Senin, 25 April 2016

A Painful Morning - [8] - Second Guardian

Cerbung

A Painful Morning




Episode 8:

Second Guardian




Kunta tak perlu bertanya lagi. Ada sedikit sekali sisa ruangan yang masih dapat mereka gunakan. Untuk menyimpan tawanan, Kunta rasa hanya ada satu ruangan yang cukup pantas saat ini.

Kunta meraih handel pintu dengan sebelah tangannya. Tangannya yang lain membawa laptop. Cklek ... dibukanya pintu dan didapatinya seorang gadis yang terkapar di salah satu sudut di antara ujung rak dan dinding. Kunta masuk dan menutup pintu kembali.

Ia berjalan dua langkah saja. Setelahnya ia langsung duduk bersila. Poisinya menghadap lurus ke arah rak, dan walaupun punggungnya sudah menempel dengan dinding, kakinya tak berjarak jauh dari rak.

Kunta meletakkan laptop di pangkuannya. Ia kembali memandang ke arah layar laptop. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Kunta tak lagi menggunakan tetikus, namun ia tetap membawa headphone-nya.

Di sini, dialah yang harus memperhatikan pergerakan Tuan Jumanta, anak-anaknya dan para polisi. Ada dimana mereka. Apa yang mereka lakukan. Apa yang mereka rencanakan. Semuanya. Dia pun telah menyadap sistem-sistem keamanan di sepanjang jalan tol dari Jakarta ke Bandung, bahkan juga selebihnya yang menuju ke gedung ini dan dari rumah Tuan Jumanta. Untuk memastikan juga, ia menyadap jaringan komunikasi polisi. Termasuk, dari semuanya, mendengarkan percakapan mereka.

Kunta menyadari tubuh Salinda berpaling. Dengan lemah, Salinda membuka matanya dan memandang Kunta.

“Kau sudah bisa mendengarku?” tanya Kunta seraya menurunkan headphone ke lehernya.

Salinda mengangguk pelan. “Tapi telingaku masih berdenging,” jawabnya dengan suara parau.

Kunta mendengus. Panca indranya kacau. “Pria yang sebaya denganmu itu. Dia memberimu sesuatu?”

“Iya. Sup muffelo dan sirup leci.”

“Ah ... itu dia. Bubuk coklat putih dan sirup leci itu adalah racun.”

Salinda membisu. Tentu ia tak tahu.

Kunta berkata lagi, “Sebaiknya tetap tenang saja untuk sekarang.”

“Kurasa aku tidak bisa.”

Mendengarnya, nyaris membuat Kunta tertawa sendiri. Aku lupa hal itu, pikirnya.

“Yah, apa boleh buat,” balas Kunta seraya kembali pada laptopnya.

Kunta tak berniat menghibur gadis itu. Tak ada yang akan membuatnya lebih tenang. Apalagi kalau Kunta berkata seuatu seperti, Pikirkan saja ayahmu tak akan terlambat, itu malah akan membuat Salinda semakin khawatir, sebab Salinda sendiri masih terjerat kenyataan bahwa itu mustahil.

Di sisinya, Salinda memang agak terkejut menyadari bahwa yang menjaganya kali ini bukan pemuda tadi lagi. Hal itu membuatnya penasaran dengan jumlah penjahat yang ada di sekitarnya saat ini.

“Oya, benar. Kami tidak sangat banyak, Nona,” sahut Kunta seolah dapat membaca pikiran Salinda. 
“Hanya tiga orang. Benar-benar tiga orang.”

Salinda membuka mulutnya.

“Tak perlu repot-repot bicara. Aku dapat membacanya melalui wajahmu,” potong Kunta. “Lagipula, sebaiknya kau jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu.”

Salinda menutup mulutnya kembali.

Menurutnya, pemuda ini tak seperti dua pria yang menemuinya sebelumnya. Ia tak terlihat sangat sakartis, dan sama sekali tidak dingin. Sikap dan tutur katanya terkesan lebih dewasa dan karismatik.

“Sekarang aku mulai bingung dengan pandanganmu itu,” ucap Kunta sambil tersenyum melirik Salinda.

Gadis itu pun membuang muka. Aku tak sadar terus menatapnya.

Kunta tertawa kecil melihatnya. “Aku biasanya tidak bersikap sakartis seperti tadi, asal kau tahu.”

“Sungguh?” tanya Salinda dengan datar. Ia sebetulnya tak peduli.

“Iya. Kau tahu? Nudira dan Bara sangat serius kalau tidak sedang ... yah, terlalu serius, atau sedang melakukan pekerjaan. Biasanya mereka bermain-main keluar tanpaku.”

Salinda diam. Sebenarnya dia agak tak menyangka kalau dua pemuda yang ia ketahui sebelumnya adalah orang-orang yang seperti itu. Tapi memang, Salinda sendiri tak terlalu kaget.

“Kupikir kau sudah tahu kalau mereka bukan ‘tipe’ pencuri.”

Salinda mengangguk.

“Iya. Itu sudah jelas sekali. Mereka lebih psycho, berbeda denganku.”

“Aku tak setuju,” gumam Salinda.

Kunta tersenyum mendengarnya. “Iya, baiklah. Kau lebih cerdas dari yang kuduga. Tapi sebetulnya aku sedang berusaha menghiburmu.”

