Cerbung
A Painful Morning
Episode 8:
Second Guardian
Kunta tak perlu bertanya lagi. Ada
sedikit sekali sisa ruangan yang masih dapat mereka gunakan. Untuk menyimpan
tawanan, Kunta rasa hanya ada satu ruangan yang cukup pantas saat ini.
Kunta meraih handel pintu dengan sebelah tangannya. Tangannya
yang lain membawa laptop. Cklek ...
dibukanya pintu dan didapatinya seorang gadis yang terkapar di salah satu sudut
di antara ujung rak dan dinding. Kunta masuk dan menutup pintu kembali.
Ia berjalan dua langkah saja. Setelahnya ia langsung duduk
bersila. Poisinya menghadap lurus ke arah rak, dan walaupun punggungnya sudah
menempel dengan dinding, kakinya tak berjarak jauh dari rak.
Kunta meletakkan laptop di pangkuannya. Ia kembali memandang
ke arah layar laptop. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Kunta tak lagi menggunakan
tetikus, namun ia tetap membawa headphone-nya.
Kunta menyadari tubuh Salinda berpaling. Dengan lemah,
Salinda membuka matanya dan memandang Kunta.
“Kau sudah bisa mendengarku?” tanya Kunta seraya menurunkan headphone ke lehernya.
Salinda mengangguk pelan. “Tapi telingaku masih berdenging,”
jawabnya dengan suara parau.
Kunta mendengus. Panca
indranya kacau. “Pria yang sebaya denganmu itu. Dia memberimu sesuatu?”
“Iya. Sup muffelo dan sirup leci.”
“Ah ... itu dia. Bubuk coklat putih dan sirup leci itu
adalah racun.”
Salinda membisu. Tentu ia tak tahu.
Kunta berkata lagi, “Sebaiknya tetap tenang saja untuk
sekarang.”
“Kurasa aku tidak bisa.”
Mendengarnya, nyaris membuat Kunta tertawa sendiri. Aku lupa hal itu, pikirnya.
“Yah, apa boleh buat,” balas Kunta seraya kembali pada laptopnya.
Kunta tak berniat menghibur gadis itu. Tak ada yang akan
membuatnya lebih tenang. Apalagi kalau Kunta berkata seuatu seperti, Pikirkan saja ayahmu tak akan terlambat,
itu malah akan membuat Salinda semakin khawatir, sebab Salinda sendiri masih terjerat
kenyataan bahwa itu mustahil.
Di sisinya, Salinda memang agak terkejut menyadari bahwa
yang menjaganya kali ini bukan pemuda tadi lagi. Hal itu membuatnya penasaran
dengan jumlah penjahat yang ada di sekitarnya saat ini.
“Oya, benar. Kami tidak sangat banyak, Nona,” sahut Kunta
seolah dapat membaca pikiran Salinda.
“Hanya tiga orang. Benar-benar tiga
orang.”
Salinda membuka mulutnya.
“Tak perlu repot-repot bicara. Aku dapat membacanya melalui
wajahmu,” potong Kunta. “Lagipula, sebaiknya kau jangan terlalu banyak
memikirkan sesuatu.”
Salinda menutup mulutnya kembali.
Menurutnya, pemuda ini tak seperti dua pria yang menemuinya
sebelumnya. Ia tak terlihat sangat sakartis, dan sama sekali tidak dingin. Sikap
dan tutur katanya terkesan lebih dewasa dan karismatik.
“Sekarang aku mulai bingung dengan pandanganmu itu,” ucap
Kunta sambil tersenyum melirik Salinda.
Gadis itu pun membuang muka. Aku tak sadar terus menatapnya.
Kunta tertawa kecil melihatnya. “Aku biasanya tidak bersikap
sakartis seperti tadi, asal kau tahu.”
“Sungguh?” tanya Salinda dengan datar. Ia sebetulnya tak
peduli.
“Iya. Kau tahu? Nudira dan Bara sangat serius kalau tidak
sedang ... yah, terlalu serius, atau sedang melakukan pekerjaan. Biasanya
mereka bermain-main keluar tanpaku.”
Salinda diam. Sebenarnya dia agak tak menyangka kalau dua
pemuda yang ia ketahui sebelumnya adalah orang-orang yang seperti itu. Tapi
memang, Salinda sendiri tak terlalu kaget.
“Kupikir kau sudah tahu kalau mereka bukan ‘tipe’ pencuri.”
Salinda mengangguk.
“Iya. Itu sudah jelas sekali. Mereka lebih psycho, berbeda denganku.”
“Aku tak setuju,” gumam Salinda.
Kunta tersenyum mendengarnya. “Iya, baiklah. Kau lebih
cerdas dari yang kuduga. Tapi sebetulnya aku sedang berusaha menghiburmu.”
Kunta melirik lagi wajah Salinda. Kali ini lebih lama. Wajah
Salinda terasa familiar bagi Kunta. Setelahnya, Kunta menatap perangkat
elektronik dipangkuannya.
