Sabtu, 09 April 2016

A Painful Morning - [6] - Second Hour

Cerbung

A Painful Morning




Episode 6:

Second Hour




Selagi banyak waktu untuk menunggu, Bara memutuskan mengecek persenjataannya. Tak seluruhnya, tapi sedikit bagian dari yang ada di persediaannya telah dipindahkan ke bangunan ini sejak semalam. Bukan hanya persedian senjata, tapi juga obat-obatan dan beberapa dokumen.


Bangunan ini masih memiliki banyak ruangan yang cukup kosong di lantai tertingginya. Tepatnya, dua lantai yang paling atas. Bangunan ini memiliki lima lantai.

Bara menghampiri rak obat-obatannya. Raknya sejak awal telah di situ, tetapi kosong, jadi Bara meletakan obat-obatannya di situ. Ruangannya berwarna putih. Ubinnya, dindingnya, langit-langitnya, apalagi cahaya lampunya; semuanya putih.

Dua baris rak telah penuh. Itu sangat sedikit dari perediaan Bara, sebetulnya.

Mungkin terasa tak perlu. Toh, mereka hanya meminjam tempat ini untuk setengah malam dan tiga jam saja. Tapi di paling awal, Bara tak berpikir semuanya akan berjalan jauh lebih mudah. Rencananya untuk menculik anak si pengusaha, bukan dirancangnya seperti ini.


***

Salinda duduk memeluk kedua lututnya. Memandang kosong ke bawah.

Nudira mulai penasaran apa yang tengah dipikirkan tawanannya. Sejak awal ia terus memikirkannya, tapi tak yakin apa isi kepala gadis itu saat ini.

Kalau kupancing, dia pasti akan bicara juga, pikir Nudira.

“Jangan bilang kau terus diam karena meratapi rambutmu,” olok Nudira.

Namun Salinda tak bergeming. Tidak sedikit pun.

Melihatnya, Nudira mulai terdiam. Melamun?

“Baiklah ... jadi di sinilah kau, meringkuk ketakutan. Atau, apa selanjutnya kau akan meminta belas kasihan, Nona?”

Sama. Tak bergeming.

“Hei, kau gadis bodoh!”

Sunyi.

Nudira kini mulai mendengus. “Ya, ampun. Tawanan ini buruk juga kalau banyak diamnya.” Ia bertopang dagu.

Tapi Nudira masih penasaran. Ia masih memandang lekat-lekat wajah Salinda. Bukan wajah tepatnya, hanya kedua matanya yang memandang ke bawah dengan lemah. Dari pandangan di sana, Nudira berusaha mencari jawaban rasa penasarannya sendiri.

Tak berdaya. Hanya itu yang bisa Nudira tangkap dari mata coklat Salinda.

Nudira merasa tak hanya itu. Tetapi ia sendiri tak tahu emosi apalagi yang menghanyutkan Salinda, bahkan sampai sangat diam seperti patung begitu.

Walau kini, mata itu terasa familiar untuknya. Mata yang sama dengan yang dimiliki sahabat Nudira, beberapa tahun lalu. Sudah lama sekali, nyaris telah dilupakan Nudira, namun kini semua kenangan masa lalu orang lain menghampiri benaknya.

Di sisinya, Salinda tengah mengenang seluruh kisah hidupnya yang masih tersimpan dalam memori. Pahit, manis, semuanya. Dari keseluruhan ingatannya, sebuah kesimpulan ironi membangkitkan rasa keputusasaannya, semakin kuat, dari yang terdalam.

Dan kini Nudira mulai bisa membacanya.

Diketuk-ketukkan kaki kursi dengan pisau lipat. Suara denting besi dari kaki kursi pun menyadarkan Salinda. Walau Salinda tak mengangkat wajahnya, tapi karena ia sedikit tersentak, Nudira tahu bahwa Salinda sudah memutus isi pikirannya sebelumnya.

Sambil memasukkan kembali pisau ke dalam saku, Nudira bertanya, “Aku ingin tahu, Nona. Tuan Jumanta itu ... seseorang yang seperti apa?”

Salinda sedikit mendongak. “Bukankah kalian sudah tahu soal itu?”

Senyuman Nudira hilang sesaat. Suaranya tak lagi terbata, bathinnya.

“Tentu tak semuanya,” balas Nudira. “Kau adalah anaknya. Kau pasti lebih banyak tahu tetang ayahmu yang sudah tua itu.”

Salinda membenamkan kembali sebagian wajahnya. “Aku ragu. Salah satu dari kalian berada di rumahku sebelumnya.”

“Ya, tapi hanya tadi malam saja. Kau tahu? Sebetulnya Bara bukan seseorang yang senang menjadi stalker jarak dekat seperti itu. Apalagi dia tahu kalau dia punya rekan yang memang menangani hal itu.”

Salinda melirik Nudira untuk beberapa saat. Ia sulit mempercayainya, itu terbaca jelas di kilat pandangannya.

“Seseorang yang sangat baik,” akhirnya Salinda menjawabnya. “Kadang Ayah sangat tegas. Dia juga masih sering merasa tak puas pada anak-anaknya, aku dan ketiga saudaraku. Tapi walau begitu, aku paham sekali dia hanya ingin kami memiliki pegangan untuk menghidupi diri kami masing-masing setelah Ayah tak ada nanti.”

Nudira memanggut-manggut. “Kau ini empat bersaudara, ya. Dengan saudara-saudarimu, apa tak pernah bertikai?”

Salinda tersenyum kecil. “Iya, tentu saja. Tapi yang lebih sering bertikai adalah kakakku yang kedua dengan adikku.”

“Ferdo dan Melia, ya?”

“Iya. Kak Ferdo sangat senang bermain game, sejak kecil selalu mengoleksi berbagai permainan untuk game konsol. Walau sudah 25 tahun, ia masih sering memainkan game-game miliknya, yang untuk PS 2, PSP atau juga komputernya.”

“Dan Melia suka berdandan. Yang dia koleksi adalah setumpukkan make up untuknya bersolek setiap hari. Padahal dia masih kelas 12 SMA.”

“Benar. Dia memang terlihat agak sombong, padahal sebetulnya tidak, Melia hanya gadis yang penuh percaya diri saja. Dia juga tak membataskan dirinya dalam sebuah kelompok geng atau semacamnya, tapi kadang orang-orang menilainya demikian karena hanya karena teman-temannya seperti dirinya juga. Lagipula Melia tak pernah bermasalah di sekolahnya, pun dengan nilai-nilai akademisnya.”

Nudira membuang muka. “Seperti Darwan, hm? Dia juga punya nilai akademis yang bagus selama dia bersekolah. Apa kau ingat? Atau taukah kau?”

Salinda menggeleng. “Aku tak banyak tahu tentang Kak Darwan. Tapi dulu, aku pernah mendengar Ayah memarahi Kak Ferdo dan membanding-bandingkannya dengan Kak Darwan. Dari perkataan Ayah, sepertinya beliau sangat membanggakan Kak Darwan.”

“Sungguh, kau tak tahu lagi?”

“Di ruang keluarga, ada banyak sekali piagam. Sewaktu aku kecil pun sudah cukup banyak piagam dan piala di sana. Kebanyakan diberikan pada kedua kakak laki-lakiku, dan aku pikir mereka sangat cerdas hingga aku sangat ingin secerdas mereka. Saat awal-awal aku melihat koleksi tanda kesusesan di sana, kupikir ada sama banyak, tapi semakin lama aku sadar bahwa piagam di ruang keluarga lebih banyak milik Kak Darwan. Aku sendiri sedikit terkejut saat menyadarinya.”

Nudira diam sejenak. “Ferdo. Dia direktur pemasaran di perusahaannya Jumanta, bukan? Bagaimana menurutmu tentangnya?”

“Cerdas, tangkas, teguh pendirian, agresif, agak esentrik, dan ... gamer.”

“Haha ... benar. Bara juga berkata kalau kakakmu yang satu itu cukup berisik.”

“Kak Ferdo terlihat seperti seseorang yang sangat serius di awal. Namun kalau sudah mengenalnya lebih dalam, Kak Ferdo akan terkesan sebagai seseorang yang kurang bisa serius dengan keadaan.”

“Yah, tapi bocah itu bisa bekerja dengan maksimal juga, bahkan memberikan yang terbaik di setiap kesempatan. Entah apa itu lomba, atau proyek, atau proses kerjasama perusahaan, semuanya.”

“Iya, seperti Kak Darwan.”

Nudira menatap kedua mata sayu Salinda. Wajahnya hanya tersenyum sekali di awal pembicaraan ini.
“Sebetulnya, seperti kau juga. Ah tidak, kau melakukan yang lebih baik dari mereka, kurasa.”

“Tidak, itu tidak benar, aku tak sebanding dengan mereka,” kata Salinda datar. “Aku bahkan lebih merasa tak pantas dibanggakan keluargaku sendiri.”

Nudira diam sejenak. Sebetulnya ia tak mengharapkan jawaban itu, ia berpikir untuk melihat senyuman Salinda lagi, sebab itulah ia memujinya. Dan tapi, itu agak ganjil di telinganya sekarang.

“Hei, aku serius, kau bekerja dengan sangat baik. Tidakkah kau tahu itu?” tandas Nudira. “Menjadi direktur perhubungan di perusahaan ayahmu. Walau memang tak seberapa dibanding kedua kakakmu, tapi kau tak pernah main-main dengan pekerjaanmu. Serius dan penuh dengan kerja keras.”

“Kedua kakakku melakukannya dengan lebih baik.”

Jawaban itu cukup singkat. Namun, bagi Nudira, itu cukup membuat jawaban yang ia cari mulai terasa terang.

Nudira bersandar di punggung kursi. Ia melipat kedua tangannya. “Setidaknya kau tidak secerewet adikmu. Aku sekarang membayangkan kalau dia yang ada di sini, kupikir aku benar-benar perlu mengikatnya ke sini.” Nudira menepuk-tepuk kaki kursi.

“Kau tidak perlu melakukannya. Walau Melia sangat cerewet di pergaulannya, tapi ia tak manja dan cengeng.” Salinda diam sebentar. “Aku senang sekali, bukan dia yang ada di sini.”

Nudira memandangi Salinda untuk beberapa saat. Lalu ia membuang muka. “Entahlah, ya. Tapi kurasa aku agak tak setuju dengan pernyataanmu barusan.”

“Melia lebih dewasa dari kelihatannya.”

“Aku tidak meragukan yang itu, Nona. Maksudku adalah yang terakhir kau katakan.”

Salinda diam sejenak. “Itu tak masuk akal.”

Nudira kembali terdiam. Ia mencari kata-kata untuk menyusun kalimatnya, namun ia tak tahu mana yang pantas ia katakan. Hingga akhirnya, Nudira hanya dapat memijat dahi.

“Kau tahu ...,” kata Nudira dengan nada datar. “Seolah memang kau yang meminta untuk tereliminasi dari keluargamu sendiri.”

Salinda hanya diam. Ia menunduk, menutupi seluruh wajahnya ke lututnya. Salinda tak mengatakan apapun, hanya diam.

Dibalik telapak tangannya, mata Nudira terus memandangi gerakan Salinda.

“Tapi kau tidak setransparan itu, Nona. Sebetulnya tidak mudah untuk mengetahuinya.” Nudira tertawa kecil sedikit. “Kalian empat bersaudara memang sangat cerdas. Aku baru ingat dan menyadarinya sekarang.”

Salinda mengerti maksudnya. Dia membicarakan tentang sikapku yang banyak diam di hadapannya.

Dalam hatinya, hawa serius yang Nudira katakan masih menempel lekat. Ia hanya agak tak menyangka. Namun tak lama Nudira memikirkannya kembali, Nudira disadarkan oleh Salinda yang bangkit berdiri. Gerakannya gemetar, Salinda berdiri sekuat kakinya yang sedang lemah.

“Masih lama sampai ayahmu datang,” Nudira mengingatkan.

“Sudah pukul 8 lebih, bukan? Itu waktu yang sebentar.”

“Sungguh?” Nudira mengecek jam dinding di belakang Salinda. Ia mengenakan arloji, tapi tentu lebih mudah melirik jam dinding itu.

Salinda sejak awal telah menyadari jam dinding ruangan. Terutama saat pertama sadar, dan ia duduk sendirian di ruangan ini selama beberapa menit.

“Baiklah,” dengus Nudira. Ia menyandarkan bahunya di punggung kursi.

***

Di ruangan lain, Bara nampak meraih sebuah zat cair dari tempatnya. Wadahnya berupa sebuah tabung reaksi, cairan di dalamnya berwarna hijau bening, bila penyumbat tabung dibuka tak akan tercium aroma apapun dari cairan tersebut.

Itu milik Bara juga. Cairan dalam tabung reaksi itu merupakan hasil resep ramuannya.

Bara sangat berniat membuangnya. Tetapi setelah berkali-kali Bara pikirkan, Bara mengubah keputusannya. Dan inilah yang terakhir akan ia lakukan: meletakan kembali tabung reaksi tersebut seperti semula. Dan Bara meninggalkan ruangan tersebut. 








  Next episode  

Poison!





0 tanggapan:

Posting Komentar