Chapter 2:
Bayangan Hitam
~~~~~
Kadang kalo tau tinggal dikit lagi ending, jadi agak buru-buru. Jadi, sori yak kalo buntut chapter 2 ini agak begitu tu ....
~~~~~
Ray membuang pandang. Dia masih belum mengucapkan apapun lagi. Sementara itu, Ara terus memandangnya dengan bingung. Mereka masih di lapangan rumput, kini duduk dan berusaha berbicara satu sama lain.
"Ray, apa yang terjadi?" tanya Ara lagi untuk yang kesekian kalinya.
Ray tak menjawab. Dia hanya diam memandang rerumputan tinggi.
Ara diam tak mengerti. Dia tetap memandang Ray dengan bingung. Dalam hatinya, dia masih yakin Ray tetap Ray yang dia kenal. Ray tidak berniat buruk padanya. Ray pasti punya alasan yang tetap untuk apa yang baru saja dia lakukan.
Seperti saat itu.
"Ray, kumohon ceritakan padaku, apa yang sebetulnya kau lakukan," pinta Ara.
Ray tetap diam.
"Kau tidak benar-benar berniat menculikku, bukan?"
Ray tak menoleh.
"Kau tidak bermaksud menyakitiku, bukan?"
Dia tak bergeming.
"Ray ...." Ara mendesah berat. Dia sekarang menahan air mata. Entah kenapa, sesuatu yang baru saja terjadi sedikit memukul hatinya. "Kau masih temanku, 'kan?"
Ray menoleh, memandang Ara. Lalu dia menunduk lagi dan mendesah. Ray pun kembali menatap Ara, namun dia belum berbicara. Dia kini hanya memandang Ara dengan pnadangan yang sulit dijelaskan.
Ara tetap menatapnya, menunggunya berbicara.
Ray membuka mulutnya. Namun ternyata dia tertahan, lalu akhirnya mendesah. Dia menunduk sejenak, lalu mengangkatnya lagi menatap dalam kedua mata Ara, namun Ray tak kunjung berbicara. Dia terdiam tanpa kata-kata.
Hal itu tentu membuat Ara sangat bingung. Namun Ara berusaha menyimpan pertanyaannya. Dia menunggu Ray bebicara.
Ray memalingkan wajahnya ke samping. Tak lama kemudian memandang Ara lagi, namun dia tetap tak dapat berkata-kata. Semua kalimat seakan tersendat di tenggorokannya. Ray mengerjap penuh emosi seraya menggeleng singkat, setelah itu Ray diam memandang ke arah lain. Akhirnya dia menyerah, dia tak bisa menjelaskannya.
Ara mengerti itu. Mungkin yang terjadi memang sulit dijelaskan, pikir Ara.
"Umh ...." Ara menyentuh telapak tangan Ray yang tertutup sarung tangan. Ray menoleh padanya perlahan. "Kalau begitu, terima kasih," lanjut Ara.
Ray diam. Namun tak lama kemudian, perlahan-lahan Ray menggeser telapak tangannya dari telapak tangan Ara. "Kau seharusnya tidak berterima kasih padaku, Putri," katanya.
"Kenapa?" tanya Ara.
"Apa kau pikir aku membuatmu lebih aman? Aku pikir aku malah semakin membahayakan nyawamu." Ray mendongakkan kepalanya memandang langit dengan sedikit gelisah.
Tentu Ara tak mengerti. Tak pernah terlintas di benaknya selama mengenal Ray bahkan sampai saat ini bahwa Ray akan menyakitinya. Ara tentu hanya terdiam memandang Ray.
"Ray ... kau masih temanku, bukan?"
Ray menoleh. Kaget, tak menyangka Ara akan menanyakan hal itu, untuk kedua kalinya.
Ara tetap memandang Ray.
Suasana mulai hening. Baik Ray maupun Ara, mereka tak berbicara.
