Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Senin, 25 April 2016

A Painful Morning - [8] - Second Guardian

Cerbung

A Painful Morning




Episode 8:

Second Guardian




Kunta tak perlu bertanya lagi. Ada sedikit sekali sisa ruangan yang masih dapat mereka gunakan. Untuk menyimpan tawanan, Kunta rasa hanya ada satu ruangan yang cukup pantas saat ini.

Kunta meraih handel pintu dengan sebelah tangannya. Tangannya yang lain membawa laptop. Cklek ... dibukanya pintu dan didapatinya seorang gadis yang terkapar di salah satu sudut di antara ujung rak dan dinding. Kunta masuk dan menutup pintu kembali.

Ia berjalan dua langkah saja. Setelahnya ia langsung duduk bersila. Poisinya menghadap lurus ke arah rak, dan walaupun punggungnya sudah menempel dengan dinding, kakinya tak berjarak jauh dari rak.

Kunta meletakkan laptop di pangkuannya. Ia kembali memandang ke arah layar laptop. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Kunta tak lagi menggunakan tetikus, namun ia tetap membawa headphone-nya.


Minggu, 17 April 2016

A Painful Morning - [7] - Poison!

Cerbung

A Painful Morning




Episode 7:

Poison!




Salinda berdiri di tengah ruangan dengan kaki gemetar. Sangat bergemetar, hingga Salinda pikir hanya ini saja yang mampu dilakukannya. Tubuhnya terasa agak dingin, tapi di saat yang bersamaan ia merasa seperti sedang demam.

Brug!

Nudira mengangkat kepalanya. Ia lihat Salinda tergeletak di lantai.

“Kau tidak sedang meminta belas kasihan, bukan?” olok Nudira menyeringai.

Salinda tak merespon apapun. Nudira pun menyadari wajah gadis itu yang sangat pucat. Instingnya menangkap dengan cepat bahwa ada yang tidak beres di sini.

Baru saja pemuda itu bangkit dari kursi, Bara memasuki ruangan. Segera, pandangan Nudira beralih padanya. Wajah Bara tetap datar, walau ia telah melihat sandra mereka meringkuk lemah di tengah ruangan.

Bara bergumam, “Umurnya sudah tak lama, ya.”


Sabtu, 09 April 2016

A Painful Morning - [6] - Second Hour

Cerbung

A Painful Morning




Episode 6:

Second Hour




Selagi banyak waktu untuk menunggu, Bara memutuskan mengecek persenjataannya. Tak seluruhnya, tapi sedikit bagian dari yang ada di persediaannya telah dipindahkan ke bangunan ini sejak semalam. Bukan hanya persedian senjata, tapi juga obat-obatan dan beberapa dokumen.


Bangunan ini masih memiliki banyak ruangan yang cukup kosong di lantai tertingginya. Tepatnya, dua lantai yang paling atas. Bangunan ini memiliki lima lantai.

Bara menghampiri rak obat-obatannya. Raknya sejak awal telah di situ, tetapi kosong, jadi Bara meletakan obat-obatannya di situ. Ruangannya berwarna putih. Ubinnya, dindingnya, langit-langitnya, apalagi cahaya lampunya; semuanya putih.

Dua baris rak telah penuh. Itu sangat sedikit dari perediaan Bara, sebetulnya.

Mungkin terasa tak perlu. Toh, mereka hanya meminjam tempat ini untuk setengah malam dan tiga jam saja. Tapi di paling awal, Bara tak berpikir semuanya akan berjalan jauh lebih mudah. Rencananya untuk menculik anak si pengusaha, bukan dirancangnya seperti ini.



Jumat, 01 April 2016

A Painful Morning - [5] - A Rush Call

Cerbung

A Painful Morning




Episode 5:

A Rush Call




Beberapa waktu lalu, sang ayah telah memisahkan diri. Ketiga anaknya menyusul keluar rumah. Ibu mereka sempat menghampiri sebelum mereka menaiki mobil.

Wajahnya penuh kekhawatiran. Ia menepuk pundak Darwan lembut seraya bertanya, “Kemana Ayah kalian pergi? Mau kemana kalian? Apa kalian sudah tahu dimana Salinda? Biarkan ibu ikut dengan kalian.”

“Maaf, Ibu, sebaiknya Ibu tetap di rumah, kami pasti kembali dengan Salinda,” ujar si sulung sambil menggenggam telapak tangan keriput ibunya.

“Apa sungguh Salinda diculik? Apa maksudnya mereka melakukan ini? Ya ampun, Nak, Ibu tidak bisa tenang memikirkannya,” resah sang ibunda degan isak tangisnya.