Cerbung
A Painful Morning
Episode 6:
Second Hour
Selagi banyak waktu untuk menunggu, Bara
memutuskan mengecek persenjataannya. Tak seluruhnya, tapi sedikit bagian dari
yang ada di persediaannya telah dipindahkan ke bangunan ini sejak semalam.
Bukan hanya persedian senjata, tapi juga obat-obatan dan beberapa dokumen.
Bangunan ini masih memiliki banyak ruangan yang cukup kosong
di lantai tertingginya. Tepatnya, dua lantai yang paling atas. Bangunan ini
memiliki lima lantai.
Bara menghampiri rak obat-obatannya. Raknya sejak awal telah
di situ, tetapi kosong, jadi Bara meletakan obat-obatannya di situ. Ruangannya
berwarna putih. Ubinnya, dindingnya, langit-langitnya, apalagi cahaya lampunya;
semuanya putih.
Dua baris rak telah penuh. Itu sangat sedikit dari perediaan
Bara, sebetulnya.
Mungkin terasa tak perlu. Toh, mereka hanya meminjam tempat
ini untuk setengah malam dan tiga jam saja. Tapi di paling awal, Bara tak
berpikir semuanya akan berjalan jauh lebih mudah. Rencananya untuk menculik
anak si pengusaha, bukan dirancangnya seperti ini.
Salinda duduk memeluk kedua
lututnya. Memandang kosong ke bawah.
Nudira mulai penasaran apa yang tengah dipikirkan
tawanannya. Sejak awal ia terus memikirkannya, tapi tak yakin apa isi kepala
gadis itu saat ini.
Kalau kupancing, dia
pasti akan bicara juga, pikir Nudira.
“Jangan bilang kau terus diam karena meratapi rambutmu,”
olok Nudira.
Namun Salinda tak bergeming. Tidak sedikit pun.
Melihatnya, Nudira mulai terdiam. Melamun?
“Baiklah ... jadi di sinilah kau, meringkuk ketakutan. Atau,
apa selanjutnya kau akan meminta belas kasihan, Nona?”
Sama. Tak bergeming.
“Hei, kau gadis bodoh!”
Sunyi.
Nudira kini mulai mendengus. “Ya, ampun. Tawanan ini buruk
juga kalau banyak diamnya.” Ia bertopang dagu.
Tapi Nudira masih penasaran. Ia masih memandang lekat-lekat
wajah Salinda. Bukan wajah tepatnya, hanya kedua matanya yang memandang ke
bawah dengan lemah. Dari pandangan di sana, Nudira berusaha mencari jawaban
rasa penasarannya sendiri.
Tak berdaya. Hanya
itu yang bisa Nudira tangkap dari mata coklat Salinda.
Nudira merasa tak hanya itu. Tetapi ia sendiri tak tahu
emosi apalagi yang menghanyutkan Salinda, bahkan sampai sangat diam seperti
patung begitu.
Walau kini, mata itu terasa familiar untuknya. Mata yang sama
dengan yang dimiliki sahabat Nudira, beberapa tahun lalu. Sudah lama sekali,
nyaris telah dilupakan Nudira, namun kini semua kenangan masa lalu orang lain
menghampiri benaknya.
Di sisinya, Salinda tengah mengenang seluruh kisah hidupnya
yang masih tersimpan dalam memori. Pahit, manis, semuanya. Dari keseluruhan
ingatannya, sebuah kesimpulan ironi membangkitkan rasa keputusasaannya, semakin
kuat, dari yang terdalam.
Dan kini Nudira mulai bisa membacanya.
Diketuk-ketukkan kaki kursi dengan pisau lipat. Suara
denting besi dari kaki kursi pun menyadarkan Salinda. Walau Salinda tak
mengangkat wajahnya, tapi karena ia sedikit tersentak, Nudira tahu bahwa
Salinda sudah memutus isi pikirannya sebelumnya.
Sambil memasukkan kembali pisau ke dalam saku, Nudira bertanya,
“Aku ingin tahu, Nona. Tuan Jumanta itu ... seseorang yang seperti apa?”
Salinda sedikit mendongak. “Bukankah kalian sudah tahu soal
itu?”
Senyuman Nudira hilang sesaat. Suaranya tak lagi terbata, bathinnya.
“Tentu tak semuanya,” balas Nudira. “Kau adalah anaknya. Kau
pasti lebih banyak tahu tetang ayahmu yang sudah tua itu.”
Salinda membenamkan kembali sebagian wajahnya. “Aku ragu.
Salah satu dari kalian berada di rumahku sebelumnya.”
