Sabtu, 18 April 2015

Blue-Cold Glass (1.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, Part 3 
--—Snow White—--






Pemuda di sana hanya memandang sekeliling. Dia lalu melompat dari koridor dan berjalan mendekat. Nampaknya dia masih belum menyadariku. Aku berjalan mendekati ujung bayangan pohon untuk memastikannya melihatku.

Dan Joanne mulai menyadariku.

“Oh? Bukankah kau pecun tadi siang itu?” tanyanya seraya mulai tersenyum sinis.

Aku tak berniat berjalan keluar dari daerah bayang-bayang. Jadi Joanne tetap berjalan mendekatiku. Jarak di antara kami masih jauh.

“Kau tahu siapa namaku, bukan?”

Joanne tertawa, “Hahaha ... kenapa? Jadi, kau ingin aku mengingatmu, heh? Yah, baiklah. Cuma kau orang terpayah yang berani-beraninya bersikap berani seperti tadi itu. Pecundang-pecundang lainnya pasti akan sangat salut dengan keberanian mulutmu itu kalau saja mereka tahu.”

Aku menggenggam tanganku. Salah satunya tak kosong.


Aku sempat menyelipkan pesan sepotong kertas pada Joanne. Sengaja aku memintanya datang malam ini untuk bertemu denganku. Tapi hanya dia, sudah kupastikan tak ada yang tahu soal ini kecuali kami.

“Jadi, ada apa ingin menemuiku? Ada hal penting? Hm? Butuh bantuan? Terkesan dengan caraku menghajarmu tadi? Atau yang tadi siang itu masih kurang? Ingin kutambah lagi? Hahaha ... dasar pecundang payah.”

Aku menggenggam erat tangan kananku.

“Kau masih terlalu cerewet, Joanne ....”

Kuangkat perlahan tangan kananku ke depan bibirku. Sesuatu kungenggam di telapak tanganku yang kutunjukkan pada Joanne.

“Bahkan di menit-menit terakhirmu.”

Klik! Mata pisau keluar dari lipatannya. Kulihat Joanne begitu kaget dan ketakutan melihatnya. Perasaan itu semakin jelas tergambar di wajahnya saat pandangannya beralih ke mataku.

Aku tahu. Joanne sebetulnya mengerti kenapa aku memanggilnya malam ini.

“Ha ... hah! Boleh juga nyalimu. Gretakan itu bagus juga,” komentarnya. Mudah sekali kubaca ketakutannya.

Perlahan, kuturunkan tanganku. Sembari melakukan itu, aku mulai melangkah keluar dari bawah bayang-bayang, mendekati Joanne.

Joanne berteriak marah, “Ma ... mau apa kau?!” Dia melangkah mundur, menjauhiku. “Mana kau berani melakukan itu, kau bodoh! Menjauhlah!”

“Kenapa?” tanyaku datar. “Takut?”

“Mana munngkin aku takut pada orang payah sepertimu?! Untuk apa aku takut padamu?!”

Joanne mulai maju. Dia langsung saja mencoba memukul wajahku. Aku pun dengan mudah menghindar. Aku tak hanya menghindar, kutarik tangan Joanne dan membanting badannya ke samping hingga Joanne terhempas dan jatuh begitu keras.

“AAAAAAH ...!!”

Kelihatannya kupatahkan tangannya.

Kulepaskan tangannya. Kugunakan tangan kiriku untuk mempelintir tangan Joanne hingga patah. Setidaknya tangannya tak berdarah ... belum.

Joanne masih menjerit. Dia berusaha bangun dengan sebelah tangannya. Namun dia hanya berbalik dari terlungkup menjadi berbaring ke samping untuk memegangi tangan kanannya yang patah.

Aku mulai berjongkok. Kuraih jaket hitamnya, mengangkatnya.

“Pecundang,” bisikku. “Tanpa anak buahmu, kau ternyata bukan apapun.”

Aku menyiapkan pisauku. Tapi kutahan untuk beberapa saat. Joanne pun mengambil kesempatan untuk mendorongku menjauh dan berusaha bangkit.

Joanne masih mampu berdiri ternyata. Dia memandangku penuh kemarahan. Lalu segera menyerangku sebisa kemampuannya.

Nyatanya, semua serangannya mudah kuhindari. Namun tentu aku tak suka hanya menghindar seperti ini.

