Cerbung
A Painful Morning
Episode 2:
Sweet Chirp
Ruangan yang cukup terang. Namun sangat sunyi. Rasanya tak terlalu luas atau juga sempit, tapi tak ada barang. Salinda mencoba membuka matanya. Ia mendapati dirinya tergeletak di lantai.
Ruangan ini terang. Namun, warna dinding di setiap sisinya, termasuk langit-langit dan lantainya, berwarna hitam polos, membuat kesan ruangan yang gelap dan luas.
Salinda melihat sebuah pintu putih. Ada sebuah bangku di dekat pintu itu. Salinda berpikir untuk keluar, namun dia tahu pasti ada dua hal yang akan terjadi: pintunya terkunci, atau tidak namun sesuatu yang buruk akan terjadi padanya di luar pintu.
Salinda tahu pasti ia ada di situasi seperti apa.
Salinda memutuskan duduk diam, menunggu. Sesekali, bayangan akan hal buruk terlintas di pikiran Salinda, membuatnya agak resah.
Salinda melihat pakaiannya. Masih bersih, hanya ada sedikit noda debu, tapi cukup kusut. Memikirkan bagaimana ia sampai di ruangan ini, membuatnya khawatir kalau penjahat yang membawanya melakukan tindakan yang tidak-tidak. Walau memang, Salinda juga berpikir, kalau hanya memastikan dari keadaan pakaiannya, rasanya tak akan terlalu menjamin juga.
Teringat olehnya pelayan pria semalam. Salinda tak percaya sama sekali kalau ia melakukan hal itu. Mungkin itu hanya halusinasiku saja, mungkin sebetulnya dia juga pingsan tadi malam karena ulah si penculik ini, agar dapat membawaku, pikir Salinda. Tapi, di saat yang bersamaan, Salinda juga tak bisa melupakan pandangan mata pelayannya malam itu.
Kriet ....
Salinda berpaling menatap pintu. Terlihat seorang pemuda berdiri di sana, menggenggam handel pintu. Wajahnya tersenyum, ramah.
“Selamat pagi,” sapanya lembut seraya melihat arloji di salah satu pergelagan tangannya. “Ini masih jam 6. Kau bangun tepat waktu.”
Dia bukan orang baik, pikir Salinda dengan khawatir.
Salinda tak tertipu dengan wajah mudanya yang kalem dan sapaannya yang hangat. Saat seperti ini bukan tempatnya untuk bersikap seperti itu.
Pemuda itu berjalan mendekat. Atasanya sedikit tersibak, dan nampak sebuah pistol dipinggangnya. Hal itu membuat Salinda was-was dan bergeser mundur sedikit.
Melihatnya, pemuda itu berhenti. Ia pun bertanya dengan wajah bingung, “Kenapa mundur?”
Pemuda ini memang terlihat normal. Namun Salinda pun tahu pasti, terlhat normal di saat seperti ini tentu berarti kebalikannya.
Pemuda itu kembali mendekat. Salinda tetap bergeser mundur, namun tidak dengan penuh kepanikan, karena ia tahu nantinya pun akan terpojok di sudut ruangan. Akhirnya pemuda itu sampai di depannya lebih cepat.
Ia berlutut dan mengangkat dagu Salinda. “Wajahmu pucat,” katanya. “Maaf, ya, tapi aku juga tak punya sarapan untukmu, Nona Muda Salinda.”
Salinda menolehkan wajahnya ke samping. Ia tak berani bertatap mata lebih lama dengan pria muda di depannya. Ia juga tak sedikitpun penasaran, kenapa pemuda ini tahu namanya. Itu sudah jelas di pikirannya.
“Hmm ... mengejutkan sekali. Bukankah kau ini anak konglomerat? Sejak tadi kutunggu di depan pintu, tapi aku tak mendengar apapun.”
Memang benar ternyata pemikiran Salinda sebelumnya.
“Kau jauh lebih pendiam dari yang kukira.”
Obrolan ini tak membuat Salinda tenang.
“Aku ingin dengar suaramu.” Ia meraih dagu Salinda lagi. Salinda khawatir untuk menghindar, jadi ia membiarkan walau tak membuka matanya. “Katakan sesuatu.”
