Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Minggu, 26 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 4 || Dering Bel Pagi ini ||


Reprisals Blood of the Tiger 



PART 4 
Dering Bel Pagi ini 




Leo mengecek kembali penampilannya di cermin. Dia sekarang telah rapi dengan seragam sekolahnya. Kemeja putih panjang dengan jas biru, juga celana biru panjang dan sepatu hitam. Baru pertama kalinya bagi Leo dia mengenakan seragam sekolah. 

Leo mulai iseng bergaya di depan cermin. Dia menyanggul sebelah tali ransel biru gelapnya di sebelah bahunya dan berkacak pinggang dengan tangan sebelahnya lagi. Di wajahnya, dia menyunggingkan senyum miring. 

"Aku keren juga ternyata," tanggap Leo setengah bergurau dengan bayangannya. 

Leo menyudahi posenya. Dia mulai menggendong ransel di kedua bahunya dan pergi dari kamar. Dia lekas pergi ke ruang makan untuk sarapan. Di ruang makan, kedua orang tuanya dan adiknya, Cheryl telah duduk di sana menunggunya. 

"Pagi, Pa! Ma!" sapa Leo cerah. Dia langsung melepas ransel dan duduk di salah satu kursi yang kosong. 

"Pagi, Sayang," balas Bu Maria. Lalu beliau ikut bergabung duduk di kusinya. "Bagaimana? Sudah siap untuk sekolah hari ini?" tanya Bu Maria pada Leo. 

"Tentu saja!" jawab Leo mantap. 

Pak Waston turut tersenyum pada Leo. Beliau lalu berkata, "Papa yakin kamu bisa berteman baik dengan teman-temanmu nanti." 


Dark Forest: Chapter 3


Dark Forest 
Chapter 3:
Mahkota yang Sebenarnya


~~~~~
Hmm ... terlalu lamakah? Maaf, yaaa .... :)
~~~~~



Pagi hari itu sepi dan sunyi. Cahaya hangat matahari menyinari rerumputan hijau yang rapi dan juga dedaunan pohon-pohon yang begitu rimbunya. Hewan-hewan dan serangga yang bekerja di siang hari telah terbangun dan kini pergi mencari makananya. 

Cahaya hangat matahari itu telah menimpa tubuh Ray dari sebuah jendela. Seraya mengerang pelan, Ray membuka matanya perlahan, memandang jendela di samping ranjang tempatnya tertidur. Pandanganya masih agak buram.

"Pagi?" gumamnya. Ray pikir cahaya matahari seharusnya tak akan pernah tertembus oleh pepohonan di hutan ini.



Sabtu, 25 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 3 || Langit Baru ||


Reprisals Blood of the Tiger 



PART 3 
Langit Baru 




Sebuah rumah yang nampak minimalis. Tak begitu mewah, namun cukup rapi dan indah. Di halaman depan yang cukup lebar, banyak tanaman hias tertata cantik. Sangat memanjakan mata yang metihatnya. 

Leo sudah sedari tadi mengulur senyum. Dia memperhatikan taman itu dengan senang. Wanita muda di sebelahnya hanya turut tersenyum melihatnya begitu cerah. 

Leo mulai memandangnya. "Pasti senang tinggal di sini, ya?" 

Wanita itu lalu mulai berjongkok. Dia menjawab, "Tentu, apalagi setelah ada kamu, Sayang." Wanita itu tertawa kecil. "Mulai sekarang kamu panggil kami Mama dan Papa, ya." 

"Iya, Ma," jawab Leo riang. 

Sekarang, Mamanya yang gemas dengan Leo itu mencubit sebelah pipi anak barunya. Leo hanya mengaduh dan kemudian mengusap-usap sebelah pipinya. 

"Sudah, Maria," tegur pria, Papa Leo. "Dia bukan anak lima tahun lagi." 

Bu Maria tertawa kecil. "Tapi bukankah dia lucu, Waston?" 

Pria itu hanya mendengus. Nampaknya dia agak tak suka sikap istrinya yang sedikit berlebihan dengan anak baru mereka. Leo hanya cekikikan menanggapi ekspersi itu. 

Bu Maria menggandeng tangan Leo seraya berdiri. "Ayo kita masuk ke rumah!" ajak Bu Maria sambil berjalan menuntun Leo. Leo mengikuti.

Jumat, 24 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 2 || Aku akan Merindukanmu ||


Reprisals Blood of the Tiger



PART 2
Aku akan Merindukanmu





Pagi itu suasana begitu ceria. Setelah sarapan, semua anak bermain ke tempat yang mereka suka. Mereka ada di halaman belakang, di perpustakaan, atau juga di ruang keluarga. Memang hari ini adalah hari minggu, dan itu artinya mereka bebas bermain hari ini. 

Leo dan Rian memilih pergi ke halaman belakang. Mereka bermain sepak bola bersama anak-anak lainnya.

"Hei! Ke sini! Over ke sini!" panggil Leo, meminta bola dari teman setimnya. 

"Ini, Leo!" balas temannya seraya menendang bola ke arah Leo. 

Leo menerimanya dan langsung menggiring bola itu. Posisinya sudah cukup dekat dengan gawang. 

Rian tak diam saja. Dia yang merupakan anggota tim lawan dari Leo dan timnya berlari mendekati Leo. Dia berusaha merebut bola dari kaki Leo. 

Leo sudah tahu itu. Dengan lebih sigap dia menendang bola ke gawang tepat sebelum Rian mencoba merebut bola. Beruntungnya, saat itu tak ada banyak anak di sekitar gawang. Bola lolos dari tangan kiper, tak sempat diraihnya. 

"GOOOLL!!" seru Leo dan anak-anak lain yang satu tim dengannya. Mereka berkerumun dan saling berpelukan sambil berseru-seru kegirangan. 

"Sudah, ya, aku capek! Kita main lagi nanti sore!" kata seorang anak. 

"Baiklah," balas Leo mewakili teman-temannya.

Semua anak laki-laki yang berada di lapangan bola itu pun pergi. Leo dan Rian memilih duduk di bawah pohon rindang yang terletak tak jauh dari lapangan. Duduk di bawah pohon itu selalu menjadi kesukaan mereka.

Rian mengeluh, "Padahal tadi aku hampir dapat." 

"Hahaha ... nyatanya aku masih lebih gesit daripada kamu," sindir Leo setengah bercanda.

Rian tak membalas. Leo pun tak berkata-kata lagi. Anak-anak lain di sekitar mereka masih berisik bermain bersama, namun di antara mereka dapat terasa dengan jelas kesunyian yang dalam. Leo awalnya membiarkan itu, tapi semakin lama dia semakin tak nyaman dengan keadaan di antara mereka berdua ini. Tidak biasanya mereka saling diam, mereka selalu berceloteh bersama setiap kali berdua. 


Sabtu, 11 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 1 || Dua Bersaudara ||


  Reprisals Blood of the Tiger 



PART 1 
Dua Bersaudara





Leo mengecek buku-buku di lemari. Dia perlu memastikan tidak ada buku yang berantakan disusunnya, atau belum dimasukkan ke lemari. Sambil membersihkannya dengan kemoceng, Leo bersenandung.

Seseorang yang masuk membuat Leo berpaling. Dia menoleh ke pintu dan memandang seorang anak sebayanya yang berdiri di sana.

"Terlalu rajin kamu," gumam Rian. Dia kemudian menutup pintu.

Leo mendengus. "Aku kira siapa yang masuk," kata Leo.

Rian mendekati Leo. "Sudah kukira kamu pasti ada di perpustakaan. Tapi tak biasanya kamu bukan sedang membaca buku," kata Rian.

"Hahaha ... yah, melihat lemari buku yang berantakan dan kotor, aku jadi terpikir untuk membersihkan dan membereskannya," balas Leo. "Tidak bagus juga kalau ada ruangan di panti ini yang terlihat berantakan. Iya, bukan?"

Rian tertawa kecil mendengarnya. Dia lalu berkata lagi, "Aku pikir kamu lebih suka olahraga daripada bersih-bersih."

Leo tersenyum miring. Lalu dia mengangkat kemocengnya ke depan wajah Rian sambil berkata, "Mau kubersihkan juga wajahmu?"

Rian refleks menyingkirkan kemoceng itu. "Ayolah," kilahnya sambil tertawa kecil. "Sudah waktunya makan siang. Ayo ke ruang makan! Nanti kita tidak kebagian makanan lagi."

Leo meletakan kemocengnya di atas meja. Lalu dia mengapit tangan Rian.

"Hei, aku tidak keberatan kalau makanan hari ini sarden," kata Leo.

"Aku juga tidak kalau itu," balas Rian. "Rasa sarden buatan Bu Cinny terlalu aneh. Seperti busuk."

Leo terbahak, "Hahaha ... mungkin begitu, ya."

Rian ikut tertawa saja. Mereka masih saja mengobrol sampai keluar dari perpustakaan panti.

***


Sabtu, 04 Oktober 2014

Kilas Persahabatanku (Cerpen)





Kilas Persahabatanku



Cerpen
Sad Story, Friendship, Slice of Life, School life

~~~~~
Kebetulan lagi nyari-nyari novel yang unfinished, eh ... dapet cerpen tua ini. Setelah diliat lagi, kasian juga kalo cerpen ini belumut doang di folder. Hehehe ... happy reading! 
~~~~~



Kita dulu berteman begitu dekat. Aku dan kamu bersahabat begitu cepat. Tak terasa sudah 3 tahun berlalu persahabatan kita, ya.
Aku selalu berfikir kamu pasti akan ada di sampingku, karena kamu sahabatku. Dan karena itulah aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku dengan senang hati menemanimu untuk urusan apapun ke manapun. Sejak kelas 5 SD, saat kita saling menggenggam kelingking dengan kelingking kanan kita dan berjanji akan menjadi sahabat, aku selalu melakukan apapun yang bisa kulakukan agar kamu tetap menjadi sahabatku.
Masih kuingat nada-nada keindahan itu.
"Sa, kamu mau, gak, jadi sahabatku?"
"Ya iyalah, Lin! Kita pasti bakal jadi sahabat, kok!"
"Janji?"
"Aku janji."
Saat ini, keadaannya lain. Memori itulah yang mengiris hatiku. Setelah belum lama tadi kamu meninggalkanku. Setelah dengan tak pedulinya kamu berbicara sedingin itu, lalu pergi bersama teman-temanmu sekarang.
Sekarang nada itu yang terngiang di kepalaku.
"Aku gak mau jadi sahabat kamu lagi! Kamu, tuh, gak seru banget orangnya! Lagian sahabat-sahabat aku sekarang banyak, gak cuma kamu!"
Aku masih mengingat dirimu yang dulu. Dirimu yang sebelum berjanji bersahabat dengaku adalah seseorang yang selalu kujumpai duduk di bangku belakang sendirian, menunduk. Kacamata di wajahmu, kemuraman di matamu, beban di segala ucapanmu, segala dirimu yang dulu. Kau yang bukanlah siapapun di mata orang lain, yang aku akui bukanlah orang setenar aku di waktu itu. Kau yang kubantu keluar dari lubang kesedihan dan kesepian itu.
Sekarang kamu sangat menyenangkan untuk mereka. Dan aku bukan lagi siapapun di matamu.
Aku masih punya pesan dari sahabatku yang lain. Sahabat yang sering datang padaku dan menangis di depanku. Dengan segala duka di hatinya yang tak lagi kuat, dia katakan segala isi hati itu padaku. Gadis yang cantik, cantik sekali, dan memiliki hati yang sedikit ... mudah rapuh. Kami berpisah di perpisahan kelas 6. Tapi aku dan dia masih dapat terhubung dengan sosial media yang kami punya. Dia juga gadis yang hampir sama. Gadis yang kini telah punya seseorang yang lebih dia pedulikan. Yang dia cintai dan dia harapkan selalu. Ya, kekasihnya. Bukankah indah? Pasti itu indah, itulah mengapa dia tak lagi perlu datang padaku bila hanya untuk mencurahkan isi hatinya–dia punya orang yang lebih berharga daripada aku. Dan aku tetap harus memahami dengan jalan pikiran itu saat dia mengirimiku pesan ini:



Sa, gue udah males sama pertanyaan lo yang terlalu peduli sama gue! Gue sama sekali gak ngarepin lo ngirim pesan ke gue! Kayaknya lebih baik lo gak usah nanya-nanya lagi ke gue, lo juga gak perlu lagi ngedeketin gue kalau gue dateng ke sekolah elo. Gue gak berharap lo ngedeketin gue, gak usah GR-an deh, Sa! Lebih baik elo bersikap gak kenal aja sama gue, deh! KITA bukan sahabat lagi! Oke?



Itu bukan yang kedua. Bukan juga yang terakhir. Itu hanya salah satunya. Aku tahu, cinta kadang membuat kita ingin selalu terlihat sebagai yang terbaik di depan dia yang kita cinta. Aku paham itu walau aku belum merasakan cinta seperti yang ia rasakan.
Pesan itu kadang menggores hatiku untuk beberapa kali. Mengingat gadis yang mengirimnya adalah seorang gadis cantik yang selalu ceria di depan orang lain. Gadis yang selalu ingin hanya aku yang ada di sampingnya saat dia ingin mengungkapkan segalanya. Gadis yang seringkali menitikkan air mata kepedihan itu saat mengeluarkan segala isi hatinya.
Tapi dia tetap seorang gadis cantik yang berusaha mendapat perhatian. Tak peduli bagaimana caranya.
Kau tahu, segalanya di masa lalu itu sangat indah untukku, tapi ternyata memang kita harus setiap saat siap untuk kuat saat sudah waktunya itu pergi. Karena kebahagiaan juga titipan. Karena kamu dan dia bukan yang pertama memutuskan persahabatanku sekejam itu, karena mereka yang kutolong dari lubang yang sama juga telah berubah menjadi segala yang lebih indah di mata orang lain. Mereka telah punya lebih banyak teman. Dan aku hanya kenangan, yang tak lama lagi dibuang jauh.
Tapi aku bangga. Aku ternyata berhasil, dengan persahabatan kita. Walau aku terluka, tapi ada kebahagiaan dalam diriku yang lebih besar dari segala kesedihan itu. Kemenanganku, membuatku berhasil menghindari perih itu. Dan aku tak akan mundur hanya karena luka ini.
Aku akan tetap mencari sahabat lagi yang seperti kau yang dulu. Tak akan pernah berhenti, sampai kutemukan yang sejati.