

“Sepertinya, kau bisa merasakan kehadirannya yang mendekat.” 

“Benar. Seakan dia sedang menunggu kami di waktu yang sempit ini.” 

“Kau tahu? Tak akan sulit untuknya menyelinap ke dalam ruang waktu yang kecil ini. Akan mudah untuknya mengambil langkah dan menyeimbangkan jalan untuk kemudian keluar lagi dengan mudah juga.” 

“Mengerikan. Dengan begitu dia bisa mengambil nyawa kapan saja.” 

“Ya. Itu kemudahan yang menyebabkan kegelapan ini dapat meluas begitu mudahnya. Dan mengejar siapapun yang diincar.” 

“Termasuk ... kami?” 

“Apa kalian perlu menanyakannya? Sebagai seseorang yang hampir menemukan dan seseorang yang telah menembak orang ini.” 

“Lalu ... kita akan ....” “Hush! Alicia! Seberapa besar kemungkinan itu?” 

“Sebaiknya kalian tak mengetahui itu.” 

Diam sejenak. “Ada yang lain lagi? Kau datang untuk memberi kami petunjuk tentang orang ini, bukan?” 

“Aku tak bisa menjelaskan lebih rinci lagi. Tapi kalau boleh kuberitahukan pada kalian, sebaiknya kalian berhenti untuk mencari tahu tentang orang ini. sangat besar resikonya bila sampai kalian mengetahuinya, bukan?” 

“Tapi kami perlu tahu. Kami akan berusaha menghindari resiko itu.” 

“Kalau begitu, sepertinya hanya ini kesempatan kalian untuk tahu. Sebaiknya kalian mencari tahu dengan hati-hati, atau ini benar-benar adalah kesempatan terakhir kalian.” 

“Baiklah. Jadi, bisa kau jelaskan hal lain pada kami? Seperti apa dia.” 

“Baik, akan kubiarkan kalian memahaminya sendiri. Aku hanya bisa memberi tiga kata.” Kujeda sebentar. “Blue-cold glass.” 

Blue ... cold ... glass ...?” 

“Itulah yang paling jelasnya. Waktuku tak banyak. Segeralah simpulkan dan temukan.” 

Kali ini jeda beberapa saat. Tiga kata yang terlalu singkat untuk menjelaskan seseorang yang sangat misterius. Tapi seharusnya Michele terbiasa dengan hal singkat untuk menjawab hal rumit setelah lima hari terakhir ini berusaha menyelidiki. 

“Biru (blue) adalah ketenangan, bukan? Dingin (cold) adalah dunianya, sebagai seorang pembunuh. Sementara kaca (glass) adalah ... dirinya sendiri. Apa itu artinya dia adalah ... seperti ... pecahan kaca?” 

“Kau mulai tahu.” 

“Pecahan kaca? Blue-cold glass. Bukankah kalau begitu artinya pecahan kaca berwarna biru yang terasa dingin? Ah, Michele, aku rasa aku tak bisa memahaminya.” 

“Aku pikir aku tahu sesuatu. Begini, Alicia. Sepertinya, ada alasan dibalik semua pembunuhan yang pernah terjadi ini. Dan itu adalah jawaban yang sangat lengkap bila saja kita dapat mengetahuinya. Bukan hanya siapa, tapi juga kenapa dan bagaimana.” 

Kau mulai mendalaminya, Michele. 

“Pecahan kaca. Itu seperti perumpamaan sempurna tentang sesuatu yang terpisah dan tak bisa kembali, karena kaca setelah terpecah dan saling menghilang tak akan penah utuh lagi.” 

“Begitu? Menurutmu ini seperti ... broken home?” 

“Benar, Alicia! Seperti itu, tapi sepertinya tak tepat seperti itu. Karena pecahan kaca itu dapat melukai, berarti ini adalah perpisahan yang melukai. Mungkin terpisahkan karena sebetulnya tak mau.” 

“Ya, broken home. Posisinya sebagai anak tak bersalah.” 

“Bukan. Lebih seperti ... penculikan. Hanya saja pecahan atau keluarga lainnya sudah menghilang, makanya tak dapat kembali. Artinya yang lainnya sudah meninggal, sementara dia masih hidup. Dan cara mereka berpisah yang menyakitkan, ini arti dari dingin. Artinya tak salah lagi, dibunuh.” 

“Ah! Itu dia! Pembunuh waktu itu. Saat dia jatuh di tangga, aku sempat melihat sebuah luka gores di leher kirinya yang terlihat sangat mengerikan. Saat insiden kala ia kehilangan keluarganya, dia pasti hampir mati juga.” 

“Apa kenyataan bahwa ternyata dia tak mati melukainya? Lalu merasa ingin membalaskan dendam?” 

“Michele, ini tanda tak terima. Dia telah kehilangan segalanya. Karena itu dia tak terima. Dia memutuskan untuk berusaha ada di atas segalanya. Dalam hal ini, dia tak terima dengan kejamnya kematian yang telah memisahkannya dengan keluarganya. Dengan ini, dia tak akan pernah berhenti membunuh. Dia akan terus berusaha membuktikan bahwa dia bisa bertahan hidup, dia akan membuktikan bahwa kematian tak akan mudah merenggutnya. Itulah tepatnya.” 

“Orang seperti ini ... hanya ada satu di sekolah.” 

Cukup kumendengarkan. “Kalian sudah tahu semuanya.” 

“Kau ... kau sungguh orang yang sama yang melukis lukisan itu?” 

“Ya.” 

“Di pembunuhan Mr. Ken, kau menjatuhkannya dengan sengaja, bukan?” 

“Benar.” 

“Kau juga yang kemarin malam tertembak oleh Alicia?” 

“Tentu.” 

“Kau bukan orang lain lagi. Benar, ‘kan? Kau orang yang sama dengan yang selama ini kami sebut pembunuh misterius?” 

“Sudah kukatakan, kalian sudah tahu semuanya sekarang.” 

“Itu artinya kau adalah ....” 

“Cukup! Apa kalian tak ingat peringatanku?” 

Klep! Baru saja kututup pintu. Baik Michele yang sedang terbaring, atau Alicia yang berdiri di sampingnya, mereka menoleh kaget padaku. Aku masih berbicara dengan ponsel curian di tanganku, memandang mereka. 

“Berbahaya saat kalian tahu semuanya.” 

Kukeluarkan tanganku dari saku. Klik! 

***

“Uuaaaaahh!! Tolong! Pasien di kamar nomor 337 tidak ada! Kamarnya sangat berantakan dan darah ada dimana-mana!”

“Apa?! Tidak mungkin! Tadi mereka berdua di sini!”

“Mereka dibunuh! Lihat! Ada potongan telapak tangan di atas kursi itu!”

“Lalu mana potongan lainnya?!”

“Di bawah sana! Mereka dipotong-potong dan dilemparkan keluar jendela!”

“Aaaaahh!!!”

***


End of chapter 7 


          The end of the story 







[ Previous ]                                                               



 Thanks for reading! ^^ 


0 tanggapan:

Posting Komentar