Ray berniat memecah keheningan itu. Dia membuka mulutnya, hendak berbicara lagi, namun lagi-lagi tak ada satu kata pun yang keluar. Semuanya seperti tersendat, atau bahkan menghilang begitu saja dan Ray tak punya apapun yang bisa membuatnya berbicara. Dia seperti benar-benar tercekat kalimat yang pergi begitu saja, pergi sambil mencekiknya hingga dia benar-benar tak dapat mengatakan apapun.
Ara agak terperangah. Menyadari itu, dia mulai diam lebih dalam lagi. Mungkin yang terjadi memang sulit dijelaskan, pikir Ara.
Namun begitu, Ara tetap mempertanyakan apa yang terjadi. Karena dia seharusnya tahu, dia benar-benar terlibat dengan ini.
Ara kembali menoleh pada Ray. Nampaknya Ray masih frustasi karena tak bisa menjelaskan perbuatannya.
"Sudahlah, Ray ...." Ara menumpuk telapak tangannya pelan di atas telapak tangan Ray. "Aku pasti akan tahu nanti," lanjutnya sambil memandang tangannya.
Hening. Suasana tetap hening di antara mereka berdua. Hanya ada angin yang berdesir lembut. Membawa hawa dingin malam di hutan itu.
Suasana di desa kerajaan begitu pekat. Dari arah perkebunan mulai muncul kabut putih pekat yang menjalar menuju rumah-rumah warga. Kabut itu menembus segalanya, masuk ke dalam rumah-rumah dengan kepekatannya. Seluruh warga mulai ketakutan dan keluar dari rumah. Namun mereka tak, tahu apa yang justru menimpa mereka karena itu.
Kabut pekat itu menjalar menuju istana kerajaan. Dia menembus begitu saja dari gerbang dan tembok tinggi pagar istana, hingga akhirnya menembus masuk dengan mudah ke dalam istana. Tak ada yang menyadarinya masuk, karena saat itu pekerja-pekerja istana yang masih tinggal pun telah tertidur. Namun beberapa saat setelah kabut itu menerpa mereka, mereka terbangun, tersentak.
"Ha ... ha ... nafasku ... terasa ... sesak ...!" ringis keras salah seorang mereka.
Semua pekerja istana merintih penuh sesak. Hingga akhirnya mereka benar-benar tak dapat bernafas dan pingsan.
Saat kabut itu memasuki kamar raja dan ratu kerajaan, mereka terbangun. Mereka tak merasa kesesakan, mereka terbangun dengan kaget tak terkira.
"I ... ini ...," Sang Ratu, Afira tak dapat melanjutkan perkataannya.
"Tidak mungkin ... tapi mereka ... ini ...," Raja Lonerare hanya dapat bergumam pada dirinya.
"Bagaimana ini?" tanya Ratu Afira sedikit panik. "Gawat! Mereka pasti sudah di gerbang istana atau lebih dekat lagi. Kita tak bisa pergi!"
"Tidak mungkin mereka datang lagi!" gretak Raja.
"Tapi bagaimana dengan ini? Ini sudah petanda! Mereka benar-benar datang! Mereka sebentar lagi datang! Kita harus bagaimana?"
Raja Lonerare hanya dapat diam.
Di halaman depan kerajaan, beberapa langkah berpijak. Mereka berjalan di sana, menuju ke dalam istana. Entah ada berapa orang di sana, atau mungkin pun mereka bukanlah manusia. Beberapa dari mereka melangkah, namun tak terdengar suara sama sekali. Kabut putih begitu tebal di sekitar mereka, namun itu sama sekali tak mengganggu pandangan mereka.
Seseorang yang berjalan sendiri di paling depan, mengulur sebelah tangannya lurus ke sampingnya–mengisyaratkan mereka untuk berhenti. Semua yang berada di belakangnya pun berhenti, termasuk beberapa yang berterbangan di atas mereka. Dia berbalik menghadap pada pasukannya yang berbaris agak acak dari hadapannya sampai gerbang kerajaan. Jubah kulit yang menjuntai dari punggungnya sampai mata kakinya sedikit berkibar saat dia berbalik. Seutas senyum licik terpampang di wajahnya.
