Minggu, 20 November 2016

A Painful Morning - [10] - Half-Lived Girl

Cerbung

A Painful Morning




Episode 10:

Half-Lived Girl






Telah kering air matanya. Tak lama waktu yang dibutuhkannya untuk menumpahkan kegelisahan. Mungkin itu karena ia sudah beberapa kali terbangun di tengah malam dan menangis setelahnya.

Kedua mata Salinda tertutup. Wajahnya memandang ke dinding di seberang rak. Kunta mendongak, memandang wajah Salinda yang lembut.

“Apa kau tidur?” tanya Kunta.


Salinda menoleh dan membuka mata. “Aku harap aku setenang itu.”

Kunta tertawa kecil. “Wajahmu terkesan sangat sejuk saat kau terlihat tenang.”

Salinda kembali menghadap ke depan. Ia lalu berkata, “Mendapati diriku sekarang terlihat setenang ini, aku mulai takut membayangkan bagaimana aku menjerit nanti, saat kalian membunuhku.”

“Cukup bayangkan jeritanmu saja, Nona.”

Salinda menggeleng pelan. Tidak, tentu Salinda juga terbayang bagaimana rasanya saat ia mati, bahkan mati dibunuh.

Kunta diam sejenak.

“Asal kau ingat saja,” kata Kunta. “Orang-orang biasanya memanfaatkan keadaan seperti ini untuk mencari celah agar bisa kabur. Di ruangan ini, kau bisa saja mengambil botol atau apapun barang untuk memukul kepalaku dan kau bisa lari.”

Salinda berpaling. “Seolah itu sangat mudah, ya.”

“Orang lain mau saja berjalan terseret-seret di tangga demi menyelamatkan hidupnya.”

Salinda tak membalas. Ia tetap menatap dinding di sebelah bahunya.

Kunta memberi jeda. “Ah, kupikir aku terlalu bersikap baik di depanmu, ya. Kurasa aku harus bersikap dingin dan tajam seperti Bara, atau penuh sinis dan seringai seperti Nudira. Begitu, hm?”

Salinda terperanjat. Ia memang sempat tak ingat kalau Kunta adalah penjahat di sini.

Tapi, apa aku baru saja melakukan kesalahan baginya? bathin Salinda. Apa dia tersinggung karena aku berpaling dan tak memandangnya saat ia berbicara?

Tiba-tiba Salinda menyadari kalau Kunta telah memunggunginya. Salinda mendongak cepat karena kaget. Saat itulah, perlahan Kunta merendah, mendekatkan wajahnya pada Salinda.

“Kau tak ingat, kalau kau sedang satu ruangan, hanya berdua, dengan seorang bajingan?”

Jantung Salinda berdegup cepat. Ia tak pernah, benar-benar sangat dekat dengan laki-laki. Saat Kunta meraih wajahnya, Salinda menutup kedua matanya dengan gelisah.

Kunta tertawa kecil. “Aku tidak akan melakukan apapun.” Dijauhkannya tangannya dari pipi Salinda. “Omong-omong, ayahmu juga sudah membentakku di telepon, soal itu.”

Kunta menjauh. Salinda membuka matanya sedikit, dengan takut. Ia lihat Kunta kembali duduk di posisinya: bersila, menghadap ke rak dengan punggung menempel di dinding, dan laptop di pangkuannya.

“Sebetulnya, kalau soal itu, Bara dan Nudira lebih berpengalaman. Jadi, ingat saja, aku lebih ‘haus’ dari mereka.”

Apa-apaan ... ih, pikir Salinda. Ia memalingkan wajahnya yang merona merah.

Kunta tertawa melihatnya. “Kau ini sangat polos untuk gadis 18 tahun,” katanya. “Tapi kau manis juga.”

Pujian itu membuatnya tersipu. Sangat berbeda kesannya dengan Nudira saat dia mengatakannya beberapa waktu lalu, saat menawarkan Bara untuk berbicara dengan Salinda.

“Aku memang tak melihatmu secara normal hingga aku tak bisa menilai secara jelas. Tapi, setelah bertemu denganmu secara langsung, aku mengerti kenapa Tuan Jumanta sangat menyayangimu,” ujar Kunta. Ia diam sebentar, kemudian menatap tawanannya.

Gadis itu ternyata telah kembali menutup mata. Untuk beberapa saat, Kunta tetap memandangi wajahnya.

Suhu badannya masih tinggi, bathin Kunta, mengingat saat ia menyentuh pipi Salinda sebelumnya. Dia tak akan pulih sepenuhnya, bahkan setelah ayahnya datang.

Dilihat dari bagaimana Salinda bergerak, Kunta sudah yakin pasti bahwa tekanan darah Salinda pun masih sangat rendah saat ini. Kunta mendengus dan kembali memandang laptop.

“Apa maksudnya dia meracuniku?”

Kembali Kunta melirik Salinda. Dilihatnya gadis itu memandangnya lekat-lekat.

Sebetulnya, sudah sejak awal menyadarinya, Salinda tak habis pikir. Dia bisa saja mati lebih dulu sebelum para polisi dan ayahnya datang. Bukankah itu membuat kerugian besar? Ketiga penjahat ini tak akan bisa mendapatkan uang mereka kalau itu terjadi.

