Kamis, 24 Maret 2016

A Painful Morning - [4] - First Knife-Cutted

Cerbung

A Painful Morning




Episode 4:

First Knife-Cutted




Sudah beberapa waktu lalu. Sekarang bekas tamparannya tak lagi terasa panas, namun Salinda tetap memiliki alasan untuk mengerang kesakitan. Dan setiap kali ia memberanikan diri membuka mata, tak lagi didapatinya wajah hangat pemuda itu. Dia kini menyeringai melihat penderitaan di depan matanya.

Namun ia mendengus sekarang. “Aku lelah. Kita bicara saja, oke? Kau bisa tanyakan sesuatu sekarang.”

Tak ada pertanyaan. Salinda bahkan takut salah bicara.

“Kita akan di sini selama dua jam lebih. Itu waktu yang sangat lama kalau kita menunggu.”
“Kalian ... membutuhkan uangnya, bukan?” akhirnya Salinda bertanya.

Pemuda itu diam sejenak.

Agak tak masuk akal, memang. Mereka melakukan ini intinya untuk uang, untuk mendanai pekerjaan mereka. Tapi kenapa mereka meminta seseorang datang dari jauh, dalam waktu yang sangat sempit, dengan ditukar nyawa bila tak dilakukan tepat waktu. Seolah Salinda tak memiliki pilihan, karena nyaris mustahil ayahnya bisa datang ke sini dan membawa uang 1 miliyar dalam waktu kurang dari tiga jam.

“Hmm ... kau cepat berpikir juga,” gumamnya. “Begini, ya. Kalau terlalu lama, akan ada banyak kemungkinan. Apalagi kalau kau ...,” ditariknya rambut lebih keras, disahut rintihan, “tiba-tiba rewel. Aku tak yakin bagaimana jalan pikiranmu saat ini, tapi kurasa saat nanti kau telah berubah pikiran, mungkin kau akan lebih ribut dari yang sekarang ini.”

“A ... aah ...,” erang Salinda. “Ta ... tapi ... tiga jam ...?”

“Lantas berapa lama lagi? Seminggu? Apa kau sendiri senang menunggu ayahmu tanpa makan selama seminggu?”

“Ngh ....” Hanya mengerang, tak mau berbicara lagi.

“Kalau dihitung lagi ... kau sudah di sini dari semalam. Yah, cukup lama bertahan.”

Salinda mulai makin gelisah.

Pemuda itu kini terdiam kembali. Ia memandangi wajah Salinda, yang tak sedikitpun membuka matanya yang berwarna coklat indah.

Ia merogoh saku celananya. “Bisakah aku percaya, kalau aku lepaskan tanganku?” bisiknya dingin seraya menyingkirkan beberapa helai rambut dari kening Salinda dengan mata pisau di tangannya.

“Aku ... bisa lari kemana?” balas Salinda lirih.

Terdengar suara tawa kecil. “Anak pintar.”

Salinda menyadari kalau pemuda itu mengambil selangkah mundur. Rambutnya pun ditarik tepat ke belakang kepalanya. Dengan sekali tebas, semua rambutnya yang ditarik terpotong dan melayang turun perlahan. Salinda terhuyung dan jatuh.

Si pemuda berjalan melewati gadis di depan kakinya. Di depan gadis itu, ia menabur-tabur helaian rambut hitam yang masih digenggamnya.

“Kau tahu, bukan? Tak ada yang gratis di dunia ini,” katanya. “Rasanya, kalau tidak salah, kau sangat menyayangi rambutmu dan sangat tak suka kalau harus memendekkannya. Benar begitukah?”

Tak dijawabnya. Salinda hanya menunduk, dengan jemari-jemarinya meraba rambut di sekitar telinganya. Kini rambutnya terpotong tak berarturan, ada yang sangat pendek dan ada yang masih panjang. Susah-payah ditahannya air mata agar tak merembes keluar.

Dilipatnya kembali pisau. Sambil menggeser bangku di tepi ruangan, ia memasukkan kembali pisau lipat ke dalam sakunya. Pemuda itu duduk di sana, memperhatikan tawanannya lekat-lekat.

Salinda tersadar sesuatu. Ia mulai mencoba berhenti memikirkan tentang rambutnya.

Untuk beberapa waktu ini, aku akan baik-baik saja, bathin Salinda.

Para penjahat ini tak akan membahayakannya. Setidaknya sebelum batas waktunya. Salinda tak perlu khawatir selama belum pukul sembilan. Tak ada apapun, tak ada yang akan menyentuhnya, tak ada siksaan seperti yang terjadi pada narapidana yang memiliki informasi rahasia.

Tapi itu tak cukup melegakan.


***

Nampaknya jelas merupakan sebuah kamar di paling atas. Pemandangan luar jendela merupakan kompleks pertokoan bertingkat. Di bawah, orang-orang bertebaran, mereka tak tahu kalau keadaan di sebuah bangunan di kompleks ini tak wajar.

Seorang pemuda duduk di atas ranjang. Di sekitarnya, alat-alat elektronik rakitan tangannya sendiri bertebaran, beserta kabel-kabel yang terhubung ke sana ke mari. Ia sendiri tengah tenggelam bersama laptop di depannya.

Ia teralih kala pintu dibuka seseorang. Seorang pria yang terlihat sedikit lebih muda darinya masuk dan menutup pintu. Ia menghampiri ranjang.

“Mau?” tawar pemuda di atas ranjang. Ia menyodorkan setengah bungkus makanan ringan pada kawannya.

Yang ditawari hanya duduk di atas ranjang. Ia balik bertanya, “Dimana dia?”

“Hmm ....” Diraihnya tetikus dan diarahkan ke beberapa sisi di layar sambil sesekali mengklik bagiannya. Beberapa saat setelahnya, ia menjawab, “Masih di bank. Baru tiga puluh menit yang lalu aku tersambung dengannya lewat telepon rumahnya.”

“Bukan selulernya?”

“Hahaha ... kebetulan sekali, dia sedang berdiri tepat di samping telepon rumahnya sendiri. Begitu mendengar dering telepon, dia langsung menyambar dan membentakku. Dasar kakek-kakek.”

“Bagaimana dengan anggota keluarganya yang lain?”

“Coba kulihat ... nah, ini dia. Di rumah hanya ada Nyonya Arlisa, menangis di ruang tamu sejak pagi tadi. Sementara anak-anaknya ... mereka sedang di kantor polisi. Kurasa sebentar lagi anak-anaknya akan berangkat.”

Jeda sebentar. Suasana agak hening.

“Bagaimana menurutmu, Bara?”

Untuk beberapa saat, ia bungkam. Lalu berkata, “Sebaiknya mereka memastikan ayahnya datang lebih dulu.”

Temannya mengangguk. “Aku juga berpikiran serupa.”







  Next episode  

A Rush Call

 

0 tanggapan:

Posting Komentar