Cerbung
A Painful Morning
Episode 1:
A Night Before
Waktu menunjukkan pukul 2 malam. Di saat ini, orang-orang masih terlelap tenang. Bahkan untuk orang-orang yang tak punya banyak waktu untuk tidur, mayoritas mereka memutuskan beristirahat di jam segini.
Salinda bangkit dari ranjangnya. Ia terbangun lagi malam ini. Dan rasanya, kali ini ia tak bisa tidur kembali.
“Uhh ... tidak, itu hanya mimpi ... hanya mimpi ...,” gumam Salinda terus-menerus pada dirinya sendiri. Ia menyeka air mata yang membasahi bulu mata lentiknya dan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Sudah beberapa hari ini Salinda bermimpi buruk. Setiap kali terbangun, ia mendapati pelupuk matanya basah dan tubuhnya berkeringat. Dia akan tetap terjaga untuk beberapa saat, dan kemudian akan kembali mengantuk.
Namun kali ini, Salinda tak mau berharap ia dapat tidur nyenyak kembali. Kegelisahannya terlalu nyata untuk dapat hilang begitu saja.
Beberapa waktu setelahnya, Salinda berganti pakaian. Ia memutuskan untuk memulai rutinitasnya seperti biasa, walau ini terlalu malam untuk itu. Selesai mandi dan mengganti gaun tidurnya, Salinda keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
Rumahnya tingkat, besar dan mewah. Melihat dari besarnya pun, sudah jelas berapa banyak pekerja rumah di sana. Namun ini masih malam hari, Salinda pun tahu kalau dia tak akan menemui seorang pun pelayan saat ini.
Salinda berniat menuju ruang makan. Walau ia sendiri tahu bahwa dirinya tak akan mendapatkan sarapan pada malam hari begini, biarpun dia nona muda di rumah ini.
Tak disangkanya, seorang pelayan pria mendatanginya. Ia mendekati Salinda saat Salinda sudah beberapa langkah menuju anak tangga paling bawah.
“Ah, Nona,” kata pelayan tersebut. “Ada apa Nona terbangun malam-malam seperti ini?”
Salinda membalas dengan tenangnya, “Aku terbangun. Maaf, aku tak bisa menceritakannya.”
“Nona bermimpi buruk?”
Salinda diam sejenak, ragu untuk menjawab. Namun pada akhirnya, Salinda menjawab, “Iya. Kurasa karena aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini.”
Memang, sudah sejak beberapa hari terakhir Salinda telihat resah. Namun ia sendiri tak mau bercerita kenapa.
“Gaun yang bagus Nona,” puji pelayan, membuat Salinda memandangnya.
Sebuah gaun yang menjuntai sampai betisnya. Walau agak polos, gaun itu terlihat santai dan manis.
“Terima kasih.” Salinda tersenyum. “Memang agak jarang kukenakan, tapi sebetulnya aku senang memakai gaun ini.”
Pelayan pria tersenyum simpul. Ia mendengus dan berkata, “Kurasa Nona sudah sangat tertekan. Umm ... maaf saya mengungkitnya lagi.”
Salinda menggeleng. “Kau sangat baik.”
Pelayan itu tertawa kecil membalasnya. Hal itu membuat Salinda terus memperhatikan wajahnya yang muda dan rupawan.
Ada banyak pelayan di sini. Bahkan Salinda tak bisa menghafal wajah mereka satu per satu. Seandainya saja Salinda mengenal pelayannya ini sejak lama, pasti menyenangkan.
“Oh iya, Nona, apakah Anda lapar?” tanya pelayan tersebut.
Wajah Salinda sedikit merona. “Uhm ... iya, sedikit.”
“Kebetulan sekali, saya baru saja mencoba membuat sebuah makanan. Kurasa Nona akan senang.”
“Baiklah, kalau begitu katamu.”
Pelayan pria tersebut membungkuk sedikit. Ia lalu mengisyaratkan pada Salinda untuk mengikutinya. Mereka benar-benar seperti seorang pelayan bersama Tuan Putrinya.
Salinda bertanya, “Apa kita akan ke ruang makan?”
“Kurasa tidak, Nona. Saya berpikir untuk ke meja makan di teras halaman belakang. Nona tak keberatan, bukan?”
“Tentu saja tidak. Aku sangat senang makan di teras halaman belakang.”
Teras halaman belakang yang dimaksud cukup luas. Ada sebuah meja kayu bundar dan empat kursi kayu di sekitar meja. Di salah satu sisi, terdapat tanaman dinding atau vertical garden, banyak bunga serta anggrek yang bermekaran dan harum mewangi.
“Tunggulah sebentar di sini, Nona,” pinta pelayan. “Saya akan kembali membawa hidangannya.”
“Iya,” balas Salinda lembut.
Pelayan pria itu membunguk sedikit. Ia berbalik dan berjalan pergi.
Salinda melihat ke salah satu sisinya. Ia memperhatikan tanaman dinding yang luas ke atas. Jarak dari meja ke tanaman dinding tersebut cukup jauh, jadi aroma bunga dan bau media tanam tak akan tercium jelas untuk Salinda.
Salinda menoleh ke sisi yang lain. Dilihatnya halaman belakang yang cukup luas dan indah. Di dekatnya, ada pancuran air yang terus mengalirkan air yang jatuh menuju kolam di bawahnya. Di atas air di sekitar pinggiran kolam, mengambang bunga-bunga teratai. Ada beberapa tiang lampu taman di halaman belakang, semuanya tengah menyala malam ini. Salinda tak ingat apa biasanya halaman belakang ditinggalkan gelap atau dengan lampu taman yang menyala seperti ini.
