—Blue-Cold Glass—
Chapter 3, Part 3
--—Hari Kenangan—--
Sekolah masih cukup sepi saat aku datang. Aku berjalan melewati gapura dengan kedua tanganku kumasukkan ke saku celana. Diam-diam, aku tak berjalan menuju kelasku saat itu. Aku memutar ke belakang gedung.
Di sana, kulepaskan ranselku. Aku berjongkok dan membuka risleting ransel. Lalu kukeluarkan seekor kucing kecil dari dalamnya.
“Maaf, Snow White. Tapi aku tidak bisa membawamu ke kelas.” Aku menutup risleting dan menggendong ranselku. “Jangan keluar dari sekolah, ya. Aku akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti.”
Snow White berlari pergi. Aku diam sejenak. Tak biasanya dia tidak mendekatiku dan mengeong di kakiku lagi. Apa Snow White mengerti apa yang kukatakan?
Aku mendengus. Apapun itu, aku tak perlu memikirkannya. Bukan itu yang perlu kupikirkan.
***
Di waktu istirahat, aku berjalan menuju perpustakaan. Aku membaca sebuah buku yang kupinjam dari perpustakaan sambil berjalan.
Tak berapa lama, aku sampai di persimpangan samping halaman belakang. Aku berhenti sebentar untuk beralih dari bukuku ke seorang anak laki-laki yang tengah duduk sendiri di pinggir koridor, meletakkan sebelah kakinya di atas kakinya yang satunya.
Aku menurunkan tanganku. Sebelah tanganku masuk ke saku celana, begitu kukeluarkan segera kubuka lipatannya dan melempar pisau itu tepat ke leher anak di sana. Anak itu langsung terjatuh ke samping tepat saat pisau menusuk tulang dan kerogkongannya. Saat itu, aku mulai melangkah mendekatinya.
Kulihat anak itu menggerakan tangannya, hendak meraih pisau. Namun sebelum dia berhasil menyetuh pisau di lehernya dengan ujung jaripun, dia sudah tak sadarkan diri. Dia berakhir dengan mata membelalak.
Aku sampai di samping kakinya. Aku berjongkok, merendah mendekatinya. Aku tidak mencabut pisau itu, melainkan menggorok lehernya hingga putus. Setelah itu aku menusuk perutnya dan dengan cepat menariknya kembali. Kuketuk-ketukkan pisauku ke lantai, menyingkirkan darah basah di mata pisau tersebut.
Aku berdiri. Kulipat pisau dan kugulung dengan sebuah sapu tangan, serta-merta kukeringkan tanganku dari darah di sapu tangan itu. Aku mulai kembali berjalan sambil mengantungi pisau ke saku.
Aku melanjutkan berjalan menuju perpustakaan. Kubenarkan letak kacamataku sambil kembali membuka buku dan kemudian membacanya kembali. Saat aku sampai, aku membuka pintu dengan mataku masih pada buku di tanganku.
Suasana perpustakaan sepi. Tak banyak orang di sini. Seperti biasanya.
“Oh, Tone, apa kamu begitu menyukai buku itu?”
Aku menoleh pada Alicia yang duduk di belakang meja pustakawan. Dia sempat sedikit tertahan saat aku memandangnya.
Itu bukan hal aneh. Semua orang yang kutatap selalu bereaksi seperti itu. Sepertinya pandanganku memang terlihat sebegitu dingin.
“Ah! Oh ... eh ... mmm ... err ...,” kelihatannya Alicia tak tahu harus berkata apalagi karena baru saja kaget.
Aku tahu. Di belakangku ada Michele yang berdiri memperhatikan Alicia dari balik rak. Aku tak perlu menoleh untuk melihatnya mendengus seraya menepuk dahinya sendiri.
Jadi mereka mencurigaiku? Inikah cara mereka mencari info lebih dalam lagi dariku? pikirku. Baiklah kalau begitu.
Aku mendekati Alicia. “Sedang apa di situ?”
Alicia menjawab, “Hah? Eh! Pustakawan sedang pergi ke kamar mandi. Dia menyuruhku menjaga perpustakaan selama ia pergi.”
“Oooh ... Lynn.” Aku meletakkan buku yang kubawa di meja pustakawan. “Dia membawa sebuah novel?”
“Iya, dia membawa sebuah buku cerita fantasi. Dia memang menyukai cerita-cerita petualangan dan fantasi. Kau tahu juga, ‘kan?”
“Tentu. Dan menurutku dia sebetulnya bukan ingin ke kamar mandi kalau seperti itu. Mungkin dia hanya mencari udara segar di luar.”
“Benarkah? Bagaimana kau yakin?”
Aku mulai berjalan pergi. “Dia sering mengeluh akhir-akhir ini. Aku dengar belum lama dia putus dengan pacarnya karena dibilang terlalu kutu buku untuk seseorang yang tak berkacamata. Kau juga berkata kalau dia lebih cocok masuk ke klub basket daripada libarian.”
“Ap ... apa? Darimana kau tahu itu?!”
“Kau sungguh cerewet. Kau tahu?”
Aku tahu tanpa harus berbalik. Alicia mematung sementara Michele berusaha keras menahan tawa. Alicia tentu masih memikirkan dan bertanya dalam hati, apa kau juga tahu kalau aku menyukainya? Sementara Michele tahu jawabannya.
Aku melangkah ke sederetan rak. Di sana aku memilah-milah buku.
“Hei,” sapa Michele beberapa saat kemudian, mendekatiku. “Rasanya buku-buku yang kau suka juga yang aku suka.”
“Uhm,” balasku, menggumam.
“Kau tak pernah meminjam buku seperti ... Bagaimana Caranya Menepis Kutukan, seperti itulah?”
Kalau kukatakan aku tidak percaya itu, lalu kau akan bilang aku pembunuhnya?
“Kau pernah?”
“Tidak. Aku tidak tertarik pada hal semacam itu. Tapi omong-omong, aku pernah melihat Lynn membaca buku itu. Kau juga pernah melihat itu, bukan?”
“Ya. Itu pasti hanya iseng. Dia ingin tahu bagaimana isinya.”
“Iya, aku pernah menanyakan itu dan memang begitu jawabannya. Hahaha ... tentu saja begitu, tidak mungkin dia percaya juga pada kutukan. Ingat, bukan? Mister Hollard pun tak percaya sama sekali.”
Aku menoleh padanya. “Sepertinya kau juga.”
Michele tetap memandang rak. “Iya. Menurutku itu mustahil saja. Bukankah kau juga berpikir begitu?”
Aku diam sebentar. Berakting. “Kau tak berpikir kalau sekolah kita ini berhantu?” tanyaku sambil memandang rak.
Michele mulai memandangku. Dia terdiam sebentar. “Tidak.”
Aku mundur sedikit. Lalu aku beranjak hendak melewati Michele. “Bukankah kau tak akan melihat mereka? Kau yakin mereka tak ada?” bisikku saat melewatinya.
Michele terdiam. Kali ini lebih lama lagi. Aku sudah berjalan beberapa langkah di belakangnya saat kudengar dia menjawabku.
“Aku sudah terlanjur sangat yakin, pembunuh yang bernafas dalam kehidupan kejam terkutuknya itu ada di sini.”
Aku menghentikan langkahku. Aku mengepalkan kedua tangan seeratnya, keduanya sedang ada di saku saat ini. Aku tak banyak memikirkan dan menimbang apa yang seharusnya kulakukan.
“Kau tahu apa?” tanyaku sinis. “Kau yakin perasaanmu benar?”
“Lalu menurutmu bagaimana?” Michele bertanya balik dengan nada yang tak jauh berbeda denganku. “Aku akan terkutuk? Atau menurutmu aku mulai dikutuk oleh hantu itu?”
Aku terdiam lama. Michele mulai memandangku.
Dia berkata lagi, “Apapun itu, rasanya aku mulai tak setuju kalau yang terkutuk di sini adalah sekolah ini. Mungkin seharunya hantu yang mengutuk, tapi di sini hantu itulah yang terkutuk. Kau tahu itu?”
Aku menoleh padanya dengan pandangan biasa. “Kenapa kau begitu tertarik dengan pembicaraan ini?”
Air muka Michele berubah drastis. Dari pandangan seriusnya, dia baru menyadari hal itu. Lalu memalingkan wajah. “Oh! Ma ... maaf.”
Aku memperhatikan Michele yang berjalan pergi. Aku hanya kembali menoleh ke depanku. Aku kembali terdiam sendiri di sana. Kedua tanganku masih di saku.
Seandainya aku lepas, bisa saja pisauku menancap di mulutnya.
Aku mendengus. Kembali aku bersikap tenang dan memilah buku.
***

0 tanggapan:
Posting Komentar