Selasa, 03 Mei 2016

A Painful Morning - [9] - Blurry Founded

Cerbung

A Painful Morning




Episode 9:

Blurry Founded





Da
rwan masih di jalan tol. Belum ada banyak percakapan di dalam mobil tersebut. Tepat di depan mobil mereka, melaju mobil sang ayah, Jumanta Susanto. 
 
Di dapat kembali pesan penting ke kedua polisi di kursi belakang. 

“Kembali, ini dari Kepala Kepolisian. Ada laporan dari kepolisian sekitar Jakarta dan Bandung.”

“Di Jakarta, polisi mendapat laporan dari masyarakat bahwa mereka melihat seorang pria muda seperti yang diburon oleh polisi. Laporan telah diberikan beberapa kali oleh warga sekitar dari berbagai daerah di Jakarta. Buronan yang dimaksud adalah Bara Adipramestya.”

“Di Bandung, polisi mendapat laporan bahwa mereka melihat pria buronan polisi. Semua laporan menerangkan bahwa buronan tersebut terlihat berkeliaran di sekitar gedung-gedung perdagangan pribadi. Buronan yang dimaksud adalah Nudira Ferdianto.”

“Sehubungan dengan ditemukannya Bara Adipramestya di Jakarta, dan Nudira Ferdianto di Bandung, detektif menduga bahwa mereka berdua terlibat dengan kasus pemerasan daripada Tuan Jumanta. Karena itu, diperingatkan kepada semua kepolisian, untuk berhati-hati.”

Selanjutnya, suara di walkie-talkie polisi itu hanya mengulang laporannya. Kedua polisi itu nampak gelisah. Darwan melihatnya dari spion tengah, sementara Ferdo melirik diam-diam.

Ferdo pun mengangkat suara. “Apa ... dua buronan yang baru saja dalam laporan itu sangat berbahaya?”

“Tentu saja, Pak Ferdo,” jawab salah satu polisi.

Darwan menyela, “Seberbahaya apa, Pak?” Sebetulnya, dalam hati, Darwan telah mewanti-wanti agar tak mendengar berita yang buruk.

“Bara Adipramestya, serta Nudira Ferdianto ...,” kata polisi tersebut serius. “Adalah pembunuh.”

Darwan dan Ferdo merinding bersamaan. Namun Darwan tak terlarut oleh kekagetannya.

“Di laporan, hanya diberitahukan kalau mereka hanya ditemukan berkeliaran di Jakarta dan Bandung. Soal hal itu, apakah Bapak-Bapak polisi sekalian tahu, apa yang membuat detektif berpikir bahwa mereka terlibat dalam kasus pemerasan ini?” tanya Darwan.

“Iya,” sahut Ferdo. “Mereka hanya ditemukan di sekitar Jakarta dan Bandung saja. Belum tentu mereka sedang merencanakan hal ini saat itu. Bisa saja mereka sedang merencanakan melakukan pembunuhan pada orang lain. Apa yang bisa meyakinkan detektif bahwa mereka mengincar keluarga kami?”

Polisi tadi menjawab, “Sebelumnya, kami mendapat laporan bahwa Bara Adipramestya dan Nudira Ferdianto ada di Solo. Mereka lebih sering di sana dan meresahkan masyarakat. Mereka juga selalu berdua. Saya rasa, saat megetahui Bara Adipramestya dan Nudira Ferdianto di laporkan di tempat yang berbeda, detektif cukup mencurigakan hal ini. Ditambah lagi, mereka berpindah jauh sekali, dari Solo, ke Bandung dan Jakarta. Dan melihat tempat mereka berada, ini benar-benar menimbulkan dugaan bahwa mereka mengajak Kunta Pangestik bekerja sama, demi melakukan tindakan pemerasan ini.”

Ferdo bersiul singkat. “Para kriminal ini, elit juga.”

Darwan memutar bola matanya. “Mereka bertiga semuanya merupakan kriminal jalanan. Apanya yang elit.”

“Kak, ini namanya tim teroris! Mereka pasti akan menggunakan uang tebusan ini untuk mendanai proyek mereka. Dan setelah itu, akan terjadi peristiwa pengejaran teroris serta tembak-menembak antar teroris dan SATPOL PP.”

“Imajinasimu sudah terlampau liar, Ferdo,” gumam Darwan.

