Selasa, 16 Juni 2015

Blue-Cold Glass (3.4)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 4 
--—Hari Kenangan—--








“Kutukan! Kutukan! Koridor di samping halaman belakang sekarang terkutuk!” 

“Ya ampun! Istirahat tadi ada yang terbunuh di sana!” 

“Mengerikan sekali! Lehernya putus!” 

“Lynn! Pustakawan perpustakaan itu! Murid kelas 10–A! Dia terbunuh!” 

“Itu pasti karena dia bilang tak ada hantu atau kutukan seperti itu di sekolah ini. Hantu itu pasti sangat marah padanya!” 

“Ini mengerikan! Dia pasti akan mengutuk yang lain lagi! Huaaaa ...!!” 

Bel sudah berdering tadi. Guru kimia belum datang, sementara kelas sudah sangat ribut. Aku hanya memandang ke luar jendela. 

Buku dari perpustakaan masih di tanganku. Terbuka dengan ibu jari menahan lembarannya, aku memegangnya dengan satu tangan. Satu tanganku yang lain ada di wajah, menyangga wajahku. 

Kata-kata Michele masih tengiang di kepalaku. Amarah itu masih membara, dan sekarang kian bergejolak. 

Aku meletakkan buku ditanganku sejenak. Kuraba laci meja dan mengambil agenda kecil. Ada rencana yang harus kupercepat. 

Sementara aku menulis, suasana ribut mulai merendah.

“Mister Hollard pasti tidak akan mengajar kelas kita hari ini. Dia pasti sedang sedih sekali.” 

“Benar. Kasihan sekali Mister Hollard. Dia pasti sedang sangat sedih atas kematian anaknya itu. Aku turut berduka untuknya.” 

***



Seseorang sedang mencuci muka. Seorang bapak guru yang usianya sudah sekitar 40-an tahun. Sejenak, ia terdiam memandang wastafel. Tatapannya sendu. 

Beberapa saat kemudian, dia mendongak memandang cermin. Saat itulah ia menyadari keberadaanku. 

“Tone ...,” katanya sambil mengelap wajah dengan sapu tangannya. “Kau belum pulang?” 

Aku mendengus. Tak menjawab. 

“Ada sesuatu?” tanya Pak guru lagi seraya berbalik, memandangku. 

Aku masih diam. 

“Nnn ... Tone ....” Nampaknya dia kaget saat bertemu pandang denganku. “Kenapa kau memandang gurumu seperti itu?” 

Aku mentup mata beberapa saat. Lalu membukanya lagi. “Tidak ada,” jawabku. 

Sejenak, ia terdiam. Lalu perlahan mulai kembali berbicara tenang, “Oh, iya. Maaf, aku belum pernah berpandangan denganmu secara langsung seperti ini.” 

Aku pun tak membalas. 

“Kalau begitu ... ada sesuatu?” 

“Aku sudah menjawabnya.” 

“Apa?” 

Aku mendengus pelan. Bersamaan dengan itu, aku mendekati Pak guru tua. Bapak guru kimia ini tak biasanya berbicara tenang seperti ini. Pada dasarnya, dia guru yang tegas. 

Sampai di depannya. 

“Apa yang kau inginkan sekarang?” 

Aku berkata, “Pertanyaanmu tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Jawabannya sama, Sir.” 

Bapak yang tak lebih tinggi dariku tetap memandangku. Pandangannya bingung dengan sedikit rasa tegang. 

“Kau tidak takut untuk pulang sendirian, Mister?” 

“Mungkin memang seharusnya tidak,” jawabnya, merendah. “Tapi aku butuh waktu juga untuk sendiri. Aku juga tak tahu bagaimana harus menjelaskan soal Lynn pada ibunya saat ini.” 

Aku tak membalas. 

“Lynn sangat berharga untukku. Dia satu-satunya putraku. Aku tak percaya dia harus pergi seperti ini.” Beliau menangkat wajah dan berbicara menggeram, “Siapapun pembunuh itu, dia harus membayar perbuatannya.” 

Aku menepuk bahu kanan beliau. Aku berkata, “Tenanglah. Kita tak tahu apa yang sebetulnya terjadi.” 

Kulihat, ia kembali menunduk. “Tidak mungkin, Tone. Tidak mungkin. Tidak mungkin kalau anakku dikutuk. Walaupun polisi berkata bahwa anak itu pada dasarnya terlihat seperti membunuh dirinya sendiri dengan suatu benda tajam yang kemudian hilang. Apapun itu, itu tidak mungkin.” 

Aku menurunkan tanganku. “Jangan terlalu bersikeras menepis, Mister Hollard.” 

Bapak tua itu mengelap matanya. Kacamata ia lepaskan dari wajahnya. Dia mulai melupakan suasana kamar mandi yang kian semakin senyap, dan juga lupa akan aura tegang itu. 

Aku berbisik dingin, “Sebaiknya, ingat saja sesuatu ....” 

Akhirnya, Mister ingat aura itu. 

“Ingatlah ....” 

Mister mendongak. Memandangku dengan jantung berdebar begitu cepat. 

“Kematian lebih buta dari cinta.” 

Kukeluarkan tangan dari saku. Sebelum Mister Hollard menyadarinya, aku telah memotong lehernya. Tidak putus, namun cukup untuk membuat kepalanya jatuh ke belakang bahu. Tubuhnya pun tumbang. Darah menyembur saat posisinya masih berdiri, banyak diantara cipratannya membasahi cermin di sampingku berdiri. 

Aku sudah melangkah mundur secukupnya. Menghindari cipratan darah merah dari kemeja putihku. Aku melirik cermin, dimana segaris cipratan darah dari pisauku terlihat tepat di samping bayanganku. Karena itu, pisau yang kini kugenggam tak banyak bernoda. 

Aku membersihkan pisau di wastafel. Setelah itu kubungkus dengan sapu tanganku dan kembali kukantongi. Sambil melakukannya, aku berbalik dan keluar.

***






          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


0 tanggapan:

Posting Komentar