Sabtu, 18 April 2015

Blue-Cold Glass (1.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, part 2 
--—Snow White—--






Tok tok tok ...!

“Masuk!”

Aku membuka pintu. Setelah di dalam ruangan Mrs. Erica, aku menutup pintu.

“Oh ... Mister Reville. Sudah kutunggu,” sambut Mrs. Erica ramah. “Tapi ... ada apa dengan wajahmu? Apa itu memar?”

“Iya. Aku jatuh dari tangga saat istirahat. Karena ini aku harus pergi ke UKS dan izin untuk pelajaran selanjutnya.”

“Jadi begitu. Itulah kenapa kau tak bisa datang ke ruangan kepala sekolah saat istirahat tadi, ya.”

“Iya. Maaf, Madam.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Dan sebetulnya, alasanku memanggilmu ke sini adalah untuk menawarkan padamu untuk menjadi detektif rahasia sekolah kita ini.”


“Maaf, tapi apa maksudnya?”

Mrs. Erica diam sebentar. Senyumannya hilang. “Kita tahu banyak hal buruk terjadi di sekolah kita ini sejak tahun kemarin. Semuanya adalah kasus kematian yang misterius. Dan aku, sebagai kepala sekolah mencurigai adanya pembunuh tersembunyi di sekolah ini. Jadi, aku butuh bantuan dari seseorang sepertimu untuk membantuku mencari tahu.”

Aku diam sejenak. Aku bergumam dalam hati, memikirkan sesuatu. Lalu aku bertanya tenang, “Madam, jadi kau yakin aku mampu melakukannya?”

“Tentu, Tone. Kau cerdas dan berbakat. Aku sudah menyeleksi dari seluruh data murid-muridku di sekolah ini secara diam-diam. Aku juga sudah mensurvei langsung. Dari seluruh murid di sekolah ini, kaulah yang paling cocok melakukan ini.”

“Apa ini pun sangat rahasia?”

“Ya. Ini hanya kau dan aku. Tak ada murid, guru atau petugas sekolah lain yang mengetahui ini, kecuali kita. Tugas ini harus menjadi sangat rahasia, kalau tidak pembunuh misterius itu pasti akan mengetahui ini.”

Aku kembali diam sejenak. “Anda sudah mencurigai ini sejak lama?”

“Benar. Bersamaan dengan itu, aku mendata murid-muridku dan melakukan survei langsung pada mereka. Tak ada yang lebih baik selain kau, Mister Reville.”

Aku terdiam. Kali ini lebih lama lagi. Aku benar-benar menimbang-timbang semua ini. ini sebetulnya tak buruk, tapi kalau seperti ini, artinya Mrs. Erica akan lebih memperhatikan aku. Itu akan membuat apa yang ingin kulakukan jadi terkekang, dan aku tak menyukainya. Namun bila kuterima, aku akan mendapat keuntungan juga, bukan? Bukankah Mrs. Erica sudah mengakui kalau aku memang berbakat.

Sejujurnya, kemampuanku tak hanya kecerdasan saja. Dan ternyata Ibu Kepala Sekolah mengetahui itu.

“Bagaimana ... Mister Tone Reville?” tanya Mrs. Erica.

Aku mendesah pelan. Aku masih menimbang-timbang. Tak berapa lama, aku mengangkat wajah, memandang Mrs. Erica dan berkata, “Maaf, Madam.”

Mrs. Erica terkejut.

Aku berkata lagi, “Maaf, aku menolak tawaranmu, Madam.”

“Kenapa? Bukankah ini misi yang cukup genting? Kalau bukan kau, siapa lagi yang mampu melakukan ini, Mister Reville?”

“Maafkan aku, Madam. Tapi aku lebih berasumsi bahwa pembunuh dari dalam sekolah kita ini tak ada. Kalaupun memang ada, seharusnya polisi mampu menemukan siapa pelakunya sejak lama. Dan kau tak perlu bersusah-payah mencari orang yang mampu melakukannya, lalu menunjukku sebagai detektif rahasiamu.”

Aku tetap tenang. Sementara kuperhatikan Mrs. Erica tetap tak percaya. Namun beliau tak mampu mengatakan apapun setelah mendengar apa yang kukatakan barusan.

“Boleh aku pulang sekarang, Mistress Erica?” tanyaku.

Mrs. Erica masih kaget. Perlu waktu beberapa saat untuknya kembali berwajah tenang. Lalu Mrs. Erica berkata, “Ba ... baiklah, kau boleh pergi.”

“Terima kasih, Madam.” Aku berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.

Di depan pintu, aku terdiam. Pintu baru saja kututup, tanganku pun masih di gagang pintu. Masih terpikir olehku semua yang dikatakan Mrs. Erica padaku tadi.

Jadi begitu? gumamku dalam hati.

Aku mulai berjalan pergi. Kuperbaiki letak kacamataku yang sedikit retak di salah satu lensanya. Yah, besok aku harus mengganti kacamata, sepertinya.

***

Malam terlihat suram. Langit sedang amat mendung kali ini. Gemuruh sesekali terdengar dari langit, tanda tak lama lagi akan jatuh ribuan tetes air dari langit.

Aku ada di sekolah sekarang ini. Bukan apapun, aku hanya sedang menunggu seseorang.

Omong-omong soal istirahat tadi, aku memang dihajar habis-habisan sepanjang sisa waktu istirahat. Mereka menyeretku ke semak-semak yang rimbun di halaman belakang sekolah. Di sanalah mereka dengan leluasa mengeroyok aku.

Masih ada sedikit bagian badanku yang sakit. Tapi sudah tak separah tadi.

Kulihat seseorang berjalan di koridor itu. Di koridor tempatku berhenti tadi siang. Aku mendesah lega, akhirnya orang yang kutunggu datang juga.

Dari lampu di koridor, aku dapat mengenali dengan jelas orang itu. Orang itu mengenakan jaket kulit hitam dengan kaus oblong kusam dan jeans murahan. Penampilan katro, pikirku.

Pemuda di sana hanya memandang sekeliling. Dia lalu melompat dari koridor dan berjalan mendekat. Nampaknya dia masih belum menyadariku. Aku berjalan mendekati ujung bayangan pohon untuk memastikannya melihatku.

Dan Joanne mulai menyadariku.

...



          To be continued ...




[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar