—Blue-Cold Glass—
Chapter 4, Part 3
--—Teh dan Madu—--
Sampai di rumah, aku tak melihat Snow White di atas ranjang. Dia pun tak mendatangiku saat aku menutup pintu. Aku mulai meletakkan tasku dan beranjak mencarinya.
Aku tak membawa Snow White ke sekolah lagi hari ini. Aku hanya berharap dia tak bermain keluar karena aku pikir dia mungkin akan bermain jauh-jauh. Lagipula, tadi pagi Snow White tak mengejarku ke pintu saat aku akan keluar.
Aku berhenti sejenak. Kuurungkan niatku mencari Snow White saat kudengar meongan singkat di dapur bersamaan dengan suara sesuatu yang jatuh. Aku berjalan ke dapur dan mendapati panci, sendok sup dan peralatan masak lain berserakan di lantai. Lemari makanan di sampingnya terbuka dan Snow White duduk di atas lemari itu, menggigit seekor ikan mentah.
Aku mendengus. Kudekati lemari itu dan mengangkat kedua tanganku, memberi isyarat pada Snow White untuk turun. Snow White pun melompat padaku.
“Ah!” ringisku saat sebelah pipiku terbasahi sisik ikan. Aku tak berpikir akan terkena ikan tadinya. Snow White hanya memandangiku dan mengerung pelan. Aku mulai membelainya.
Aku berkata, “Kau sudah terlanjur lapar, ya? Maaf, ya, karena aku pulang agak terlambat.”
Aku menurunkan Snow White di atas meja dapur. Lalu aku memunguti peralatan dapur yang berserakan tidak pada tempatnya. Beberapa saat kemudian, aku berhenti untuk memandang Snow White yang tak kunjung memakan ikannya.
“Makanlah! Aku mau mandi dulu nanti,” kataku pada Snow White.
Barulah Snow White memakan ikan itu di atas meja. Sementara aku kembali merapikan dapur. Tak lama kemudian, aku selesai dan mandi. Setelah itu aku makan.
Saat makan, masih kuingat pisau dan sapu tangan bernoda darah di tasku. Aku berniat mencucinya setelah makan nanti. Kalau tidak, tasku akan beraroma darah.
Setelah makan, aku mencuci peralatan makan. Sedikit juga kubersihkan dapur yang agak kotor. Sebelum kuambil tasku, aku menghampiri lemari pakaianku dulu untuk mengambil kaus.
Aku tinggal sendirian. Karena itu aku sering berbuat sekehendak hatiku. Seperti tadi, aku makan sebelum mengenakan baju atasan apapun.
Lemariku tak begitu besar. Aku menyimpan pakaian dengan dilipat dan ditumpuk di atas rak di dalam lemari. Ada tiga rak di dalamnya. Rak paling atas untuk menyimpan barang-barang penting, rak di tengah untuk menyimpan pakaian, dan paling bawah yang lebih besar untuk menyimpan beberapa barang.
Aku mengambil atasan secara acak. Kadang aku tak begitu peduli soal pakaianku di rumah. Akhirnya aku mengenakan sebuah kemeja putih.
Saat itu, aku lihat sebuah keranjang kecil di rak atas. Itu adalah keranjang berisi alat-alat jahit. Keranjang itu hanya kuambil bila ada pakaian yang perlu kuperbaiki, saat iseng merajut, ataupun kalau aku ingin menyulam sesuatu. Aku cukup mahir dengan semua itu.
Aku meraih sebuah bola gulungan wol berwarna putih di keranjang itu. Setelah itu, aku menoleh pada Snow White sambil menutup lemari. Snow White ada di seberang ranjang, meringkuk di atas lantai. Aku pikir mungkin Snow White mau bermain dengan ini.
Aku mendekati ranjang. Aku mengeong pada Snow White yang langsung bangun dan menoleh padaku. Langsung kulempar pelan gulungan wol pada Snow White. Saat bola gulungan itu menggelinding melewati Snow White, ia mengejarnya dengan semangat.
Snow White tampak lucu memainkannya. Kucing kecil itu menghentikan gulungan wol dan lalu terdiam sejenak memperhatikan bola wol itu. Lalu dia menyentuh gulungan itu sedikit-sedikit, hingga beberapa saat kemudian dia baru benar-benar memainkan gulungan itu.
Aku duduk di lantai. Masih kuperhatikan Snow White, anak kucing yang bermain-main dengan gulungan wol putih.
Aku masih ingat sebelumnya. Saat tadi Snow White membawa ikan di mulutnya. Ikan yang berukuran sedang itu tentu kebesaran untuk dibawa Snow White yang tak lebih besar dari dua telapak tanganku. Tapi tetap saja, Snow White terlihat lucu.
Aku mulai mendekati Snow White. Aku meraih bola gulungan wol itu dan menggelindingkannya sedikit ke arah lain, membiarkan Snow White mengejarnya. Sebelum Snow White meraihnya, aku menangkapnya dan menggelindingkannya lagi ke tempat sebelumnya. Snow White tetap bermondar-mandir mengejar wol itu.
Pada akhirnya Snow White tak mau kalah. Dia berhasil menggapai wol itu lebih dulu dan kembali memainkannya sendirian. Untuk beberapa saat, aku membiarkannya dan hanya memperhatikan Snow White.
Beberapa waktu kemudian, aku kembali menarik wol. Snow White tetap berusaha meraih bola wol itu dariku. Entah apa aku menggelindingkannya, menahannya hingga tak berputar, atau mengangkatnya di atas wajah Snow White, kucing kecil itu tetap berusaha mendapatkannya kembali.
Lambat laun, Snow White terlihat malas bergerak. Hingga akhirnya Snow White tak mempedulikan gulungan wolnya, dia hanya meringkuk. Aku baru menyadari kalau Snow White sudah mengantuk.
Aku tak merasa perlu melirik jam dinding lagi. Aku sudah bisa menebak, sudah beberapa jam lewat, buktinya Snow White sudah bosan bermain dan mengantuk.
Aku pun meraih bola gulungan wol putih yang sudah sedikit berantakan. Aku membelai lembut Snow White, lalu naik ke ranjang. Belum lama aku merebahkan diri, Snow White melompat ke atasku dan kembali tidur. Aku hanya menutup mata saja, membiarkan Snow White tidur bersamaku.
***
Pagi esoknya, tasku dan seisinya sepenuhnya berbau darah.
