Cerbung
A Painful Morning
Episode 9:
Blurry Founded
| Da |
Di dapat kembali pesan penting ke kedua polisi di kursi
belakang.
“Kembali, ini dari
Kepala Kepolisian. Ada laporan dari kepolisian sekitar Jakarta dan Bandung.”
“Di Bandung, polisi
mendapat laporan bahwa mereka melihat pria buronan polisi. Semua laporan
menerangkan bahwa buronan tersebut terlihat berkeliaran di sekitar
gedung-gedung perdagangan pribadi. Buronan yang dimaksud adalah Nudira
Ferdianto.”
“Sehubungan dengan
ditemukannya Bara Adipramestya di Jakarta, dan Nudira Ferdianto di Bandung, detektif
menduga bahwa mereka berdua terlibat dengan kasus pemerasan daripada Tuan
Jumanta. Karena itu, diperingatkan kepada semua kepolisian, untuk
berhati-hati.”
Selanjutnya, suara di walkie-talkie
polisi itu hanya mengulang laporannya. Kedua polisi itu nampak gelisah.
Darwan melihatnya dari spion tengah, sementara Ferdo melirik diam-diam.
Ferdo pun mengangkat suara. “Apa ... dua buronan yang baru
saja dalam laporan itu sangat berbahaya?”
“Tentu saja, Pak Ferdo,” jawab salah satu polisi.
Darwan menyela, “Seberbahaya apa, Pak?” Sebetulnya, dalam
hati, Darwan telah mewanti-wanti agar tak mendengar berita yang buruk.
“Bara Adipramestya, serta Nudira Ferdianto ...,” kata polisi
tersebut serius. “Adalah pembunuh.”
Darwan dan Ferdo merinding bersamaan. Namun Darwan tak
terlarut oleh kekagetannya.
“Di laporan, hanya diberitahukan kalau mereka hanya
ditemukan berkeliaran di Jakarta dan Bandung. Soal hal itu, apakah Bapak-Bapak
polisi sekalian tahu, apa yang membuat detektif berpikir bahwa mereka terlibat
dalam kasus pemerasan ini?” tanya Darwan.
“Iya,” sahut Ferdo. “Mereka hanya ditemukan di sekitar
Jakarta dan Bandung saja. Belum tentu mereka sedang merencanakan hal ini saat
itu. Bisa saja mereka sedang merencanakan melakukan pembunuhan pada orang lain.
Apa yang bisa meyakinkan detektif bahwa mereka mengincar keluarga kami?”
Polisi tadi menjawab, “Sebelumnya, kami mendapat laporan
bahwa Bara Adipramestya dan Nudira Ferdianto ada di Solo. Mereka lebih sering
di sana dan meresahkan masyarakat. Mereka juga selalu berdua. Saya rasa, saat
megetahui Bara Adipramestya dan Nudira Ferdianto di laporkan di tempat yang
berbeda, detektif cukup mencurigakan hal ini. Ditambah lagi, mereka berpindah
jauh sekali, dari Solo, ke Bandung dan Jakarta. Dan melihat tempat mereka
berada, ini benar-benar menimbulkan dugaan bahwa mereka mengajak Kunta
Pangestik bekerja sama, demi melakukan tindakan pemerasan ini.”
Ferdo bersiul singkat. “Para kriminal ini, elit juga.”
Darwan memutar bola matanya. “Mereka bertiga semuanya
merupakan kriminal jalanan. Apanya yang elit.”
“Kak, ini namanya tim teroris! Mereka pasti akan menggunakan
uang tebusan ini untuk mendanai proyek mereka. Dan setelah itu, akan terjadi
peristiwa pengejaran teroris serta tembak-menembak antar teroris dan SATPOL
PP.”
“Imajinasimu sudah terlampau liar, Ferdo,” gumam Darwan.
“Itu bukan imajinasi! Itu namanya analisis!” kecam Ferdo
berapi-api.
“Pak Ferdo, mungkin saja Anda benar,” sela Pak Polisi.
“Mungkin memang mereka sudah menjadi kelompok teroris dan berniat mengacaukan
ketenangan masyarakat. Kalau seperti itu, masyarakat luas harus mengetahui
lebih lagi tentang keberadaan mereka untuk mencegah hal tersebut terjadi.”