“Nona Salinda Naureluna. Benar begitu?” ucap Kunta. “Aku
ingat, kau banyak memberi pertolongan pada perusahaan-perusahaan yang hampir
bangkrut, terkena tipu, dicuri, dan sebagainya. Kau ternyata terlihat lebih
manis dibanding fotomu di identitas karyawan perusahaan.”
Mata Salinda melebar. Ia segera melirik pemuda itu. “Kau ...
Kunta Pangestik.”
“Ah, kau mengenalku.” Kunta hanya melirik sekilas ke arah
Salinda dan kembali pada layar laptop.
Salinda kini terdiam lama. “Ah, begitu rupanya,” ujarnya
lirih setelah beberapa saat terdiam.
Sebagai direktur perhubungan, Salinda mengenal banyak
perusahaan. Ia juga mendapat informasi bahwa banyak perusahaan yang ditipu atau
diretas, kemudian kehilangan data, dan uang mereka, hingga mereka nyaris
bangkrut. Dari informasinya, telah diduga bahwa semuua itu merupakan pekerjaan
pria ini.
Kunta bisa mencuri data dan dana perusahaan-perusahaan.
Namun Salinda rasa dia kesulitan meretas data perusahaan ayahnya. Memang, semua
informasi dan jaringan data dalam perusahaan ayahnya tersebut telah terlindung,
dan Salinda rasa, dengan sangat baik.
“Sialan. Aku sama sekali tak bisa menjamah informasi dalam
perusahaan Jumanta. Dan tidak mampu juga menonaktifkan sistem proteksinya.
Bahkan aku tak tahu siapa yang telah menambahkan sistem tersebut.”
Salinda menjawab, “Ayahku membayar programmer elit dari luar negeri.”
Kunta mendecak kesal. Ia membuang muka seraya mendengus.
“Kau lebih muda dari yang kukira,” ucap Salinda.
“Iya, 24 tahun. Beda enam tahun dengan Nudira.”
Salinda ingin membalas. Tapi ia tak yakin ingin membalas
apa. Perlu beberapa saat untuknya sadar bahwa yang bernama Nudira itu adalah
pemuda yang menjaganya selama di ruangan hitam tadi.
“Ah, mereka tak memperkenalkan diri padamu, ya.”
Salinda mengiyakan dalam hati. “Itu tak penting untuk saat
ini.”
“Memang. Tapi sekedar untuk memakan waktu sajalah, akan
kuperkenalkan.” Kunta membisu sejenak. “Kau tahu? Rencana kami untuk membunuhmu
bukan seperti ini.”
Salinda tak ingin menoleh. Ia hanya bergumam menjawabnya,
”Mmmn ....”
“Ah, aku bukan membicarakanmu, sebetulnya. Ini tentang kedua
rekanku. Baru saja mereka ... sedikit bermasalah. Seandainya kau tahu, mereka
tak biasanya begitu.”
“Hm?” Salinda menoleh sambil tersenyum kecil.
Melihatnya, Kunta jadi tertawa kecil.
Salinda adalah korbannya di sini. Mendengar bahwa
penjahatnya sedang mengalami konflik, dia tentu merasa lega dan senang sebab di
saat itu si korban bisa mencari celah untuk kabur.
Tapi barusan bukan senyuman senang. Salinda hanya sedikit
bertingkah sakartis. Ia tak bisa kabur, baik penjahatnya sedang bermasalah
ataupun tidak. Bagi Salinda akhirnya tetap sudah jelas. Tadi itu, Salinda hanya
mengingatkan Kunta akan situasi si-korban-dan-penjahat ini.
“Yah, mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama,”
sambung Kunta. “Intinya, ini hanya masalah biasa saja. Nanti pun akan segera
selesai.”
Salinda membuang muka. Wajahnya yang masih pucat kembali
tanpa ekspresi. Kunta memandangnya, wajah Salinda sudah tak begitu pucat.
Pasti saat Nudira
membawanya ke sini, wajahnya jauh lebih pucat, pikir Kunta.
Setelahnya, Kunta tetap diam.
“Tidakkah mereka berdua mengerikan?” tandas Kunta. “Persis
seperti dua iblis dari neraka.”
Salinda tak begeming. Namun tingkah diamnya merupakan jawaban
bagi Kunta.
“Baik Nudira, baik Bara, mereka berdua sangat membenci air
mata. Tapi aku bukan seseorang yang seperti mereka.” Suara Kunta terdengar
lembut dan hangat. “Selagi mereka bermasalah, kau bisa menangisi takdirmu
sekarang.”
Tentu. Tentu saja.
Tentu saja Salinda menangisinya.
***
Tuan Jumanta tiba-tiba meraih dadanya. Tiba-tiba hatinya
terasa sesak. Tiba-tiba keputusasaan memenuhi relungnya. Tiba-tiba ia merasa
takut, amat takut, seolah ia sudah bisa melihat akhir dari semua ini.
“Oh, putriku ...,” gumam Tuan Jumanta penuh dengan
kegelisahan.

0 tanggapan:
Posting Komentar