Seandainya bisa, Salinda ingin memohon untuk pergi. Tapi mungkin setelahnya pemuda ini akan tertawa, dan entah apalagi yang akan terjadi setelahnya. Semua hal buruk sudah sangat dekat padanya saat ini.
Tapi kalau dipikir lagi, memang sepertinya ada yang harus ditanyakannya.
Dengan gemetar, Salinda membuka matanya dan angkat suara. “A ... apa yang ... kalian inginkan dari ... ku?”
“Hei, aku belum melakukan apapun, tidak perlu menangis,” katanya sambil tersenyum kecut, seolah merasa bersalah. “Matamu basah begitu.”
Salinda kembali menutup matanya. Salinda mendengar perkataannya barusan sebagai komplain, artinya pemuda ini sebetulnya tak suka seseorang yang cengeng. Dan itu juga sangat berkaitan dengan pemikiran pemuda ini di awal yang terkesan menilai seorang perempuan anak orang kaya sebagai anak manja.
“Tenang saja, kau akan baik-baik saja.”
Itu tak menenangkan Salinda.
“Setidaknya kalau ayahmu melakukan kegiatan penawarannya dengan benar.”
Kali ini Salinda terlonjak. “A ... apa yang kalian lakukan pada ayahku?”
“Akhirnya kau menunjukkan ekspresi yang lain. Yah, bukan apapun yang sangat pribadi, hanya soal bisnis.” Ia berhenti di situ.
Salinda menunggunya bicara lagi. Namun ia rasa pemuda ini tak ingin melanjutkannya lagi.
Walau Salinda tahu dia sengaja, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Ia mengalah dan meminta dengan wajah menunduk, “Aku mohon, jelaskan apa yang sebetulnya kalian inginkan. Kumohon.”
Pemuda itu mendesah sambil tersenyum kecut. “Baiklah, kalau kau memaksa. Aku akan menerangkan dengan lebih baik.”
“Sedang dibutuhkan dana untuk kelompok teroris yang akan membunuh para dewan dan para menteri. Kau tahu, bukan? Tuan Jumanta Susanto punya harta yang melimpah ruah. Jadi, dilakukanlah penawaran pada Tuan Jumanta untuk menyumbangkan 1 miliyar uangnya. Nah, putrinya kami pinjam sebentar, kalau nanti Tuan Jumanta telah memberikan 1 miliyar uangnya dengan baik dan benar dan asli, putrinya akan dikembalikan. Kalau tidak, yah ... mungkin dia sudah tak menginginkan putrinya, ya? Kami beri batas sampai jam 9, kalau dia tak datang ke mari, maka kau milik kami, Nona Salinda Naureluna.”
Pemuda itu mengangkat wajah Salinda. Wajah Salinda sendiri tetap tak berubah, tetap khawatir dan ketakutan.
“Nona, kau mungkin akan selamat kalau ayahmu tak membuang waktu untuk pergi ke kantor polisi.”
“Tapi kalian tak sungguh melarangnya ke sana, bukan?”
“Yap. Untuk apa susah payah melarang ayahmu itu? Toh, pada akhirnya kalaupun dilarang dia tetap akan ke sana juga. Dan dia mungkin akan ke sini dengan tangan kosong, atau bahkan tak akan ke sini.”
Saat mereka tahu polisi sudah datang, aku sudah habis di tangan mereka, pikir Salinda, terbayang akan apa yang terjadi saat itu di khayalannya.
Kriet ....
Pemuda di depan Salinda berkata, “Nah, ini dia dalangnya.” Ia bangun dan menyingkir, membiarkan Salinda melihat siapa yang ada di depan pintu.
Mata Salinda melebar cepat. Terkejut, sangat terkejut. Seolah dengan siapa yang ia lihat membuatnya sadar jelas tentang seluruh kejadian semalam. Pakaiannya memang bukan seragam rapi itu, tapi Salinda yakin sekali ....
Dia adalah pemuda pelayannya semalam.

0 tanggapan:
Posting Komentar