—Blue-Cold Glass—
Chapter 2, Part 2
--—Kuncup Melati—--
Saat istirahat, aku pergi ke perpustakaan. Aku harus mengembalikan buku yang kupinjam kemarin. Sepanjang jalan yang kulalui, suasananya tampak sepi, seperti biasanya.
Kelas-kelas berada di lantai dua. Di lantai dasar, seluruhnya adalah ruang praktek dan fasilitas. Dari kelasku ke perpustakaan, aku perlu melewati satu ruas koridor, menuruni tangga, lalu melewati beberapa koridor di bawah. Empat koridor bawah yang terakhir kulewati menuju perpustakaan diantaranya koridor di depan ruang seni, koridor di depan UKS, koridor di depan pintu ruang guru, dan koridor menuju perpustakaan. Ada juga sebuah perempatan saat aku berjalan dari koridor di depan ruang guru menuju koridor terakhir. Di koridor terakhir, tepat di sampingnya adalah halaman belakang sekolah yang cukup luas.
Banyak yang takut melewati koridor-koridor ini. Menurut mereka koridor-koridor ini sudah berhantu. Alasannya karena sudah banyak korban meninggal di sini.
Aku ingat. Pernah ada murid yang tergeletak besimpa darah di pintu ruang seni. Ada juga yang mati di UKS, dua kali terjadi. Dan di koridor depan pintu ruang guru, terdapat sebatang pohon rindang di sebelah koridor itu. Di pohon itu, pernah ditemukan seorang murid dengan leher terjerat tambang menggangtung di bawah dahan pohon. Dan di koridor terakhir, karena kematian Joanne, pasti semakin sepi keadaan halaman belakang sekolah.
Aku hanya mendengus lelah. Aku tak habis pikir. Padahal masih banyak lagi tempat kematian murid-murid sekolah ini, tapi yang dianggap berhantu hanya koridor-koridor ini.
Aku sudah di koridor itu. Aku terhenti di sana. Sejenak, aku menyadari aku berhenti di tempat yang sama saat aku ditabrak Joanne kemarin.
Ya, itu kejadian kemarin.
Aku masih ingat bagaimana Joanne memukulku. Lalu berteriak padaku bermacam-macam hal yang mungkin terjadi hanya karena terjatuh. Setidaknya aku berhasil mewujudkan apa yang ia katakan kemarin malam, sebelum dia mati.
Aku mengeluh pelan. Menurutku itu malam yang terlalu singkat. Aku bahkan belum sempat membedah badannya, menyebalkan.
Kupadang halaman itu. Tepatnya ke tempat dimana darah masih terlihat menutupi rumput hijau. Aku melewati pinggiran koridor dan mendekati daerah berwarna merah gelap itu.
Darahnya sudah kering, tentu saja. Sebelum hujan turun, darah yang menggenang sudah cukup luas. Setelah hujan, hampir sepertiga luas halaman yang hijau kini berwana merah.
Tadi pagi, rumput dan tanah masih basah. Begitu pun dengan darahnya. Tapi tubuh Joanne pasti telah membusuk, masih ada bau busuk itu saat ini.
Aku sudah berpijak di atas rerumputan berbalut darah. Seingatku, sudah sedikit lagi posisiku dari jasad Joanne. Tentu jasad laki-laki itu sudah tak ada sekarang. Di sini, aku terdiam sejenak.
Aku dengar, Mrs. Erica sudah menghubungi polisi. Pulang sekolah nanti, pihak kepolisian akan datang menyelidiki.
Aku tak yakin apa polisi masih mau datang. Terakhir polisi dipanggil, mereka merasa sedikit keberatan karena selalu berputus asa. Ya, mereka tak pernah mampu menemukan pembunuhnya.
Aku tak ambil pusing. Tidak dengan hal itu.
