Sabtu, 18 April 2015

Blue-Cold Glass (1.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, Part 1 
--—Snow White—--






Aku mendesah. Kututup buku sambil memandang sekitar perpustakaan. Tak banyak orang, keadaan pun hampir tanpa suara.

Tone Reville. Itu namaku.

Aku bersekolah. Kelas 11 di Chenitry High School. Ini sebetulnya hanya sekolah tinggi biasa, dengan beberapa misteri menyeramkan di dua tahun terakhir.

Aku ingat saat pertama masuk. Saat itu sudah muncul desus panas kematian seorang kakak kelas. Lalu menjelang akhir tahun itu ada mutilasi di taman. Dan dua bulan lalu juga dibunuh seorang murid dengan banyak pecahan kaca jendela di tubuhnya. Tentu bukan hanya semua itu kasus yang pernah terjadi di sekolah ini.

Orang-orang banyak berkata bahwa sekolah ini telah dikutuk. Menurutku itu alasan yang bodoh. Ternyata masih ada orang-orang yang percaya kutukan.

Aku menoleh ke luar jendela sejenak. Semua korban meninggal secara mengenaskan. Aku ingin tahu bagaimana korban selanjutnya mati.

Sejujurnya aku tak peduli soal ini. Tapi kadang aku penasaran dan ingin mencari tahu, siapa kira-kira korban selanjutnya.

Aku melirik sekilas ke arah lain. Lepas dari serius menerawang di jendela yang ada di belakangku, kudengar sebuah percakapan 2 murid yang saling berbisik.


“Di perpustakaan itu ... suasananya terasa agak tegang, ya?”

“Ini cuma karena perpustakaannya sepi. Wajar kalau perpustakaan itu minim suara. Yang tegang itu kamu, tahu.”

Tanpa melihat aku sudah tahu. Mereka dua orang yang aku kenal, Alicia dan Michele. Kami sekelas, tapi tak kenal dekat. Namun mudah untuk mengingat mereka karena mereka sering pergi ke perpustakaan juga.

“Soalnya, kebanyakan cerita horor dari sekolah ini. Aku jadi takut.”

Alicia hanya terlihat pesemangat dan energik. Tapi sekali penakut tetap penakut.

“Aku juga. Tapi tidak perlu seperti itu, ‘kan? Kamu ini, ah.”

Sementara itu, Michele justru tak ambil pusing. Tapi laki-laki berkacamata itu tak cuek, dia sama periangnya dengan sahabatnya.

Yang berkacamata dan cuek di sini adalah aku, sebetulnya. Aku akui aku ini penyendiri. Orang bilang aku ini dingin, mungkin karena itu mereka pun tak mau juga dekat-dekat denganku–takut.

Aku sadar percakapan mereka terputus. Mereka memandangku yang berpura-pura membaca. Untuk saat dipandangi seperti ini, aku jadi sulit serius.

“Itu Tone, bukan?”

“Kau sudah tahu. Sudahlah, jangan ganggu orang lain.”

“Aku tidak mau mengganggunya, Michele.”

“Lalu kenapa keberadaan Tone mengejutkan untukmu? Dia memang sering berada di perpustakaan. Ingat?”

“Yah, benar juga. Kadang itu aneh, ya?”

“Apanya yang aneh?”

“Aku. Kenapa aku kaget, aku juga tidak tahu.”

Mungkin karena instingmu tajam, sahutku dalam hati.

Alicia dan Michele sudah kembali mencari buku. Tapi pikiranku masih belum bisa fokus membaca.

Aku memperbaiki letak kacamataku. Untuk sejenak aku mengangkat wajah, beralih dari memandangi buku. Kemudian aku berdiri, hendak keluar perpustakaan.

“Oh iya ....”

Aku memandang Michele. Michele sendiri terdiam, tepatnya terhenti.

“Kenapa?” tanyaku.

Michele tersadar. “Ah ... Tone, tadi Mrs. Erica berpesan padaku. Katanya, kamu dipanggil ke ruangannya. Untuk apanya aku tidak tahu.”

Aku melanjutkan langkah. “Terima kasih.”

Keadaan di perpustakaan kembali sepi. Kedua orang itu tak berbicara lagi.

Letak pintu perpustakaan sudah tak jauh. Namun, aku masih bisa mendengar Michele dan Alicia saling berbisik saat itu.

“Dia tahu saja kalau aku mau meamanggilnya, ya?”

“Kamu berkata ‘Oh iya’ sebelum memanggilnya. Dia pasti sudah tahu.”