Ferdo menyeringai senang. Ia melipat kedua tangan dan
menegakkan posisi duduknya dengan penuh kesombongan.
Darwan yang memperhatikannya hanya bisa mendesah. Ingin
rasanya ia tiba-tiba mengijak pedal rem agar kepala Ferdo terbentur dashboard mobilnya.
Mengingat soal pacuan mobilnya, Darwan jadi melirik waktu
lagi. Ini sudah ke sekian kali ia melirik jam di dashboard. Rasanya Darwan mulai mendengus untuk tingkahnya sendiri.
Apa setelah setua ini dia masih belum belajar agar tak mengecek waktu di saat
terburu-buru? Sebab, itu hanya akan membuatnya semakin resah, dan juga
terburu-buru dengan tidak baik.
“Lakukan saja dengan cepat, tapi tetaplah tenang,” gumam
Darwan pelan, seolah mengingatkan dirinya sendiri.
Tapi tak lama kemudian Darwan mendesah dengan raut yang
suram. Semakin berusaha dilupakan, pikiran itu semakin menghantuinya. Darwan
melirik dua polisi di belakang.
“Pak ...,” panggil Darwan. “Apakah kita bisa berjalan lebih
cepat lagi saat sudah di luar jalan tol nanti?”
“Sepertinya bisa, Pak. Karena dari laporan, jalan-jalan di
Bandung telah disiagakan, para polisi telah memberi jalur untuk perjalanan kita
ke tempat tujuan,” jawab Pak Polisi.
Darwan bertanya lagi, “Apa telah diketahui gedung mana yang
dimaksud?”
“Kami berdua belum mengetahuinya. Dan belum ada laporan
tentang hal itu.”
Ferdo memandang Darwan. Darwan balas memandangnya. Darwan
tahu Ferdo sebetulnya sedang menawarkan bantuannya, karena sesuai dengan
perkataan kakaknya tersebut di kantor polisi, dirinyalah yang paling hapal
letak gedung-gedung pemasaran di Bandung.
“Ferdo,” kata Darwan. “Apa kau tahu beberapa ruko perfotoan
yang mencurigakan?”
Ferdo tertawa kecil, dengan gugup. “Sebetulnya, aku tak
terlalu memperhatikan gedung-gedung studio foto. Aku juga tak terlalu
memperhatikan daerah ruko-ruko.”
“Hmm ... aku mengerti. Aku tak akan mengharapkan bantuanmu
lagi.”
“Jangan seperti itu juga, Kak,” dengus Ferdo. “Setidaknya aku
rasa aku tahu satu, yang mencurigakan untuk hari ini.”
“Baiklah. Ceritakan!”
“Baru saja kemarin aku kembali setelah mengecek kantor
cabang di Bandung. Kebetulan aku melewati sebuah kompleks ruko. Jadi aku
berhenti sebentar di sana untuk mendatangi studio foto. Di sana, aku
berkeliling dan mendapati beberapa studio, di salah satunya, aku mendatangi dan
mengambil foto di sana. Tapi katanya, ada sedikit masalah dengan percetakan
mereka, mereka meminta maaf dan menawarkan untuk mengirimkan disk serta fotonya
pagi ini ke rumah kita. Dan pagi tadi aku mengecek kotak pos di depan rumah,
kurasa Kakak tidak menyadarinya karena sedang bicara dengan Ibu. Saat kulihat
di kotak pos, tidak ada surat atau apapun.”
Darwan mengingat kembali. Memang ia merasa tak melihat Ferdo
saat berbicara dengan Nyonya Arlisa di bagasi rumah, sebelumnya.
“Itu tidak cukup meyakinkan,” tanggap Darwan singkat.
“Yah, kita coba peruntungan ini. Seandainya kalau sedang bejo.”
Ferdo menoleh ke belakang. “Pak, bisakah Anda menanyakan keadaan gedung ruko
Foto Nana Family kompleks ruko Palapa? Sekitar daerah selatannya Bandung.”
“Saya akan coba, Pak.” Salah satu polisi meraih ponsel dari
sakunya, kemudian menelpon sebuah nomor. Terjadi percakapan singkat di
sambungan teleponnya, kemudian diputus. Setelah beberapa saat berlalu, ponsel
polisi tersebut berdering lagi. Setelah polisi tersebut membalas singkat,
telepon diputus kembali.
