Jumat, 01 April 2016

A Painful Morning - [5] - A Rush Call

Cerbung

A Painful Morning




Episode 5:

A Rush Call




Beberapa waktu lalu, sang ayah telah memisahkan diri. Ketiga anaknya menyusul keluar rumah. Ibu mereka sempat menghampiri sebelum mereka menaiki mobil.

Wajahnya penuh kekhawatiran. Ia menepuk pundak Darwan lembut seraya bertanya, “Kemana Ayah kalian pergi? Mau kemana kalian? Apa kalian sudah tahu dimana Salinda? Biarkan ibu ikut dengan kalian.”

“Maaf, Ibu, sebaiknya Ibu tetap di rumah, kami pasti kembali dengan Salinda,” ujar si sulung sambil menggenggam telapak tangan keriput ibunya.

“Apa sungguh Salinda diculik? Apa maksudnya mereka melakukan ini? Ya ampun, Nak, Ibu tidak bisa tenang memikirkannya,” resah sang ibunda degan isak tangisnya.
Melia mendekat dan memeluk ibunya. “Kak Salinda akan baik-baik saja, Bu. Pasti tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa? Dia bersama orang-orang jahat di sana. Aduh, anak perempuanku. Ibu tak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya saat ini. Oh, ya Tuhan.”

“Ibu tidak boleh berkata seperti itu. Tetaplah berdoa, Bu, semoga Kak Salinda masih baik-baik saja.”

Darwan mengusap bahu ibunya dengan lembut. “Sekarang Ibu tenang, ya. Kita harus cepat-cepat, mengejar waktu. Doakan kami semua, Bu, khususnya Salinda.”

Sang ibu masih terisak. Namun perlahan ia melepaskan pelukan putrinya. Segera, ketiga anaknya masuk ke dalam mobil. Beberapa pelayan mendekati Ibunda, yang masih tak henti menitikkan air mata.

“Sudahlah menangisnya, Nyonya. Mereka pasti akan membawa pulang Nona Salinda.”

“Iya, Nona Salinda akan baik-baik saja.”

“Sudahlah, Nyonya Arlisa. Sekarang kita kembali saja dulu ke meja makan. Nyonya harus sarapan dulu, ya.”

Arlisa Pujiyanti akhirnya kembali ke dalam rumah. Ia masih membawa isak tangisnya, bahkan sampai di meja makan. Segala kekhawatiran akan putrinya terus menghantuinya.

***

Di mobil, Melia dan Ferdo berkutat dengan ponsel mereka. Bukan untuk meng-update status atau seperti itu, mereka tertahan di sambungan telepon mereka dengan teman sekelasnya untuk izin tak masuk kelas hari ini.

Darwan di posisinya sebagai penyetir tak kalah semrawut. Ia berusaha memacu mobil secepat yang ia bisa. Waktu masih pagi, namun jalanan sudah mulai terisi. Untungnya jalan belum begitu penuh, masih ada ruang dari satu mobil ke mobil lainnya di tiap barisnya. Untuk mendapat ruang berjalan itulah, Darwan meliuk-liukkan mobil. Sesekali seorang pengendara motor yang agak kaget dengan belokannya yang tiba-tiba mengumpat padanya. Darwan hanya menutup kuping, bukan saatnya pedas untuk cacian jalanan.

Melia menutup teleponnya. Ia mendesah dan disambut pertanyaan dari salah satu kakaknya.

“Apakah ketua kelasmu juga berkata kalau kau sedang melindur?” tukas Ferdo.

Melia menjawab ketus, “Bukan. Dia bilang aku baru saja membanting kepalaku ke cermin rias.”

Ferdo tersenyum miring, menahan tawa. “Hah? Kenapa?”

“Katanya, karena aku baru sadar kalau wajahku jelek.”

“Hahaha ... itulah kenapa kubilang jangan terlalu banyak berdandan! Dasar menor!”

“Huh! Kalian bilang begitu karena iri!”

“Hm? Aku tahu siapa yang lebih cakep di sini.”

“Sudah, kalian bedua,” lerai Darwan. Ia memperbaiki letak kacamatanya dan berkata lagi. “Sebaiknya pikirkan apa yang harus kalian jelaskan pada polisi. Kakak masih sibuk menyetir.”

“Pikirkan kakak perempuanmu, Melia,” tegas Darwan saat melirik spion tengah dan mendapati wajah adik perempuannya yang merenggut.

Mendengarnya, Melia terperanjat. Ia mulai menyesal karena telah melupakan saudari kandungnya yang tengah dalam bahaya saat ini. Sementara Ferdo, dia diam sambil memandang keluar, memikirkan apa yang diperintahkan kakaknya.

Tak berapa lama, mereka sampai di Kapolda terdekat. Singkat kata, mereka melaporkan semuanya tentang tindakan kriminal yang terjadi pada Salinda.

“Ini adalah tindakan pemerasan,” gumam Bapak Polisi itu seraya meraih gagang telepon rumah di sampingnya dan menekan nomor tujuannya. “Persiapkan sejumlah kepolisian, identifikasi panggilan di telepon rumah Bapak Jumanta Susanto, dan segera pergi ke daerah Bandung, untuk spesifikasi tempat akan dihubungi kembali. Ini darurat, sebisanya, lakukan kurang dari satu jam.”

Pak Polisi menutup telepon. Ia kembali bicara pada ketiga muda-mudi di depan mejanya, “Kami perlu setidaknya salah satu dari kalian untuk tetap di sini dan memberikan keterangan.”

Darwan beralih pada salah satu adiknya. Ia berkata, “Meila, kau tetap di sini, ya.”

“Hah? Tapi aku juga mau menolong Kak Salinda!” tolak Meila.

“Ayah bilang Kak Salinda ada di Bandung sekarang. Yang tahu persis tentang letak bangunan pemasaran di Bandung adalah kakak-kakakmu. Ferdo adalah yang paling hafal, kalau dia yang menetap di sini, kami akan kesulitan mencari.”

Meila melirik Ferdo. Kakak keduanya itu menyeringai penuh kesombongan.

“Iya, baiklah, Kak.”

Seorang bapak polisi datang mendekat. “Pak Darwan, mari berangkat sekarang!” ucap bapak polisi itu dengan tenang dan tegas.

“Ayo cepat, Pak!” balas Darwan seraya mengambil langkah kembali ke mobilnya.

Mereka segera pergi meninggalkan Kapolda. Beberapa mobil polisi mengawal di sekitar mobil Darwan. Kini mereka mulai memasuki jalan tol. Tiba-tiba hp Ferdo berdering.

Ferdo melirik Darwan. “Dari ayah,” katanya tepat sebelum mengangkat telepon. “Ayah ada dimana? Kami sudah bersama polisi, di jalan tol.”

Ayah baru masuk jalan tol.

“Ferdo,” panggil Darwan. “Keraskan teleponnya dan dekatkan ke sini!”

Ferdo menurut. Ia membalas perkataan ayahnya sebelumnya. “Kami hampir di kilometer kesepuluh!”

Ayah sedang berusaha menyusul kalian.

Darwan membalas, “Cepat, Ayah! Ayah tidak boleh datang lebih lambat! Kalau si penjahat menyadari polisi telah datang, mereka akan segera mengambil tindakan pada Salinda. Setidaknya mereka tak akan melakukan apapun kalau mereka tahu uang yang Ayah bawa telah datang, walau Ayah bersama polisi.”

Ferdo sedikit terkejut mendengarnya. Sejujurnya, akalnya belum sampai ke situ karena sibuk khawatir.

Ayah tahu itu. Hati-hati.

“Iya,” sahut Ferdo. Telepon pun diputus ayah mereka.

Di kursi belakang, polisi menghubungi rekan-rekannya. Memerintahkan mereka untuk menepi dan menunggu mobil Tuan Jumanta. Ferdo memberitahukan nomor pada plat mobil ayahnya sebagai identifikasi.

Tak berapa lama, polisi mendapat pesan dari rekannya.

“Ini merupakan informasi penting dari Kepala Kepolisian. Dimohon untuk mendengarkan dengan saksama.”

“Penelpon daripada telepon rumah Pak Jumanta telah berhasil diidentifikasi. Diketahui bahwa penelpon tersebut adalah Kunta Pangestik. Saya ulangi, penelpon Pak Jumanta adalah Kunta Pangestik.”


Kedua polisi di bangku belakang mobil itu terdiam. Mereka lalu saling menatap.

Ferdo menyela, “Siapa si Pangestik-Pangestik itu?”

Salah satu polisi memandangnya. Sementara yang satu lagi mengecek panggilan-panggilan di walkie-talkie. Polisi yang memandang Ferdo yang menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Kunta Pangestik adalah seorang buronan negara. Dia merupakan peretas, pembobol, pencuri, penipu, dan masih banyak lagi ....”

“Sungguh begitu?” potong Ferdo, antusias dan penasaran. “Tetapi bagaimana bisa dia mengelak kejaran polisi? Dia bahkan sudah ketahuan.”

“Beberapa bulan yang lalu, ia dengan sengaja menanggalkan identitasnya untuk kami lacak. Namun tak keseluruhan dari identitasnya, hanya beberapa yang umum seperti identitas di KTP-nya, terkecuali foto dan sidik jari. Kami sempat melacak dimana tempatnya berada, namun sepertinya palsu.”

Ferdo tak memahaminya. “Tempatnya berada yang palsu? Bagaimana bisa?”

“Kalau Anda seseorang yang amat piawai mengutak-atik jaringan, tentu bisa.”

Mata Ferdo melebar. “Cybercrime?

“Begitulah istilahnya sekarang.”

“Keren.”

Darwan melirik adiknya sekilas. “Itu kriminal, apanya yang keren.”

“Lupakan. Dia sangat pandai, Kak!”

Kali ini Darwan mendesah berat. “Kau sudah dewasa, berhentilah memainkan koleksi game sci-fi yang setumpuk tebal itu.”

Ferdo melipat kedua tangannya. Ia membuang muka.

Darwan melirik jam di dashboard mobil. Pukul 7.45. Mereka harus tiba setidaknya kurang dari dua jam lagi. Bisakah kami sampai tepat waktu? Darwan terus mewanti-wanti, berharap mereka dapat lebih cepat lagi.

***

Di dalam ruangannya, Salinda duduk memeluk kedua lutut. Kepalanya terasa pusing. Ia tak henti ketakutan. Namun, selama ia duduk terdiam, banyak ingatan yang membuatnya tak lagi merasa ketakutan, tapi tak juga membuatnya berani.

Mata Salinda yang cerah kini sayu. Ia pun hanya bisa menenggelamkan wajahnya di lutut. Tak sedikitpun mengharapkan keajaiban akan datang padanya. Seolah Salinda sendiri sudah melihat akhirnya.







  Next episode  

Second Hour


0 tanggapan:

Posting Komentar