Cerbung
A Painful Morning
Episode 7:
Poison!
Salinda berdiri di tengah ruangan dengan kaki gemetar. Sangat bergemetar, hingga Salinda pikir hanya ini saja yang mampu dilakukannya. Tubuhnya terasa agak dingin, tapi di saat yang bersamaan ia merasa seperti sedang demam.
Brug!
Nudira mengangkat kepalanya. Ia lihat Salinda tergeletak di
lantai.
“Kau tidak sedang meminta belas kasihan, bukan?” olok Nudira
menyeringai.
Salinda tak merespon apapun. Nudira pun menyadari wajah
gadis itu yang sangat pucat. Instingnya menangkap dengan cepat bahwa ada yang
tidak beres di sini.
Baru saja pemuda itu bangkit dari kursi, Bara memasuki
ruangan. Segera, pandangan Nudira beralih padanya. Wajah Bara tetap datar,
walau ia telah melihat sandra mereka meringkuk lemah di tengah ruangan.
Bara bergumam, “Umurnya sudah tak lama, ya.”
“Hanya memberinya semangkuk sup, tadi malam,” jawab Bara,
tak kalah tenang. “Dengan lima sendok bubuk racun di atasnya.”
Bugh! Bara sedikit
terhempas. Tapi ia masih berdiri seolah pukulan Nudira hanya sebuah colekan di
wajanya. Ujung bibirnya berdarah, Bara mengelapnya.
“Kau bodoh!!” bentak Nudira penuh emosi. “Dia akan mati
sebelum Jumanta datang!!”
“Dia juga akan mati setelah Jumanta datang,” balas Bara
seraya membuang muka. “Biar saja pak tua itu bertemu anaknya, walaupun sudah
tak bernyawa lagi. Apa susahnya?”
“Apa kau tak mengerti situasinya?! Itu tak akan mungkin
terjadi!! Jangan bertindak semaumu dan mengacaukan rencana!!”
Bara kembali memandang Nudira. Wajahnya tak kalah serius
dengan lawan bicaranya. “Dengar. Aku telah menyerahkan soal uang itu padamu,
jadi serahkan saja hidup-mati wanita ini padaku.”
Tinju kali ini, Bara menghindarinya.
“Bukan seperti itu cara bermain kita saat ini,” geram
Nudira.
Bara tak membalas. Ia hanya mengecam mata Nudira dengan
tatapannya.
Nudira membuang muka dan menghampiri Salinda. Salinda
sendiri masih bernafas dengan sesak. Terakhir, Salinda terbatuk, mengeluarkan
darah.
Racunnya sudah parah,
bathin Nudira.
Nudira mengangkat tubuh Salinda. Ia membawanya keluar
ruangan. Bara dengan sakartis membukakan pintu, sebetulnya sangat enggan
melakukannya.
Mata Salinda seolah memandang dengan tak fokus. Nudira tahu,
Salinda sudah setengah sadar. Salinda sedikitnya sadar, namun panca indranya
tak dapat merasakan apapun. Salinda pun tentu tak dapat mendengar percakapan
Nudira dengan Bara sebelumnya.
Ada sebuah ruangan kosong yang keseluruhannya berwarna
putih. Ruangan tersebut agak sempit, seperti gudang, hanya saja tak berdebu dan
tak banyak barang. Ada sebuah rak berisi beberapa alat untuk penanganan luka,
beberapa botol dan beberapa peralatan kimia, termasuk juga obat-obatan.
Diletakkannya Salinda duduk bersandar ke dinding. Nudira
mencari barang di atas rak. Mulanya, ia pikir penawar racun yang ia cari akan
sangat sulit ditemukannya. Jadi Nudira pun lega sekaligus penasaran kala ia
mendapati penawar racun tersebut ada di tempatnya.
Diraihnya sebuah gelas bersih di tengah rak. Nudira
mengisinya dengan air putih, air mineral. Nudira meraih pipit tetes untuk
meneteskan penawar racun ke dalam air putih di gelas. Setelah selesai, ia
meminumkannya pada Salinda.
Kini Nudira mendesah. “Dosisnya sudah cukup banyak. Tapi
tetap, itu tidak cukup untuk membuat gadis ini benar-benar pulih dalam waktu
kurang dari satu jam.”
“Anak itu. Seperti bukan dirinya saja, sungguh tak sabaran
menunggu kesempatan.”
Bara memang tak biasanya seperti itu. Justru Bara selalu
yang bekerja paling sempurna.
“Entah apa yang dipikirkannya hingga melakukan ini pada
putrinya Jumanta.” Tepat setelah Nudira mengatakannya sendiri, ia lambat laun
memahami.
Nudira bangkit dan beranjak meninggalkan Salinda.
Dihampirinya tangga dan menaikinya ke lantai paling atas.
Di kamar, pemuda itu masih asik dengan laptop di hadapannya.
Keadaan kamar juga masih terlihat sangat berantakan karena banyaknya alat
elektronik di atas lantai. Dan saat Kunta melihat ke arah pintu yang dibuka
seseorang, ia teralih sepenuhnya mendapati Nudira yang masuk ke kamar.
“Kenapa kau malah di sini? Bukannya menjaga sandra,”
sahutnya. “Sudah bosan?”
Nudira memijat dahinya. “Kunta, apa kau sadar mengapa Bara
menculik anak ketiga si Jumanta?”
“Dia bilang sebetulnya ini diluar rencana, sebetulnya bukan
anak ini targetnya.” Dijedanya untuk beberapa saat. “Tapi melihat ekspresimu,
kurasa ada pelanggaran yang dilakukannya.”
Nudira hanya membuang muka. Ia tak mau membalas.
“Aku mengerti. Aku juga bisa melihat situasinya di sini,
Nudira,” gumam Kunta.
Nudira menghampiri sebuah kursi di dekat meja belajar. Ia
kemudian duduk di atas kursi seraya meletakan sikutnya di atas meja. Ia pun
mendesah berat.
Kunta berbalik kembali pada laptopnya. “Kurasa kau perlu
bicara dengan anak itu.”
Nudira hanya diam. Ia kenal pasti bagaimana Bara, kalau
tingkahnya sudah begini diajak bicara pun percuma, Bara akan tetap mengambil
tindakan sewenang-wenang.
“Bara juga tak mau menurut kalaupun kita bermain tangan,”
gumam Kunta lagi. “Ini bukan seperti biasanya saat ia bertindak semaunya hanya
karena bosan dengan pekerjaan. Kali ini dia punya alasan lain. Tidakkah kau
juga mengerti itu?”
Nudira melirik. Dan kemudian ia mengelap wajah. “Kau benar.”
“Baguslah,” balasnya seraya mengangkat laptop. “Serahkan
saja Salinda padaku. Waktu kita sempit. Aku percayakan Bara padamu, sebisanya
selesaikanlah dengan cepat.”
“Aku tahu.”
Kunta beranjak, turun dari tempat tidur. Ia keluar dari
kamar, meninggalkan Nudira sendirian.
Di meja, berdiri sebuah figura foto. Nudira memandangnya
sesaat. Sebuah foto berisi keluarga yang tak sama sekali dikenalnya. Namun hal
itu cukup membuatnya membuang muka perlahan dengan tak tenang.

0 tanggapan:
Posting Komentar