Rabu, 16 Maret 2016

A Painful Morning - [3] - Messaging

Cerbung

A Painful Morning




Episode 3:

Messaging




Pagi hari jadi tak setenang biasanya. Seharunya, saat ini pemilik rumah tengah duduk manis menyantap sarapan hangat di meja makan. Namun, hari ini tak ada yang menjamah sarapan.

Seisi rumah berkeliaran. Ruangan demi ruangan diperiksa. Ada banyak ruangan di dalam satu rumah yang besar tersebut, namun dengan banyaknya pekerja di sana pencarian cukup singkat. Walau berakhir dengan tak memuaskan.

“Nona Salinda tak ada di sekitar kamar.”

“Nona Muda juga tak ada di ruang kerjanya.”

“Nona juga tak ada di ruang musiknya.”

“Sepertinya juga tak ada di sekitar halaman depan.”

“Halaman samping juga kosong.”

“Halaman belakang tak ada siapapun. Para tukang kebun rumah ini juga belum datang, Tuan.”

Sang bapak pemilik rumah. Mulai memijat keningnya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Namun tidak adanya sang putri sangat mengkhawatirkannya.

Tidak mungkin putrinya pergi keluar sebelum semua orang bangun. Ia tahu pasti gadis seperti apakah putrinya.

Putriku ....

Terbesit pemikiran mengerikan tentang anaknya. Tuan Jumanta setengah mati tak rela anaknya menjadi korban kejahatan.

Ia tentu tahu, orang kaya banyak bahayanya. Tapi dari keempat anaknya, kenapa harus yang ini? Yang manapun juga, ia tak rela, namun Salinda ... bahkan sarapannya yang nampak sangat lezat berubah menjadi tuna kadaluwarsa dimatanya yang membuatnya enggan menyentuh seujung sendok pun.

“Tuan. Tuan Jumanta. Tuan tidak apa-apa?”

“Wajah Tuan pucat, sebaiknya Tuan menghabiskan sarapan Tuan dulu.”

Ditengah semuanya, telepon rumah yang tepat di sampingnya berdering. Karena sedang tak sabar, pria 50-an itu menyambar gagang telepon sebelum pelayannya sempat mendekat.

Ia berusaha terdengar tenang. “Kediaman kami sedang sibuk, jadi ....”

“Anakmu akan mati.”

Emosi Jumanta sangat tersulut. Namun dengan akal sehatnya, ia merubah umpatan asal yang akan ia katakan dengan seruan menggelegar yang lain.

“KAU PRIA SIALAN!! DIMANA PUTRIKU?!!”

Seluruh pelayan sampai terperanjat mendengarnya. Bulu kuduk mereka meremang. Umpatan Tuan Jumanta sungguh bagaikan guntur.

“Dia tak apa untuk sekarang. Tapi kalau kau ingin ia kembali, aku minta kau datang dengan uang satu miliyar rupiah, tidak kurang. Kami tunggu di sebuah ruko perfotoan, Bandung ....”

“BAJINGAN!! JANGAN PERNAH KAU MENYENTUH PUTRIKU SEUJUNG RAMBUTPUN!!”

“Tidak mungkin tidak kami lakukan, apalagi kalau kau datang terlambat. Kami juga punya batas kesabaran untuk menunggu.”

Tuan Jumanta kembali terdiam. Dari perkataan datar dan tenang yang ia dapatkan, Jumanta sendiri justru merinding. Kini ia mulai kembali khawatir akan keadaan putrinya.

“Waktunya! Kapan sebetulnya waktu yang kau tetapkan?!” Tuan Jumanta masih berteriak, namun tak menggelegar seperti sebelumnya.

“Pukul 9 pagi, jam waktu Bandung.”

Klik! Tut ... tut ... tut ....
Informasi itu setidaknya sudah cukup. Satu miliyar. Jam 9. Di Bandung.

Sekarang sudah hampir jam 7. Tepatnya, sisa waktu Jumanta hanya 2 jam lagi. Tapi mereka tinggal di Jakarta. Belum lagi mengambil uang di bank. Belum lagi kalau mengantri mengambil uang. Belum lagi kalau macet.

“Kami mendengar teriakan Ayah. Ada apa?”

Tiga anaknya mendekat. Di belakang mereka, beberapa pelayan mengikuti.

Tuan Jumanta menghela nafas dengan berat hati. Ia benar-benar terlihat seolah tercekik oleh takdir putrinya di sana.

Kakak tertua, pria dewasa 27 tahun mengangkat suaranya. “Ini pasti penculikan. Mereka meminta tebusan, bukan? Baru saja mereka menelpon Ayah. Begitu, bukan?”

“Kita harus laporkan hal ini pada polisi, Ayah!” putri bungsu berbicara. “Kami akan pergi ke kantor polisi! Kita akan biarkan polisi menangkap para penculik itu!”

“Tidak, Melia.” Tuan Jumanta melangkah pergi. Anak-anaknya mengikuti langkahnya, begitupun beberapa pelayan pribadi mereka masing-masing.

Langsung anak kedua, putra 23 tahun bertanya lugas, “Apa maksud Ayah? Apa Ayah berencana untuk benar-benar memberikan uang yang mereka minta itu?”

“Niala! Tolong segera ambilkan kunci mobilku di ruang kantor! Yang mana saja!” seru Tuan Jumanta keras.

Putra keduanya bersikeras. “Ayah sungguh akan mengambil uangnya?! Jawablah Ayah!”

Mereka ke depan rumah, menuju garasi. Seketaris Tuan Jumanta berlari mengejar tuannya dan memberikan kunci mobil.

“Yang mana ini?” Tuan Jumanta tak menghentikan kakinya, bahkan saat menerima kunci dan bertanya.

“Sedan putih, Tuan.”

“Terima kasih.”

“Ayah! Ayah akan kemana?” Putri bungsunya turut bersikeras.

Tuan Jumanta berkata, “Kita tak tahu hal seburuk apa yang akan menimpa Salinda. Karena itu kita tak punya banyak pilihan.”

Dihampirinya salah satu mobil.

“Aku mengerti, Ayah,” sahut si sulung. “Ferdo, Melia, ikut aku! Kita harus ke kantor polisi secepatnya!”

Kedua adik pria itu hanya terdiam dengan wajah kusut. Namun mereka sudah cukup dewasa untuk tak terlalu mendesak jawaban dari kakak dan ayah mereka.

***

Kembali ke ruangan hitam. Seorang pemuda baru saja menutup pintu. Melihat wajah pemuda itu, Salinda ingat betul kejadian malam lalu.

Tapi air mukanya sangat berbeda. Dingin. Seperti wajahnya di akhir kesadaranku tadi malam, bathin Salinda.

Pemuda di dekat Salinda berjalan mendekatinya. Katanya, “Kau jarang sekali bertemu orang lain kalau tak ada apapun. Ingin memberi sambutan?”

Terlihat, ia membalas dengan lirikan tak acuh. “Kau menceritakan semuanya, hm?”

“Itu tak apa. Sudahlah.”

Itu tak apa. Salinda yakin pasti, dia tak akan dibiarkan keluar dari tempat ini dalam keadaan bernafas bersama informasi penting yang mereka berikan pada ingatannya.

“Baiklah, Bara, apakah ada yang ingin kau katakan pada sandra manis ini?”

Kata “manis” tak menyanjung Salinda. Ia justru kini menundukkan kepala lagi, karena menyadari bahwa kedua penjahat di depannya memperhatikannya.

Beberapa saat setelahnya, pemuda di depan pintu berjalan mendekati gadis di tengah ruangan. Salinda ingin bergeser mundur, namun kalau dipikir lagi, itu percuma saja. Pemuda itu berhenti di depannya, berdiri beberapa senti dari Salinda.

“Berdiri.”

Ragu-ragu, Salinda bangun. Wajahnya terus menunduk, tak berani bertatap mata dengan si dalang kejahatan ini.

“Hanya satu pertanyaan.”

Pemuda di belakang hanya memperhatikan. Tapi tak sedang tersenyum.

“Apa kau pernah berfikir pagi ini kalau kau telah melakukan kesalahan?”

Salinda diam sejenak. Ia merasa jawabannya akan berpengaruh besar. Namun tak lama setelah ditanya, Salinda menjawab, “Tidak.”

“Hm.” Pemuda di depan Salinda mengangkat tangan. Ia tak menyentuh wajah Salinda, namun memberi isyarat agar Salinda mengikuti tangannya dan mengangkat wajahnya.

Terlintas ingatan semalam kala Salinda melihat wajahnya.

Plak!

“Ah!”

Pemuda di belakang sana bergumam sakartis. “Ooooww ....”

Sedikit terbawa ke samping, namun masih cukup seimbang berdiri. Salinda memegangi sebelah pipinya yang terasa pedih. Pipinya merah, merah sekali.

“Aku memandang matamu bukan untuk memperhatikan air mata.”

Salinda kini semakin menunduk. Ia berusaha menutupi kedua matanya.

Pemuda itu kembali ke pintu. Keluar dan menutup kembali pintu.

Satu lagi di dalam ruangan. Ia mendekati gadis yang masih meringis kesakitan di sana, ia berbicara sambil berjalan.

“Sepertinya kulitmu sangat sensitif, ya,” tanggapnya. “Pipimu langsung berubah kemerahan begitu. Ah, Bara juga menamparmu terlalu keras sepertinya.”

Melihat pemuda itu mendekat, Salinda melangkah menjauh. Namun entah kenapa ia sedikit terhuyung.

“Dasar kau ini. Terus saja berusaha menjauh dariku.”

Tiba-tiba kepala Salinda mendongak dengan paksa. Rambutnya tertarik. Ia nyaris menjerit karena kesakitan.

“Diam,” bisik si pemuda, untuk pertama kali kepada Salinda, dengan nada yang dingin.

Salinda hanya bisa merapatkan kedua matanya.







  Next episode  

First Knife-Cutted

 

 ~~~~~ 

Apa cuma aku sendiri yang ketawa?
Waktu Salinda ditampar dan si cowoknya
bilang, "Ooww ...."


0 tanggapan:

Posting Komentar