Kunta melirik lagi wajah Salinda. Kali ini lebih lama. Wajah Salinda terasa familiar bagi Kunta. Setelahnya, Kunta menatap perangkat elektronik dipangkuannya.

“Nona Salinda Naureluna. Benar begitu?” ucap Kunta. “Aku ingat, kau banyak memberi pertolongan pada perusahaan-perusahaan yang hampir bangkrut, terkena tipu, dicuri, dan sebagainya. Kau ternyata terlihat lebih manis dibanding fotomu di identitas karyawan perusahaan.”

Mata Salinda melebar. Ia segera melirik pemuda itu. “Kau ... Kunta Pangestik.”

“Ah, kau mengenalku.” Kunta hanya melirik sekilas ke arah Salinda dan kembali pada layar laptop.

Salinda kini terdiam lama. “Ah, begitu rupanya,” ujarnya lirih setelah beberapa saat terdiam.

Sebagai direktur perhubungan, Salinda mengenal banyak perusahaan. Ia juga mendapat informasi bahwa banyak perusahaan yang ditipu atau diretas, kemudian kehilangan data, dan uang mereka, hingga mereka nyaris bangkrut. Dari informasinya, telah diduga bahwa semuua itu merupakan pekerjaan pria ini.

Kunta bisa mencuri data dan dana perusahaan-perusahaan. Namun Salinda rasa dia kesulitan meretas data perusahaan ayahnya. Memang, semua informasi dan jaringan data dalam perusahaan ayahnya tersebut telah terlindung, dan Salinda rasa, dengan sangat baik.

“Sialan. Aku sama sekali tak bisa menjamah informasi dalam perusahaan Jumanta. Dan tidak mampu juga menonaktifkan sistem proteksinya. Bahkan aku tak tahu siapa yang telah menambahkan sistem tersebut.”

Salinda menjawab, “Ayahku membayar programmer elit dari luar negeri.”

Kunta mendecak kesal. Ia membuang muka seraya mendengus.

“Kau lebih muda dari yang kukira,” ucap Salinda. 

“Iya, 24 tahun. Beda enam tahun dengan Nudira.”

Salinda ingin membalas. Tapi ia tak yakin ingin membalas apa. Perlu beberapa saat untuknya sadar bahwa yang bernama Nudira itu adalah pemuda yang menjaganya selama di ruangan hitam tadi.

“Ah, mereka tak memperkenalkan diri padamu, ya.”

Salinda mengiyakan dalam hati. “Itu tak penting untuk saat ini.”

“Memang. Tapi sekedar untuk memakan waktu sajalah, akan kuperkenalkan.” Kunta membisu sejenak. “Kau tahu? Rencana kami untuk membunuhmu bukan seperti ini.”

Salinda tak ingin menoleh. Ia hanya bergumam menjawabnya, ”Mmmn ....”

“Ah, aku bukan membicarakanmu, sebetulnya. Ini tentang kedua rekanku. Baru saja mereka ... sedikit bermasalah. Seandainya kau tahu, mereka tak biasanya begitu.”

“Hm?” Salinda menoleh sambil tersenyum kecil.

Melihatnya, Kunta jadi tertawa kecil.

Salinda adalah korbannya di sini. Mendengar bahwa penjahatnya sedang mengalami konflik, dia tentu merasa lega dan senang sebab di saat itu si korban bisa mencari celah untuk kabur.

Tapi barusan bukan senyuman senang. Salinda hanya sedikit bertingkah sakartis. Ia tak bisa kabur, baik penjahatnya sedang bermasalah ataupun tidak. Bagi Salinda akhirnya tetap sudah jelas. Tadi itu, Salinda hanya mengingatkan Kunta akan situasi si-korban-dan-penjahat ini.

“Yah, mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama,” sambung Kunta. “Intinya, ini hanya masalah biasa saja. Nanti pun akan segera selesai.”

Salinda membuang muka. Wajahnya yang masih pucat kembali tanpa ekspresi. Kunta memandangnya, wajah Salinda sudah tak begitu pucat.

Pasti saat Nudira membawanya ke sini, wajahnya jauh lebih pucat, pikir Kunta.

Setelahnya, Kunta tetap diam.

“Tidakkah mereka berdua mengerikan?” tandas Kunta. “Persis seperti dua iblis dari neraka.”

Salinda tak begeming. Namun tingkah diamnya merupakan jawaban bagi Kunta.

“Baik Nudira, baik Bara, mereka berdua sangat membenci air mata. Tapi aku bukan seseorang yang seperti mereka.” Suara Kunta terdengar lembut dan hangat. “Selagi mereka bermasalah, kau bisa menangisi takdirmu sekarang.”

Tentu. Tentu saja. Tentu saja Salinda menangisinya.

***

Tuan Jumanta tiba-tiba meraih dadanya. Tiba-tiba hatinya terasa sesak. Tiba-tiba keputusasaan memenuhi relungnya. Tiba-tiba ia merasa takut, amat takut, seolah ia sudah bisa melihat akhir dari semua ini.

“Oh, putriku ...,” gumam Tuan Jumanta penuh dengan kegelisahan. 







  Next episode  

Blurry Founded


0 tanggapan:

Posting Komentar