Tepat di samping tempat Joanne terbaring malam itu, ada sedikit kilauan. Itu pantulan sinar dari sekeping pecahan kaca. Kaca itu tipis, dan kelihatannya masih ada beberapa kepingan kaca lain yang begitu kecil di sekitarnya.
Aku menyentuh kacamataku sejenak. Aku benar-benar mengganti kacamataku hari ini. Bukan kubeli, tapi aku memang memiliki cadangan ini.
Aku mengambil kepingan-kepingan kaca itu. Setelah kupungut semuanya, kubuang pecahan itu di semak-semak yang ada di pojok halaman belakang.
Sebetulnya itu adalah kepingan kacamataku yang kemarin. Aku terburu-buru pergi tadi malam hingga ceroboh, aku terpeleset di genangan darah. Kacamata yang ada di sakuku jatuh dan aku tak menyadarinya. Baru kusadari saat benda itu terinjak, dan aku hanya mengambil kacamataku. Aku lupa untuk mengambil pecahan lensanya.
Aku berbalik. Aku berjalan pergi dari sana. Memang sebaiknya aku segera pergi, tapi jangan sampai aku terlihat terburu-buru, kalau ternyata ada yang melihatku, aku akan dicuigai.
Sebetulnya, aku masih ingat perkatakan Michele tadi pagi.
“Firasatku bilang begitu. Dan saat kulihat pecahan kaca di sekitar situ ... aku ... entah kenapa rasanya ... aku ... aku jadi yakin sekali.”
Hal yang tak rasional untuk sebuah pecahan kaca. Tapi secara insting, kurasa Michele hampir bisa mengendus kebenaran rumor itu. Bagaimanapun juga, setelah aku, Michele adalah murid yang cerdas dan berbakat untuk mendeteksi kriminal yang ada. Dengan kata lain, dia kemungkinan akan menjadi orang selanjutnya yang akan ditunjuk Mrs. Erica untuk menjadi detektif rahasia.
Kalau memang Mrs. Erica melakukan itu, aku harus berjaga. Karena bila seperti itu, artinya Michele sudah diyakini mampu perlahan-lahan mengetahui statusku yang sebenarnya sebagai pembunuh misterius ini.
Kalau begitu, sebaiknya aku jangan jauh-jauh dari Michele.
***
Waktu istirahat masih cukup panjang. Aku memutuskan mengunjungi salah satu kelas 12. Di hari ini, banyak murid lebih suka pergi ke luar kelas. Kelas ini sudah kuyakini sangat kosong, dan memang benar.
Aku tidak berniat pergi ke perpustakaan hari ini. Lagipula, aku perlu datang sejenak ke sini.
Keadaan kelasnya sedikit berantakan. Kursi para murid bersusun tak beraturan. Aku sudah tahu ini, murid-murid di kelas ini memang tak karuan.
Sejenak, aku berhenti berjalan. Kulihat papan tulis putih di sampingku. Papan tulis itu cukup bersih, ada beberapa bekas kehitaman di beberapa bagiannya, namun tak ada tulisan apapun di sana. Ini tak seperti biasanya, papan tulis di kelas ini lebih sering ditemui penuh dengan tulisan tak berguna.
Kalau di lihat-lihat lagi, kelas ini cukup berwarna. Walau susunan bangkunya selalu berantakan, namun hiasan-hiasan kelas sangatlah kreatif. Bahkan mading kelas pun tak pernah sepi, selalu ada hasil karya yang dipin di sana.
Satu-satunya hiasan paling sederhana ialah bunga di meja guru. Vas kaca dengan hiasan gambar dari palet, dan tiga bunga merah replika di dalam vas. Bunga itu berkelopak lima dan melebar ke setiap sisinya, tangkainya berwarna hijau muda, daunnya sedikit elips dan agak kecil.
Banyak guru menyukai bunga itu. Hasil karya sederhana itu terlihat cantik dipadukan dengan motif vasnya yang berwarna dasar merah muda dan berhias warna-warni yang sejalan dengan aura. Banyak yang menyukai memandangi bunga replika dalam vas itu.