"Habisi mereka!"
Keadaan begitu gelap. Namun di padang rumput itu, cahaya bintang-bintang menyinari dengan terangnya. Ara dan Ray berbaring berdampingan di sana. Di antara mereka, rumput-rumput dibiarkan berdiri, membatasi keduanya. Keduanya nampak canggung, tak satu pun yang menyingkirkan rumput sekedar untuk memandang. Mereka pun lama belum berbicara.
Ara melirik ke rerumputan itu. Dia sebetulnya ingin menyibaknya dan berbicara pada Ray, namun dia ragu. Dia tak tahu apa yang sebaiknya mereka bicarakan saat ini.
Ray melirik sebentar ke rerumputan di sampingnya. Dia ingin menyingkirkan rerumputan itu sejenak dan bicara pada Ara, namun dia ragu. Dia tak tahu harus membicarakan apa.
Mereka hanya memandang bintang-bintang di langit malam. Menikmati keindahan malam yang tak berubah dengan saat pertama mereka bertemu. Ara memang kadang pun memandang bintang-bintang dari beranda kamarnya, namun tak sebanyak dan seindah di lapangan rumput ini. Sebetulnya pun dia selalu merindukan keindahan langit malam di lapangan rumput ini saat pertama kalinya dia bertemu dengan Ray. Ara selalu mengenangnya.
Ray bangun. Dia memandang rerumputan yang berdiri tepat di sebelahnya, membatasinya dan Ara. Dia masih ingin menyibaknya dan berbicara. Namun, lagi-lagi dia ragu.
Ray hanya berbicara. "Tuan Putri, apa tidak sebaiknya kita mencari tempat lain selain dalam hutan ini?"
Ara kembali melirik rerumputan itu. Perlahan, Ara bangun, duduk. "Tapi kemana? Kita tak bisa kembali ke dalam kerajaan lagi, bukan, Ray?"
Ray diam sejenak. Lalu dia berbicara lagi, "Tapi bukankah sebaiknya kita pergi dari sini? Kita tidak mungkin bermalam di hutan ini. Binatang buas ada dimana-mana."
"Tapi kita tak tahu harus kemana lagi. Biarlah untuk semalaman ini kita tidur di lapangan ini. Aku pikir di lapangan ini kita akan baik-baik saja."
"Tapi kita juga tak tahu serangga apa yang ada di lapangan rumput ini, Tuan Putri. Bahkan mungkin saja ada yang mematikan."
"Ray, tidakkah kau ingat sudah berapa lama kita di sini. Tak ada apapun terjadi pada kita. Aku pikir kita akan tetap aman di antara rerumputan ini."
"Tidak, Putri Ara, sebaiknya kita pergi saja."
Ara terdiam. Dia teringat, dia masih belum tahu alasan Ray membawanya kabur dari istana. Mungkin Ray lebih tahu apa yang terbaik saat ini, pikir Ara.
"Baiklah," balas Ara.
Ara dan Ray meletakan tangan di rerumputan yang menghalang mereka. Sejenak mereka ragu, mereka terhenti bersamaan. Saat mereka telah meyakinkan diri dan menyibak rumput itu, baik Ara maupun Ray, mereka membeku. Membisu seketika, memandang wajah satu sama lain. Terhenyak setengah kaget dan setengah ....
Secara bersamaan, mereka membuang muka. Wajah Ara nampak sedikit memerah, begitupun dengan Ray. Keduanya masih tak dapat berbicara.
Ray yang pertama keluar dari perasaannya. "Ayo, Tuan Putri!" ujarnya seraya mengulurkan tangan pada Ara.
Ara menoleh. Dia memandang tangan Ray yang berada di samping lengannya sejenak, lalu memandang wajah Ray, memandang mata Ray yang memperhatikannya. Ray tak berkata-kata, hanya tetap mengulurkan tangannya. Ara mulai kembali memandang tangan Ray. Lalu, Ara menerimanya, dia meletakan tangannya di atas telapak tangan Ray.
Ray menggenggamnya dan berdiri. Ara menyusulnya. Ray melangkah lebih dulu, menuntun Ara keluar dari padang rumput. Ara hanya mengikuti langkah-langkah Ray sambil menggenggam erat telapak tangan Ray yang dibungkus sarung tangan hitam. Angin yang agak dingin berhembus menerpa mereka. Ara tampak sedikit kedinginan saat gaun tidur tipisnya tampak berkibar diterpa angin. Hal itu membuat Ray sedikit mempercepat langkahnya.
Sampai akhirnya, Ray dan Ara kini telah di dalam hutan. Ara mendekatkan dirinya pada Ray seraya mengeratkan genggaman tangannya. Ray dan Ara kini mulai melangkah memasuki kegelapan yang cukup pekat. Sayang Ray tak membawa apapun, dia memang tak banyak berpikir dan mempertimbangkan hal-hal lain selain keputusannya membawa kabur Ara.
"Ray ...," panggil Ara. "Kau yakin ... kita ... akan ...."
"Aku akan menjagamu, Tuan Putri," potong Ray. "Percayalah padaku."
Ara kini bungkam. Dia memutuskan untuk tak berbicara lagi. Kini kedua tangannya menggenggam tangan Ray.
Ray berusaha untuk mengambil langkah yang benar. Dia benar-benar meyakinkan tak ada lubang, genangan besar, batu besar atau apapun yang perlu dia hindari, bila memang ada, dia akan memberitahu Ara. Mereka tak banyak berbicara.
Dalam hati, Ray berharap dia tak mengambil jalan yang salah. Kegelapan yang semakin pekat di sekelilingnya membuatya merasa seperti berjalan dalam kebutaan, sementara Ara sedari tadi menutup rapat kedua matanya.
Srek!
Ray dan Ara seketika berhenti. Jantung mereka berdebar cepat. Mereka begitu waspada.
Srek! Sheek! Srak!
Ara mengeratkan pegangannya. Ray tetap berwaspada. Dia berbalik, memandang ke asal suara itu, walau percuma karena dia hanya memandang kegelapan hutan.
Srhek! Sakk! Sukk! Sreek! Sreeek!
Suara dedaunan semak yang saling berdesir itu terdengar semakin jelas. Seakan sesuatu di sana semakin mendekati mereka. Tak ada suara lain yang terdengar.
Ray dan Ara tetap berwaspada.
Srreeeeekkk!! Shak! Sak!
Ray dan Ara merasakan hawa dingin berhembus cukup cepat menerpa mereka. Untuk sejenak, mereka merasa lega.
"Hanya angin," gumam Ray menanggapi. Dia kembali berbalik ke depan dan kembali mengambil langkah ... tepat saat Ara memekik.
"RAY!!"
Ctas! Sesuatu yang tajam seperti melayang cepat menggores sebelah pipi Ray.
"Aah!" Ray mengusap pipinya, memang terluka.
Ara segera menarik Ray ke belakang. Ray susah-payah mengikuti langkah Ara. Ara berlari cepat menarik sebelah tangan Ray seraya sebelah tangannya mengangkat rok gaun tidurnya yang sepanjang betis. Terkadang Ara berhenti tiba-tiba dan berlari ke arah lain. Ara dan Ray hampir-hampir jatuh-bangun karena berlari dalam kegelapan. Ray yang sangat kesusahan, karena harus mengikuti Ara.
Cukup lama mereka berlarian dalam kegelapan hutan. Hingga mereka melihat sedikit cahaya, namun tak jelas juga mereka memandang–entah itu memang cahaya atau hanya kunang-kunang yang sedari tadi berkelap-kelip di mata mereka. Tiba-tiba mereka terpeleset, ternyata mereka berlari ke sebuah lereng yang cukup dalam. Ray dan Ara menggelinding di lereng rumput dan tanah yang agak sedikit licin itu. Tak ada semak yang menghantam mereka, namun lantai lereng yang berselang rumput kecil dan tanah cukup membuat mereka kotor, belum lagi beberapa kerikil di lereng yang menyakitkan.
Sampainya mereka di dasar lereng itu, barulah mereka berhenti berguling. Ray mengerang ... merintih. Dia memandang Ara di depannya yang telah tak sadarkan diri. Pandangannya kabur, kepalanya sudah benar-benar pusing, tubuhnya lunglai. Kini dia sudah tak mampu lagi bangun.
Di belakang tubuh Ara yang pingsan, seseorang berjalan mendekati mereka. Ray sudah tak dapat memandang orang itu lebih jelas. Pandangan kaburnya kian samar ... semakin samar ... hingga akhirnya hanya ada hitam dalam matanya yang tertutup perlahan.
Ara tetap menatapnya, menunggunya berbicara.
Ray membuka mulutnya. Namun ternyata dia tertahan, lalu akhirnya mendesah. Dia menunduk sejenak, lalu mengangkatnya lagi menatap dalam kedua mata Ara, namun Ray tak kunjung berbicara. Dia terdiam tanpa kata-kata.
Hal itu tentu membuat Ara sangat bingung. Namun Ara berusaha menyimpan pertanyaannya. Dia menunggu Ray bebicara.
Ray memalingkan wajahnya ke samping. Tak lama kemudian memandang Ara lagi, namun dia tetap tak dapat berkata-kata. Semua kalimat seakan tersendat di tenggorokannya. Ray mengerjap penuh emosi seraya menggeleng singkat, setelah itu Ray diam memandang ke arah lain. Akhirnya dia menyerah, dia tak bisa menjelaskannya.
Ara mengerti itu. Mungkin yang terjadi memang sulit dijelaskan, pikir Ara.
"Umh ...." Ara menyentuh telapak tangan Ray yang tertutup sarung tangan. Ray menoleh padanya perlahan. "Kalau begitu, terima kasih," lanjut Ara.
Ray diam. Namun tak lama kemudian, perlahan-lahan Ray menggeser telapak tangannya dari telapak tangan Ara. "Kau seharusnya tidak berterima kasih padaku, Putri," katanya.
"Kenapa?" tanya Ara.
"Apa kau pikir aku membuatmu lebih aman? Aku pikir aku malah semakin membahayakan nyawamu." Ray mendongakkan kepalanya memandang langit dengan sedikit gelisah.
Tentu Ara tak mengerti. Tak pernah terlintas di benaknya selama mengenal Ray bahkan sampai saat ini bahwa Ray akan menyakitinya. Ara tentu hanya terdiam memandang Ray.
"Ray ... kau masih temanku, bukan?"
Ray menoleh. Kaget, tak menyangka Ara akan menanyakan hal itu, untuk kedua kalinya.
Ara tetap memandang Ray.
Suasana mulai hening. Baik Ray maupun Ara, mereka tak berbicara.
Ray berniat memecah keheningan itu. Dia membuka mulutnya, hendak berbicara lagi, namun lagi-lagi tak ada satu kata pun yang keluar. Semuanya seperti tersendat, atau bahkan menghilang begitu saja dan Ray tak punya apapun yang bisa membuatnya berbicara. Dia seperti benar-benar tercekat kalimat yang pergi begitu saja, pergi sambil mencekiknya hingga dia benar-benar tak dapat mengatakan apapun.
Ara agak terperangah. Menyadari itu, dia mulai diam lebih dalam lagi. Mungkin yang terjadi memang sulit dijelaskan, pikir Ara.
Namun begitu, Ara tetap mempertanyakan apa yang terjadi. Karena dia seharusnya tahu, dia benar-benar terlibat dengan ini.
Ara kembali menoleh pada Ray. Nampaknya Ray masih frustasi karena tak bisa menjelaskan perbuatannya.
"Sudahlah, Ray ...." Ara menumpuk telapak tangannya pelan di atas telapak tangan Ray. "Aku pasti akan tahu nanti," lanjutnya sambil memandang tangannya.
Hening. Suasana tetap hening di antara mereka berdua. Hanya ada angin yang berdesir lembut. Membawa hawa dingin malam di hutan itu.
***
Suasana di desa kerajaan begitu pekat. Dari arah perkebunan mulai muncul kabut putih pekat yang menjalar menuju rumah-rumah warga. Kabut itu menembus segalanya, masuk ke dalam rumah-rumah dengan kepekatannya. Seluruh warga mulai ketakutan dan keluar dari rumah. Namun mereka tak, tahu apa yang justru menimpa mereka karena itu.
Kabut pekat itu menjalar menuju istana kerajaan. Dia menembus begitu saja dari gerbang dan tembok tinggi pagar istana, hingga akhirnya menembus masuk dengan mudah ke dalam istana. Tak ada yang menyadarinya masuk, karena saat itu pekerja-pekerja istana yang masih tinggal pun telah tertidur. Namun beberapa saat setelah kabut itu menerpa mereka, mereka terbangun, tersentak.
"Ha ... ha ... nafasku ... terasa ... sesak ...!" ringis keras salah seorang mereka.
Semua pekerja istana merintih penuh sesak. Hingga akhirnya mereka benar-benar tak dapat bernafas dan pingsan.
Saat kabut itu memasuki kamar raja dan ratu kerajaan, mereka terbangun. Mereka tak merasa kesesakan, mereka terbangun dengan kaget tak terkira.
"I ... ini ...," Sang Ratu, Afira tak dapat melanjutkan perkataannya.
"Tidak mungkin ... tapi mereka ... ini ...," Raja Lonerare hanya dapat bergumam pada dirinya.
"Bagaimana ini?" tanya Ratu Afira sedikit panik. "Gawat! Mereka pasti sudah di gerbang istana atau lebih dekat lagi. Kita tak bisa pergi!"
"Tidak mungkin mereka datang lagi!" gretak Raja.
"Tapi bagaimana dengan ini? Ini sudah petanda! Mereka benar-benar datang! Mereka sebentar lagi datang! Kita harus bagaimana?"
Raja Lonerare hanya dapat diam.
Di halaman depan kerajaan, beberapa langkah berpijak. Mereka berjalan di sana, menuju ke dalam istana. Entah ada berapa orang di sana, atau mungkin pun mereka bukanlah manusia. Beberapa dari mereka melangkah, namun tak terdengar suara sama sekali. Kabut putih begitu tebal di sekitar mereka, namun itu sama sekali tak mengganggu pandangan mereka.
Seseorang yang berjalan sendiri di paling depan, mengulur sebelah tangannya lurus ke sampingnya–mengisyaratkan mereka untuk berhenti. Semua yang berada di belakangnya pun berhenti, termasuk beberapa yang berterbangan di atas mereka. Dia berbalik menghadap pada pasukannya yang berbaris agak acak dari hadapannya sampai gerbang kerajaan. Jubah kulit yang menjuntai dari punggungnya sampai mata kakinya sedikit berkibar saat dia berbalik. Seutas senyum licik terpampang di wajahnya.
"Habisi mereka!"
***
Keadaan begitu gelap. Namun di padang rumput itu, cahaya bintang-bintang menyinari dengan terangnya. Ara dan Ray berbaring berdampingan di sana. Di antara mereka, rumput-rumput dibiarkan berdiri, membatasi keduanya. Keduanya nampak canggung, tak satu pun yang menyingkirkan rumput sekedar untuk memandang. Mereka pun lama belum berbicara.
Ara melirik ke rerumputan itu. Dia sebetulnya ingin menyibaknya dan berbicara pada Ray, namun dia ragu. Dia tak tahu apa yang sebaiknya mereka bicarakan saat ini.
Ray melirik sebentar ke rerumputan di sampingnya. Dia ingin menyingkirkan rerumputan itu sejenak dan bicara pada Ara, namun dia ragu. Dia tak tahu harus membicarakan apa.
Mereka hanya memandang bintang-bintang di langit malam. Menikmati keindahan malam yang tak berubah dengan saat pertama mereka bertemu. Ara memang kadang pun memandang bintang-bintang dari beranda kamarnya, namun tak sebanyak dan seindah di lapangan rumput ini. Sebetulnya pun dia selalu merindukan keindahan langit malam di lapangan rumput ini saat pertama kalinya dia bertemu dengan Ray. Ara selalu mengenangnya.
Ray bangun. Dia memandang rerumputan yang berdiri tepat di sebelahnya, membatasinya dan Ara. Dia masih ingin menyibaknya dan berbicara. Namun, lagi-lagi dia ragu.
Ray hanya berbicara. "Tuan Putri, apa tidak sebaiknya kita mencari tempat lain selain dalam hutan ini?"
Ara kembali melirik rerumputan itu. Perlahan, Ara bangun, duduk. "Tapi kemana? Kita tak bisa kembali ke dalam kerajaan lagi, bukan, Ray?"
Ray diam sejenak. Lalu dia berbicara lagi, "Tapi bukankah sebaiknya kita pergi dari sini? Kita tidak mungkin bermalam di hutan ini. Binatang buas ada dimana-mana."
"Tapi kita tak tahu harus kemana lagi. Biarlah untuk semalaman ini kita tidur di lapangan ini. Aku pikir di lapangan ini kita akan baik-baik saja."
"Tapi kita juga tak tahu serangga apa yang ada di lapangan rumput ini, Tuan Putri. Bahkan mungkin saja ada yang mematikan."
"Ray, tidakkah kau ingat sudah berapa lama kita di sini. Tak ada apapun terjadi pada kita. Aku pikir kita akan tetap aman di antara rerumputan ini."
"Tidak, Putri Ara, sebaiknya kita pergi saja."
Ara terdiam. Dia teringat, dia masih belum tahu alasan Ray membawanya kabur dari istana. Mungkin Ray lebih tahu apa yang terbaik saat ini, pikir Ara.
"Baiklah," balas Ara.
Ara dan Ray meletakan tangan di rerumputan yang menghalang mereka. Sejenak mereka ragu, mereka terhenti bersamaan. Saat mereka telah meyakinkan diri dan menyibak rumput itu, baik Ara maupun Ray, mereka membeku. Membisu seketika, memandang wajah satu sama lain. Terhenyak setengah kaget dan setengah ....
Secara bersamaan, mereka membuang muka. Wajah Ara nampak sedikit memerah, begitupun dengan Ray. Keduanya masih tak dapat berbicara.
Ray yang pertama keluar dari perasaannya. "Ayo, Tuan Putri!" ujarnya seraya mengulurkan tangan pada Ara.
Ara menoleh. Dia memandang tangan Ray yang berada di samping lengannya sejenak, lalu memandang wajah Ray, memandang mata Ray yang memperhatikannya. Ray tak berkata-kata, hanya tetap mengulurkan tangannya. Ara mulai kembali memandang tangan Ray. Lalu, Ara menerimanya, dia meletakan tangannya di atas telapak tangan Ray.
Ray menggenggamnya dan berdiri. Ara menyusulnya. Ray melangkah lebih dulu, menuntun Ara keluar dari padang rumput. Ara hanya mengikuti langkah-langkah Ray sambil menggenggam erat telapak tangan Ray yang dibungkus sarung tangan hitam. Angin yang agak dingin berhembus menerpa mereka. Ara tampak sedikit kedinginan saat gaun tidur tipisnya tampak berkibar diterpa angin. Hal itu membuat Ray sedikit mempercepat langkahnya.
Sampai akhirnya, Ray dan Ara kini telah di dalam hutan. Ara mendekatkan dirinya pada Ray seraya mengeratkan genggaman tangannya. Ray dan Ara kini mulai melangkah memasuki kegelapan yang cukup pekat. Sayang Ray tak membawa apapun, dia memang tak banyak berpikir dan mempertimbangkan hal-hal lain selain keputusannya membawa kabur Ara.
