Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Selasa, 16 Juni 2015

Blue-Cold Glass (3.5)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 5 
--—Hari Kenangan—--








Kelas sudah sangat sepi. Sepanjang jalanku ke kelas, tak ada siapapun kutemui. Officeboy dan officegirl juga sudah kembali pulang, beberapa sedang keluar. Setelah mengambil tas, aku berniat berjalan ke sekitar sekolah. Namun kuurungkan niat itu karena saat melihat ke gerbang, kulihat sesuatu di dekat pos jaga. 

Aku mendekatinya. Lalu kuambil dia seraya berkata, “Di sini rupanya.” 

Snow White mengeong padaku. Tadinya dia tertidur, dan terbangun saat kuangkat. Aku mengusap lembut kepalanya. 

***


Blue-Cold Glass (3.4)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 4 
--—Hari Kenangan—--








“Kutukan! Kutukan! Koridor di samping halaman belakang sekarang terkutuk!” 

“Ya ampun! Istirahat tadi ada yang terbunuh di sana!” 

“Mengerikan sekali! Lehernya putus!” 

“Lynn! Pustakawan perpustakaan itu! Murid kelas 10–A! Dia terbunuh!” 

“Itu pasti karena dia bilang tak ada hantu atau kutukan seperti itu di sekolah ini. Hantu itu pasti sangat marah padanya!” 

“Ini mengerikan! Dia pasti akan mengutuk yang lain lagi! Huaaaa ...!!” 

Bel sudah berdering tadi. Guru kimia belum datang, sementara kelas sudah sangat ribut. Aku hanya memandang ke luar jendela. 

Buku dari perpustakaan masih di tanganku. Terbuka dengan ibu jari menahan lembarannya, aku memegangnya dengan satu tangan. Satu tanganku yang lain ada di wajah, menyangga wajahku. 

Kata-kata Michele masih tengiang di kepalaku. Amarah itu masih membara, dan sekarang kian bergejolak. 

Aku meletakkan buku ditanganku sejenak. Kuraba laci meja dan mengambil agenda kecil. Ada rencana yang harus kupercepat. 

Sementara aku menulis, suasana ribut mulai merendah.

“Mister Hollard pasti tidak akan mengajar kelas kita hari ini. Dia pasti sedang sedih sekali.” 

“Benar. Kasihan sekali Mister Hollard. Dia pasti sedang sangat sedih atas kematian anaknya itu. Aku turut berduka untuknya.” 

***


Blue-Cold Glass (3.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 3 
--—Hari Kenangan—--








Sekolah masih cukup sepi saat aku datang. Aku berjalan melewati gapura dengan kedua tanganku kumasukkan ke saku celana. Diam-diam, aku tak berjalan menuju kelasku saat itu. Aku memutar ke belakang gedung. 

Di sana, kulepaskan ranselku. Aku berjongkok dan membuka risleting ransel. Lalu kukeluarkan seekor kucing kecil dari dalamnya. 

“Maaf, Snow White. Tapi aku tidak bisa membawamu ke kelas.” Aku menutup risleting dan menggendong ranselku. “Jangan keluar dari sekolah, ya. Aku akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti.” 

Snow White berlari pergi. Aku diam sejenak. Tak biasanya dia tidak mendekatiku dan mengeong di kakiku lagi. Apa Snow White mengerti apa yang kukatakan? 

Aku mendengus. Apapun itu, aku tak perlu memikirkannya. Bukan itu yang perlu kupikirkan. 

***


Blue-Cold Glass (3.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 2 
--—Hari Kenangan—--






Pagi buta. Aku bangun. Snow White masih di pangkuanku. Aku menyingkirkannya perlahan. Snow White pun terbangun dan mengeong saat aku meletakannya di atas ranjang. 

Aku mengambil handuk. Aku sudah biasa mandi di pagi buta yang dingin ini. Setelah itu aku akan langsung membereskan ruangan dan yang lainnya. Lalu bersiap ke sekolah setelahnya. 

Aku sempat terhenti di depan kalender. Tas sudah ada di pundak, aku baru saja akan keluar. Kalender itu ada di samping pintu, di bawah jam dinding. Aku baru sadar lebih tepat lagi, ini 28 Maret. 

Aku mendengus lelah. Apa aku memang terlalu serius? Aku hampir benar-benar lupa waktu. 

Kudengar Snow White mengeong. Aku menoleh, melihat Snow White turun dari ranjang dan mendatangiku. Aku berjongkok, mendekatinya. 

“Baiklah,” kataku. “Tapi jangan berisik, ya.” 

Snow White mengeong, aku anggap itu balasan. Aku membuka pintu dan melangkah keluar bersama Snow White. 

***


Blue-Cold Glass (3.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 1 
--—Hari Kenangan—--








Malam hari, aku belajar dan membereskan bukuku. Dari meja belajar, aku berpindah duduk ke kursi kayu yang ada tepat di sebelah jendela. 

Di ruang apartemenku, ada 3 ruangan. Ruang tamu yang merangkap kamar tidur, dapur di sebelahnya, dan kamar mandi di pojok dapur. Kamar depan yang menjadi ruang tamu cukup luas, hingga jarak kasur dan pintu tak berdekatan. Di sisi kiri ruangan–bila dilihat dari posisi pertama masuk–terletak dapur yang jalannya tak berpintu. Di kamarku hanya ada sebuah jendela, sementara balkon tempatku berdiri tadi sore ada di sudut lain ruangan ini. Beranda teras itu tak begitu luas sebetulnya, dan aku lebih sering menutup pintu di sana. 

Aku masih menggunakan kacamataku. Sebetulnya, aku tidak benar-benar berkacamata. Itulah kenapa kadang aku memakainya dan kadang tidak. Salah satu mata pelajaran dimana aku tak mengenakan kacamata adalah pelajaran praktek olahraga. Situasi lainnya, saat aku adalah pembunuh misterius

Tak pernah aku lupa siapa diriku. Tapi aku tak selalu berjaga meskipun tetap mewaspadai kecurigaan orang lain. Lagipula belum pernah ada yang mencurigaiku, baru satu orang sepertinya. 

Entahlah, aku tak tahu pasti apa Michele mencurigaiku. Tapi karena aku orang pertama yang dia “introgasi” ada kemungkinan kecil dia curiga. 

Mungkin Michele pintar. Tapi dia tak pintar menanggapi (atau mengomentari) keanehan seseorang. Dalam hal itu, Alicia orang yang tepat untuk membantunya. 

Ditanganku, kugenggam sebuah agenda dan sebuah bolpoin. Aku tergelitik untuk mengambil agenda itu di meja belajarku saat tak sengaja aku meliriknya. Isinya tentang coretan deret rencana, pengeliminasian

Tentu tak semua pembunuhan aku rencanakan di sini. Hanya beberapa, saat aku pikir itu menarik untuk dilakukan. Membunuh seseorang yang berisik dan keras berteriak, atau seseorang yang tak mudah ditipu, atau seseorang yang bisa kubunuh dua kali lebih menyakitkan(seperti seseorang yang kubunuh di ruang musik, aku juga berhasil membunuh impiannya). 

Kali ini, tak hanya menarik. Berurusan dengan detektif. Hmm ... karena mereka mengenal orang-orang di sekolah, pasti lebih mudah mengumpulkan data.