“Itu bukan imajinasi! Itu namanya analisis!” kecam Ferdo berapi-api.

“Pak Ferdo, mungkin saja Anda benar,” sela Pak Polisi. “Mungkin memang mereka sudah menjadi kelompok teroris dan berniat mengacaukan ketenangan masyarakat. Kalau seperti itu, masyarakat luas harus mengetahui lebih lagi tentang keberadaan mereka untuk mencegah hal tersebut terjadi.”

Ferdo menyeringai senang. Ia melipat kedua tangan dan menegakkan posisi duduknya dengan penuh kesombongan.

Darwan yang memperhatikannya hanya bisa mendesah. Ingin rasanya ia tiba-tiba mengijak pedal rem agar kepala Ferdo terbentur dashboard mobilnya.

Mengingat soal pacuan mobilnya, Darwan jadi melirik waktu lagi. Ini sudah ke sekian kali ia melirik jam di dashboard. Rasanya Darwan mulai mendengus untuk tingkahnya sendiri. Apa setelah setua ini dia masih belum belajar agar tak mengecek waktu di saat terburu-buru? Sebab, itu hanya akan membuatnya semakin resah, dan juga terburu-buru dengan tidak baik.

“Lakukan saja dengan cepat, tapi tetaplah tenang,” gumam Darwan pelan, seolah mengingatkan dirinya sendiri.

Tapi tak lama kemudian Darwan mendesah dengan raut yang suram. Semakin berusaha dilupakan, pikiran itu semakin menghantuinya. Darwan melirik dua polisi di belakang.

“Pak ...,” panggil Darwan. “Apakah kita bisa berjalan lebih cepat lagi saat sudah di luar jalan tol nanti?”

“Sepertinya bisa, Pak. Karena dari laporan, jalan-jalan di Bandung telah disiagakan, para polisi telah memberi jalur untuk perjalanan kita ke tempat tujuan,” jawab Pak Polisi.

Darwan bertanya lagi, “Apa telah diketahui gedung mana yang dimaksud?”

“Kami berdua belum mengetahuinya. Dan belum ada laporan tentang hal itu.”

Ferdo memandang Darwan. Darwan balas memandangnya. Darwan tahu Ferdo sebetulnya sedang menawarkan bantuannya, karena sesuai dengan perkataan kakaknya tersebut di kantor polisi, dirinyalah yang paling hapal letak gedung-gedung pemasaran di Bandung.

“Ferdo,” kata Darwan. “Apa kau tahu beberapa ruko perfotoan yang mencurigakan?”

Ferdo tertawa kecil, dengan gugup. “Sebetulnya, aku tak terlalu memperhatikan gedung-gedung studio foto. Aku juga tak terlalu memperhatikan daerah ruko-ruko.”

“Hmm ... aku mengerti. Aku tak akan mengharapkan bantuanmu lagi.”

“Jangan seperti itu juga, Kak,” dengus Ferdo. “Setidaknya aku rasa aku tahu satu, yang mencurigakan untuk hari ini.”

“Baiklah. Ceritakan!”

“Baru saja kemarin aku kembali setelah mengecek kantor cabang di Bandung. Kebetulan aku melewati sebuah kompleks ruko. Jadi aku berhenti sebentar di sana untuk mendatangi studio foto. Di sana, aku berkeliling dan mendapati beberapa studio, di salah satunya, aku mendatangi dan mengambil foto di sana. Tapi katanya, ada sedikit masalah dengan percetakan mereka, mereka meminta maaf dan menawarkan untuk mengirimkan disk serta fotonya pagi ini ke rumah kita. Dan pagi tadi aku mengecek kotak pos di depan rumah, kurasa Kakak tidak menyadarinya karena sedang bicara dengan Ibu. Saat kulihat di kotak pos, tidak ada surat atau apapun.”

Darwan mengingat kembali. Memang ia merasa tak melihat Ferdo saat berbicara dengan Nyonya Arlisa di bagasi rumah, sebelumnya.

“Itu tidak cukup meyakinkan,” tanggap Darwan singkat.

“Yah, kita coba peruntungan ini. Seandainya kalau sedang bejo.” Ferdo menoleh ke belakang. “Pak, bisakah Anda menanyakan keadaan gedung ruko Foto Nana Family kompleks ruko Palapa? Sekitar daerah selatannya Bandung.”

“Saya akan coba, Pak.” Salah satu polisi meraih ponsel dari sakunya, kemudian menelpon sebuah nomor. Terjadi percakapan singkat di sambungan teleponnya, kemudian diputus. Setelah beberapa saat berlalu, ponsel polisi tersebut berdering lagi. Setelah polisi tersebut membalas singkat, telepon diputus kembali.

“Polisi sekitar menemukan adanya kejanggalan, Pak,” kata Pak Polisi pada Ferdo. “Menurut warga sekitar, ruko yang Bapak maksud dibuka setiap hari, namun hari ini ruko terlihat tertutup rapat. Warga tak mendengar kabar kalau pemilik ruko sedang keluar, atau kemungkinan apapun. Warga juga mencoba menelpon pemilik ruko atau anggota keluarganya yang tinggal dalam ruko tersebut, namun tak ada balasan.”

Darwan menyela, “Apakah sudah dilakukan survei untuk ruko perfotoan lain di sekitar Bandung?”

“Untuk sementara, dari kepolisian di sekitar ruko yang dimaksud Bapak Ferdo, dikatakan ruko-ruko terlihat normal.”

Tiba-tiba, masuk lagi pesan penting dari Kepala Kepolisian.

“Ini adalah pesan penting dari Kepala Kepolisian, mohon dengarkan dengan saksama!”

“Kepolisian setempat mengidentifikasi adanya gedung ruko dengan keadaan janggal. Telah diterima juga laporan dari kepolisian berbagai daerah di sekitar Bandung, semuanya mengatakan bahwa keadaan ruko terlihat normal. Saya menduga bahwa inilah ruko yang dimaksud pelaku, jadi saya himbau untuk mengarah ke kompleks ruko Palapa. Sekali lagi, saya perintahkan untuk mengarah ke kompleks ruko Palapa.”

Darwan dan Ferdo mendesah lega.

“Orang soleh memang selalu dimudahkan hidupnya,” gumam Ferdo. 

***

Sementara itu, di mobilnya, Tuan Jumanta duduk di kursi belakang. Sewaktu di awal jalan tol dan ia menemukan beberapa mobil polisi di pinggir jalan, Tuan Jumanta menepi dan meminta pada polisi agar salah satu polisi menyetirkan mobilnya. Ia berkata bahwa ia khawatir tak fokus berkendara.

Sekarang, Jumanta tak berhenti merenung. Tatapannya kosong, memandang keluar jendela. Sebuah koper hitam berisi sejumlah uang tergeletak di sampingnya.

Dalam pikirannya, teringat kata-kata sang putri kesayangan beberapa hari lalu.

“Ayah, kupikir seharusnya aku tak dilahirkan sebagai anakmu. Jadi maafkan aku, kurasa aku akan pergi tak lama lagi.”

Sejujurnya, kalimat itu terus menghantuinya. Itulah mengapa dirinya begitu tertekan saat tahu putrinya sudah tak ada pagi ini.

Ini bukan kesengajaan. Semua perkataan putrinya adalah firasat akan takdir dirinya sendiri yang sudah dekat.

Namun pikiran Tuan Jumanta tak terbelenggu dengan hal itu. Yang ia merenungkan adalah hal apa yang membuat putrinya berkata dengan nada penuh keputusasaan. Seolah telah melakukan sesuatu yang selamanya tak akan termaafkan.

Ia tahu persis gadis seperti apakah putrinya. Seorang wanita kalem, tenang. Pekerja keras, konsisten, disiplin. Anak yang penurut, yang tak sekalipun membantah titah ayah-ibunya, titah kedua kakaknya, anak yang mengasihi saudara-saudarinya. Penuh cinta dan kedamaian.

Anakku, kenapa kau harus ada di sana? Apakah memang ini akhirnya? Kenapa harus begini? Kenapa harus seperti ini akhirnya? Ini tak pantas untukmu. Sangat tak pantas untukmu, Anakku.
 
Namun kemudian, sebuah ingatan singkat lewat di benaknya. Itu, saat ia melihat putrinya menampar wajah adik kandungnya sendiri. Ingatan yang membuatnya terang akan apa isi hati sang putri kesayangan. Pada akhirnya, Tuan Jumanta mengerti apa maksud dari perkataan putrinya tempo hari.







  Next episode  

Half-Lived Girl

 

0 tanggapan:

Posting Komentar