“Polisi sekitar menemukan adanya kejanggalan, Pak,” kata Pak
Polisi pada Ferdo. “Menurut warga sekitar, ruko yang Bapak maksud dibuka setiap
hari, namun hari ini ruko terlihat tertutup rapat. Warga tak mendengar kabar
kalau pemilik ruko sedang keluar, atau kemungkinan apapun. Warga juga mencoba menelpon
pemilik ruko atau anggota keluarganya yang tinggal dalam ruko tersebut, namun
tak ada balasan.”
Darwan menyela, “Apakah sudah dilakukan survei untuk ruko
perfotoan lain di sekitar Bandung?”
“Untuk sementara, dari kepolisian di sekitar ruko yang dimaksud
Bapak Ferdo, dikatakan ruko-ruko terlihat normal.”
Tiba-tiba, masuk lagi pesan penting dari Kepala Kepolisian.
“Ini adalah pesan
penting dari Kepala Kepolisian, mohon dengarkan dengan saksama!”
“Kepolisian setempat
mengidentifikasi adanya gedung ruko dengan keadaan janggal. Telah diterima juga
laporan dari kepolisian berbagai daerah di sekitar Bandung, semuanya mengatakan
bahwa keadaan ruko terlihat normal. Saya menduga bahwa inilah ruko yang
dimaksud pelaku, jadi saya himbau untuk mengarah ke kompleks ruko Palapa.
Sekali lagi, saya perintahkan untuk mengarah ke kompleks ruko Palapa.”
Darwan dan Ferdo mendesah lega.
“Orang soleh memang selalu dimudahkan hidupnya,” gumam
Ferdo.
***
Sementara itu, di mobilnya, Tuan
Jumanta duduk di kursi belakang. Sewaktu di awal jalan tol dan ia menemukan
beberapa mobil polisi di pinggir jalan, Tuan Jumanta menepi dan meminta pada
polisi agar salah satu polisi menyetirkan mobilnya. Ia berkata bahwa ia
khawatir tak fokus berkendara.
Sekarang, Jumanta tak berhenti merenung. Tatapannya kosong,
memandang keluar jendela. Sebuah koper hitam berisi sejumlah uang tergeletak di
sampingnya.
Dalam pikirannya, teringat kata-kata sang putri kesayangan
beberapa hari lalu.
“Ayah, kupikir seharusnya aku tak dilahirkan sebagai anakmu.
Jadi maafkan aku, kurasa aku akan pergi tak lama lagi.”
Sejujurnya, kalimat itu terus menghantuinya. Itulah mengapa
dirinya begitu tertekan saat tahu putrinya sudah tak ada pagi ini.
Ini bukan kesengajaan. Semua perkataan putrinya adalah
firasat akan takdir dirinya sendiri yang sudah dekat.
Namun pikiran Tuan Jumanta tak terbelenggu dengan hal itu.
Yang ia merenungkan adalah hal apa yang membuat putrinya berkata dengan nada
penuh keputusasaan. Seolah telah melakukan sesuatu yang selamanya tak akan
termaafkan.
Ia tahu persis gadis seperti apakah putrinya. Seorang wanita
kalem, tenang. Pekerja keras, konsisten, disiplin. Anak yang penurut, yang tak
sekalipun membantah titah ayah-ibunya, titah kedua kakaknya, anak yang
mengasihi saudara-saudarinya. Penuh cinta dan kedamaian.
Anakku, kenapa kau
harus ada di sana? Apakah memang ini akhirnya? Kenapa harus begini? Kenapa
harus seperti ini akhirnya? Ini tak pantas untukmu. Sangat tak pantas untukmu,
Anakku.
Namun kemudian, sebuah ingatan singkat lewat di benaknya. Itu, saat ia melihat putrinya menampar wajah adik kandungnya sendiri. Ingatan yang membuatnya terang akan apa isi hati sang putri kesayangan. Pada akhirnya, Tuan Jumanta mengerti apa maksud dari perkataan putrinya tempo hari.

0 tanggapan:
Posting Komentar