—Blue-Cold Glass—
Chapter 3, Part 1
--—Hari Kenangan—--
Malam hari, aku belajar dan membereskan bukuku. Dari meja belajar, aku berpindah duduk ke kursi kayu yang ada tepat di sebelah jendela.
Di ruang apartemenku, ada 3 ruangan. Ruang tamu yang merangkap kamar tidur, dapur di sebelahnya, dan kamar mandi di pojok dapur. Kamar depan yang menjadi ruang tamu cukup luas, hingga jarak kasur dan pintu tak berdekatan. Di sisi kiri ruangan–bila dilihat dari posisi pertama masuk–terletak dapur yang jalannya tak berpintu. Di kamarku hanya ada sebuah jendela, sementara balkon tempatku berdiri tadi sore ada di sudut lain ruangan ini. Beranda teras itu tak begitu luas sebetulnya, dan aku lebih sering menutup pintu di sana.
Aku masih menggunakan kacamataku. Sebetulnya, aku tidak benar-benar berkacamata. Itulah kenapa kadang aku memakainya dan kadang tidak. Salah satu mata pelajaran dimana aku tak mengenakan kacamata adalah pelajaran praktek olahraga. Situasi lainnya, saat aku adalah pembunuh misterius.
Tak pernah aku lupa siapa diriku. Tapi aku tak selalu berjaga meskipun tetap mewaspadai kecurigaan orang lain. Lagipula belum pernah ada yang mencurigaiku, baru satu orang sepertinya.
Entahlah, aku tak tahu pasti apa Michele mencurigaiku. Tapi karena aku orang pertama yang dia “introgasi” ada kemungkinan kecil dia curiga.
Mungkin Michele pintar. Tapi dia tak pintar menanggapi (atau mengomentari) keanehan seseorang. Dalam hal itu, Alicia orang yang tepat untuk membantunya.
Ditanganku, kugenggam sebuah agenda dan sebuah bolpoin. Aku tergelitik untuk mengambil agenda itu di meja belajarku saat tak sengaja aku meliriknya. Isinya tentang coretan deret rencana, pengeliminasian.
Tentu tak semua pembunuhan aku rencanakan di sini. Hanya beberapa, saat aku pikir itu menarik untuk dilakukan. Membunuh seseorang yang berisik dan keras berteriak, atau seseorang yang tak mudah ditipu, atau seseorang yang bisa kubunuh dua kali lebih menyakitkan(seperti seseorang yang kubunuh di ruang musik, aku juga berhasil membunuh impiannya).
Kali ini, tak hanya menarik. Berurusan dengan detektif. Hmm ... karena mereka mengenal orang-orang di sekolah, pasti lebih mudah mengumpulkan data.