Senin, 11 Mei 2015

Blue-Cold Glass (2.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 3 
--—Kuncup Melati—--






Tenang sekali kukerjakan tugas. Kelas sedang senyap, sementara guru matematika sedang menuliskan soal. Semua murid nampak serius mengerjakan. 

Seorang officegirl membuka pintu. “Maaf, Miss,” katanya sopan. “Tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan padamu.” 

Miss Wilkerson menutup spidolnya. Dia merasa ini pembicaraan penting. Dia pun mendekati Monica, officegirl berkacamata itu. 

“Ada apa?” tanya Miss Wilkerson. 

Monica menjawab, “Ini tentang anak murid kelasmu, Miss.” 

“Ada apa? Apa mereka membuat ulah lagi? Bukankah sudah kukatakan pada semua guru untuk menghukum saja mereka bila mereka melakukan sesuatu yang tak seharusnya?” 

“Bukan soal itu, Miss. Tapi ... ini soal ....” 

“Apa? Apa ada hal lain yang terjadi di kelasku?” 

“Iya. Di kelas 12–B ... Dave Hillary ... dia ... dia ... dia ditemukan tewas.” 

Miss Wilkerson segera menarik Monica keluar kelas. Pintu ditutup keras oleh wanita muda itu saat ia keluar. 

Suasana kelas pun riuh rendah. Karena kesunyian tadi, banyak yang mendengar apa yang disampaikan Monica. Mereka mulai menggunjingkannya. 

Tentu aku dengar. Tapi aku tak peduli. Pandanganku belum lepas dari buku tulis. 

“Ya ampun! Ada lagi hari ini?” kudengar pekikan Alicia. 

“Tidak pernah ada dua kali pembunuhan di hari yang sama seperti ini,” tanggap Michele. 

Oh! Aku hampir lupa dengannya. 

“Ini menyeramkan sekali! Sebetulnya apa maunya pembunuh itu?”  

“Pokoknya, kita harus hati-hati kalau begini.” 

“Michele! Jangan berkata seperti itu! Itu membuatku takut! Kau tahu itu?” 

“Dasar kau penakut. Omong-omong, siapa Dave Hillary?” 


“Kau tidak kenal Dave? Huh, ternyata kau ini kuper juga, ya. Dave itu sahabatnya Joanne. Mereka selalu bersama kemana-mana. Oh? Apa mungkin Dave merasa sangat sedih dan bunuh diri karena kehilangan Joanne?” 

“Itu alasan yang dramatis untuk kematian. Kau tahu?” 

Pikiran kita sama, Michele, kataku dalam hati. 

“Kuharap pulang sekolah nanti bisa melihatnya dulu. Kau mau ikut, Alicia?” 

“Tidak mungkin! Jasadnya pasti sudah dipindahkan oleh polisi dari kelas. Dan pulang sekolah nanti pasti polisi akan datang lagi.” 

“Benar juga. Tapi aku ragu polisi akan datang secepatnya. Mungkin saja kita masih sempat melihat jasad Dave.” 

“Memangnya mayat Dave akan tetap dibiarkan di dalam kelas? Hhiiii ... aku tidak mau membayangkan jasad korban yang kali ini. Pokoknya, tidak mungkin Dave dibiarkan tergeletak di tengah jam pelajaran.” 

“Kau ini, tentu mereka tidak belajar di dalam kelas sekarang. Mereka pasti pindah, belajar di luar kelas.” 

“Lalu? Kalau kita ke sana nanti juga pasti percuma, tidak akan bisa melihat. Pasti banyak orang mau melihat jasadnya.” 

Michele mendesah. Dia menepuk dahi sambil berkata, “Benar. Kalau begitu kita tidak perlu jadi bagian dari mereka. Terdengar konyol juga.” 

“Konyol? Apanya yang terdengar konyol?” 

“Ih, kau bilang ‘kan pasti ada banyak yang mau melihat mayat Dave. Itu terdengar konyol, untuk apa datang ke sana untuk melihat-lihat? Itu bukan tontonan, itu kriminal. Dan kita tidak perlu datang, kita tidak akan melakukan apapun seperti melacak pelakunya atau apapun.” 

Aku sempat terdiam. Tidak akan melakukan apapun. Itu artinya dia tidak .... 

“Kau ini bicara apa? Kau tidak ingat perkataan Mrs. Erica istirahat tadi?” 

Kudengar Alicia membisikan itu. Aku tertegun kali ini. 

“Ssstt ...! Jangan katakan itu! Kau tidak ingat? Ini rahasia antara kita!” Michele balas berbisik dengan kesal. 

Alicia mendekati Michele. Dia membalas berbisik, “Tapi walaupun begitu, bukan berarti kita harus bersikap antipati. Kita bisa dicurigai, tahu!” 

“Sedikit antipati tidak apa-apa.” 

“Tapi kau mengatakan hal yang terlalu terbalik.” 

“Menjauhlah! Kalau berbisik-bisik begini justru kita bisa dicurigai.” 

Alicia kembali duduk menghadap ke depan. Dia mendengus sebal karena percakapannya harus terputus seperti itu. 

Aku tak bicara. Sudah kutinggalkan pendengaran dari percakapan mereka untuk kembali serius dengan tugas di buku tulis. Aku hiraukan riuh di dalam kelas yang kian mengheboh. Aku tak memikirkan apapun selain hitungan angka di kepalaku saat ini. 