“Ya, tapi hanya tadi malam saja. Kau tahu? Sebetulnya Bara
bukan seseorang yang senang menjadi stalker
jarak dekat seperti itu. Apalagi dia tahu kalau dia punya rekan yang memang menangani
hal itu.”
Salinda melirik Nudira untuk beberapa saat. Ia sulit
mempercayainya, itu terbaca jelas di kilat pandangannya.
“Seseorang yang sangat baik,” akhirnya Salinda menjawabnya.
“Kadang Ayah sangat tegas. Dia juga masih sering merasa tak puas pada
anak-anaknya, aku dan ketiga saudaraku. Tapi walau begitu, aku paham sekali dia
hanya ingin kami memiliki pegangan untuk menghidupi diri kami masing-masing
setelah Ayah tak ada nanti.”
Nudira memanggut-manggut. “Kau ini empat bersaudara, ya.
Dengan saudara-saudarimu, apa tak pernah bertikai?”
Salinda tersenyum kecil. “Iya, tentu saja. Tapi yang lebih
sering bertikai adalah kakakku yang kedua dengan adikku.”
“Ferdo dan Melia, ya?”
“Iya. Kak Ferdo sangat senang bermain game, sejak kecil selalu mengoleksi berbagai permainan untuk game konsol. Walau sudah 25 tahun, ia
masih sering memainkan game-game
miliknya, yang untuk PS 2, PSP atau juga komputernya.”
“Dan Melia suka berdandan. Yang dia koleksi adalah
setumpukkan make up untuknya bersolek
setiap hari. Padahal dia masih kelas 12 SMA.”
“Benar. Dia memang terlihat agak sombong, padahal sebetulnya
tidak, Melia hanya gadis yang penuh percaya diri saja. Dia juga tak membataskan
dirinya dalam sebuah kelompok geng atau semacamnya, tapi kadang orang-orang
menilainya demikian karena hanya karena teman-temannya seperti dirinya juga.
Lagipula Melia tak pernah bermasalah di sekolahnya, pun dengan nilai-nilai
akademisnya.”
Nudira membuang muka. “Seperti Darwan, hm? Dia juga punya
nilai akademis yang bagus selama dia bersekolah. Apa kau ingat? Atau taukah
kau?”
Salinda menggeleng. “Aku tak banyak tahu tentang Kak Darwan.
Tapi dulu, aku pernah mendengar Ayah memarahi Kak Ferdo dan
membanding-bandingkannya dengan Kak Darwan. Dari perkataan Ayah, sepertinya
beliau sangat membanggakan Kak Darwan.”
“Sungguh, kau tak tahu lagi?”
“Di ruang keluarga, ada banyak sekali piagam. Sewaktu aku
kecil pun sudah cukup banyak piagam dan piala di sana. Kebanyakan diberikan
pada kedua kakak laki-lakiku, dan aku pikir mereka sangat cerdas hingga aku
sangat ingin secerdas mereka. Saat awal-awal aku melihat koleksi tanda
kesusesan di sana, kupikir ada sama banyak, tapi semakin lama aku sadar bahwa
piagam di ruang keluarga lebih banyak milik Kak Darwan. Aku sendiri sedikit
terkejut saat menyadarinya.”
Nudira diam sejenak. “Ferdo. Dia direktur pemasaran di
perusahaannya Jumanta, bukan? Bagaimana menurutmu tentangnya?”
“Cerdas, tangkas, teguh pendirian, agresif, agak esentrik,
dan ... gamer.”
“Haha ... benar. Bara juga berkata kalau kakakmu yang satu
itu cukup berisik.”
“Kak Ferdo terlihat seperti seseorang yang sangat serius di
awal. Namun kalau sudah mengenalnya lebih dalam, Kak Ferdo akan terkesan
sebagai seseorang yang kurang bisa serius dengan keadaan.”
“Yah, tapi bocah itu bisa bekerja dengan maksimal juga,
bahkan memberikan yang terbaik di setiap kesempatan. Entah apa itu lomba, atau
proyek, atau proses kerjasama perusahaan, semuanya.”
“Iya, seperti Kak Darwan.”
Nudira menatap kedua mata sayu Salinda. Wajahnya hanya
tersenyum sekali di awal pembicaraan ini.
“Sebetulnya, seperti kau juga. Ah tidak, kau melakukan yang
lebih baik dari mereka, kurasa.”
“Tidak, itu tidak benar, aku tak sebanding dengan mereka,”
kata Salinda datar. “Aku bahkan lebih merasa tak pantas dibanggakan keluargaku
sendiri.”
