Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Jumat, 03 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 3 
--—Teh dan Madu—--







Sampai di rumah, aku tak melihat Snow White di atas ranjang. Dia pun tak mendatangiku saat aku menutup pintu. Aku mulai meletakkan tasku dan beranjak mencarinya. 

Aku tak membawa Snow White ke sekolah lagi hari ini. Aku hanya berharap dia tak bermain keluar karena aku pikir dia mungkin akan bermain jauh-jauh. Lagipula, tadi pagi Snow White tak mengejarku ke pintu saat aku akan keluar. 

Aku berhenti sejenak. Kuurungkan niatku mencari Snow White saat kudengar meongan singkat di dapur bersamaan dengan suara sesuatu yang jatuh. Aku berjalan ke dapur dan mendapati panci, sendok sup dan peralatan masak lain berserakan di lantai. Lemari makanan di sampingnya terbuka dan Snow White duduk di atas lemari itu, menggigit seekor ikan mentah. 

Aku mendengus. Kudekati lemari itu dan mengangkat kedua tanganku, memberi isyarat pada Snow White untuk turun. Snow White pun melompat padaku. 

“Ah!” ringisku saat sebelah pipiku terbasahi sisik ikan. Aku tak berpikir akan terkena ikan tadinya. Snow White hanya memandangiku dan mengerung pelan. Aku mulai membelainya. 

Aku berkata, “Kau sudah terlanjur lapar, ya? Maaf, ya, karena aku pulang agak terlambat.” 

Aku menurunkan Snow White di atas meja dapur. Lalu aku memunguti peralatan dapur yang berserakan tidak pada tempatnya. Beberapa saat kemudian, aku berhenti untuk memandang Snow White yang tak kunjung memakan ikannya. 

“Makanlah! Aku mau mandi dulu nanti,” kataku pada Snow White. 

Barulah Snow White memakan ikan itu di atas meja. Sementara aku kembali merapikan dapur. Tak lama kemudian, aku selesai dan mandi. Setelah itu aku makan. 

Saat makan, masih kuingat pisau dan sapu tangan bernoda darah di tasku. Aku berniat mencucinya setelah makan nanti. Kalau tidak, tasku akan beraroma darah. 

Setelah makan, aku mencuci peralatan makan. Sedikit juga kubersihkan dapur yang agak kotor. Sebelum kuambil tasku, aku menghampiri lemari pakaianku dulu untuk mengambil kaus. 

Aku tinggal sendirian. Karena itu aku sering berbuat sekehendak hatiku. Seperti tadi, aku makan sebelum mengenakan baju atasan apapun. 

Lemariku tak begitu besar. Aku menyimpan pakaian dengan dilipat dan ditumpuk di atas rak di dalam lemari. Ada tiga rak di dalamnya. Rak paling atas untuk menyimpan barang-barang penting, rak di tengah untuk menyimpan pakaian, dan paling bawah yang lebih besar untuk menyimpan beberapa barang. 

Aku mengambil atasan secara acak. Kadang aku tak begitu peduli soal pakaianku di rumah. Akhirnya aku mengenakan sebuah kemeja putih. 

Saat itu, aku lihat sebuah keranjang kecil di rak atas. Itu adalah keranjang berisi alat-alat jahit. Keranjang itu hanya kuambil bila ada pakaian yang perlu kuperbaiki, saat iseng merajut, ataupun kalau aku ingin menyulam sesuatu. Aku cukup mahir dengan semua itu. 

Aku meraih sebuah bola gulungan wol berwarna putih di keranjang itu. Setelah itu, aku menoleh pada Snow White sambil menutup lemari. Snow White ada di seberang ranjang, meringkuk di atas lantai. Aku pikir mungkin Snow White mau bermain dengan ini. 

Aku mendekati ranjang. Aku mengeong pada Snow White yang langsung bangun dan menoleh padaku. Langsung kulempar pelan gulungan wol pada Snow White. Saat bola gulungan itu menggelinding melewati Snow White, ia mengejarnya dengan semangat. 

Snow White tampak lucu memainkannya. Kucing kecil itu menghentikan gulungan wol dan lalu terdiam sejenak memperhatikan bola wol itu. Lalu dia menyentuh gulungan itu sedikit-sedikit, hingga beberapa saat kemudian dia baru benar-benar memainkan gulungan itu. 

