Vanilla Cream
CerpenPersaudaraan
~~~~~
Sejujurnya, ini cerpennya udah lama di folder laptop aku. Baru sekarang aku templokin ke blog ini.
~~~~~
Aku dan adikku selalu berantem. Tiap hari, pasti kita berselisih, gak peduli apapun masalahnya.
Aku Annie. Anak kelas 5. Dan adikku Vio, anak kelas 3. Aku 10 tahun, sementara adikku 8 tahun. Kami sekolah di sekolah yang sama.
Aku suka membaca dan bermain internet. Adikku suka bermain di luar dan bermain game, dia termasuk gamers cilik. Selain hobi, masih banyak lagi perbedaan di antara kami, kebanyakan di antaranya itu sering bikin kita berantem.
Misalnya seperti minggu lalu sewaktu aku dan adikku berebut bermain laptop. Aku yang pertama memegang laptopnya waktu itu sedang membaca sebuah novel online. Adikku yang baru saja mandi setelah pulang bermain di luar meminta laptop yang sedang aku pinjam untuk bermain game. Jelas saja aku gak kasih, aku masih seperempat membaca salah satu bab dari novel itu. Tapi adikku merengek dan mengadu pada Mama. Mama juga malah membela. Akhirnya aku terpaksa menutup situs yang belum selesai aku baca dan memberikan laptop pada Vio. Sebagai gantinya, aku membaca buku novel yang sudah lama dan sangat membosankan buat aku.
Siang hari ini, aku sedang bermain laptop di ruang keluaga. Membaca novel yang waktu itu belum selesai kubaca. Vio sekarang sedang pergi bermain bersama teman-temannya di lapangan, paling-paling dia gak bakal pulang sebelum adzan ashar. Jujur, rumah kerasa tenang karena gak ada dia.
“Annie, bantuin Mama, yuk!” ajak Mama.
Aku tersentak kecil. Kok, Mama bisa tiba-tiba muncul di sampingku begitu, ya?
“Mama ngagetin banget,” kataku. “Bantuin apa, Ma?”
“Bantuin Mama bikin kue buat adek kamu. Besok, kan, dia ulang tahun.”
Aku terbelalak, melotot serius seakan bola mataku akan keluar dari tempatnya. Aku baru ingat itu. Besok, kan, 21 februari, ulang tahunnya Vio! Aku belum bikin ataupun beli hadiah apapun buat dia.
Mama terbahak-bahak, “Hahaha ... kamu kaget banget, ya? Awas, tuh, matanya jatoh.”
Aku kembali tenang. Hmm ... kalau dipikir-pikir, bukannya wajar aja kalau aku gak inget ulang tahunnya Vio? Dia, kan, anak bandel. Anak bandel itu gak bakalan di inget orang. Biarin aja anak bandel kayak dia gak dapet hadiah ulang tahun.
“Gimana, Annie? Bantuin Mama, ya?”
Aku memandang Mama dengan serius. “Ma, aku gak mau ikut bikinin Vio kue. Aku gak mau kasih hadiah ulang tahun ke Vio tahun ini.”
Ekspresi Mama berubah. “Lho? Kenapa, Annie? Kalian marahan? Kenapa kamu harus marahin Vio segala, sih? Dia, kan, masih anak kecil, dia cuma bercanda sama kamu.”
Itulah yang sering Mama bilang ke aku sewaktu mikir aku marah ke Vio. Mama emang pasti banget sekali gak mungkin enggak ngebelain Vio. Emangnya Mama gak liat apa waktu Vio udah jelas-jelas bandel? Via jelas-jelas gak perlu dibelain!
“Mama, apa buat Mama Vio itu selalu jadi anak yang baik? Yang sopan sama kakaknya yang jelas-jelas lebih tua dari dia? Mama sebetulnya paham, gak, sih, perasaan aku yang terus dikalahin sama Mama gimana?”
Mama diam.
“Ma, aku gak mau ngasih hadiah ke Vio tahun ini. Aku juga gak mau bikinin kue ulang tahun buat Vio. Aku gak peduli apa kata Mama, pokoknya aku gak mau ngasih apa-apa buat ulang tahun Vio kalau dia masih anak bandel. Ogah!” Aku kembali pada laptop di meja yang ada di depanku.
Aku dapat mendengar Mama mendesah. Mungkin Mama kecewa. Ah, aku gak peduli, apapun yang bakal Mama bilang, aku gak mau denger. Mama selalu ngebelain Vio, paling nanti Mama bakal meminta aku buat berubah pikiran, bukannya itu tetep aja ngebelain Vio? Kenapa Vio seakan gak pernah salah di mata Mama cuma karena dia anak kecil?
