Kamis, 08 Oktober 2015

Blue-Cold Glass (6.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 6, Part 1 
--—Kembali pada Rencana—--





Tentu malam itu juga aku harus mengatasi lukaku. Mengeluarkan peluru, membersihkan luka, mengobatinya, serta menutupnya dengan kain kasa dan perban. Tentu juga, itu tak mudah. 

Belum pernah aku tertembak seperti ini. 

Selesainya, kuletakkan kotak P3K itu di atas meja di dekat ranjang. Sebelumnya, kupikir aku tak akan pernah membutuhkan peralatan medis sederhana itu. Walau memang tak pernah terluka di tengah rencana begini, aku memang tak pernah berniat membuang kotak itu dan sesisinya. 

Aku merebahkan diri. Dalam hati, aku masih tak percaya malam ini aku benar-benar selelah ini. Aku bahkan tak sedikit pun berniat menyentuh agendaku, aku sudah terlalu lelah. 

Snow White melompat ke atasku. Dia mengeong padaku. Aku tak berniat mengacuhkannya, tapi aku juga tak tahu apa yang Snow White inginkan sekarang. Jadi aku hanya menutup mataku. 

Perlahan aku mulai tertidur. Namun saat kedua kalinya Snow White mengeong, aku membuka mataku lagi untuk menyadari Snow White ada di sisi wajahku, mengusapkan wajahnya di pipiku. Aku pun hanya bisa membiarkan kucing kecil itu meringkuk manja di bahuku, dan lalu tidur di sisiku. 

***


Aku bangun terlambat. Saat kubuka mata, aku melirik jam yang menunjukkan pukul 7.00. Aneh rasanya, tapi aku tak heran. Sudah lama sekali rasanya aku tak bangun kesiangan. 

Aku tak berlama-lama menatap jam dinding. Begitu tahu jam berapa sekarang, aku kembali menutup mataku, tak sampai dua detik lamanya. 

Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba aku jadi pemalas. Yang pasti aku tak berkeinginan untuk melakukan apapun hari ini. Tak untuk membereskan rumah, membaca buku, atau juga makan. Aku tak ingin melakukan apa-apa, dan aku tak tahu kenapa. 

“Mmmhh ...,” erangku kala kurasakan sentuhan di sebelah pipiku. Aku membuka mataku lagi sedikit, hanya berniat melihat. 

Snow White duduk di sampingku. Dia terus menjilat pipiku. Kupikir dia ingin aku bangun, tapi bukannya aku ingin mengabaikannya, aku hanya tak mau bangun. Aku meraih kepala Snow White dan membelainya lembut. 

“Meong.” 

Aku memandangi mata hitamnya yang selalu terlihat bersinar. Aku sebetulnya tak mengerti apa maunya. “Kita mainnya besok saja, ya.” 

Snow White mengerung. 

Aku tahu dia tak suka. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya mulai kembali menutup mataku. 

“Meong.” 

“Maaf, Snow White, tapi aku lelah,” balasku. Dan aku tak berkata-kata lagi walau setelah itu pun Snow White tetap tak berhenti mengeong padaku. Aku berpura-pura kembali tidur. 

Kurasakan Snow White akhirnya kembali menjilati pipiku. Aku kembali membelainya sejenak, dan lalu aku merasakan lidah Snow White di salah satu jariku. Aku kembali melirik dan mendapati Snow White menggigiti jari manisku. 

Ah, iya. Snow White belum makan. 

Aku pun beranjak mengambilkan makanan untuk Snow White. Setelah selesai, aku kembali ke atas ranjang. Belum lama berbaring, Snow White melompat ke atasku. 

“Ah,” sentakku pelan, tak lebih dari gumaman. “Kau mengagetkan aku. Kenapa kau tidak menghabiskan makananmu?” 

Snow White merendah. Dia terus memandangiku sambil mengerung. Kelihatannya dia tak suka. 

Apa Snow White tak suka makanan yang kuberikan? Tapi aku tak punya yang lain lagi. 

“Apa maumu?” tanyaku. Terdengar dingin, tapi memang seperti itu cara bicaraku. Tadi pun aku tak bermaksud memarahi Snow White atau kesal dengannya, hanya ingin bertanya. 

Snow White tetap memandangiku seperti itu. Aku pun hanya tetap memandanginya saja. 

Apa dia tak suka sikapku hari ini? Jadi, dia tak suka kalau aku hanya memberinya makan dan kemudian meninggalkannya seperti tadi itu. Padahal memang, aku bahkan tak memberi makan diriku sendiri. 

Aku terdiam. Aku tak yakin apa aku benar. 

Snow White masih mengerung memandangku. Dia belum bergerak sedikit pun dari atas tubuhku. 

Aku menutup mata kembali. Aku membalas, “Snow White, makanlah saja makananmu. Kau tidak boleh sampai sakit nanti.” Entah apa yang kukatakan—aku berkata setengah sadar, tapi sepertinya terdengar sedikit konyol. 

Aku tahu Snow White masih belum berpindah. Tapi, kudengar dia berhenti mengerung. Aku jadi membuka mataku lagi. Jujur, aku tak suka juga kalau Snow White tak mau makan seperti ini. 

