—Blue-Cold Glass—
Chapter 3, Part 2
--—Hari Kenangan—--
Pagi buta. Aku bangun. Snow White masih di pangkuanku. Aku menyingkirkannya perlahan. Snow White pun terbangun dan mengeong saat aku meletakannya di atas ranjang.
Aku mengambil handuk. Aku sudah biasa mandi di pagi buta yang dingin ini. Setelah itu aku akan langsung membereskan ruangan dan yang lainnya. Lalu bersiap ke sekolah setelahnya.
Aku sempat terhenti di depan kalender. Tas sudah ada di pundak, aku baru saja akan keluar. Kalender itu ada di samping pintu, di bawah jam dinding. Aku baru sadar lebih tepat lagi, ini 28 Maret.
Aku mendengus lelah. Apa aku memang terlalu serius? Aku hampir benar-benar lupa waktu.
Kudengar Snow White mengeong. Aku menoleh, melihat Snow White turun dari ranjang dan mendatangiku. Aku berjongkok, mendekatinya.
“Baiklah,” kataku. “Tapi jangan berisik, ya.”
Snow White mengeong, aku anggap itu balasan. Aku membuka pintu dan melangkah keluar bersama Snow White.
***
Masih pukul 6.30. Baru para pejalan kaki yang berangkat. Aku membawa Snow White di tanganku selama perjalanan.
Sesekali kuperiksa kerahku. Hanya memastikan apa memang aku sudah menggunakan dasiku dengan benar. Sejujurnya, setiap aku mengenakan seragam aku selalu memastikan dasiku, berkali-kali, bila sudah yakin baru aku akan berangkat.
Sempat kulewati sebuah toko bunga kecil. Bunga putih dipajang di depan toko itu. Aku berhenti sejenak dan memperhatikan bunga itu.
Bunga itu mengingatkanku. Pikirku, kalau bukan pagi hari ini aku ke sana, lalu kapan lagi?
Iya. Ada tempat yang ingin kukunjungi dahulu pagi hari ini.
Aku membeli beberapa tangkai bunga itu. Lalu kembali berjalan. Jalan yang kususuri, semakin lama semakin sepi pejalan kaki. Di sekitar sebuah perumahan kecil, aku sampai.
Tempat itu adalah sebuah lapangan rumput tinggi. Tanaman liar tumbuh di sekitarnya. Di depanku, sepasang gapura pintu tua yang saling berjauhan berdiri. Ada pintu pagar besi di kedua gapura itu, namun kedua pintunya sudah rapuh berkarat. Tak ada yang menghalangiku memasuki lapangan rumput itu. Di sisi samping lapangan itu, ada sebuah pohon rindang. Aku duduk di akar pohon itu.
Snow White mendongak, menatapku. Aku memandangnya, lalu menurunkannya dari tanganku sebentar. Sejenak, aku masih terdiam memandangi Snow White. Lalu kupandangi reruntuhan sesuatu di tengah-tengah lapangan rumput tinggi itu.
“Aku ada di rumah, Snow White,” gumamku.
Aku menunduk. Kupandangi bunga putih di tanganku dalam-dalam. Mengenang banyak hal yang muncul dalam memoriku.
“Dulu, di sinilah rumahku.”
Iya. Karena sebetulnya, tempat ini bukan lapangan rumput tinggi begini. Dulu ini adalah pekarangan rumah. Rumah yang kutinggali bersama keluargaku. Bersama sepasang orang tua, seorang kakak dan seorang adik.
Di pekarangan rumah, kami tiga bersaudara selalu bermain bersama. Kadang juga bersama ayah dan ibu kami. Di bawah pohon ini, kami sering duduk bersama. Dari mulai mengobrol di sini, bermain-main, ataupun makan siang bersama. Bahagia rasanya saat itu.
Tapi kesenangan itu terasa cepat terlewati. Karena suatu malam, hal mengerikan terjadi. Malam itu kami berkumpul di ruang keluarga. Ibuku ada di dapur, sedang mempersiapkan makan malam. Sempat aku mendekati ibu untuk berbicara sesuatu padanya. Tak lama kemudian, ibu ke ruang keluarga sementara aku masih di dapur. Saat itulah empat pria asing bertopeng hitam masuk ke ruang keluarga.
Semua di sana menjerit, kecuali aku. Aku sendiri segera bersembunyi di samping pintu dan mengintip dari sana.
“Si ... siapa kalian?! Apa yang kalian mau?!” tanya ayahku dengan sangat terkejut.
Mereka tak menjawab. Justru salah satu dari mereka segera menarik ayah dan menusukan pisau ke kepala ayah. Semua di sana menjerit sangat keras, hingga jeritanku tak terdengar oleh para pria misterius itu. Mereka membunuh ayah, ibu, kakak dan adikku tanpa ampun. Menusuknya, memotongnya, menyobeknya, bahkan mengulitinya. Aku terus menahan jerit melihatnya, aku tahu aku tak boleh sampai ketahuan.
Selesainya, mereka memperhatikan sekitar. Mereka mencari-cari sesuatu, aku yakin barang berharga karena aku yakin mereka adalah pencuri. Setelah mereka berjalan keluar ruangan, aku mulai melangkah ke ruang keluarga.