Mama membelai kepalaku. “Mama paham perasaan kamu, Annie ....”
“Ya udah. Wajar aja kalau aku gak ngasih anak nakal kayak Vio hadiah,” selaku agak ketus.
Mama mendesah lagi, “Haaahh ... Annie, buat Mama kamu itu anak baik. Mama gak pernah pilih kasih antara kamu sama Vio, Mama cuma pengen kalian bisa akur satu sama lain ....”
“Dengan ngalahin aku? Itu enggak adil, Ma. Aku enggak suka berkali-kali dikalahin sama Mama. Mama kayak ngebela kejahatan buat terus jadi jahat, cuma karena Mama yang berkuasa. Dan aku enggak pernah suka sama itu.”
“Mama gak pernah punya maksud kayak gitu, Sayang. Mama enggak ngalahin kamu, dan Mama juga gak ngebela Vio. Mama cuma melerai kalian aja ....”
“Aku enggak suka cara Mama melerai aku sama Vio! Apa cuma karena Vio anak kecil jadi anak kecil bisa menang terus? Terus yang udah besar harus ngalah? Kalau begitu caranya, kayaknya lebih enak kalau aku gak pernah ada di rumah!” seruku tanpa sadar membentak Mama.
Aku langsung diam, gak bisa bicara. Semua kata tersendat begitu saja di tenggorokan dan gak bisa keluar. Aku terus begitu hingga akhirnya menunduk penuh sesal. Aku belum pernah kelepasan separah ini, belum pernah aku membentak Mama sekeras itu.
Mama mengusap kepalaku lagi. Dan Mama berkata lagi, “Mama paham perasaan kamu, Annie. Mama gak pernah bermaksud ngalahin kamu dan ngebela Vio. Mama mau kalian bisa saling tenggang rasa dan terima satu sama lain. Toh, kamu gak selalu kalah, kadang Mama juga ngalahin Vio walau Vio malah nangis-nangis. Kadang Vio emang suka mulai, tapi Vio juga masih kecil buat belajar tenggang rasa dan ngelepas keegoisannya. Sementara kamu, Annie? Kamu jauh lebih tegar dari Vio. Kamu bukan orang yang keras kepala, karena selama ini kamu kalau diminta mengalah, kamu menerimanya dengan lapang. Vio juga pasti akan belajar untuk mengalah juga, dia nantinya akan belajar untuk menghargai kakaknya. Suatu hari nanti, Vio akan selalu mengalah dari kamu karena kemauannya sendiri, karena dia menghormati kamu, kakaknya. Percaya sama Mama, itu pasti terjadi.”
Aku mendongak, memandang Mama. “Apa iya?”
Mama tersenyum. Dan lalu Mama mengangguk. “Iya, Sayang. Kamu bakal liat sendiri suatu hari nanti.”
Aku diam sebentar. Lalu aku kembali menunduk sejenak. Untuk beberapa saat, aku ragu, tapi setelah itu aku kembali mendogak dan tersenyum.
“Kalau gitu, kamu mau, gak, bantuin Mama bikin kue ulang tahun buat Vio?” tanya Mama lagi.
Aku cekikikan. “Iya.” Tep! Aku menutup laptop di meja. “Kalau gitu, ayo mulai bikin sekarang, Ma.”
Mama tersenyum. Lalu kami berjalan beriringan keluar dari ruang keluarga.
***
Hari menjelang sore. Aku dan Mama masih di dapur membuat adonan kue. Tadi siang aku dan Mama pergi dulu untuk membeli bahan-bahan kue karena ternyata bahan kue yang ada masih kurang. Membuat kue, tuh, gak susah juga, lho. Sekarang aku dan Mama sedang membuat adonan untuk krim kuenya. Mama sedang mengocok adonannya sekarang.
“Krimnya rasa apa, ya?” gumam Mama. “Menurut kamu krim kuenya rasa apa, Annie?”
“Hmm ... vanila! Nanti pasti bagus, deh, kalau di kasih buah ceri atau messes warna-warni! Vanila aja, Ma!” usulku.
Mama tersenyum. Kemudian Mama berkata, “Kalau begitu, tolong kamu carikan perisa makanannya di lemari! Seinget Mama masih ada di rak tengah.”