Aku malas bergerak. Padahal walau aku berkata kalau aku lelah, aku sendiri tak selelah itu sekarang hingga bersikap seakan tak bisa bergerak barang beberapa menit. 

Aku rasa sebetulnya aku bukan merasa malas. Karena, aku merasa ada perasaan lain ... yang aneh. Aku tidak tahu apa itu. 

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat kejadian semalam. Untuk pertama kalinya, aku ada di segala situasi yang belum pernah terjadi padaku sebelumnya. Bahkan sebetulnya, aku pikir aku tak akan pernah ada di situasi-situasi seperti itu. Aku masih tak percaya aku benar-benar melewati malam kemarin. 

Aku selalu membuat rencana yang begitu rapi. Aku selalu memperhitungkan setiap detil yang mungkin terjadi. Aku selalu berhasil menyelesaikan rencanaku tanpa halangan. 

Jeritan Alicia. Datangnya Michele. Tertipunya aku. Luka tembak ini. Semua itu ... semua itu tak kukira akan terjadi. 

Aku sungguh tak pernah seceroboh ini. Aku tak pernah membuat detil yang salah atau bahkan melupakannya. 

Aku masih tak percaya. Aku masih tak percaya itu semua terjadi padaku. 

Apa ... aku kecewa? 

Perlahan, aku mulai sadar. Aku tak menyukai kecerobohanku itu. Dan aku tak bisa menerimanya. Mengingat aku tak pernah melakukan semua kesalahan itu, walau tak pernah membanggakannya, tapi sepertinya memang aku .... 

Kecewa? 

Ah, benar. Aku hanya tak ingat, aku belum pernah mengecewakan apapun. 

Aku tak pernah bangga. Menjadi begitu “tak terlihat” seperti ini, bukan yang sebetulnya kuinginkan. Karena aku melakukan semua ini, sebab ingin menunjukan kalau aku pasti bisa melawan-nya, melawan kematian

Aku ingin menunjukkan kalau aku tak mudah direnggutnya. Walau aku hidup sendirian, tanpa siapapun yang akan menjagaku, aku akan menunjukkan padanya kalau aku bisa melawannya. 

Karena inilah kematian tak pernah datang padaku. Dia tak pernah bisa membunuhku. Karena, bila kau tak ingin terbunuh, maka kau harus membunuh. Dan kau bisa bertahan. 

Untuk terluka seperti ini, jelas saja aku merasa bodoh. Kepalaku tak terluka waktu itu karena aku menutupinya dengan tudung jaket, namun tetap saja aku nyaris pingsan. Seharusnya semua itu tak terjadi. Aku masih tak percaya itu. 

“Meeong ....” Panggilan Snow White menyadarkanku. 

Aku kembali menatap matanya. Yah, sebaiknya aku melepaskan pikiranku dari hal-hal berat seperti itu hari ini, pikirku. 

Aku membelai Snow White. “Iya, aku makan,” kataku. “Setelah itu, nanti kita main, ya.” 

Snow White melompat turun. Aku pun bangun. Kulihat Snow White berlari sambil menggoyang-goyangkan ekornya menuju dapur. 

Aku mendengus. Kelihatannya dia senang. Aku menyusul Snow White ke dapur. Setelah aku mempersiapkan sarapan untukku sendiri, aku makan bersamaan dengan Snow White yang menungguku. 

***

Aku menemani Snow White bermain hari ini. Sesuai janjiku kemarin sebelum Snow White menjerat kakiku dengan benang wol. 

Bicara soal itu, aku tak mengapa-apakan Snow White. Setelah dia lari dari bawah meja waktu itu, aku hanya menyingkirkan benang yang melingkar-lingkar di kakiku. Setelah itu mengambil air minum tanpa mengacuhkan Snow White yang bersembunyi di bawah ranjang. 

Aku dan Snow White bermain seperti biasa. Hanya hari ini, aku memberikan pita merah di sekitar leher Snow White. Pita itu kutemukan di keranjang jahit saat akan mengambil bola gulungan wol putih di sana. Karena kupikir Snow White terlalu polos, jadi kuberi dia hiasan kecil ini. 

Ternyata Snow White belum bosan bermain dengan gulungan wol. Padahal sejak pertama memberikannya, Snow White sering memainkan wol ini. Dan hanya ini satu-satunya mainannya. 

Aku menggelindingkan bola wol. Sebelum Snow White meraihnya, aku menangkapnya dan menggelindingkannya kembali. Lucu melihatnya mengejar-kejar bola wol. Memang belum bosan ternyata. 

Ada banyak hal lucu tentang Snow White. Sejak pertama menemukannya, bahkan sampai sekarang. Dari mulai saat pertama kali kami berpandangan, saat pertama kali memberinya makan, saat membawanya ke sekolah, saat pertama kali memberinya gulungan wol, semuanya. Aku masih ingat. 

Aku tak berpikir akan memiliki seekor hewan peliharaan. Yah, lagi-lagi, aku belum pernah memelihara hewan sebelumnya. Bahkan saat dulu masih dengan keluarga. 

