Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Sabtu, 18 April 2015

Blue-Cold Glass (1.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, Part 3 
--—Snow White—--






Pemuda di sana hanya memandang sekeliling. Dia lalu melompat dari koridor dan berjalan mendekat. Nampaknya dia masih belum menyadariku. Aku berjalan mendekati ujung bayangan pohon untuk memastikannya melihatku.

Dan Joanne mulai menyadariku.

“Oh? Bukankah kau pecun tadi siang itu?” tanyanya seraya mulai tersenyum sinis.

Aku tak berniat berjalan keluar dari daerah bayang-bayang. Jadi Joanne tetap berjalan mendekatiku. Jarak di antara kami masih jauh.

“Kau tahu siapa namaku, bukan?”

Joanne tertawa, “Hahaha ... kenapa? Jadi, kau ingin aku mengingatmu, heh? Yah, baiklah. Cuma kau orang terpayah yang berani-beraninya bersikap berani seperti tadi itu. Pecundang-pecundang lainnya pasti akan sangat salut dengan keberanian mulutmu itu kalau saja mereka tahu.”

Aku menggenggam tanganku. Salah satunya tak kosong.



Blue-Cold Glass (1.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, part 2 
--—Snow White—--






Tok tok tok ...!

“Masuk!”

Aku membuka pintu. Setelah di dalam ruangan Mrs. Erica, aku menutup pintu.

“Oh ... Mister Reville. Sudah kutunggu,” sambut Mrs. Erica ramah. “Tapi ... ada apa dengan wajahmu? Apa itu memar?”

“Iya. Aku jatuh dari tangga saat istirahat. Karena ini aku harus pergi ke UKS dan izin untuk pelajaran selanjutnya.”

“Jadi begitu. Itulah kenapa kau tak bisa datang ke ruangan kepala sekolah saat istirahat tadi, ya.”

“Iya. Maaf, Madam.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Dan sebetulnya, alasanku memanggilmu ke sini adalah untuk menawarkan padamu untuk menjadi detektif rahasia sekolah kita ini.”



Blue-Cold Glass (1.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, Part 1 
--—Snow White—--






Aku mendesah. Kututup buku sambil memandang sekitar perpustakaan. Tak banyak orang, keadaan pun hampir tanpa suara.

Tone Reville. Itu namaku.

Aku bersekolah. Kelas 11 di Chenitry High School. Ini sebetulnya hanya sekolah tinggi biasa, dengan beberapa misteri menyeramkan di dua tahun terakhir.

Aku ingat saat pertama masuk. Saat itu sudah muncul desus panas kematian seorang kakak kelas. Lalu menjelang akhir tahun itu ada mutilasi di taman. Dan dua bulan lalu juga dibunuh seorang murid dengan banyak pecahan kaca jendela di tubuhnya. Tentu bukan hanya semua itu kasus yang pernah terjadi di sekolah ini.

Orang-orang banyak berkata bahwa sekolah ini telah dikutuk. Menurutku itu alasan yang bodoh. Ternyata masih ada orang-orang yang percaya kutukan.

Aku menoleh ke luar jendela sejenak. Semua korban meninggal secara mengenaskan. Aku ingin tahu bagaimana korban selanjutnya mati.

Sejujurnya aku tak peduli soal ini. Tapi kadang aku penasaran dan ingin mencari tahu, siapa kira-kira korban selanjutnya.

Aku melirik sekilas ke arah lain. Lepas dari serius menerawang di jendela yang ada di belakangku, kudengar sebuah percakapan 2 murid yang saling berbisik.