***

Gerbang sekolah sepi kala aku melewatinya. Belum ada yang ingin pulang. Selama polisi belum datang, orang-orang di sekolah lebih suka mendatangi kelas 12 itu terlebih dahulu. 

Aku bukan satu-satunya yang tak melangkah ke sana. Ada dua orang yang begitupun di depanku, Alicia dan Michele. 

Mereka tak perlu ke sana. Mrs. Erica bisa memberikan salinan foto korban hari ini bila mereka memang perlu menyelidiki dari itu. Bodoh, dengan melakukan ini, pembunuh amatir pun bisa mengendus keganjilan mereka. 

Mereka mengoborol. Hanya mengobrolkan pelajaran. Namun ada saat ditengah perjalanan mereka, mereka berhenti sejenak dan menungguku lewat. Sudah kupastikan mereka akan menanyaiku. 

“Kau selalu pulang lebih dulu, ya?” tanya Alicia. 

Aku tak meliriknya. Kujawab, “Tidak, biasanya aku pulang terakhir.” 

Alicia bertanya lagi, “Kau suka berjalan saat keadaan gerbang sepi, ya?” 

“Bila ramai, aku selalu kesulitan keluar.” 

Michele membuka suara, “Kau tahu apa yang terjadi hari ini?” 

Aku masih melangkah menjauhi mereka. “Pembunuhan lagi,” jawabku. 

“Kau tahu itu pembunuhan?” tanyanya lagi. 

Dia mulai curiga. “Siswa meninggal, selalu kasus pembunuhan.” 

“Kau tahu itu darimana?” 

“Kalian sekelas terlalu berisik untuk membuatku tak tahu.” 

Alicia kali ini bertanya, “Kau merasa terganggu dengan itu?” 

“Sejujurnya, aku tak suka keramaian.” 

Michele bertanya, “Kalau begitu, kau lebih sering di tempat sepi?” 

“Bukankah kalian selalu menemukanku di perpustakaan?” 

Mereka berdua mulai berjalan di belakangku. Bersamaan dengan itu, Alicia bertanya, “Kau suka suasana perpustakaan?” 

Kali ini aku berhenti berjalan. Begitupun Alicia dan Michele. Tanpa berbalik atau menoleh sedikitpun, aku berkata, “Kalian bisa berhenti bertanya?” 

Alicia dan Michele membeku. Mereka tak biasanya berbicara denganku, tak aneh kalau mereka kaget dengan nada dinginku. 

“Kalian berisik,” celaku pelan sambil kembali berjalan. 

Michele menyikut Alicia. Alicia meringis kecil karenanya. Aku dengar itu. 

Aku berhenti sejenak. Membuat tekanan yang sama lagi pada dua orang itu, dua detektif muda itu tepatnya. 

Aku tak merasa aneh dengan itu. Bahkan aku tak benar-benar berpikir Michele akan bekerja sendirian, hanya saja tak kusangka asistennya adalah Alicia. Aku menyela itu dalam hati, bahwa ternyata Mrs. Erica selalu tak mampu membuat pilihan yang tepat. 

“Kalian ....” 

Kugantung sebentar kalimatku. Menanggapi apa tanggapan mereka atas itu. Tegang, itulah aura yang lekat menyergap mereka. 

Aku melangkah lagi. “Kalian aneh hari ini,” kataku. 

Mereka masih terdiam di sana. Mematung seolah waktu berhenti untuk mereka. Entah apa mereka menyadari aku berjalan semakin jauh. 

Aku tak peduli itu. Aku hanya berharap mereka tak akan menguntitku. 

***

Klep! 

“Meong.” 

Aku mendengus. Dalam hati, aku begitu lega Snow White masih di rumah. Dia langsung mendekatiku dan mengusap kakiku manja begitu kututup pintu.

Aku meletakkan plastik yang kubawa di sebelah kaki meja di dekat pintu. Lalu kulepas tas dan kuletakkan di gantungan baju yang ada di samping pintu. Kulepas juga kacamataku dan kuletakkan di atas meja terdekat. Setelah itu aku berjongkok dan menyentuh Snow White. 

“Kau tidak pergi dari sini, ya? Kamu pasti menunggu lama di sini.” 

Aku mengambil plastik yang kuletakkan tadi. Itu adalah plastik belanjaanku. Karena aku membuka lemari makanan kemarin, aku menyadari persediaan bahan makananku sudah hampir habis. Aku baru ingat aku sudah lama belum membeli bahan makanan. 

Dalam plastik itu tak banyak bahan makanan yang kubeli. Lagipula aku jarang memasak. Aku tak lupa membeli sekotak susu untuk Snow White. Aku tak mau memberinya makan ikan dulu. 

Aku tinggalkan Snow White di samping ranjang bersama semangkuk susu itu. Sementara, aku berjalan ke balkon, kusela jemari-jemariku seraya bersandar di balkon besi itu. 

Aku masih memikirkan Michele. Dia dan sahabatnya. Kalau itu mereka, kemungkinan mengendus pembunuh misterius benar-benar ada. Aku tak bisa anggap remeh mereka walau aku masih jauh lebih baik dari mereka berdua. 

Aku baru sadar. Permainan ini baru saja dimulai. 

***


End of chapter 2 


          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar