—Blue-Cold Glass—
Chapter 2, Part 1
--—Kuncup Melati—--
Malam itu aku langsung memandikan Snow White. Tak lupa aku mengeringkannya.
Aku juga tidak lupa untuk mandi. Kuletakkan Snow White di atas handuk dan kuselimuti dengan handuknya juga, lalu kutinggalkan.
Sekarang aku mengeringkan rambut. Kugunakan handuk kecil untuk mengusap-usap rambutku. Kudekati jendela kamar, memperhaikan hujan yang kian menderas. Kelihatannya hujan ini akan awet sampai pagi besok.
Kututup jendelanya. Aku biasanya membuka jendela, karena di kamarku ini biasanya panas. Kipas angin di kamarku hanya satu, berukuran mini dan kuletakkan di salah satu meja di kamarku.
Kamarku selalu sepi. Sebetulnya, aku tinggal sendirian di apartemen sederhana ini. Kedua orang tuaku dan semua anggota keluargaku sudah meninggal. Aku sebatang kara, dan hanya mampu tinggal di apartemen bekas yang tak berpenghuni.
Setidaknya aku masih sedikit beruntung. Aku masih mampu bersekolah karena beasiswa yang kudapatkan. Bahkan asal tahu saja, Chenitry High merupakan salah satu sekolah favorit di daerahku.
Aku mulai berjalan mendekati ranjang. Tak sengaja kulihat bayanganku di cermin.
Rambutku berwarna hitam kebiruan. Kadang itu terlihat hitam bila di kegelapan, namun lumayan terlihat birunya saat aku berada di tempat terang.
Kuperhatikan wajahku. Wajah segitiga. Mata biru terang yang selalu memandang dingin dan tajam. Bibir tipis yang jarang berucap, lebih lagi untuk tersenyum.
Aku yang sekarang, ternyata sangat kontras dengan aku yang dulu.
Aku teringat Snow White. Kupandangi pojok ranjang, tempatku meninggalkan Snow White yang kubungkus handuk. Sambil mendekati Snow White, aku berharap dalam hati dia tak apa-apa.
Kusibak sedikit handuk yang menutupi kepalanya. Dan tak kusangka dia langsung mendongak memandangku.
“Meong.”
Aku mendengus lega. “Syukurlah,” gumamku seraya membelai lembut kepalanya.
Snow White sudah bersih. Bulunya tak lagi kusam dan kasar. Bulunya sebetulnya putih dan lembut, dan aku tahu itu. Itulah kenapa aku menamakannya Snow White.
“Meong ... meong ....”
Aku sadar Snow White tetap memandangku. Dia terus mengeong padaku yang tak mengerti apa maunya.
“Kau lapar?”
Snow White membalas dengan mengusapkan kepalanya ke jemariku. Aku anggap itu anggukan.
Aku mengusap-usap kepalanya. Lalu aku berjalan menuju dapur. Kubuka lemari makananku yang hanya berisi beberapa butir telur, setoples gula, dan beberapa bumbu dapur. Entah apa yag bisa kuberikan pada Snow White. Aku ingat, aku punya sekaleng kecil sarden. Aku langsung mengambilnya.
Akhirnya aku memberikan sarden itu pada Snow White. Padahal, sarden adalah salah satu makanan yang jarang kubeli mengingat jumlah harganya. Tapi tak ada rasa keberatan saat aku menyodorkan piring berisi sepotong ikan sarden kecil itu pada Snow White.
Snow White langsung memakannya saat itu. Saat memperhatikannya makan, barulah aku merasa berat hati. Snow White masih begitu kecil, mungkin umurnya bahkan belum seminggu. Mungkin seharusnya aku tidak memberinya makan ikan.
Aku mengusap lembut kepalanya. “Maaf, aku tidak punya banyak makanan,” kataku.
Snow White tak membalas. Dia hanya tetap makan. Aku sudah tahu, Snow White pasti tak akan mengerti apa yang kukatakan.
Aku tetap membelai kepalanya. Di malam hari, seekor anak kucing seharusnya tak berkeliaran. Kalau kulihat dari kusamnya bulu Snow White sebelum kucuci, aku pikir Snow White sudah sering di jalanan sejak pertama lahir. Mungkin dia dibuang? Pikirku.
Lagipula, Snow White tak terlihat seperti kucing jalanan. Kucing seperti Snow White, bila dijual pasti harganya mahal. Bagaimana dengan induknya? Pasti kucing terawat. Mungkin saja induk Snow White adalah kucing peliharaan, dan Snow White adalah anak kucing yang tidak diinginkan pemiliknya, hingga dia akhirnya ditelantarkan di jalanan.
Apapun alasannya, aku tak begitu peduli. Yang jelas saat kulihat kucing kecil ini hampir mati kedinginan tadi, aku tak mampu meninggalkannya.
Mungkin alasan sejujurnya bukan karena Snow White adalah anak kucing.
Aku jadi terdiam. Aku terhanyut sendiri dalam mengkilas masa lalu. Saat tersadar, kulihat ikan sarden di atas piring sudah habis. Snow White pun mengeong lagi padaku.
Aku mengelap sekitar mulutnya yang belepotan saus sarden. Segera aku berlalu dari atas kasur, kembali ke dapur. Kuambil mangkuk kecil dan kuisi dengan air putih, lalu kembali ke ranjang untuk memberikannya pada Snow White.
Aku membelai lagi kepala Snow White. Dalam hati, aku menyadari itu. Aku menolong Snow White, karena dia sendirian.
***
Pagi datang. Aku terbangun. Aku sudah terbiasa terbangun di pagi hari–pagi buta tepatnya–untuk langsung melakukan pekerjaan rumahan.
Kudengar rintik hujan di teras depan. Masih ada gerimis rupanya.
Lalu aku menoleh pada Snow White. Tadi malam aku menurunkannya dari kasur. Tapi dia tidak benar-benar kuletakkan di atas lantai, aku membungkusnya dengan selimut kecil dan kuletakkan di atas bantal, baru kuletakkan di atas lantai.
Kadang itu membuatku berpikir, apa aku agak berlebihan?
Aku langsung menggosok baju. Lalu membuat sarapan, dan mandi. Setelah benar-benar siap pergi, aku memeriksa keadaan Snow White terlebih dahulu.
Kusibak perlahan selimutnya. Snow White terbangun dan langsung memandangku. Ah, tak kusangka Snow White benar-benar sensitif dengan sentuhan.
Aku membelai kepalanya. “Tetap di sini, ya. Aku harus pergi.”
“Meong.” Snow White mendekati tanganku yang mulai menjauhinya.
Aku berhenti sebentar melihatnya. Kuusap lagi kepala Snow White perlahan, lalu aku berdiri dan beranjak pergi. Baru mulai melangkah, Snow White mengejarku dan langsung mengusapkan pipinya di sebelah kakiku.
Sepertinya Snow White memang tak mau kutinggal, pikirku.
Aku menggendong Snow White. Aku kembali berjalan mendekati ranjang dan kuletakkan Snow White di sana. Aku berlutut seraya membelai Snow White lagi.
“Aku akan kembali. Jangan kemana-mana, ya,” bisikku.
Aku berdiri. Kudengar Snow White mengeong, bahkan setelah aku keluar dan menutup pintu Snow White tetap mengeong. Aku berjalan pergi.
Sejujurnya, aku juga tak mau meninggalkan Snow White. Dia akan menunggu lama sekali di kamarku. Tapi aku juga tak bisa membawanya ke sekolah, jadi suka tak suka aku harus meninggalkannya di kamarku. Semoga saja Snow White tidak berkeliaran kemana-mana.
***
Aku akhirnya sampai di sekolah. Hari ini tak begitu ramai suasana sejak aku melewati gerbang sampai di kelas. Kulihat dari kejauhan, lingkungan sisi belakang sekolah justru lebih ramai. Normalnya, daerah itu selalu nampak sepi.
Sepanjang koridor, beberapa murid terdengar mengobrol. Mereka mengobrolkan hal yang sama. Bahkan saat di kelasku pun, sedikit orang yang sedang di kelas sedang mengobrolkan hal yang sama.
Posisi dudukku adalah pojok belakang kelas. Posisi itu selalu tenang dan sepi, dan jarang menjadi perhatian kelas. Sekitar 2 meja dariku, kudengar Alicia dan Michele sedang mengobrol.
“Mengerikan! Aku tak mau melihat pemandangan seperti itu lagi!” pekik Alicia, memekik tertahan.
“Sebetulnya itu bukan yang pertama kali, bukan? Itu kalau kau ingat,” balas Michele tenang.
“Tapi tetap saja mengerikan. Pembunuhan kejam! Sadis sekali cara membunuhnya! Bukankah kau lihat juga tadi? Lihat, ‘kan, luka-luka itu? Wajahnya ditusuk-tusuk hingga tak berbentuk lagi. Tangannya putus. Kakinya putus. Huaaaahh! Mengerikan!”
“Oke, cukup. Aku tak mau dengar dua kali kalau soal kematian.”
Sudah sejak tadi kuambil sebuah buku. Aku serius ingin membaca.
“Oh? Jadi sebetulnya kamu juga takut, ya?”
“Yah, kalau pemandangannya seperti itu, aku pasti merinding juga.”
Aku teringat juga. Tadi malam memang tak akan selesai satu tusukan di keningnya untukku. Jadi kutusuk lagi di pelipis, mata, pipi, hingga akhirnya seluruh wajahnya. Dan kutambah luka di sekitar pergelangan tangannya, lalu berganti beberapa sabetan di kakinya. Tadinya sudah ada beberapa tusukkan di dadanya, tapi hujan sudah lebih dulu mengguyurku. Aku akhirnya terburu-buru kembali.
Aku tak peduli itu lagi. Joanne sudah tak ada, jadi aku bisa melakukan rutinitasku. Tak ada masalah.
“Aku pikir rumor pembunuh misterius itu benar adanya, Alicia.”
“Hei! Jangan buat aku semakin takut!”
“Tidak! Aku serius! Firasatku bilang begitu. Dan entah kenapa, saat kulihat pecahan kaca di sekitar situ ....”
Aku terkesiap dalam hati.
***

0 tanggapan:
Posting Komentar