“Tapi ‘Oh iya’ tak selalu berarti akan memanggil seseorang, bukan?”

“Entahlah. Mungkin karena instingnya yang tajam.”

Klep! Aku sudah menutup pintu. Kulanjutkan langkahku berjalan pergi.

Jarak dari perpustakaan ke ruang guru tak begitu jauh. Masih ada sisa waktu istirahat untukku melanjutkan membaca. Jadi, kubawa buku itu.

Aku berhenti sejenak. Tepatnya di koridor dekat halaman belakang sekolah. Aku memandang ke halaman itu. Di sana sepi, selalu saja sepi. Aku tak mengerti kenapa tak ada yang mau berjalan-jalan di sana saat istirahat.

Padahal belum ada korban tewas di sana.

Duk!

Aku terjatuh. Seseorang laki-laki baru saja menabrakku.

“Perhatikan langkahmu, bodoh!”

Tapi kenapa dia yang marah?

Aku menoleh. “Aku selalu berjalan dipinggir, kau tahu?” ucapku.

“Heh!” dengusnya kasar seraya berdiri dan berkacak pinggang. “Tapi tetap saja menabrak orang lain. Cepat! Minta maaf padaku!”

Aku kenal orang ini. Dia memang arogan. “Untuk?” tanyaku seraya bangkit.

“Untuk kecerobohanmu! Untung saja aku tak apa. Coba kau pikir kalau aku sampai patah tangan atau pincang atau terluka yang lainnya. Aku akan benar-benar menyuruhmu bertanggung jawab atas itu, pecundang!”

“Kau terlalu cerewet, Joanne.” Aku mulai ketus meladeninya.

Aku mengambil langkah, hendak meninggalkannya. Namun Joanne menarikku dan mendorongku berdiri kembali di depannya.

“Jangan mencoba kabur! Urusan kita belum selesai!” bentaknya.

“Ini urusan sepele.”

“Huh! Dasar tidak tahu diri. Cepat minta maaf!”

“Aku tidak mau.”

“Kalau begitu kau akan mendapat pukulanku.”

“Kalau kau berani.”

“Kau menantangku?!”

“Kurang lebih.”

“Ingin mati di sini rupanya, heh?!”

“Bisakah?”

“TENTU!!” Joanne mengambil ancang.

Aku tak berpindah. Bisa saja kuhindari pukulannya, namun kulihat seorang guru berjalan mendekat.

Bukh!

Aku langsung terkapar. Kacamataku terhempas ke pojok jalan koridor, lepas saat tangan Joanne sampai di wajahku.

Joanne tak puas sampai di sana. Dia menarik kemejaku dan menghajarku lagi. Tak hanya satu-dua pukulan yang ia lepaskan.

“Joanne!”

Pukulan itu berhenti sejenak. Aku tertegun. Itu bukan suara guru siapapun.

Itu bukan guru. Itu justru teman segeng Joanne.

Joanne tersenyum. “Dave? Baguslah kau datang.”

“Joanne! Apa yang kau lakukan? Ruang guru ada di sana! Kalau sampai ketahuan bisa gawat!”

“Kalau begitu, bisa kau bantu aku mengurusi si payah ini?”

“Oh? Tapi mau dibawa kemana?”

Aku tak diam saja. Kudorong Joanne dan berdiri.

Joanne meraih kerah kemejaku. “Ini belum selesai!”

“Cukup!” seruku sambil menepis tangan Joanne dan memukul wajahnya.

Joanne bahkan tak bisa menghindar. Dia langsung terhuyung dan ditangkap Dave.

Dari belakang, beberapa orang menahan tanganku. Setengah terkejut aku terdiam. Aku tak menyangka Dave membawa anggota geng Joanne yang lainnya.

Joanne mendekatiku. Dengan mulus dia memukulku tepat ke ulu hati.

“Akh!”

Seharusnya aku terjatuh. Tapi tiga orang di belakangku menahanku terlalu kuat.

“Dasar bodoh,” gumam Joanne. Dengan satu gerakan dari sang komando, anggota geng Joanne melemparku ke tanah halaman belakang yang sebetulnya tepat di samping kami.

Aku terkapar di sana. Terbatuk dan berusaha bangun, namun untuk duduk pun aku tak mampu.

Aku tahu dibelakangku Joanne tersenyum licik. “Seret dia.”

***



          To be continued ...

           [ Next ]

0 tanggapan:

Posting Komentar