"Ray ...," panggil Ara. "Kau yakin ... kita ... akan ...."
"Aku akan menjagamu, Tuan Putri," potong Ray. "Percayalah padaku."
Ara kini bungkam. Dia memutuskan untuk tak berbicara lagi. Kini kedua tangannya menggenggam tangan Ray.
Ray berusaha untuk mengambil langkah yang benar. Dia benar-benar meyakinkan tak ada lubang, genangan besar, batu besar atau apapun yang perlu dia hindari, bila memang ada, dia akan memberitahu Ara. Mereka tak banyak berbicara.
Dalam hati, Ray berharap dia tak mengambil jalan yang salah. Kegelapan yang semakin pekat di sekelilingnya membuatya merasa seperti berjalan dalam kebutaan, sementara Ara sedari tadi menutup rapat kedua matanya.
Srek!
Ray dan Ara seketika berhenti. Jantung mereka berdebar cepat. Mereka begitu waspada.
Srek! Sheek! Srak!
Ara mengeratkan pegangannya. Ray tetap berwaspada. Dia berbalik, memandang ke asal suara itu, walau percuma karena dia hanya memandang kegelapan hutan.
Srhek! Sakk! Sukk! Sreek! Sreeek!
Suara dedaunan semak yang saling berdesir itu terdengar semakin jelas. Seakan sesuatu di sana semakin mendekati mereka. Tak ada suara lain yang terdengar.
Ray dan Ara tetap berwaspada.
Srreeeeekkk!! Shak! Sak!
Ray dan Ara merasakan hawa dingin berhembus cukup cepat menerpa mereka. Untuk sejenak, mereka merasa lega.
"Hanya angin," gumam Ray menanggapi. Dia kembali berbalik ke depan dan kembali mengambil langkah ... tepat saat Ara memekik.
"RAY!!"
Ctas! Sesuatu yang tajam seperti melayang cepat menggores sebelah pipi Ray.
"Aah!" Ray mengusap pipinya, memang terluka.
Ara segera menarik Ray ke belakang. Ray susah-payah mengikuti langkah Ara. Ara berlari cepat menarik sebelah tangan Ray seraya sebelah tangannya mengangkat rok gaun tidurnya yang sepanjang betis. Terkadang Ara berhenti tiba-tiba dan berlari ke arah lain. Ara dan Ray hampir-hampir jatuh-bangun karena berlari dalam kegelapan. Ray yang sangat kesusahan, karena harus mengikuti Ara.
Cukup lama mereka berlarian dalam kegelapan hutan. Hingga mereka melihat sedikit cahaya, namun tak jelas juga mereka memandang–entah itu memang cahaya atau hanya kunang-kunang yang sedari tadi berkelap-kelip di mata mereka. Tiba-tiba mereka terpeleset, ternyata mereka berlari ke sebuah lereng yang cukup dalam. Ray dan Ara menggelinding di lereng rumput dan tanah yang agak sedikit licin itu. Tak ada semak yang menghantam mereka, namun lantai lereng yang berselang rumput kecil dan tanah cukup membuat mereka kotor, belum lagi beberapa kerikil di lereng yang menyakitkan.
Sampainya mereka di dasar lereng itu, barulah mereka berhenti berguling. Ray mengerang ... merintih. Dia memandang Ara di depannya yang telah tak sadarkan diri. Pandangannya kabur, kepalanya sudah benar-benar pusing, tubuhnya lunglai. Kini dia sudah tak mampu lagi bangun.
Di belakang tubuh Ara yang pingsan, seseorang berjalan mendekati mereka. Ray sudah tak dapat memandang orang itu lebih jelas. Pandangan kaburnya kian samar ... semakin samar ... hingga akhirnya hanya ada hitam dalam matanya yang tertutup perlahan.

terus terang saya tidak terlalu suka sama cerita fantasi, kecuali kalau memang bagus hehehe
BalasHapusHehe... kalo cerita aku masuk ke fantsi bagus atau ... gimana ya?
Hapus