Kalau untukku, vas itu terlihat cerah. Vas yang cerah itu membuat warna merah dari bunga di vasnya terlihat cerah pula. Bila memandangi bersamaan bunga dan vas itu, rasanya muncul kesan suka cita yang menggembirakan.
Aku tidak tahu siapa yang melukis vasnya. Tapi siapapun itu, aku yakin dia sempat teringat sang wali kelas. Tapi kalau soal bunganya, itulah tragedinya.
Bunga itu, aku tahu hasil tangan siapa. Sebetulnya aku yang mewarnainya. Ya, dengan cat merah dari leher guruku. Aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas.
Tahun kemarin, seorang guru Kebahasaan yang cerewet adalah wali kelas di kelas ini. Bapak guru muda itu tak hanya cerewet, namun juga sombong. Tingkahnya yang suka mencari perhatian itu membuatku tak menyukainya. Dan bertambah lagi hingga kubenci dia saat nilai latihan Kebahasaanku sempat jatuh sekali itu. Karena hari itu, dengan sombongnya dia berkata bahwa aku pemalas dan menyuruhku mengikutinya menjadi murid yang rajin.
Dia guru yang menyenangkan saat menjadi wali kelas. Aku akui dia sangat perhatian dan peduli pada anak murid kelasnya, dan suka bercanda dengan tingkah-tingkahnya. Aku tahu itu, jadi aku punya alasan yang tepat kenapa aku harus memotong pergelangan tangannya dan menebas lehernya.
Sempat suatu waktu dia menemuiku duduk di pinggir koridor di samping halaman belakang. Aku tak ingat pasti apa yang kami bicarakan saat itu, namun aku ingat salah satu perkataannya. Aku awalnya tak peduli apa yang akan ia ocehkan padaku, tapi aku tak bisa cuek saat aku dengar ia berkata, “Kalau kau hidup sendirian, kenapa kau tidak mati saja? Tidak ada yang membutuhkanmu. Kau tahu? Kau sangat tidak berguna, Tone.”
Tak segan, langsung kutampar wajahnya. Dia tak main-main, bahkan pandangan penuh dendam pun ada di matanya saat itu. Saat itu, langsung kutinggalkan guru itu.
Aku tak kaget. Dia tidak tahu, aku sudah tahu orang seperti apa dia sebetulnya. Jadi, bagaimana guru Kebahasaan bisa berbahasa seperti itu, aku tidak sama sekali terkejut menanggapinya.
Saat itu pun begitu. Waktu itu guruku sedang mabuk. Dia berjalan melewatiku sambil menggenggam sebuah botol. Namun saat sadar keberadaanku, dia menghampiriku.
Saat itu bukan kali pertama kulihat dia mabuk. Walau memang tak ada yang pernah melihat bapak muda itu mabuk minum. Tidak ada yang tahu mobil mewahnya adalah hasil tangannya. Tidak ada yang tahu dia pernah bermacam-macam dengan seorang murid perempuan. Tidak ada yang tahu dua kali pembunuhan merupakan kriminalnya.
Setiap hari kuhadapi tingkahnya. Lalu menanggapi “sisi rahasia”-nya. Apapun itu aku bisa berpura-pura tak terganggu. Tapi tidak bila kata-kata itu sudah terlontar dari mulut busuknya, bahkan langsung padaku.
Aku masih ingat sekali. Saat aku sudah berjalan cukup jauh, guru muda itu berteriak padaku, “Awas kau! Kau tidak tahu berurusan dengan siapa, heh?! Kau akan menyesal nantinya!!”
Aku berhenti sejenak. Lalu berpaling sedikit untuk memandangnya. Dan dia langsung membanting botol di tangannya penuh emosi. Prang! Tak ada seorangpun di koridor itu saat percakapan tak menyenangkan ini terjadi.
Mungkin aku perlu menamparya sekali lagi. Aku juga tak peduli kalau harus membantingkan kepalanya ke dinding sekalipun. Tapi saat itu kami berdua tahu, pecahan minuman keras sudah lebih dari cukup sebelum ada cipratan darah. Maka aku berbalik lagi dan melanjutkan berjalan pergi.
Itu bukan pertama kalinya aku bertemu pembunuh. Tapi bisa dibilang, guruku adalah pembunuh di balik layar yang pertama kutemui. Pembunuh yang hampir sama sepertiku.
Mungkin seharusnya aku kalah, hm? Tidak. Tidak akan aku kalah dari pembunuh amatiran yang hanya membunuh di saat mabuk berat.
Dia memang lebih tua, tapi kemampuannya lebih rendah. Kadang dia sengaja membawa wine saat akan melancarkan aksinya. Kalau pikirannya tak melayang-layang, pembunuhannya tak akan sadis.
Aku menemuinya esoknya. Di waktu menjelang akhir istirahat. Saat itu aku sengaja menunggunya di kelas, aku sudah memastikan dia akan datang.
Pintu ajal pun akhirnya dibukanya. Saat dia datang, hal pertama yang dia lakukan adalah memandang dengan kaget ke seisi kelas yang tak bermurid, selain aku.
“Apa ...? Apa yang kau lakukan di sini, Mister Reville?”
“Menunggumu.” Setelah menjawab datar, aku mulai berdiri dari kursi guru.
“Aku datang kemari untuk menemui anak muridku. Kenapa justru hanya ada kau di sini?”
“Karena tak ada anak murid kelasmu yang memanggilmu.”
Pandangan itu kian dalam memandangku. Dia terlalu lamban untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Kesalahan yang dia lakukan selanjutnya adalah mulai menutup pintu kelas.
Aku belum berpindah. Masih berdiri di samping meja guru. Tapi, aku tak mau menunggu lagi. Kulirik vas bunga keramik tipis polos di atas meja, lalu kuraih vas itu dan kubanting ke lantai.
Prang!
Barulah dia tersadar dari lamunan. Tapi tetap saja belum mengerti apa yang terjadi.
Banyak pecahan yang masih lebar. Aku ambil beberapa pecahan lebar itu.
“Apa yang kau lakukan?! Vas itu adalah ...!”
Darah sudah menetes. Secepat kedipan mata, kulempar pecahan-pecahan tadi dan langsung menancap di dada dan lehernya. Dengan luka itu, dia tak mampu berteriak lagi.
Bruk! Kulihat dia sempat takut sendiri melihat darahnya yang telah membasahi tempatnya jatuh. Tak ada jeritan yang mampu ia keluarkan saat itu.
Aku melangkahi bunga di depanku. Sambil mendekatinya, aku keluarkan pisau lipat dari sakuku. Tepat di sampingnya, aku menendangnya untuk membalikkannya, membuatnya berhenti memandang darah dan memandangku.
“Sepertinya kau tersiksa, hm?”
Aku berjongkok, mendekatinya. Pandanganku masih dingin menatap, dan wajahku masih datar menanggapinya. Aku menusuk lagi ke bawah rusuk kanannya dan tetap kutekan pisauku di sana. Kali ini teriakan tertahan tersangkut di tengorokannya.
Darah deras keluar dari luka pisauku. Tusukannya cukup dalam, membuat seluruh jemariku ternoda karenanya. Tapi itu belum cukup bagiku. Aku menyeret turun pisauku, membuat lukanya semakin lebar.
Di samping ginjal, aku berhenti. Pelan-pelan aku tarik keluar pisauku. Kulihat beberapa utas kecil benang kenyal tipis terbawa di pisauku, urat-urat nadi. Aku berdiri, berpindah tempat di dekat kepala guruku.
Kuraih wajahnya, memandangku. Pedih dan beban benar-benar tergambar di sana.