“Bara yang kau maksud, ya,” tanggap Kunta, kembali ke laptopnya. “Dia memang selalu antipati pada orang lain, lebih-lebih pada korbannya. Tadinya ia ingin merebut uang ayahmu dan membiarkan ayahmu menemukanmu, walau tanpa nyawa.”

“Tapi, aku dan Nudira mengerti persis bagaimana cara bermain ayahmu. Kalau ia tak melihat anaknya dalam keadaan hidup, ia tak akan pernah memberikan uangnya. Bahkan ayahmu pun akan membakar uang-uangnya, sebab kalau itu kau, uang satu miliar rupiah akan terasa tak lebih banyak dari sepuluh ribu baginya.”

“Jangan men ... jawabnya ... seperti itu.” Suara Salinda berubah parau. Ia bersusah-payah menahan air matanya. Pun dengan isak tangisnya, hingga Salinda menutup mulutnya sendiri.

Kunta hanya melirik. Wajahnya datar.

“Kupikir kau punya hubungan baik dengan ayahmu.”

Salinda tak membalas, tetap berusaha menahan isak.

“Atau, apa kalian sebetulnya sedang bertikai sekarang ini?”

Salinda menggeleng.

“Ayahku, orang yang baik. Begitu juga ibuku. Juga ketiga saudaraku. Tapi, aku ... mereka pun tak tahu soal itu.”

Kunta mencoba menangkap, “Jadi kau benci dirimu sendiri karena kau pernah menyakiti mereka?”

“Itu sering terjadi, bukan hanya pernah.”

“Tapi kau tak sengaja, bukan?”

“Aku sengaja.”

“Sungguh? Kau sadar itu sebuah kesalahan?”

“Di tengahnya, aku merasa yang paling benar. Tapi pada awal dan akhirnya, aku mengakui kalau aku melakukan hal yang sangat salah.”

Kunta mendengus. Ia tak mengerti. “Seperti apa itu?”

“Seperti saat kau melakukan kesalahan, dan kau sangat tak ingin jadi seseorang yang bersalah. Kau sebetulnya merasa bersalah, tapi kau juga sangat tak ingin merendahkan dirimu untuk meminta maaf. Akhirnya kau membalikkan fakta, dan menuding orang lain sebagai seseorang yang bersalah. Dan kau mengatasnamakan kebaikan untuk perbuatan salahmu, kau mengatakan sesuatu seperti ‘kulakukan itu agar kau belajar dewasa!’ Padahal kau juga menyesal setelahnya, sangat menyesal.”

Barulah Kunta memanggut-manggut.

“Tapi apa tak ada satupun dari mereka yang menyadari itu?”

“Kupikir mereka sebetulnya tahu, tapi mereka menutupinya. Atau mereka justru lebih memilih untuk melupakannya.” Salinda diam sejenak. “Yang pasti, itu cukup untukku merasa tak pantas menjadi anak yang paling disayang di keluargaku.”

Kunta membisu. Kemudian ia berkata, “Melihat bagaimana mereka sangat terburu-buru saat ini, kurasa kalian masih berhubungan baik sekali. Baiklah ... kesalahanmu itu memang pernah terjadi. Tapi sebetulnya, tak sungguh sesering itu, bukan?”

Salinda tak menjawab. Ia terdiam lama. Dalam hatinya, Salinda membenarkan.

“Lihat? Sebetulnya dirimu tak seburuk yang kau pikirkan.”

Salinda menoleh. “Kau tak mengerti. Semua ini tak semudah perkataanmu.”

Hening. Untuk beberapa saat, tak ada dari mereka berdua yang berbicara. Mereka hanya saling menatap. Dari saat yang singkat itu, Kunta tiba-tiba merasa familiar dengan sinar mata Salinda.

Masih dengan wajah itu, Kunta bergumam, “Apa kau percaya ... kalau pandangan matamu itu, persis seperti Bara dulu?”

Mendengarnya, Salinda mulai memandang lantai. Kemudian ia menatap Kunta lagi. “Sejak awal pun, aku pikir ia tak berubah kejam tanpa alasan.”

“Memang tidak seperti itu,” balas Kunta. “Dulu dia tak seperti itu. Nudira pernah bercerita padaku tentangnya.”

Salinda tetap menatap pria itu. Wajahnya datar dan agak serius.

“Kupikir kau akan tersenyum lagi kalau mendengarku menceritakannya,” tukas Kunta dengan senyum kecil.

“Kurasa, aku masih tak terima melihatnya dengan sikap seperti itu. Tadi malam, saat ia menyamar menjadi salah satu pelayanku, wajahnya penuh dengan senyuman lembut.”

“Kau beruntung, ya,” kata Kunta lagi dengan mimik yang kembali kosong. “Aku tak pernah sekalipun melihatnya tersenyum selama ini, padahal kami bertiga telah cukup lama berkerja sama.”

Salinda bertanya, “Apakah dulu, dia pernah menjadi korban kejahatan?”

“Bukan. Justru dia pelakunya.”
 
Mata sayu Salinda masih mempehatikan Kunta dengan penuh rasa penasaran. “Apa yang terjadi padanya?”







  Next episode  

Tell Me the Reason!

 

 ~~~~~ 

Sungguh terlalu emang Shinta. Udah  
berbulan-bulan baru lanjut sekarang. 
Amboi, salahkan paket internet dan wifi 
gratis itu (gak tau lah, pokoknya salahin 
aja mereka).

0 tanggapan:

Posting Komentar