Aku melangkah menuju lemari makanan yang terletak agak tinggi. Aku membuka daun pintu lemari bagian tengah, dan mencarinya. Iya, masih ada botolnya. Aku mengambilnya lalu melihat botolnya, memastikan isinya masih ada.
“Tinggal setengah, Ma. Apa cukup buat krim kuenya?” tanyaku.
Aku gak sembarang bertanya. Aku pikir karena botolnya lebih kecil dari kepalan tanganku jadi mungkin tidak akan cukup. Soalnya aku pikir tanganku cukup kecil sebagai anak 10 tahun, jadi botolnya pasti kecil sekali untuk orang dewasa.
“Ya sudah, kalau memang perlu dipakai semua kita pakai semua aja. Kalau enggak, ya, lebih bagus, kan?” ucap Mama.
Aku melangkah ke dekat Mama lagi. Aku menyodorkan perisa makanan itu, dan Mama menerima itu. Tapi Mama meletakan botol perisa itu dulu di meja.
“Kamu lanjutin ngaduknya, ya. Mama mau ke kamar mandi sebentar,” kata Mama. Lalu Mama pergi, dan aku melanjutkan adonan itu.
Tak lama kemudian, adonan krimnya jadi. Beberapa saat seelah itu, seseorang membuka pintu depan dan tanpa ijin melangkah masuk. Dia menutup pintu dengan keras, sepertinya dia tidak peduli apa pintu akan rusak atau tidak di tutup sekeras itu olehnya. Dan dia segera berlari menuju dapur menemui kami.
Ya, Vio yang nakal.
Vio segera mendekati kami. “Waaahh! Kakak sama Mama lagi bikin kue, ya? Pasti buat ulang tahun aku, ya?”
Aku menjitaknya pelan, iseng. “Seneng banget, sih, dibikinin kue.”
“Ini buat apanya, Kak?”
“Buat krimnya. Nanti di luar kuenya dikasih ini.”
Vio mencolek krim dan memasukannya ke mulut.
Aku tentu marah. “Ih! Vio! Tangan kamu, kan, kotor! Kamu harusnya cuci tangan dulu, baru boleh nyicipin krimnya!”
“Kak, kok, yang warna putih, sih? Aku maunya yang warna coklat, yang rasa coklat. Boleh, kan, Maaaa?”
Mama tampak keberatan. Mama berkata dengan nada kecewa, “Vio, tapi Kakak udah terlanjur dibikin yang rasa vanila. Biarin aja krim kuenya rasa vanila, ya.”
“Mama! Tapi Vio maunya rasa coklat! Pokoknya kue ulang tahun Vio krimnya rasa coklat!”
“Tapi, Vio ....”
“Ya udah, kalau gitu nanti kita bikinin lagi krimnya yang rasa coklat buat kue Vio,” potongku.
Mama memandangku. Vio berbinar-binar memperhatikanku sambil berkata, “Beneran, Kak?”
Tentu aku menjawab, “Iyaaa!”
“HOREEEEE!!” Vio langsung bersorak kegirangan.
Ya, aku mengalah. Biarin aja aku ngalah, biar nanti kue ulang tahunku aja yang dikasih krim vanila. Yah, aku lupa Vio suka rasa coklat, aku usulin rasa vanila ke Mama soalnya aku emang suka vanilla cream.
Aku dan adikku lain, tapi itu harusnya gak jadi masalah.
“Yah, kebetulan masih ada perisa coklat di lemari. Nanti Mama bikinin krim coklatnya, ya,” kata Mama.
Aku tersenyum. Lalu aku mendesah lega. “Nah, kalau gitu, krim vanila ini diapain, dong?”
Vio mencolek krimnya. Aku pikir dia akan memasukannya ke mulut lagi, tapi ternyata malah dia corengkan di wajahku. “Buat dandanin Kakak aja!” ujarnya.
“Dasar kamu, ya. Sini! Kakak dandanin kamu!” Aku balas mencorengnya dengan krim itu.
Aku dan Vio jadi saling coreng-mencoreng. Untungnya Mama langsung mengambil mangkuk krim vanilanya, kalau enggak mungkin muka aku sama muka Vio udah jadi putih semua. Hahaha ....

William Hill Betting Locations | Mapyro
BalasHapusFind William Hill jancasino.com sports betting locations in Maryland, gri-go.com West Virginia, Indiana, Pennsylvania, https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ South https://jancasino.com/review/merit-casino/ Dakota, West Virginia 출장안마 and more. BetRivers.com.