Aku duduk di lantai. Masih kuperhatikan Snow White, anak kucing yang bermain-main dengan gulungan wol putih. 

Aku masih ingat sebelumnya. Saat tadi Snow White membawa ikan di mulutnya. Ikan yang berukuran sedang itu tentu kebesaran untuk dibawa Snow White yang tak lebih besar dari dua telapak tanganku. Tapi tetap saja, Snow White terlihat lucu. 

Aku mulai mendekati Snow White. Aku meraih bola gulungan wol itu dan menggelindingkannya sedikit ke arah lain, membiarkan Snow White mengejarnya. Sebelum Snow White meraihnya, aku menangkapnya dan menggelindingkannya lagi ke tempat sebelumnya. Snow White tetap bermondar-mandir mengejar wol itu. 

Pada akhirnya Snow White tak mau kalah. Dia berhasil menggapai wol itu lebih dulu dan kembali memainkannya sendirian. Untuk beberapa saat, aku membiarkannya dan hanya memperhatikan Snow White. 

Beberapa waktu kemudian, aku kembali menarik wol. Snow White tetap berusaha meraih bola wol itu dariku. Entah apa aku menggelindingkannya, menahannya hingga tak berputar, atau mengangkatnya di atas wajah Snow White, kucing kecil itu tetap berusaha mendapatkannya kembali. 

Lambat laun, Snow White terlihat malas bergerak. Hingga akhirnya Snow White tak mempedulikan gulungan wolnya, dia hanya meringkuk. Aku baru menyadari kalau Snow White sudah mengantuk. 

Aku tak merasa perlu melirik jam dinding lagi. Aku sudah bisa menebak, sudah beberapa jam lewat, buktinya Snow White sudah bosan bermain dan mengantuk. 

Aku pun meraih bola gulungan wol putih yang sudah sedikit berantakan. Aku membelai lembut Snow White, lalu naik ke ranjang. Belum lama aku merebahkan diri, Snow White melompat ke atasku dan kembali tidur. Aku hanya menutup mata saja, membiarkan Snow White tidur bersamaku. 

***

Pagi esoknya, tasku dan seisinya sepenuhnya berbau darah. 




End of chapter 4



          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


Kamis, 02 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 2 
--—Teh dan Madu—--









Marino bertanya kalem, “Kau belum pulang juga, ya?” 

“Ada panggilan untukku,” jawabku. 

“Oh, begitu, ya,” balas Marino, masih dengan senyumannya. Dia lalu menoleh ke piano di belakangnya. “Aku tiba-tiba ingin sekali ke sini. Bermain piano di sini.” 

Aku menggedikkan kepala ke samping, menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi mataku. “Kau tidak takut?” 

Marino tertawa kecil. Lalu dia kembali menoleh padaku sambil menjawab, “Rasanya, bila musik sudah memanggil hatiku, aku tidak bisa memikirkan yang lain lagi selain mendatanginya dan bermain bersamanya.” 

“Tidak peduli apapun lagunya?”

“Ya, begitulah. Walau begitu, rasanya aku tetap tenang bersama nada-nada ini,” jawab Marino sambil memainkan jemarinya di atas tuts piano. 

Kata-kata Marino memang terdengar agak puitis. Tapi itu tak ada hubungannya dengan pribadinya yang romantis. Aku tahu itu. Dia tidak disebut romantis hanya karena gadis-gadis menyukainya, melainkan karena dirinya yang hangat dan tenang. Di sini pun dia tak berpura-pura, dia mengatakan apa yang ada di hatinya. 

Aku melangkah mendekati sebuah kanvas. Aku perhatikan kanvas putih bersih itu. “Aku paham,” balasku sambil meraih kuas tebal dan mencelupkannya sedikit ke cat hitam. “Bila kau sudah bersama dengan yang kau cintai, tak ada lagi yang bisa kau pikirkan, hanya ingin terus bersamanya.” 

Dia menghentikan permainan jemarinya. Marino mulai memperhatikanku yang menggoreskan warna hitam di sekitar pinggir kanvas. Dari posisi kami, dia tentu bisa melihat apa yang kulukis. 