Aku baru sadar sekarang. Selama ini aku tak pernah memikirkan soal teman sekamar atau seperti itu. Aku terlalu sibuk untuk belajar, membereskan rumah dan mempersiapkan rencana. Hal seperti itu selalu kuanggap tak penting. 

“Pernahkah kau mencintai sesuatu begitu dalam? Atau kau belum menyadarinya?” 

Entah kenapa, pertanyaan Marino terbesit di benakku. Entahlah, tapi kurasa aku setuju dengan perkataannya, entah setuju untuk apa. 

Apa memang aku sudah terlanjur sayang pada Snow White? Aku merawatnya seperti dia adalah saudaraku sendiri, keluargaku sendiri. Seakan di dekatnya, aku ada di dekat keluargaku, dan aku akui memang itulah yang kurasakan selama ini. 

Aku mulai sadar. Sudah lama sekali rasanya, aku tidak setenang ini. sudah lama sekali, aku tidak bermain dengan siapapun atau apapun. Sudah lama sekali aku meninggalkan aku yang dulu, aku yang periang. Lama sekali rasanya. 

Tiba-tiba kusadar dari lamunan. Aku ternyata menahan bola wol dengan jemariku terlalu lama. Sekarang, Snow White mulai menggigit jariku. 

Snow White beralih memandangku. “Meowr!” Dan dia melompat ke wajahku. 

“Wua!” Aku kaget. Untung masih bisa menangkap Snow White sebelum cakarnya sampai lebih dulu. 

“Ahahaha ... Snow White.” Akhirnya tawaku pecah juga setelah sejak kemarin Snow White mengagetkan aku. Kucing nakal. Tapi aku tak mau memarahimu karena kau sangat lucu. 

Seharian itu, aku tak memikirkan yang lain lagi. Hanya kami berdua. Aku dan kucing kecilku. 

***

Tak mungkin aku benar-benar meninggalkan agendaku. Michele dan Alicia kemarin malam benar-benar nyaris saja mengetahui siapa aku, aku harus segera memikirkan soal itu. Mau tak mau, aku membuka agendaku menjelang larut malam hari itu. 

Snow White sedang tidur. Sejak setelah makan malam, Snow White meringkuk di atas ranjang dan terlelap di sana. Aku meninggalkannya, lalu mulai sibuk sendiri. 

Aku lihat masih ada beberapa rencana yang belum kulancarkan. Sayang sekali rasanya karena aku rasa sepertinya aku tak akan melancarkannya. Aku hanya bisa mendesah berat. 

Ah, sepertinya aku perlu memikirkan rencana baru. Dan sebaiknya jangan ada korban dulu saat ini. Sekedar rencana untuk meyakinkan Michele dan Alicia kalau orang yang mereka cari ini bukan aku. Yah, memang, terdengar seperti aku akan memfitnah orang lain atau seperti itu. 

Tapi apa itu akan masuk akal? Karena ada Alicia yang dapat mencari tahu banyak hal, sepertinya akan rumit melakukannya. 

Tak terasa, malam semakin larut. Aku baru mendapat beberapa gagasan, itupun banyak yang sudah kucoret dari daftar karena tak memungkinkan kulakukan. 

Aku mulai menepuk wajahku. Ada banyak kemungkinan yang dapat Michele pikir malam ini, dan itu membuatku agak resah saat terpikir akan itu. Saat aku mengangkat kepalaku lagi, kulihat Snow White sudah ada di depanku. Dia duduk di atas meja itu dengan bola gulungan wol di mulutnya. 

Aku tertawa kecil kali ini. Lalu kuambil gulungan wol itu dan berkata, “Baiklah, aku akan memperhatikanmu bermain sebentar. Hanya sebentar, ya.” 

Aku menggelindingkan pelan gulungan itu. Snow White langsung melompat turun dan mengejarnya. Dia tak kembali, hanya melanjutkan bermain sendiri. Aku tetap memperhatikan Snow White bermain. 

Tak kusadari Snow White bermain mendekati teras yang terbuka. Pada akhirnya, bola gulungan wol itu menggelinding ke arah teras. Aku mulai berdiri dan menyusul ke sana, namun saat aku sampai Snow White tak ada di teras. 

“Snow White?” Aku mendekati jari-jari teras dan melihat ke bawah. Kulihat sebuah gulungan putih menggelinding dan seekor kucing kecil berpita merah mengejarnya. 

Ah, iya. Di dekat terasku, di bawah sana, ada sebuah pohon yang salah satu dahannya menjulur tepat ke samping terasku. Di bawah teras ini, ada barang-barang perabotan tak terpakai yang menumpuk. Tak aneh kalau gulungan itu tetap menggelinding ke sana dan Snow White bisa turun untuk mengejarnya. Dan lagi, angin berhembus searah dengan menggelindingnya wol itu. 

Kusadari wol itu menggelinding ke jalan. Snow White tetap mengejarnya. Perasaanku tak enak. Kulihat di kejauhan, sebuah mobil melaju cepat ke arah .... 

“S ... Snow White!!” 

Dan kejadian itu ... begitu cepat. 

***


End of chapter 6 


          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar