Minggu, 26 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 4 || Dering Bel Pagi ini ||


Reprisals Blood of the Tiger 



PART 4 
Dering Bel Pagi ini 




Leo mengecek kembali penampilannya di cermin. Dia sekarang telah rapi dengan seragam sekolahnya. Kemeja putih panjang dengan jas biru, juga celana biru panjang dan sepatu hitam. Baru pertama kalinya bagi Leo dia mengenakan seragam sekolah. 

Leo mulai iseng bergaya di depan cermin. Dia menyanggul sebelah tali ransel biru gelapnya di sebelah bahunya dan berkacak pinggang dengan tangan sebelahnya lagi. Di wajahnya, dia menyunggingkan senyum miring. 

"Aku keren juga ternyata," tanggap Leo setengah bergurau dengan bayangannya. 

Leo menyudahi posenya. Dia mulai menggendong ransel di kedua bahunya dan pergi dari kamar. Dia lekas pergi ke ruang makan untuk sarapan. Di ruang makan, kedua orang tuanya dan adiknya, Cheryl telah duduk di sana menunggunya. 

"Pagi, Pa! Ma!" sapa Leo cerah. Dia langsung melepas ransel dan duduk di salah satu kursi yang kosong. 

"Pagi, Sayang," balas Bu Maria. Lalu beliau ikut bergabung duduk di kusinya. "Bagaimana? Sudah siap untuk sekolah hari ini?" tanya Bu Maria pada Leo. 

"Tentu saja!" jawab Leo mantap. 

Pak Waston turut tersenyum pada Leo. Beliau lalu berkata, "Papa yakin kamu bisa berteman baik dengan teman-temanmu nanti." 

"Iya," balas Leo, mulai berpaling pada Pak Waston. "Aku sudah tidak sabar ingin segera ke sekolah, Pa." 

Bu Maria tertawa kecil mendengarnya. "Jangan lupa ...," pesannya. "Belajar yang baik, ya, supaya kamu jadi anak pintar." 

Leo mengangguk. Dia mulai menoleh pada Cheryl. Adiknya itu menggunakan seragam yang tak jauh berbeda, hanya tak mengenakan jas, melainkan sweater biru muda. Dan rambut coklatnya yang panjang dikucir tinggi satu di belakang-kiri kepalanya dengan pita merah yang terlihat tak berbeda dengan yang kemarin ia kenakan. 

"Cheryl, kamu lucu juga, ya, kalau seperti itu," goda Leo, iseng. 

"Kak Leo ...," gumam Cheryl setengah malu-malu dan setengah mengelak. Sepertinya dia sudah tahu kalau Leo memang menjahilinya.

Leo tertawa geli.

***

Leo pergi ke ruang guru di temani Cheryl. Sebelum sampai di ruang guru, seorang guru yang lewat menegur mereka.

"Ah, tunggu sebentar," sergah pak guru itu. "Kau ini murid baru itu, ya?" 

Leo menjawab, "Iya, Pak." 

"Wah, kebetulan sekali," kata guru itu. "Aku wali kelasmu. Kau bisa ikut denganku kalau begitu." 

"Oh, begitu?" Leo mulai berpaling memandang Cheryl. "Kalau begitu kamu pergi ke kelasmu saja. Terima kasih, ya, Cheryl." 

"Iya, Kak," balas Cheryl. Lalu dia berbalik dan pergi. 

"Ayo," ajak Pak guru, tepat setelah Cheryl berbalik. 

Leo mengangguk. Lalu mereka berjalan pergi. Leo membuntuti gurunya berjalan melewati koridor demi koridor. Beberapa kali saat dia melewati jendela kelas, beberapa murid menoleh padanya. Leo hanya melempar senyum pada mereka. 

Leo memandang gurunya sejenak. Lalu dia mulai bertanya, "Maaf, Pak, siapa nama Bapak?" 

Gurunya berbalik sejenak. "Panggil saja Bapak, Pak Rommy," jawab Pak Rommy sambil tersenyum. 

Leo membalas senyuman itu. "Baik, Pak."