Belum selesai. Saat itu, aku mengangkat pisau lagi untuk mengorek mata kirinya keluar. Tapi tusukanku tak mampu begitu rapi hingga tulang di sekitar lubang matanya ikut terluka, daging dan kulit di sekitar situ robek.
Untuk sekian kalinya, teriakan tertahan terdengar jelas. Namun pita suaranya sudah lebih dulu sobek tadi. Tak ada yang keluar dari mulutnya selain percikan darah.
Setelah beberapa saat, akhirnya bola matanya berhasil kucongkel keluar. Wajah guruku ini sudah bersimpa darah. Sebelah matanya lagi membulat lebar, seakan ingin keluar dari tempatnya sendiri. Tak ada hembusan nafas lagi. Nadi pun tak mampu berdenyut lagi. Di dalam kelas ini, ruangan terasa gelap.
Aku berdiri. Aku memandang guruku lagi. Kemeja cerahnya kini berhias warna merah basah di sana-sini. Di dekat kakinya, jatuh berantakan buku-bukunya. Ada setangkai bunga melati dengan tiga kuntum bunga jatuh di samping salah satu bukunya.
Aku memintanya datang dengan sebuah pesan. Pesan yang aku tinggalkan di mejanya. Isi pesannya untuk bicara empat mata di kelas, atas nama anak murid perempuan yang pernah dia sentuh.
Aku tahu sebetulnya dia sempat merasa bersalah. Aku juga tahu, bunga ini untuk gadis itu, sebagai tanda maafnya. Tapi dia memang guru bodoh, untuk apa meminta maaf kalau dia suatu saat akan melakukan hal itu lagi.
Aku mengambil bunga itu. Aku tak tertarik untuk memilikinya, atau juga membuangnya. Aku mewarnai ketiga kelopaknya dengan darah di tanganku. Ketiganya pun tak lagi berwarna putih bersih, melainkan merah cerah.
Aku mendekati meja guru. Kutinggalkan bunga itu di atasnya.
Aku berbalik. Kupandang sekitar koridor di samping kelas. Masih kosong. Sebaiknya aku cepat keluar. Aku melipat pisau, kubungkus pisauku dengan tempatnya dan kumasukkan ke saku sambil mulai berjalan. Aku langkahi mayat guruku. Aku buka pintu dan kututup lagi.
Aku ingin tahu. Bagaimana, ya? Ekspresi orang yang pertama menemukan jasad guru itu.
Tepat saat pelajaran selanjutnya, kudengar kabar itu. Kabar kematiannya. Hari itu juga, polisi dipanggil. Namun tak dapat memecahkan siapa pelakunya.
Sampai sekarang, aku masih mengingatnya. Mengingat guru bebal itu. Dia satu-satunya orang yang berani menyuruhku mati seumur hidupku.
Aku mendengus.
Tak ada sedikit pun dari kejadian itu yang aku lupa. Tak ada pembunuhan yang mampu kuingat begitu jelas hingga bagaimana rasanya. Namun untuk yang waktu itu, sampai sekarang masih terang kuingat rasanya menggorok dagingnya, mencongkel matanya, bahkan saat kupandangi wajahnya kala itu. Semuanya terasa begitu jelas, seakan kejadian itu baru saja terjadi.
Guru itu tak akan pernah kulupa.
Cklek!
Kulihat seseorang masuk. Seorang pemuda dengan seragam murid, Dave. Dia memandang kaget ke sesisi ruangan, barulah menyadari keberadaanku.
“Tone? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
Aku mulai berbalik. Hmm ... apa perlu kujatuhkan vas lagi kali ini?
“Aku datang karena ada yang memanggilku. Tapi kenapa hanya kau yang ada di sini?”
Aku merogoh saku celanaku. “Karena tak ada gadis yang memanggilmu.”
Dave terkejut mendengarnya. “Bagaimana kau tahu kalau ...?!”
Crash!
***
To be continued ...

0 tanggapan:
Posting Komentar