“Kau juga pernah mencintai sesuatu? Begitu dalam?” 

Aku mencoba tak mengacuhkannya. 

“Atau, kau belum menyadarinya?” 

Aku meletakkan kuas. Setelah itu kuambil kuas yang lebih tipis dan kucelupkan sedikit ke cat hijau. Sambil menggoreskan kuas, aku menjawab, “Itu hanya masa lalu.” 

“Ah! Maafkan aku. Aku lupa kalau kau yatim piatu.” 

“Tidak apa. Kupikir kau tak tahu soal itu.” Aku mencelupkan kuas lagi ke cat hijau. 

“Kau bukan hanya bintang kelas, kau tahu? Aku sudah mendengar cukup banyak tentangmu. Kau ini lebih dari sekedar cerdas.” 

Aku tak membalas. Kucelupkan kuas ke air, lalu menganggkatnya dan kemudian mengketuk-ketukkannya pada pinggir gelas, mengeringkannya sedikit. Setelahnya, kucelupkan sedikit ke cat biru cerah. Kugoreskan di sebelah warna hijau. 

“Mereka pasti bangga padamu, Tone.” 

Aku berhenti sebentar. Mendengus berat dan perlahan, lelah. Dasar dramatis. “Terima kasih,” jawabku. Kucelupkan lagi kuas dengan sedikit cat biru dan kembali ke kanvas. 

Aku tak menoleh padanya. Namun bisa kurasakan pandangannya sedikit berubah, senyumannya memudar dan hilang. 

“Kalau boleh tahu, aku penasaran dengan keluarga Reville dulu.” 

Aku masih serius melukis gradasi biru. “Maaf, Marino, tapi kurasa kita tak perlu membicarakan hal ini.” 

“Iya, maaf.” 

Kucelupkan kuas ke air. Setelah mengeringkannya sedikit, kucolek cat jingga kekuningan. Aku melukisnya di bawah-antara warna hijau dan biru. 

Kudengar langkah kaki Marino mendekatiku. Dengan tenang dia berjalan pelan ke arahku. 

Padahal aku melangkah ke sini untuk menjauhinya sejenak. 

Dia berhenti, diagonal di belakangku. Sejenak dia diam, aku tahu dia tersenyum. “Lukisan itu bagus,” tanggapnya kemudian. 

Aku berhenti sebentar. “Begitu menurutmu?” tanyaku datar, tak peduli pujiannya. 

“Iya,” jawab Marino. “Seakan kau menggambarkan tiga cahaya terang di kegelapan. Dan ketiganya bukan hanya sekedar cahaya. Bukankah begitu?” 

Aku kembali berdiri tegap. Lalu menoleh padanya. “Tadinya, aku pikir kau hanya tahu tentang musik,” tanggapku, menangkap maksud perkataan Marino. 

Marino tertawa kecil. Dia kembali memandang lukisanku dan berkata lagi, “Hitam, bermakna kegelapan. Hijau, bermakna kehidupan. Biru, bermakna ketenangan. Dan kuning, bermakna kebahagiaan. Ketiga warna tersebut adalah cahaya yang akan selalu ada bersamamu. Dan dengan begitu, maka artinya, walau kau dunia segelap apapun, kehidupan, ketenangan dan kebahagiaan pasti akan selalu ada mendampingimu.” 

Aku sebetulnya tak tertarik dengan itu. Aku pun hanya kembali membelakanginya seraya berkata, “Aku kagum dengan jiwa senimanmu.” 

Aku meletakkan kuasku. Sambil mengambil kuas lain, aku berkata lagi, “Tapi, lukisan ini masih belum selesai.” 

Aku terdiam sejenak melihat sebuah gelas cat yang kosong. 

“Kalau begitu, warna apa selanjutnya?” tanya Marino. 

Aku mulai meletakkan kuas itu. “Merah.” 

“Ah, jarang ada yang menggunakan warna itu saat melukis di ruang seni. Bahkan anak-anak klub seni pun juga tak ingin menggunakannya. Sepertinya mereka trauma, atau mulai takut dengan warna itu.” 

Aku mengerti itu. Karena itu aku menganggukkan kepala saat aku berbalik, berhadap muka dengan Marino. Aku menunduk sedikit dengan kedua mata kututup dan kedua tanganku kumasukkan ke saku. 

“Kau bisa mengambilnya di gudang sekolah bila memang memerlukannya.” 

“Sepertinya aku tak butuh, kalau begitu.” 

“Kalau aku boleh tahu, untuk memaknakan apa warna merah itu di lukisanmu?” 

“Untuk sebuah simbol penghancur ....” Perlahan, kubuka mataku, langsung menatap tajam Marino. “Dan peringatan.” 

Marino tampak sangat tegang. Terlihat jelas dia jauh lebih ketakutan, daripada saat memandangku di awal perbincangan. Bahkan dia mulai mundur secara tak sadar. 

Aku tak mengatakan apapun lagi. Untuk beberapa saat, aku tetap memandangnya, mempersilahkannya sadar sepenuh pikirannya bahwa aku sama sekali serius. 

Tapi dari segalanya, aku tahu dia akan tetap bingung. Membingungkan tentang untuk apa aku serius. 

“Kita sekontras hitam dan putih, Marino,” kataku. “Kau seharusnya tahu itu.” 

Marino nampaknya baru tersadar. “Apa ... maksudmu?” suaranya mulai tersendat untuk bicara. 

Aku mengedipkan mata perlahan. Sedikit lelah dengan pembiacaraan ini. Saat kubuka mata pandanganku tak berubah, namun Marino nampak lebih tegang memandangku setelah itu. 

“Kau lembut dan sangat berperasaan. Aku pahami itu, karena aku juga tahu kalau kau berasal dari keluarga berada. Di tempatmu, kau selalu ada di nuansa tenang. Kau hanya ada paham tentang hal-hal indah, dan tak pernah mengalami masalah berat.” 

Aku mulai melangkah mendekati Marino. Sementara Marino semakin menjauhiku. 

“Kita sangatlah kontras,” sambungku. “Dengan itu, bisa kau bayangkan kehidupanku? Dan aku?” 

Kukeluarkan tangan kananku. Kuangkat di depan bibirku dengan punggung tangan yang menghadap ke bibir. Klik! 

Rasa takut Marino kian melingkupinya. Marino tak mampu mengatakan apapun, hanya bisa berdiri dengan penuh gemetar memandangiku dan pisau di tanganku. 

Aku tak tertarik membuatnya lebih takut lagi. Aku sudah sering melihat wajah itu. Justru rasanya ingin segera mencincangnya. 

“Bukankah kau juga takut ... dengan warna merah?” 

Tak ada yang bisa diucapkan Marino. Walau dia sadar, dia sudah tak bisa berpikir jernih, pikirannya kalut dengan berbagai dugaan. 

“Marino ....” Aku mempercepat langkahku. “Kau kompleks memiliki hijau, biru, dan kuning. Namun ....” 

Sampai aku tepat di depan Marino. Langsung kutarik kerahnya, mencegahnya lari. Tampak jelas wajah syok Marino yang mulai memucat. 

“Kau tak pernah merasakan hitam ....” 

Aku mengangkat pisau. Kutempelkan pelan ujung mata pisau di dagu Marino. 

“Karena itu kau tak akan memahami merah. Dia adalah kematian.” 

Kutusukkan pisauku, melubangi kerongkongan Marino. Teriakannya tertahan, dan tak ada lagi suara yang keluar. Marino tak sempat berteriak, bahkan berkutik sedikitpun. 

Aku memandang wajahnya yang masih nampak ketakutan. Wajahnya masih terlihat tegang. Aku biarkan darahnya keluar deras, namun belum kutarik pisauku agar tak mengucur mengenaiku. Perlahan kemeja putih Marino berubah warna, seiring darah yang terus turun. 

Akhirnya kutarik pisauku. Segera aku membanting Marino dan melangkah mundur. Masih kudengar sedikit suara Marino saat itu, dia masih sadar. Sedikit kudekati Marino untuk mentelentangkannya, dan menusuknya di ulu hati. Benar saja, Marino tersentak. 

Kuangkat pisauku kembali. Tapi setelah itu kutusukkan lagi. Lalu kuangkat lagi, dan kutusukkan lagi, berkali-kali. Hingga akhirnya Marino benar-benar tak bernafas. 

Aku menjauhi Marino. Darah segar keluar membasahi ubin dan terus meluas. Kuperhatikan wajah jasad Marino yang penuh luka tusukan dan kini tak berbentuk. 

Kujatuhkan pisauku secara sengaja. Pisau itu sudah sangat basah. Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku kanan celanaku dengan tangan kiri dan mengelap tangan kananku. 

Aku berbalik. Aku kembali ke depan kanvas untuk mengambil kuas bersih sebelumnya dengan tangan kanan yang menggenggam sapu tangan. Lalu kembali mendekati genangan darah yang semakin meluas. 

Sejenak kuperhatikan lagi wajah Marino. Ekspresi tegang itu hilang sudah, tersisa koyakan daging dan tulang terpotong yang bersimba darah. Tubuhnya pun penuh luka tusuk, walau nyaris tak separah wajahnya. 

Aku berjongkok. Kucolek genangan merah di depanku secukupnya dengan  kuas dan berjalan kembali ke depan kanvas. 

Di depan kanvas, aku mencoret-coret tipis lukisanku. Tidak dengan hati-hati seperti sebelumnya, namun dengan agak asal. Garis-garis merah pun menghiasi ketiga warna cerah di kanvas. Sesekali aku berbalik dan mencolek darah lagi. Hingga pada akhirnya, aku mencelupkan kuas sampai cukup basah. Dengan kuas basah itu, aku memberikan sentuhan terakhir pada lukisanku, yaitu sebuah segitiga merah besar terbalik yang memotong ketiga warna. 

Selesainya, kuletakkan kuas berdarah di samping kuas lain. Masih dengan sapu tanganku, aku mengelap batang kuas lain dan meletakkannya dengan hati-hati. 

Aku mulai melangkah mundur. Sejenak kuperhatikan lukisanku saat aku berjalan, memastikan cat warna lain tak luntur karena darah yang cair. Lalu aku berbalik, meninggalkan lukisanku dan jasad Marino begitu saja. Tak kulupa juga pisauku. 

Aku tak menutup pintu ruang seni. Sengaja agar ada seseorang yang segera mencium wangi amis darah dari dalam ruangan. Aku meraih ranselku yang ada di depan pintu ruang seni, memasukkan pisau dan sapu tanganku ke tas, lalu pergi. 

***






          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


Rabu, 01 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 1 
--—Teh dan Madu—--







Esok paginya, aku kembali seperti biasa. Snow White duduk di atas lantai, memakan makanannya sementara aku duduk di kursi, menghabiskan sarapan. Selesai dengan telur dadar di atas piring, aku meraih secangkir teh hangat. 

Di atas meja, kuletakkan juga tasku. Kupandangi sebentar tasku saat aku memberi sesendok gula ke dalam teh. Aku memikirkan agenda kecilku yang ada di dalam tas. 

Kemarin sore, aku benar-benar terbakar emosi. Rencana membunuh guru kimiaku, Mister Hollard yang seharusnya hari ini jadi kupercepat sore sepulang sekolah kemarin. Sebetulnya tak bagus juga bila terburu-buru seperti itu, game ini jadi kurang seru. 

Aku tak akan lupa. Kami bertiga sedang dalam permainan. 

Aku kembali memandang tasku. Kali ini kuputuskan untuk mengambil agenda itu. Dengan satu tangan, kubuka dan kurogoh tasku. Setelah kukeluarkan, kubuka lembaran agenda itu dengan satu tangan juga. Sambil mengecek beberapa sisa rencanaku, aku menyeruput tehku. 

Tak sebanyak itu kasusnya. Sejak awal, aku tak berpikir untuk menjadikan ini permainan yang panjang. Saat ini, kupikir merubah sedikit rencanaku adalah ide yang bagus juga. 

Aku menutup kembali agendaku. Kuletakkan agenda itu sambil berdiri dari kursi. Tehku pun kubawa. 

Teh itu sudah manis. Tapi kalau hanya manis, tak akan cukup. Daripada menambahkan dengan gula lagi, lebih baik ditambah dengan rasa yang lain. 

Seperti itu juga yang kupikir untuk rencanaku selanjutnya. 

Aku menyeruput kembali tehku setelah kuberikan madu. Aku lebih suka rasa teh-ku yang sekarang. 

***