Tak berapa lama, gurunya akhirnya membuka sebuah pintu kelas. Dan gurunya pun memasukinya, Leo mengikutinya masuk ke dalam kelas. Di kelas, keadaan cukup sepi dan rapi. Tak banyak suara saat mereka masuk, hanya beberapa sedikit murid yang berlari kembali ke kursinya tanpa banyak suara. Dan saat Leo dan gurunya di depan kelas, nampak beberapa murid saling berbisik.

"Selamat pagi, Anak-anak!" sapa Pak Rommy membuka kelasnya. 

"Selamat pagi, Pak!!" balas murid-murid di kelas kompak. 

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru di kelas kita," kata Pak Rommy, lalu berpaling memandang Leo. Pak Rommy memberi isarat pada Leo untuk memperkenalkan dirinya. 

Leo memasang senyum memandang seisi kelas. "Hai, semuanya! Namaku Leo Seridine. Kalian bisa memanggilku Leo. Senang bertemu dengan kalian semua." 

Kali ini beberapa anak nampak saling berbisik lagi. Mereka saling tersenyum pada satu sama lain. Beberapa anak perempuan yang duduk agak jauh dari depan kelas terdengar saling tertawa kecil. 

Saat itu, Leo terpaku pada satu wajah. Seorang anak perempuan yang duduk di belakang kelas. Dia anak perempuan yang Leo lihat tadi malam. Sekarang pun perempuan itu tersenyum lagi padanya sambil melambaikan seblah tangannya. Leo hanya dapat memberikan senyumannya.

"Nah, Leo," kata Pak Rommy. "Sekarang kau boleh duduk di bangku kosong yang ada di belakang itu." 

"Terima kasih, Pak," balas Leo. Dia lalu berjalan menuju bangku di pojok belakang yang kosong. 

Leo duduk tepat di sebelah perempuan itu. Setelah melepas tas, Leo kembali memandang perempuan di sebelahnya. Perempuan itu kali ini hanya tersenyum padanya. 

"Sekarang, mari kita cek absensi kelas hari ini," kata Pak Rommy seraya membuka laci di meja gurunya.

Leo memandang sekitar. Kelas itu terlihat rapi dan bersih. Pasti senang menjadi murid sekolah, pikir Leo. 

"Psst ...! Hei! Hei, Leo!" seorang anak laki-laki di depannya memanggil. 

Leo menoleh padanya. 

"Kenalkan, namaku Karel," katanya. 

Leo tersenyum. "Senang berkenalan denganmu."

"Hei, salam kenal juga dariku," panggil anak laki-laki yang duduk tepat di sebelah Karel. "Namaku Danniel." 

"Salam kenal juga, Danniel," balas Leo. 

Karel berkata, "Hei, bagaimana kalau kita duduk semeja saat makan siang nanti?"

Danniel membalas semangat, "Ide bagus! Kau mau?" 

"Tentu," jawab Leo.

***

Tiba waktu makan siang. Leo berjalan bersama Karel dan Danniel ke ruang makan kantin. Mereka bergabung dengan barisan untuk antri mengambil makan siang. Sambil menunggu giliran mengambil makanan, mereka mengobrol. 

"Kau pintar juga, ya," puji Danniel pada Leo. "Tidak banyak, lho, yang bisa menjawab rumus matematika dari Bu Milley. Apalagi Bu Milley itu galak." 

Karel ikut memanggut-manggut. "Benar. Aku salut, kau bisa mencuri senyum Bu Milley di hari pertamamu di sekolah ini."

"Terima kasih," balas Leo. 

"Kamu les dimana?" tanya Karel. 

"Aku tidak penah ikut les," jawab Leo. "Aku belajar sendiri." 

"Sungguh? Wah, kau cedas sekali kalau begitu," puji Danniel lagi. Kali ini dia berdecak sambil menggeleng dan menepuk-tepuk punggung Leo. 

"Ahaha ... biasa saja, ah." Leo menepis pelan tangan Danniel. 

"Oya, kau dari keluarga Seridine?" kilas Karel. "Berarti kau ini kakak ... eehh ... siapa, ya, namanya itu ...."

"Cheryl!" balas Danniel mengingatkan. "Oh iya, benar, juga. Apa benar kau kakaknya?" 

Mereka menyadari telah selesai mengambil makanan. Sekarang mereka berjalan menuju meja yang kosong untuk mereka. Untunglah mereka temukan salah satu meja yang kosong yang letaknya tepat di sebelah jendela. Mereka duduk bersama di sana.

"Iya, aku kakaknya," jawab Leo sambil menusuk susu kotaknya dengan sedotan. Lalu meminumnya.

Karel dan Danniel saling bertatapan. Pandangan mereka datar.

Leo melirik ke arah lain. Seorang perempuan terlihat sedang membawa baki makanannya, sepertinya dia baru selesai mengambil makanan. Leo memanggilnya. 

"Hei! Nona, hei!" panggil Leo seraya tersenyum dan melambaikan tangannya. 

Karel mulai teralih kembali pada Leo. Danniel menyusulnya kembali memandang Leo yang duduk di seberang mereka berdua. 

Perempuan itu memandangnya dan membalas senyumannya. Dia tetangga Leo itu. 

"Sini! Ke sini!" panggil Leo lagi. 

Perempuan itu menurutinya. Dia mendatangi meja Leo dan duduk di sebelah Leo. Karel dan Danniel tampak sedikit terkejut melihat perempuan itu mendatangi mereka. 

"Whoaa ...," gumam Karel. "Kamu? Kamu yang dipanggil ...?" Karel seolah tak percaya Leo memanggil perempuan itu. 

"Hai, Karel, Danniel," sapanya hangat pada dua teman sekelas di depannya.

"Hei, kau yang kemarin memperatikan langit di jendela kamarmu itu, bukan?" tanya Leo. 

Perempuan itu tersenyum pada Leo. "Kau tetangga baruku itu, ya?" 

"Aku senang ternyata kita bisa bertemu di sekolah hari ini," ujar Leo. 

Dia tertawa kecil. "Namaku Fiona Bryanne. Panggil saja aku Fiona." 

"Wah, namamu bagus sekali," tanggap Leo tulus. 

"Terima kasih. Namamu juga," balas Fiona lembut. 

"Ya ampun," kata Danniel, menyela percakapan Leo dan Fiona. "Jadi kalian bertetangga?" 

Leo mengangguk. "Iya." 

"Beruntung sekali kau," gumam Danniel. 

Leo dan Fiona tertawa kecil. Melihat ekspresi Danniel yang terlihat diantara kaget dan tak percaya yang memang lucu. Wajah Karel bahkan tak jauh berbeda.

Leo melirik Fiona. Tepatnya pada pita putih yang mengikat rambut hitam Fiona yang lurus dan panjang. Pita itu terlihat tak terlalu mengikat rambutnya, hanya tersimpul di depan bahu Fiona saja. 

"Fiona, kau tak mengikat tinggi rambutmu seperti yang lain?" tanya Leo. 

Fiona memandang pita putihnya. Setelah itu dia tersenyum memandang Leo. "Iya. Sebetulnya aku tak begitu pintar mengikat rambutku, jadi aku hanya mengikatnya di sini," jelas Fiona seraya menyentuh simpul pitanya.

Leo tahu sekali. Fiona sebetulnya hanya sedang menundukkan kepalanya karena malu. 

Tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Leo begitu kasar. Leo pun terdorong ke depan, nyaris saja membentur meja seandainya kedua tangannya tak menahan. Leo menoleh pada empunya tangan itu, seorang anak laki-laki sebayanya terlihat tersenyum sinis padanya. Di samping anak laki-laki itu, ada beberapa anak lain.

"Ups ... sepertinya aku mendorong seseorang, ya?" tandasnya masih tersenyum. 

"Mau apa ke sini, kau?" tanya Danniel kasar pada anak laki-laki itu. 

Dia melirik Danniel. "Oh, Dan, apa kabar tanganmu yang hampir patah di pertandingan basket minggu lalu? Sudah baikan?"

"Dasar licik!" umpat Danniel seraya berdiri. Dia menggerakan tangannya cepat hendak menarik seragam anak itu, namun anak itu lebih tanggap dan cepat hingga tangan Danniel hanya meraih angin. Teman-temannya di sampingnya menertawai itu.

"Sudahlah, Crish, kami tidak mau ribut dengan kalian hari ini," kata Karel. 

Anak itu menggedikan kedua bahunya. "Aku sebetulnya tidak ada urusan dengan kalian berdua," katanya. Dia lalu memandang Leo. "Tapi aku ingin tahu soal dia." 

"Aku Leo." Leo tersenyum padanya, mencoba ramah. Sebetulnya dia sudah tidak suka anak di depannya ini.

Anak itu menyeringai, "Heh, anak yang sungguh polos." Teman-teman di belakangnya tertawa kecil sambil saling berpandangan, ikut menyeringai.

Leo mulai tak suka suasana ini. "Maaf, sebetulnya apa yang ingin kau tahu?" 

Anak itu kini melengos. Lalu dia mendekatkan wajahnya pada wajah Leo. "Kau ini sebetulnya ingin sok baik, terlihat baik, atau bagaimana, hm?" 

"Kalau tidak ada urusan, bisa kau pergi?" pinta Leo masih berusaha sopan.

Anak itu mulai menjauh. Dia memandangi Leo dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan dingin. Lalu mempertemukan pandang dengan pandangan Leo. Beberapa anak di meja lain mulai memperhatikan mereka berdua. Tak begitu lama setelah itu, anak itu pergi.

Danniel kembali duduk di tempatnya. Dia medengus sebal. Karel di sampingnya terlihat berwajah kusut sambil menyuap makanan ke mulutnya. Di samping Leo, Fiona hanya mendengus lelah.

"Dasar menyebalkan," umpat Danniel masih tampak kesal.

Leo memandang kedua temannya di seberang meja itu. "Danniel, katanya tanganmu hampir patah?"

Danniel mendesah kasar. "Iya, minggu lalu. Tim basketku waktu itu ada sparring melawan timnya. Dia menang dengan curang, dia bermain kasar dengan semua anggota timku. Semua dari kami cidera hari itu."

"Namanya Crishie," tutur Fiona lembut. "Dia memang sering mencari masalah di sekolah ini bersama teman-temannya tadi. Kami bertiga termasuk yang sering diganggu olehnya."

"Kau juga pernah?" tanya Leo dengan nada seolah tak percaya.

"Ya," jawab Karel mewakili. "Dia pernah hampir dikeroyok oleh mereka hanya karena tak mau membantu mereka mencuri kunci jawaban ujian kenaikan kelas."

"Hah? Benarkah?" tanya Leo lagi.

"Tentu saja," jawab Karel. Kali ini Karel memandang Leo. "Mereka tak akan segan-segan bermain tangan pada siapapun yang berurusan dengan mereka."

Fiona menegur, "Dan sepertinya kamu juga harus berhati-hati, Leo. Crish sepertinya tak suka denganmu."

"Ah, terima kasih, Fiona," balas Leo.

Beberapa meja dari sana, Crish memperhatikannya. Crish memang sangat tak suka dengan Leo yang menurutnya sok akrab dan terlalu murah senyum.

"Anak baru itu sangat menjengkelkan," bisik salah satu temannya padanya.

"Ya," balas Crish. "Karena itu kita harus memberinya pelajaran."

"Sebaiknya kita apakan dia?" tanya temannya yang lain seraya menyeringai.

"Hmm ... aku ada rencana yang bagus. Kemarilah!" titah Crish seraya memberi isyarat pada teman-temannya untuk mendekat. Dan teman-temannya menurut, Crish pun berbisik pada mereka.

Leo memperhatikan sikap mereka. Dia tahu Crish sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjainya. Dia tidak tahu pasti apa yang akan Crish lakukan, tapi Leo tahu Crish pasti akan melakukannya. Padahal aku belum melakukan kesalahan apapun padanya, bathin Leo, tak habis pikir atas Crish.

***

Tiba waktu pulang sekolah. Leo berjalan keluar kelas bersama Karel, Danniel dan Fiona. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju gerbang sekolah.