Nudira diam sejenak. Sebetulnya ia tak mengharapkan jawaban
itu, ia berpikir untuk melihat senyuman Salinda lagi, sebab itulah ia
memujinya. Dan tapi, itu agak ganjil di telinganya sekarang.
“Hei, aku serius, kau bekerja dengan sangat baik. Tidakkah
kau tahu itu?” tandas Nudira. “Menjadi direktur perhubungan di perusahaan
ayahmu. Walau memang tak seberapa dibanding kedua kakakmu, tapi kau tak pernah
main-main dengan pekerjaanmu. Serius dan penuh dengan kerja keras.”
“Kedua kakakku melakukannya dengan lebih baik.”
Jawaban itu cukup singkat. Namun, bagi Nudira, itu cukup
membuat jawaban yang ia cari mulai terasa terang.
Nudira bersandar di punggung kursi. Ia melipat kedua
tangannya. “Setidaknya kau tidak secerewet adikmu. Aku sekarang membayangkan
kalau dia yang ada di sini, kupikir aku benar-benar perlu mengikatnya ke sini.”
Nudira menepuk-tepuk kaki kursi.
“Kau tidak perlu melakukannya. Walau Melia sangat cerewet di
pergaulannya, tapi ia tak manja dan cengeng.” Salinda diam sebentar. “Aku
senang sekali, bukan dia yang ada di sini.”
Nudira memandangi Salinda untuk beberapa saat. Lalu ia
membuang muka. “Entahlah, ya. Tapi kurasa aku agak tak setuju dengan
pernyataanmu barusan.”
“Melia lebih dewasa dari kelihatannya.”
“Aku tidak meragukan yang itu, Nona. Maksudku adalah yang
terakhir kau katakan.”
Salinda diam sejenak. “Itu tak masuk akal.”
Nudira kembali terdiam. Ia mencari kata-kata untuk menyusun
kalimatnya, namun ia tak tahu mana yang pantas ia katakan. Hingga akhirnya,
Nudira hanya dapat memijat dahi.
“Kau tahu ...,” kata Nudira dengan nada datar. “Seolah
memang kau yang meminta untuk tereliminasi dari keluargamu sendiri.”
Salinda hanya diam. Ia menunduk, menutupi seluruh wajahnya
ke lututnya. Salinda tak mengatakan apapun, hanya diam.
Dibalik telapak tangannya, mata Nudira terus memandangi
gerakan Salinda.
“Tapi kau tidak setransparan itu, Nona. Sebetulnya tidak
mudah untuk mengetahuinya.” Nudira tertawa kecil sedikit. “Kalian empat
bersaudara memang sangat cerdas. Aku baru ingat dan menyadarinya sekarang.”
Salinda mengerti maksudnya. Dia membicarakan tentang sikapku yang banyak diam di hadapannya.
Dalam hatinya, hawa serius yang Nudira katakan masih
menempel lekat. Ia hanya agak tak menyangka. Namun tak lama Nudira
memikirkannya kembali, Nudira disadarkan oleh Salinda yang bangkit berdiri.
Gerakannya gemetar, Salinda berdiri sekuat kakinya yang sedang lemah.
“Masih lama sampai ayahmu datang,” Nudira mengingatkan.
“Sudah pukul 8 lebih, bukan? Itu waktu yang sebentar.”
“Sungguh?” Nudira mengecek jam dinding di belakang Salinda. Ia
mengenakan arloji, tapi tentu lebih mudah melirik jam dinding itu.
Salinda sejak awal telah menyadari jam dinding ruangan.
Terutama saat pertama sadar, dan ia duduk sendirian di ruangan ini selama
beberapa menit.
“Baiklah,” dengus Nudira. Ia menyandarkan bahunya di
punggung kursi.
***
Di ruangan lain, Bara nampak meraih
sebuah zat cair dari tempatnya. Wadahnya berupa sebuah tabung reaksi, cairan di
dalamnya berwarna hijau bening, bila penyumbat tabung dibuka tak akan tercium
aroma apapun dari cairan tersebut.
Itu milik Bara juga. Cairan dalam tabung reaksi itu
merupakan hasil resep ramuannya.
Bara sangat berniat membuangnya. Tetapi setelah berkali-kali
Bara pikirkan, Bara mengubah keputusannya. Dan inilah yang terakhir akan ia lakukan:
meletakan kembali tabung reaksi tersebut seperti semula. Dan Bara meninggalkan
ruangan tersebut.

0 tanggapan:
Posting Komentar