Aku terpaku memandangi jasad keluargaku. Jasad mereka berantakan, sangat berantakan. Hancur dan berserakan di mana-mana dengan darah masih memancar deras dari luka tusuk di tubuh mereka. Beberapa bagian dari tubuh mereka sudah tak memiliki kulit, tersisa daging dan urat-urat berdarah. Sudah ada beberapa tangan, kaki, dan kepala terpisah berjauhan dari tubuh aslinya.
Aku jatuh duduk di sana. Secara tak sadar dan tak bisa kutahan, aku terisak-isak. Karena isakanku, tak berapa lama seorang pria bertopeng kembali ke ruang keluarga dan langsung berlari padaku, hendak menebas kepalaku. Aku berhasil menghindar dengan terlambat.
Aku tergeletak di pojok ruangan. Leher kiriku tergores hingga mengenai tulangnya, tapi belum putus.
Dengan posisiku ini, aku telah terpojok. Sementara, beberapa pria bertopeng lainnya mulai memasuki ruang keluarga.
Kepalaku pusing. Pandanganku mulai kabur. Telingaku penuh dengan dengingan. Luka di leherku terasa begitu pedih. Menyakitkannya, aku masih sadar.
Mereka saling berbicara. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku sudah tahu, mereka akan membunuhku saat itu. Tapi baru akan mendekatiku, terdengar ledakan dari dapur. Saat itu, api langsung berkoar memenuhi hampir selurung ruang keluarga. Para pria bertopeng itu segera pergi.
Sisa aku yang masih tak berdaya. Duduk di pojok ruangan sambil menahan pedih di leherku.
Api sudah bertebaran di atas benang permadani yang cukup kering. Mungkin api akan membakar potongan tubuh ayah, ibu, kakak dan adikku di atas permadani itu.
Aku menutup mata. Tak ingin memandangi mereka lagi, serta menahan pedih lukaku. Sejenak kurasakan basah di atas lantai di tempatku duduk. Sekujur tubuhku rasanya sudah mati rasa, dan mulai terasa dingin. Padahal aku tahu api yang memenuhi seluruh ruangan ini sudah mulai merayap mendekati kulitku.
Aku tak akan selamat! Aku akan mati! Mati! pikirku. Aku putus asa, dan perlahan tak sadarkan diri.
Sebuah keajaiban aku bisa terbangun lagi di rumah sakit. Kulihat seorang dokter di depanku. Dialah yang menjelaskan bahwa aku sudah koma selama 6 minggu. Aku sempat bertemu seorang pemilik panti asuhan yang mengajakku untuk tinggal di pantinya. Dia bilang setelah aku benar-benar pulih, dia akan menjemputku lagi.
Saat itu, aku ingin menanyakan dimana keberadaan keluargaku. Aku sempat berpikir kalau mereka juga pasti selamat, karena aku pun selamat. Tapi aku tak cukup kuat untuk berbicara saat itu.
Beberapa hari kemudian keadaanku mulai membaik. Aku membereskan segalanya dan kabur dari rumah sakit. Aku tak mau tinggal di panti. Dengan mudah setelah merencanakannya, aku berhasil dengan mulus keluar. Aku segera pergi meninggalkan rumah sakit sejauh-jauhnya.
Aku belum tahu dimana aku berada. Saat itu aku hanya berjalan kemana kakiku membawaku. Sampai aku lelah dan berhenti di sebuah apartemen sederhana. Aku memasukinya, berharap menemukan seseorang yang akan berbaik hati menawarkan tempat tinggal bersama. Namun ternyata tak ada seorangpun di apartemen itu. Aku sadar itu adalah apartemen tua.
Aku pikir tak ada lagi pemilik apartemen ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memasuki sebuah kamar dan berdiam di sana. Aku membereskan sekeliling kamar itu, hingga akhirnya dapat kutinggali.
Berbekal ilmu yang ayah dan ibu telah ajarkan, aku bisa tetap bersekolah. Selama ini, aku bersekolah dengan beasiswa. Aku selalu menjadi yang tercerdas di sekolah.
Tak pernah aku bisa melupakan masa laluku. Kenangan indah dan kenangan pahit itu. Lebih pahitnya lagi, sampai sekarang ini, aku belum pernah tahu dimana kuburan ayah, ibu, dan kedua saudaraku.
Sampai saat ini, aku selalu mengenang itu semua di sini. Dua puluh delapan Maret, hari terakhirku melihat mereka.
Hari terakhir kebahagiaanku.
“Meong.”
Aku tersadar. Aku memandang Snow White yang mengusapkan pipinya ke kakiku. Aku membelai lembut kepalanya.
Aku jadi teringat. Pertama kali melihat Snow White malam itu, ia basah kuyup kedinginan di belakang tong sampah. Mungkinpun sama sepertiku, saat itu dia juga hampir mati.
Mengingatnya, membuatku bertanya dalam hati, Apa Snow White memang dibuang? Entah kenapa aku miris mendengarnya sendiri. Tapi aku tak ingin memikirkannya lebih lanjut.
Aku menggendong Snow White. Aku berdiri dan berbalik sejenak untuk mendongak juga. Aku memandangi pohon rindang penuh kenangan ini. Lalu aku meletakkan seikat bunga-bunga putih tadi. Setelah sekali lagi memandangi lapangan rerumputan ini, aku keluar dan berangkat ke sekolah.
***

0 tanggapan:
Posting Komentar