"Hei, Fiona," panggil Danniel. "Aku tidak paham pelajaran Sejarah tadi. Bisakah kau bantu aku mengerjakan PR-nya? Kau, 'kan, pandai di pelajaran Sejarah."

"Baiklah," balas Fiona sambil tersenyum ramah. "Ke rumahku saja besok lusa, nanti aku bantu."

"Fiona, aku juga tidak begitu paham," imbuh Karel. "Boleh aku ikut?"

"Ya sudah," jawab Danniel. "Kau mau ikut, Leo?"

Leo tersenyum. "Kalau boleh, aku juga ingin belajar bersama kalian."

"Eh eh! Tunggu sebentar!" tahan Karel di depan mereka. "Leo, bukankah kau seharusnya menunggu adikmu dulu?"

"Oh, iya," balas Leo seraya celingukan. "Kelas empat sudah pulang belum, ya?"

"Pasti sudah," jawab Danniel sambil memulai berjalan lagi. Teman-temannya pun mengikutinya.

"Leo, kau berjalan kaki?" tanya Fiona.

"Iya. Memangnya ada apa?"

"Wah, berarti nanti kita bisa pulang bersama. Aku juga berjalan kaki."

Karel mencibir. "Kalau begini, Leo malah akan lebih akrab denganmu saja, dong," katanya.

Leo tertawa kecil. "Tidak juga. Kalian juga lebih menyenangkan."

"Penjilat! Kalian, 'kan, bertetangga," balas Karel.

Leo tersenyum miring. Lalu dia berkata, "Oooh ... jadi kau cemburu?"

"Hah? Apa? Tentu tidak! Untuk apa aku cemburu? Aneh-aneh saja," kilah Karel.

Danniel di sampingnya hanya meliriknya remeh. Leo dan Fiona tertawa memperhatikannya.

Tak berapa lama, seorang anak kecil mendekati mereka. Dia berlari dan langsung menyembunyikan diri dibalik badan Leo. Leo sudah bisa menebak siapa itu.

"Cheryl ...," panggil Leo seraya berusaha melihat adiknya yang bersembunyi di balik punggungnya.

Cheryl tak membalas. Dia meremas jas Leo sambil bergeming gemetaran. Wajahnya dia tutupi di punggung Leo.

"Ada apa dengannya, Leo?" tanya Fiona lembut.

"Ah, dia memang pemalu. Sepertinya dia tak terbiasa berhadapan dengan kakak kelas," balas Leo.

"Ya, apalagi yang berwajah menyeramkan seperti dia," gurau Karel seraya menunjuk Danniel. Danniel hanya menyikut lengan Karel. Sebetulnya wajah Danniel tak begitu garang.

"Sudah, Cheryl. Ayo kita pulang!" ajak Leo dengan nada tenang.

Cheryl mengintip sedikit. Lalu dia meraih tangan Leo sambil berjalan ke samping Leo dengan kepala menunduk. Leo pun melanjutkan langkahnya sambil menggandeng Cheryl. Teman-temannya mengikuti di sampingnya.

"Daaahh! Sampai besok!" seru Karel berpamit saat di depan gerbang sekolah.

Mereka memisah di depan gerbang sekolah. Karel dan Danniel pergi searah. Sekarang tinggal Leo, Cheryl, dan Fiona, berjalan pulang bersama. Di jalan, Leo dan Fiona banyak mengobrol. Hanya Cheryl yang tak begitu sering ikut berbicara, dia malah lebih sering menengok ke belakangnya.

"Dah, Leo! Sampai nanti!" pamit Fiona saat mereka ada di depan rumah Fiona.

Leo melambai dan melanjutkan jalannya. Tepat saat itu, Cheryl menarik tangannya, berlari ke rumah. Leo pun bersusah payah mengikuti langkah adiknya. Cheryl baru berhenti menarik tangan Leo saat mereka telah sampai di halaman depan rumah mereka. Leo hanya mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepala menanggapinya.

***




To be continued ...

0 tanggapan:

Posting Komentar