Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Minggu, 24 Mei 2015

Vanilla Cream (Cerpen)

Vanilla Cream 

Cerpen
Persaudaraan

~~~~~
Sejujurnya, ini cerpennya udah lama di folder laptop aku. Baru sekarang aku templokin ke blog ini.
~~~~~



Aku dan adikku selalu berantem. Tiap hari, pasti kita berselisih, gak peduli apapun masalahnya.

Aku Annie. Anak kelas 5. Dan adikku Vio, anak kelas 3. Aku 10 tahun, sementara adikku 8 tahun. Kami sekolah di sekolah yang sama.

Aku suka membaca dan bermain internet. Adikku suka bermain di luar dan bermain game, dia termasuk gamers cilik. Selain hobi, masih banyak lagi perbedaan di antara kami, kebanyakan di antaranya itu sering bikin kita berantem.

Misalnya seperti minggu lalu sewaktu aku dan adikku berebut bermain laptop. Aku yang pertama memegang laptopnya waktu itu sedang membaca sebuah novel online. Adikku yang baru saja mandi setelah pulang bermain di luar meminta laptop yang sedang aku pinjam untuk bermain game. Jelas saja aku gak kasih, aku masih seperempat membaca salah satu bab dari novel itu. Tapi adikku merengek dan mengadu pada Mama. Mama juga malah membela. Akhirnya aku terpaksa menutup situs yang belum selesai aku baca dan memberikan laptop pada Vio. Sebagai gantinya, aku membaca buku novel yang sudah lama dan sangat membosankan buat aku.

Siang hari ini, aku sedang bermain laptop di ruang keluaga. Membaca novel yang waktu itu belum selesai kubaca. Vio sekarang sedang pergi bermain bersama teman-temannya di lapangan, paling-paling dia gak bakal pulang sebelum adzan ashar. Jujur, rumah kerasa tenang karena gak ada dia.

“Annie, bantuin Mama, yuk!” ajak Mama.

Aku tersentak kecil. Kok, Mama bisa tiba-tiba muncul di sampingku begitu, ya?

“Mama ngagetin banget,” kataku. “Bantuin apa, Ma?”

“Bantuin Mama bikin kue buat adek kamu. Besok, kan, dia ulang tahun.”

Aku terbelalak, melotot serius seakan bola mataku akan keluar dari tempatnya. Aku baru ingat itu. Besok, kan, 21 februari, ulang tahunnya Vio! Aku belum bikin ataupun beli hadiah apapun buat dia.



Senin, 11 Mei 2015

Blue-Cold Glass (2.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 3 
--—Kuncup Melati—--






Tenang sekali kukerjakan tugas. Kelas sedang senyap, sementara guru matematika sedang menuliskan soal. Semua murid nampak serius mengerjakan. 

Seorang officegirl membuka pintu. “Maaf, Miss,” katanya sopan. “Tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan padamu.” 

Miss Wilkerson menutup spidolnya. Dia merasa ini pembicaraan penting. Dia pun mendekati Monica, officegirl berkacamata itu. 

“Ada apa?” tanya Miss Wilkerson. 

Monica menjawab, “Ini tentang anak murid kelasmu, Miss.” 

“Ada apa? Apa mereka membuat ulah lagi? Bukankah sudah kukatakan pada semua guru untuk menghukum saja mereka bila mereka melakukan sesuatu yang tak seharusnya?” 

“Bukan soal itu, Miss. Tapi ... ini soal ....” 

“Apa? Apa ada hal lain yang terjadi di kelasku?” 

“Iya. Di kelas 12–B ... Dave Hillary ... dia ... dia ... dia ditemukan tewas.” 

Miss Wilkerson segera menarik Monica keluar kelas. Pintu ditutup keras oleh wanita muda itu saat ia keluar. 

Suasana kelas pun riuh rendah. Karena kesunyian tadi, banyak yang mendengar apa yang disampaikan Monica. Mereka mulai menggunjingkannya. 

Tentu aku dengar. Tapi aku tak peduli. Pandanganku belum lepas dari buku tulis. 

“Ya ampun! Ada lagi hari ini?” kudengar pekikan Alicia. 

“Tidak pernah ada dua kali pembunuhan di hari yang sama seperti ini,” tanggap Michele. 

Oh! Aku hampir lupa dengannya. 

“Ini menyeramkan sekali! Sebetulnya apa maunya pembunuh itu?”  

“Pokoknya, kita harus hati-hati kalau begini.” 

“Michele! Jangan berkata seperti itu! Itu membuatku takut! Kau tahu itu?” 

“Dasar kau penakut. Omong-omong, siapa Dave Hillary?” 



Blue-Cold Glass (2.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 2 
--—Kuncup Melati—--






Saat istirahat, aku pergi ke perpustakaan. Aku harus mengembalikan buku yang kupinjam kemarin. Sepanjang jalan yang kulalui, suasananya tampak sepi, seperti biasanya. 

Kelas-kelas berada di lantai dua. Di lantai dasar, seluruhnya adalah ruang praktek dan fasilitas. Dari kelasku ke perpustakaan, aku perlu melewati satu ruas koridor, menuruni tangga, lalu melewati beberapa koridor di bawah. Empat koridor bawah yang terakhir kulewati menuju perpustakaan diantaranya koridor di depan ruang seni, koridor di depan UKS, koridor di depan pintu ruang guru, dan koridor menuju perpustakaan. Ada juga sebuah perempatan saat aku berjalan dari koridor di depan ruang guru menuju koridor terakhir. Di koridor terakhir, tepat di sampingnya adalah halaman belakang sekolah yang cukup luas. 

Banyak yang takut melewati koridor-koridor ini. Menurut mereka koridor-koridor ini sudah berhantu. Alasannya karena sudah banyak korban meninggal di sini. 

Aku ingat. Pernah ada murid yang tergeletak besimpa darah di pintu ruang seni. Ada juga yang mati di UKS, dua kali terjadi. Dan di koridor depan pintu ruang guru, terdapat sebatang pohon rindang di sebelah koridor itu. Di pohon itu, pernah ditemukan seorang murid dengan leher terjerat tambang menggangtung di bawah dahan pohon. Dan di koridor terakhir, karena kematian Joanne, pasti semakin sepi keadaan halaman belakang sekolah. 

Aku hanya mendengus lelah. Aku tak habis pikir. Padahal masih banyak lagi tempat kematian murid-murid sekolah ini, tapi yang dianggap berhantu hanya koridor-koridor ini. 


Blue-Cold Glass (2.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 1 
--—Kuncup Melati—--






Malam itu aku langsung memandikan Snow White. Tak lupa aku mengeringkannya. 

Aku juga tidak lupa untuk mandi. Kuletakkan Snow White di atas handuk dan kuselimuti dengan handuknya juga, lalu kutinggalkan. 

Sekarang aku mengeringkan rambut. Kugunakan handuk kecil untuk mengusap-usap rambutku. Kudekati jendela kamar, memperhaikan hujan yang kian menderas. Kelihatannya hujan ini akan awet sampai pagi besok. 

Kututup jendelanya. Aku biasanya membuka jendela, karena di kamarku ini biasanya panas. Kipas angin di kamarku hanya satu, berukuran mini dan kuletakkan di salah satu meja di kamarku. 

Kamarku selalu sepi. Sebetulnya, aku tinggal sendirian di apartemen sederhana ini. Kedua orang tuaku dan semua anggota keluargaku sudah meninggal. Aku sebatang kara, dan hanya mampu tinggal di apartemen bekas yang tak berpenghuni. 

Setidaknya aku masih sedikit beruntung. Aku masih mampu bersekolah karena beasiswa yang kudapatkan. Bahkan asal tahu saja, Chenitry High merupakan salah satu sekolah favorit di daerahku. 

Aku mulai berjalan mendekati ranjang. Tak sengaja kulihat bayanganku di cermin.