—Blue-Cold Glass—
Chapter 3, Part 5
--—Hari Kenangan—--
Kelas sudah sangat sepi. Sepanjang jalanku ke kelas, tak ada siapapun kutemui. Officeboy dan officegirl juga sudah kembali pulang, beberapa sedang keluar. Setelah mengambil tas, aku berniat berjalan ke sekitar sekolah. Namun kuurungkan niat itu karena saat melihat ke gerbang, kulihat sesuatu di dekat pos jaga.
Aku mendekatinya. Lalu kuambil dia seraya berkata, “Di sini rupanya.”
Snow White mengeong padaku. Tadinya dia tertidur, dan terbangun saat kuangkat. Aku mengusap lembut kepalanya.
***
BRAKK!!
Barusan tas.
SRAK!!
Jas.
Shuitt!! Srak! Srak! Srak!
Dasi. Setelah lepas, kusabetkan pada kaki ranjang. Tak hanya tiga kali seharusnya, tapi jika lebih benang yang putus di dasi itu akan lebih panjang.
Kulirik Snow White yang menunduk menutupi kepalanya. Di atas kasur, dia memandangiku. Itu cukup membuatku mendesah perlahan sambil duduk dengan kasar di ranjang. Dasi seragam kulempar ke tas dan jas seragamku yang bertumpuk di samping sebuah kaki meja.
Mencegahku menyabet lagi, aku melepas ikat pinggang. Kulempar juga ke tempat yang sama. Kulepas kacamata yang lalu dengan tangan itu pun aku meremas rambutku.
Kata-kata itu ... masih terngiang.
“Di sini, hantu itulah yang terkutuk.”
Kini jemari berpindah. Kupijat kepalaku. Kutarik nafas pelan-pelan, dan menghembuskannya perlahan. Aku berusaha melepas emosi perlahan, namun ternyata tak semudah itu saat ini.
Kembali kuremas rambutku. Tak kusadari, keringat mulai menetes.
“Beraninya ....”
Sebelah tanganku mulai ikut. Secara tak sadar aku menggenggamkannya. Kedua lenganku ada di atas paha saat ini.
“Kau tahu apa?” geramku setengah berbisik. “Rrrrhh ....”
Meong ....
Aku tersadar. Kusingkirkan tanganku untuk memandang Snow White yang naik ke salah satu kakiku. Dengan tetap memandangku Snow White kembali mengeong.
Aku sadar juga. Baru saja tadi aku mengerang.
Aku mendesah pelan.
“Aku membuatmu takut, ya?” Kubelai lembut Snow White. “Maaf.”
Snow White menunduk. Dia tetap bergelut di kakiku, sementara aku tetap membelainya. “Terima kasih, ya.” Setidaknya, sekarang aku lebih tenang.
Tak lama kemudian, aku ingat sesuatu. Segera kuambil itu. Sudah kujauhkan tas, dasi, juga sabukku, tapi pisau di sakuku belum. Saat kuambil, aku tak berniat memandangnya.
Untuk suatu alasan, saat ini sulit untukku menjaga emosi.
***
Hujan begitu derasnya. Hawa malam terasa dingin. Bila hanya dengan piama rumah sakit saja bisa menggigil, bagaimana bila sudah tersiram air hujan? Anak kecil tanpa apa-apa ini tak bisa melakukan apapun selain memeluk diri di pojok teras depan bangunan tua ini.
Padahal kanopi teras tak begitu lebar. Tetap saja tubuhku tekena guyuran hujan. Dan percuma aku memeluk diri untuk mencari kehangatan, aku sudah terlalu menggigil.
“Tt ... t ... to ... long ... d ... ding ... nginn ....”
Aku tahu tak akan ada siapapun yang lewat. Di tengah malam begini, di tengah hujan begini, siapa yang akan datang? Kalaupun ada, adakah yang mendengar suaraku yang sudah tak lebih keras dari bisikan? Bahkan saat ini hujan jauh lebih bergemuruh.
“D ... di ... nginn ... brrr ....”
Aku sudah tak tahu apa yang kuucapkan. Kepalaku terasa sangat pusing. Aku hanya bisa merasakan dingin di sekujur tubuhku yang menembus tulang, tak lebih. Aku bahkan mulai tak bisa merasakan rintikan dingin air hujan di kulitku lagi.
Sudah 6 minggu yang lalu aku kehilangan segalanya. Tak akan ada yang paham rasanya. Baru sore itu aku tertawa, malam itu pun aku harus kehilangan tawaku. Mereka sudah pergi. Kebahagiaanku sudah pergi.
Aku tak mau ke panti asuhan. Akan pecuma saja memiliki saudara yang tak memahami saudaranya. Tak ada yang mengenalku, tak akan ada yang tahu bagaimana perasaanku. Benar-benar percuma.
Aku tidak perlu percaya pada mereka.
Dunia sudah merebut semuanya. Aku tak akan bisa tertawa sebahagia dulu, dan merasakan kehangatan yang selembut dulu itu.
Sekarang tak ada siapapun mau mendekatiku. Bahkan juga untuk mencoba mendengar sebuah harapan di hati kecilku. Atau bahkan untuk merangkulku, dan memelukku. Harapan itu hanya tinggal bisikan penuh luka.
Kehilangan keluargamu. Kehilangan orang-orang yang berharga bagimu. Kehilangan hal yang berarti untukmu. Kehilangan senyummu, tawamu, candamu. Kehilangan kebahagiaanmu. Artinya, dunia sudah tak lagi hangat untukmu.
Kematian.
Dengan itu aku terpisah. Dia merebut segalanya dariku. Bahkan tadinya dia ingin merebut nyawaku juga.
Kenapa? Kenapa dia tidak mengambil nyawaku? Apa dia ingin aku merasakan lebih banyak penderitaan dulu? Dia mau aku merasakan berbagai kekejaman dunia dulu? Dia ingin aku kehilangan satu persatu bagian hidupku dulu? Ataukah dia berharap, dunia akan mencincang tubuh dan hatiku?
Dia bahkan tak peduli aku. Dan tak peduli pada orang yang direnggutnya. Mereka orang-orang yang kusayangi. Tapi daripada ikut mati bersama mereka, dia justru ingin aku memikul beban kesepian sepanjang sisa hidupku terlebih dahulu.
Kematian. Dia sangat kejam. Dia tak memandang siapa yang direnggutnya. Dia juga tak akan mengambil nyawa yang akan merasakan pedih lebih lama. Dia ingin orang lain menangis karena kehilangan dan ketakutan.
Kematian itu lebih buta dari cinta.
“Di ... ngin ....”
Apa aku bodoh? Aku hanya terus memeluk tubuh seperti ini. Seharusnya aku tak begini.
Kalau seperti ini, kematian akan menemuiku lagi. Dia akan mencoba mengambil nyawaku lagi.
Tidak! Tidak dengan semudah ini. Akan kutunjukkan padanya kalau aku tak akan mudah ia renggut!
Dengan sisa tenaga, aku berusaha mendekati ambang pintu. Saat akhirnya aku berhasil mencapainya, aku berusaha berdiri. Aku tahu pintu itu dikunci. Dari awal mendekati bangunan ini, aku sudah tahu bangunan ini sudah tak ada pemiliknya.
Aku mencoba mendobrak pintu lebar itu. Namun ternyata sendi-sendi tubuhku bahkan masih terlalu ngilu. Aku memaksakan, mencoba mendobraknya lagi, lagi, lagi dan lagi. Aku terus mencamkan bahwa aku tak akan semudah itu menjadi mainan kecil, aku tak boleh mati.
Bruak!! Akhirnya pintu berhasil terbuka. Aku jatuh ke lantai berdebu di dalam. Aku bangun, dan meraih tas dari selimut rumah sakit yang kubawa.
***
Ternyata aku terdiam begitu lama. Aku tak ingat bagaimana, tapi sekarang aku sudah mengangkat figura foto di tanganku. Pisau lipat dan sapu tangan itu sudah kuletakkan di meja yang ada di dekat jendela, meja yang sama dengan tempat adanya figura. Kacamataku kuletakkan di sebelahnya.
Aku kembali memandang foto itu. Hanya ini satu-satunya kenangan yang tersisa dari masa itu. Foto keluargaku.
Aku ingat, malam itu aku iseng melepas foto ini dari album. Aku perhatikan sambil tertawa-tawa sendiri, lalu kumasukkan ke saku piyama. Suster di rumah sakit yang memberikan ini lagi padaku.
Di foto itu, suasana terlihat ceria. Ayah sedang menggendong adikku, adikku sedang tertawa sambil melambaikan sandwich, aku di sebelah Ayah sedang melambaikan sosis panggang di garpu yang kupegang dan meringis karena kakakku sedang melumuri pipiku dengan saus dan mayonnaise di sosisnya, kakaku sendiri terlihat cekikikan dengan wajah jahil, sementara Ibu hanya tertawa memperhatikan kami. Sebetulnya, itu momen yang lucu.
Dulu aku masih suka tertawa sendiri saat melihatnya. Baik saat masih di rumah sakit, atau di hari-hari pertama aku tinggal di apartemen. Hanya saja air mata juga akan ikut keluar saat itu. Sisa tawa dan senyum yang waktu itu bisa kukeluarkan akan terhapus dan digantikan dengan isak tangis.
Sekarang aku sudah tak merasakannya lagi. Tawa dan tangis itu seperti sudah hilang ditelan waktu.
Kematian.
Aku tahu dunia ini sudah sangat kejam untukku. Aku tak akan membiarkan diriku menjadi mainan yang menyenangkan untuknya. Akan kutunjukkan kalau aku bisa bertahan, aku tak akan semudah itu direnggutnya.
Dunialah yang sebetulnya kejam untukmu. Dunialah hantu kejahatan yang sebenarnya.
Aku hanyalah korban. Aku menangis sendirian. Kalian yang tak mengerti rasanya, tak pantas melampiaskan kutukan. Kalian lebih pantas dikutuk.
Siul angin menyadarkanku. Aku mulai meletakkan kembali figura di tanganku, lalu aku berjalan ke ranjangku. Perlahan, aku duduk di atas ranjang. Aku mendesah, dalam dan panjang, memastikan aku tak akan terikat emosi lagi.
Snow White mendekatiku. Dia duduk berjarak di sampingku. Aku menoleh padanya, memandangnya, namun tak lama kemudian berpaling lagi.
Aku tak ingin mengingatnya juga. Aku tak ingin ingat kalau Snow White juga sendirian seperti itu, sebelum aku menemukannya.
Aku mendesah lagi. Kurebahkan diri di atas ranjang. Istirahat. Di saat seperti ini aku butuh istirahat.
***

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
BalasHapusGaya bahasanya enak dibaca dan lugas, mengalir gitu. Good story. :)
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Thank you very much ^^
Hapus