Pemandangannya, suara air, aroma bunga, sejuk malam, semuanya membuat relung terasa damai. Hawa malam ini juga tak begitu dingin.
“Aku tak ingat kapan terakhir kali aku mengakui kalau halaman belakang seindah dan setenang ini di malam hari,” gumam Salinda sendiri.
Pelayan pria sebelumnya kembali ke teras halaman belakang. Ia membawa sebuah nampan dengan sebuah gelas dan sebuah mangkuk di atasnya.
“Apa itu?”
“Menu spesial malam ini, khusus untuk Nona.” Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja, sebelum ia memindahkan gelas, mangkuk dan sendok ke hadapan nona mudanya. “Sup muffelo hangat dengan sirup leci.”
Mata Salinda melebar dan berbinar melihatnya. “Kau sangat tahu kalau aku suka sup muffelo, yah?” tuding Salinda sambil meraih sendok dan memandang pelayan di sampingnya.
“Yah, banyak yang tahu kalau Nona Muda sangat menyukai coklat.”
Sup muffelo bisa dibilang semacam hidangan penutup, walau kadang untuk sarapan juga. Merupakan sup coklat cair yang hangat dengan beberapa potongan stroberi, beberapa buah ceri, dan potongan belimbing. Di atasnya diberi krim semprot dan lalu ditaburi lima sendok coklat putih bubuk dengan messes coklat susu. Sebab sup muffelo terasa manis, maka biasanya memang disajikan dengan sirup leci, karena leci rasanya agak masam.
Salinda menyendok ke dasar sup, meraih stoberi. Disendoknya stroberi dan sup coklat dengan krim bersamaan, setelahnya Salinda mengambil bubuk putih dan messes coklat di tengah sekaligus puncak supnya. Salinda pun mencicipi sup dalam sendok itu.
Pelayan di sampingnya bertanya, “Bagaimana rasanya, Nona?”
“Hmm ... bubuk coklat putihnya lebih asin dari biasanya,” tanggap Salinda. “Dan agak lebih pekat, kurasa.”
Pelayannya tersenyum lebih lebar. “Iya, aku menggunakan bahan yang agak berbeda dari biasanya.”
“Ah ... aku mengerti,” gumam Salinda seraya meraih gelas sirup lecinya.
Pelayan di sampingnya berjalan mendekati ujung teras. Ia memandang ke halaman belakang, membelakangi Salinda. Salinda melihatnya berdiri dengan kedua tangannya saling dikaitkan di belakang punggungnya. Sikap pelayan pria itu terlihat royal sekarang.
“Ayahmu, seseorang yang sangat perhatian padamu, ya.”
Salinda menoleh. Tidak biasanya pelayan rumahnya mengajaknya membicarakan sesuatu yang bersifat agak pribadi.
“Dia memberikanmu pohon ceri di sana untuk ulang tahunmu di waktu kecil. Bukankah begitu?”
Salinda kini ikut melihat ke halaman belakang. Ada sebuah pohon cheri di dekat suatu jalan setapak.
Salinda tersenyum tipis. “Iya. Itu sudah lama sekali, sudah 11 tahun yang lalu. Saat itu aku umur 7 tahun.”
“Apa ayahmu tipe orang yang menanyakan hadiah ulang tahun pada putrinya?”
“Dulu iya. Tapi sejak hadiah pohon ceri itu, ayahku selalu memberikanku hadiah ulang tahun tanpa menanyakannya padaku. Walau sebetulnya, sejak dulu pun aku tak pernah meminta apapun untuk ulang tahunku.”
“Kau tak pernah meminta?”
“Tidak. Ayahku ... kurasa dia selalu tahu, apa yang putrinya suka. Ayahku sangat hangat, seperti Ibuku juga. Mereka mendidik dan membesarkanku dengan lembut dan baik. Apapun keputusan mereka, aku selalu akan berakhir menyukainya. Kurasa itu karena Ayah selalu tahu apa yang terbaik untukku.”
Salinda terdiam. Perlahan, senyum tipisnya pudar, dan muncul lagi sebagai senyuman pahit. Pelan sekali, Salinda mendesah berat.
Disadarinya, pelayan pria di sampingnya berbalik. Salinda memandang wajahnya. Tanya yang samar muncul di benaknya, namun ia ragu apa itu. Ada yang berbeda dengan pandangan mata pria itu.
Dingin ....
Pelayan pria itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya. Dengan cepat, ia membekap mulut Salinda. Perlahan-lahan, kesadaran Salinda buyar. Dan ia tak tahu lagi apa yang terjadi.
Kemudian, saat pagi datang, orang-orang berkeliling ke seluruh sisi rumah. Sang ayah dengan wajah khawatirnya turut ke sana ke mari. Kala habis kesabarannya, ia berteriak hingga orang-orang di rumah yang besar tersebut dapat mendengarnya.
“Putriku! Dimana putriku?!”
Next episode
Sweet Chirp
~~~~~
Aduh ... maaf, ya, telat banget. Selanjutnya
gak bakal telat, deh. Kalo telat lagi, hujat aja
Shintanya.
Oya, gimana episode pertamanya? Emang sih,
masih yang awal banget, belum ngejelasin
apa-apa, tapi lumayan kan ya?

0 tanggapan:
Posting Komentar