Di salah satu pukulannya, kutangkap tangannya. Kutarik tangan kiri Joanne dan memukulnya dengan satu tanganku yang lain tetap ke ulu hati. Joanne terhuyung ke belakang. Bukan tangan yang menggenggam pisau yang kugunakan untuk memukulnya.

Dan aku tak suka membiarkan pisau ditanganku. Maka sebelum dia terjatuh, aku melempar pisau tepat ke pahanya.

“AAAAAHH!!”

Joanne akhirnya terjatuh juga. Dia terkapar, tetap menjerit.

Aku melangkah mendekatinya. Kulihat wajah tegangnya yang penuh kesakitan. Matanya jelas terlihat berkaca-kaca. Sepertinya Joanne tak pernah terluka seperti ini.

Aku menarik pisau. Joanne kembali menjerit lebih keras saat itu. Kuinjak sebelah kakinya yang tak terluka, lalu berjongkok mendekati wajahnya. Joanne melirikku, lalu dia melayangkan pukulannya padaku.

Aku tak mau menghindar. Jadi, aku hanya memindahkan tanganku ke samping hingga pergelangan tangan Joanne sampai di mata pisauku lebih dulu sebelum sampai di kepalaku. Tentu Joanne menjerit lagi, bahkan juga saat aku menarik kembali pisau dan menjauhkan tangannya yang terluka.

Belum lama kami memulai ini. Tapi pisau dan tanganku sudah kotor dengan noda darah.

Kusabet segores di wajahnya. Menyisakan segaris luka berdarah dari pipi kiri hingga di bawah mata kanan.

Kusadari pandangan Joanne. Tersirat rasa kaget diantara takut dan kesakitan di matanya. Hm? Apa aku terlupa sesuatu? 

“Oh iya, Joanne ...,” ucapku datar. “Apa kau ingat berapa banyak murid yang mati di sekolah ini? Kau tahu? Mereka semuanya sebetulnya dibunuh. Dibunuh oleh satu orang yang sama.”

Aku menusukkan pisau ke bahunya. Sekali lagi Joanne menjerit.

Wajahku masih dingin. Kembali kutatap wajah Joanne setelah menarik pisau dari bahunya.

“Pembunuhnya adalah ....”

Kuangkat pisau ditanganku tinggi-tinggi. Kali ini kuarahkan ke wajahnya. Aku yakin Joanne pun tahu kemana selanjutnya pisauku akan tertanam.

“Aku.”

Crreps! 

***

Begitu derasnya hujan turun malam ini. Aku memutuskan melepas kacamataku dan menyimpannya di saku jaketku. Kukenakan tudung jaket hitamku seraya berlari berusaha melewati hujan.

Rambutku yang kusadari sudah cukup panjang kini menutupi kedua mataku. Ditambah dengan tudung yang cukup panjang, kuyakini tak ada yang akan mengenaliku. Beruntung hujan turun di malam ini.

Jalan sangat sepi. Padahal aku pikir ini belum tengah malam. Aku tak peduli, aku tetap berlari.

Di tengah jalanku, kudengar sesuatu. Suara itu tak samar untukku walau hujan bergemerisik seadu. Aku perlahan berhenti berlari. Kulihat seekor anak kucing duduk di belakang sebuah tong sampah.

Aku tiba-tiba terdiam. Masih kupandangi kucing itu yang mengeong lemah. Kucing itu basah kuyup. Dia pasti kehujanan juga.

Dia duduk sendiri di sana. Berusaha menjauhi tetesan hujan, namun percuma. Mencari kehangatan, namun tak bisa. Bulu putihnya sudah basah dan kotor. Matanya sudah tertutup, dia mengengong dengan setengah sadar. Dia sudah tak mampu melakukan apapun, hanya mampu terus mengeong pelan.

Air hujan malam ini sangat dingin. Bahkan aku sempat sangat kedinginan saat berlari tadi. Namun entah pergi kemana rasa dingin yang menusuk dari air hujan yang terus mengguyurku saat kuperhatikan anak kucing malang itu.

Aku mulai berjalan mendekati kucing kecil itu. Kuulurkan tanganku dan menggendongnya.

“Aku akan merawatmu ...,” bisikku hangat. “Snow White.”

Segera aku pergi berlari pulang. Kupeluk hangat Snow White, menjaganya dari hujan. Ya, Snow White. Itulah nama yang kupilihkan untuk kucing ini.

***


End of chapter 1 


          To be continued ...




[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar